
Alarm di ponsel Embun berdering, waktu menunjukan
pukul 05.00, ia ketiduran di sofa, karena memang terlalu lelah setelah seharian bergelut dengan pekerjaan dan berkas berkas bertuliskan angka. Ia lalu beranjak dan
memandang keluar lewat jendela ruang tamu rumahnya. diluar masih sangatgelap.
Sepertinya musim hujan kali ini datang lebih
cepat, padahal masih pertengahan bulan Oktober. Dan biasanya kalau sudah mau musim hujan begini pasti jalanan depan rumahnya akan banjir.
Setelah rampung mandi dan solat subuh, ia membuka jendela kamarnya. Dan benar cuaca diluar benar-
benar dingin dan berangin, lantas ia segera beranjak keluar dari kamar dan menemui seseorang yang berada di dapur.
"Ibuk masak apa ? "Katanya
"Pecel sama telur Mbun " Ada sedikit jeda.
"Tadi malem kamu tidur di kursi depan ya ? Ibuk mau bangunin tapi ngga tega, Mbun maafin ibuk ya"
Wanita paruh baya itu terlihat tengah menggoreng telur ceplok diatas wajan yang sudah menghitam sambil sesekali menengok kebelakang menatap Embun.
"Apasih buk, Embun ngga kenapa-napa kok. Cuman ya rada capek aja. Soalnya kerjaan numpuk. Tapi Embun seneng buk bisa kerja disana" Katanya tersenyum lebar
Ia tidak tega jika harus berbagi keluh kesah kepada ibunya. Cukup selama ini ia bekerja banting tulang untuk menghidupi dia dan adiknya yang baru duduk di bangku SMA. Kalinta Asa namanya. Gadis cantik bergigi gingsul bermata sipit yang selalu riang. Dia juga diam diam membantu sang kakak dengan berjualan jajanan ringan saat istirahat. Dan itu tanpa sepengetahuan Embun.
Ibu Kireina. Atau biasa dipanggil ibu Ina. Wanita keturunan jepang yang menikah dengan seorang lelaki pribumi, yang tidak pernah mendamba kekayaan. Sungguh dia hanya mendamba kebahagiaan sederhana bersama keluarga kecilnya.
Sampai 10 tahun lalu, sang suami yang amat sangat ia cintai harus pergi meninggalkan dia dan anak-anak cantik selamanya.
"Apa ibuk jualan di pasar lagi ya Mbun. Biar bisa bantu kamu juga"
"Buk, insyaallah gaji Embun cukup buat makan,buat ibuk, buat uang saku Asa sama bayar sekolah Asa. Alhamdulilah Embun juga masih bisa nabung kok"
"Tapi dari kamu kuliah kamu udah bantuin ibuk Mbun. Ibuk enggak mau jadi benalu buat kamu, sesekali belilah apa yang kamu mau, sesekali beri reward untuk diri kamu sendiri Mbun" Kata ibu Ina yang semula berdiri kini duduk dan sedikit menundukkan kepala.
"Ibuk ini ngomong apasih, aku ngga pernah nganggep ibuk seperti itu, malah kalau ibuk jualan di pasar ibuk seperti ngga ngehargai usaha aku selama ini. Aku mati-matian berusaha biar bisa kerja di sana. Biar ibu ngga capek capek jualan sayur di pasar. Udah ya aku mau sarapan enggak mau debat. Aku juga masih bisa jajan, masih bisa main sama temen. Jadi stop ibuk berpikir kayak gitu"
Cuaca ternyata semakin tidak bersahabat. Jam sudah menujukan pukul 07.00. Asa juga sudah pergi kesekolah dengan payung kuningnya sedari tadi.
Sebenarnya jarak rumah ke kantor hanya berkisar 20
menit. Tapi jika macet apalagi ditambah hujan seperti ini bisa bisa ditempuh dengan waktu satu jam. Ah gilaa.
Setelah berpamitan dengan ibunya. Terpaksa Embun harus segera bergegas kekantor walaupun hujan pagi itu cukup deras. Berjalan dengan payung hitamnya menuju halte bus Ia mengenakan celana bahan panjang, kaos dan jaket. Tidak lupa ia membawa kemeja ganti di dalam totebag.
____
Dilain tepat dan waktu yang hampir bersamaan. Elang kini tengah berusaha membujuk sang buah hati untuk tetap tinggal dirumah. Pasalnya Kaland, anaknya. Saat ini merengek untuk tidak mau ditinggal.
Bi Anna, yang biasa menjaga Kaland pun kini kewalahan, karena memang jika sudah meminta dan tidak dituruti biasanya anak ini akan ngamuk. Dah yah mau tidak mau harus dituruti.
Kaland memang bukan anak yang rewel dalam urusan apapun. Tapi entah jika musim hujan seperti ini dia sangat tidak menyukai atau malah benci terhadap hujan, mendung, petir, gelap dan segala paket lengkapnya.
Dia selalu saja tidak mau sendiri dan menangis saat hujan turun jika tidak ada yang menemani.
