
Sore itu seperti yang Garth katakan di pagi hari, ia memintaku untuk menemuinya di apartemen miliknya di Paris.
Dia mengatakan ada hal penting yang harus di bicarakan, tentang penyerangan di butik itu.
Apa dia harus selalu campur tangan sendiri mengenai masalah ini? padahal sudah kukatakan kalau kasus itu sudah diselidiki oleh polisi tapi seperti yang sudah menjadi kebiasaan dari seorang Garth Gaskins kalau selama ini ia selalu melakukan segalanya dengan caranya sendiri.
Dan seperti biasa aku tak pernah bisa menolaknya, karena Garth sudah banyak berjasa besar dalam hidupku.
Dia telah banyak melakukan segala hal untukku selama perpisahanku dengan Frank.
Dari sejak aku menginjakkan kakiku ke Paris hingga sampai menyiapkan rumah dan segala hal termasuk butik yang selama ini menjadi mata pencaharianku.
Semua tak luput dengan campur tangannya.
Hal itulah yang kadang menjadikanku beban, karena aku belum bisa membalas perasaannya padaku.
Aku belum bisa melupakan bayang - bayang Frank Jefferson sampai sekarang dan mengenai hatiku pada Garth selama ini aku hanya menganggapnya sebagai teman sekaligus kakak bagiku, hanya itu.
"Garth...?" panggilku saat aku masuk ke apartemen mewah miliknya.
Kulihat Garth tampak berdiri membelakangiku menatap pemandangan bawah apartemen yang terlihat di jendela kaca besar di depannya, dengan memegang segelas wine di tangannya.
Menyadari kehadiranku ia memalingkan kepalanya.
"Kau sudah datang, Jeanny?" sahutnya dengan senyuman khasnya.
Tatapanku jatuh ke meja kecil di dekat Garth berdiri, kulihat 2 botol wine yang hampir kosong isinya terlihat begitu menonjol di depan mataku.
"Astaga, Garth kenapa kau bisa minum sebanyak itu?! Kau bisa mabuk nanti?!" tegurku spontan.
Garth hanya tersenyum lebar menanggapi.
"Kau meragukan kemampuan minumku, Jeanny sayang?
Aku bisa lebih banyak minum jika aku mau nanti" sahutnya enteng dengan berjalan pelan mendekat ke arahku.
"Dimana Ian, dia tidak ikut?" tanyanya kemudian.
"Tidak, aku sibuk tadi mengurus di butik jadi Ian kutinggalkan bersama dengan Suzy, pengasuhnya jika aku tak ada di rumah" jawabku.
"Sayang sekali padahal aku masih merindukannya..., sama halnya denganmu Jeanny.
Aku sangat merindukanmu, kau tahu itu" ucapnya lirih dan aku hanya bisa terdiam tak menjawabnya.
Kini Garth duduk di sofa empuk berwarna gelap yang ada di depan tempatku berdiri.
"Aku sudah mendapatkan informasi siapa dalang yang menyerangmu kemarin" tuturnya yakin dengan meneguk wine di tangannya.
"Benarkah??
Siapa dia, Garth dan apa alasannya menyerang butikku?!" tanyaku spontan dengan rasa penasaran yang besar, kini aku duduk di samping Garth dengan ekspresi wajah serius, menunggu jawaban.
"Armand Bart, dia adalah anak dari Louis Bart pemilik butikmu sebelumnya" Garth memulai.
"A-pa, bagaimana bisa?!" seruku tak percaya.
"Aku rasa memang ada konflik intern diantara hubungan keduanya oleh sebab itu Armand Bart menyuruh seseorang untuk memata - matai butikmu selama ini" sahut Garth.
"Bagaimana bisa mereka melibatkan aku dengan masalah keluarga mereka sendiri, Garth?? bukankah butik itu sudah dipindah tangankan olehku, kau tahu itu sendiri bukan?" aku bertanya masih tak mengerti.
"Ma-afkan aku Jeanny, ini kesalahan dan kelalaianku karena aku kurang selektif mencari aset waktu itu, karena kupikir tempat itu sangat strategis untuk bisa memulai bisnismu di Paris dan aku tak menyelidiki lebih jauh lagi sampai keakar - akarnya waktu itu" tutur Garth menjelaskan dengan wajah menyesal.
"Ya, Tuhan Garth kenapa kau malah menyalahkan dirimu sendiri dengan kejadian yang menimpaku?
Itu bukanlah kesalahanmu, jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri dengan kejadian ini!" tegurku kesal.
"Tentu saja, ini kesalahanku karena jika saja aku lebih selektif mencari tempat yang terbaik untukmu kau tidak akan mengalami kejadian buruk seperti kemarin malam!
Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk padamu nanti!" sahut Garth sedikit berteriak.
Aku cukup terkejut dengan reaksinya.
"Garth..., a-ku rasa kau sudah mulai mabuk...
Berhentilah minum, dan kau istirahat saja hari ini. Kau tampak lelah sekarang" ujarku lirih seraya berusaha merebut gelas yang masih berisi wine di tangan Garth.
"Aku sudah baik - baik saja, dan mulai sekarang kita tutup pembicaraan tentang penyerangan di butikku karena aku sudah tak mempermasalahkannya lagi jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, okay?!" ucapku berusaha menenangkan, kutaruh gelas berisi wine itu meja di sampingku begitu saja.
Seperti tak menghiraukan teguranku, Garth tampak menatapku dalam.
"Kau bukanlah adikku, Jeanny jadi berhentilah mengkhawatirkanku! dan sejak kapan kau melarangku untuk minum?" ucapnya protes.
"Kau ini kenapa, Garth?
Tentu saja aku mengkhawatirkanmu?!" sahutku kesal, membalas tatapannya dengan wajah serius.
"Benarkah...?
A-pa kau juga merindukanku sama seperti aku begitu merindukanmu...?" Garth bertanya dengan suara serak, ia mendekatkan wajahnya padaku dan kini jarak kami berdua begitu dekat hanya beberapa senti.
Aku mengerjapkan kedua mataku berulang kali mencoba menyesuaikan keadaan, susah payah aku mengendalikan diri agar tetap berusaha tenang di depan Garth yang bagiku kini menjadi agresif dan posesif.
Apakah karena pengaruh alkohol karena itu sekarang sikap Garth menjadi seperti ini?
"A-pa yang kau bicarakan, Garth?
Tentu saja aku merindukanmu, aku dan Ian...
kami berdua merindukanmu sama seperti halnya seorang saudara..." sahutku dengan suara senormal mungkin.
"Saudara...? apakah artinya aku bagimu, Jeanny?
Apa kau hanya menganggap aku sebagai kakakmu saja selama ini, hmm...?
Katakanlah padaku..." suara Garth tampak serak dan lirih, ia menatapku semakin dalam dan hal itu membuatku seolah sulit untuk bernafas.
Hingga aku terlambat menyadari, kalau kini Garth mencium bibirku.
Aku melotot seketika, terkejut dengan sikapnya yang tiba - tiba berubah dalam satu malam.
Ia menciumku dalam hingga membuat setengah tubuhku terbaring di sofa tempatku duduk.
Susah payah aku mencoba melepaskan ciumannya yang tiba - tiba itu namun tenaga Garth lebih kuat dariku, dapat kurasakan wine di bibirnya sekarang.
"Ehhmmm...., Garth.... a-ku mo...hon jangan seperti i-ni....!" pintaku susah payah saat melepaskan ciumannya di bibirku.
Seperti tak menghiraukan teguranku, kini ciuman Garth turun ketengkuk dan leherku dapat kurasakan dengan jelas nafasnya yang hangat di kulit leherku sekarang.
"Aku mencintaimu, Jeanny Anderson...
Tak sedikitkah kau mau membukakan hatimu untukku...?" bisiknya parau.
Entah kenapa aku hanya bisa menatap kosong kini, seperti orang bodoh tak bisa melakukan sesuatu ataupun menyangkal ucapan Garth padaku kini.
Jauh dalam hatiku aku merasa kasihan padanya, karena memang Garth selama 6 tahun ini telah menjagaku dan Ian dengan baik namun sampai saat ini aku belum bisa membalas perasaannya padaku.
Aku tak tahu aku harus bagaimana, aku tak mau menyakiti perasaannya tapi aku juga tak bisa selamanya memberikan harapan padanya, kalau aku memang tak bisa mencintainya.
Dan entah bagaimana, aku membiarkan saja saat Garth membuka blus yang aku kenakan, memberikan ciumannya di setiap kulit di tubuhku.
Hingga saat itu, aku menyadari kalau Garth kini menatapku dengan tatapan penuh arti, ia melihatku menangis.
Ya, tanpa sadar aku menangis.
Bulir - bulir air mata menetes di pelupuk mata dan pipiku tanpa kusadari dan Garth menyadari hal itu.
Kami bertatapan dalam diam dalam beberapa saat hingga kemudian Garth bangkit dan beranjak dari sofa dan memalingkan wajahnya padaku yang kini hanya menatapnya kosong.
"Kau... pulanglah Jeanny, aku mohon tinggalkan aku sekarang karena aku tak mau menyakitimu lebih jauh lagi dan melakukan kesalahan yang sama seperti yang dulu pernah aku lakukan padamu.".
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...