Mobil yang di kendarai oleh pak Seno sudah memasuk area kantor. Kaland yang sedari tadi menyembunyikan wajah di ceruk leher papanya kini terlihat sedikit mendongakan wajah.
"Sudah sampai ayo turun" Kata Elang sangat sembari tersenyum hangat.
Digendong nya tubuh kecil itu. Sambil sesekali mencium puncak kepala anaknya. Semua pasang mata karyawan yang ada di lantai dasar menatap manis bapak beranak 1 itu.
Pasalnya Elang akan menjadi monster gorilla jika berhadapan dengan karyawannya, tapi berbanding terbalik jika dengan putra semata wayangnya, ia akan menjadi bapak peri yang hangat.
Sampai di depan pintu ruangnya. Di buka pintu itu dan segera mendudukan Kaland disofa.
"Kamu disini ya sayang. Papa mau lanjutin kerjaan. Nanti kalau waktu papa senggang, papa ajak main" Kata Elang sembali memberikan ponsel untuk Kaland.
Bocah berumur 6 tahun menganggukan kepala dan meraih ponsel itu. Segera membuka aplikasi youtube atau game yang ada disana.
Elang yang bergelut dengan kesibukannya sesekali melirik Kaland yang asik dengan video anak-anak di youtube,
Ia hanya tersenyum simpul sembari menggelengkan kepala.
"Loh ada anak gantengnya om disini" Kata seorang pria yang baru saja masuk kedalam ruangan Elang.
"Ngapain kesini ? "Tanya Elang
"Lagi ngga ada schedule gue hari ini. Jadi sekalian mampir kesini, eh taunya keponakan ganteng om ada diaini juga" kata pria itu sembari menoel-noel pipi kaland yang Kaland nya sendiri lebih fokus pada apa yang sedang ia lihat di ponsel papanya.
Megantara Lubis. Atau biasa dipanggil Megan. Adik dari Elang yang bekerja sebagai photografer. Dia berumur 25 tahun. Dia bukan orang yang suka duduk diam dibelakang meja dan menggerakan tangan untuk memberikan tanda tangan. Dia lebih suka mengeksplore sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Dia sangat suka berpergian, mengunjungi tepat yang belum dia kunjungi, melakukan apa yang belum ia lakukan. Dia berbeda dengan Elang. Jika Elang dituntut untuk menjadi pemimpin, ia lebih bisa hidup untuk mengekspresikan apa yang ia suka
Jika Elang pribadi yang suka memendam dan menyimpulkan sesuatu sendiri, Megan adalah orang dengan pribadi yang terbuka, mudah mengatakan apa yang ia mau. Dua manusia dengan darah yang sama tapi sangat berbeda frekuensi.
"Bang, tadi ya waktu gue di lift, gue ketemu sama karyawan lo yang cakep banget. Sayangnya gue ngga sempet liat nametag nya. ****** ya gue hm " Ucap megan menggebu-gebu
"Kalau kamu kesini cuma mau cuci mata sama tebar pesona mending pergi aja sana. Cari aktifitas yang lebih bermanfaat"
"cih" Balas Megan
Elang kembali bergelut dengan setumpuk berkas dihadapanya. Megan menemani Kaland mewarnai dan menggambar.
Tok. Tok. Tok
Pintu ruangan Elang terbuka, muncul lah sosok yang sangat penting dalam hidupnya. Yang sudah membantu dia selama menjalankan perusahaan. Dia Abisatya Bena. Bena adalah asisten pribadi sekaligus sahabat nya dari kecil. Ayah Bena telah mengabdi kepada keluarga Lubis sejak dulu. Umurnya 27 tahun, hanya berselisih 3 tahun dari Elang. Dia orang yang sangat Elang percaya. Dia juga selalu bisa di andalkan. Totalitas kerjanya selalu membuat Elang kagum.
"Ini berkas yang bapak minta" ucap Bena sembari meletakan map di depan Elang. Lantas ia beralih menatap Megan dan Kaland. Dihampirnya mereka dan duduk di sofa samping.
"Udah dari tadi lu gan ? Tanya bena
"Baru aja kok bang. Belum ada 2 jam hehe"
"cih dasar lu"
Setelah beberapa menit disana, Bena memilih untuk keluar dan menuju ruangannya setelah meminta ijin undur diri.
Waktu menunjukkan pukul 12 siang, hujan sudah mulai
reda menyisakan gemericik air yang jatuh dari atap.
Elang tengah menyuapi Kaland yang masih sibuk dengan acara menggambarnya. Dengan telaten dan sabar Elang menyuapi Kaland hingga nasi di piringnya habis. Sungguh memandangan yang sangat hangat untuk siapapun yang melihat.
Seseorang yang dianggap sempurna oleh orang-orang nyatanya pernah ditinggalkan bahkan dibuang oleh seorang wanita yang tidak tau terimaksih. Hingga sampai saat ini, ia takut untuk memulai membuka hati.
Seorang yang dianggap sangat beruntung dan bergelimang harta itu pun sebenarnya menyimpan derita dan ketakutan seorang diri tanpa bisa ia bagi kepada siapapun.
......Bersambung......