
Setelah makan malam kucoba menemui Frank di ruang kerjanya.
Seharian ini ia terus menyendiri tanpa sebab yang jelas.
Kucoba untuk bersikap tenang saat melangkah masuk ke ruangan yang tampak terkesan sunyi itu.
Kudapati Frank di meja kerjanya dengan sebuah buku yang berukuran cukup tebal dan kacamata baca yang ia pakai.
"Maaf Frank, aku mengganggumu" tuturku mencoba bersikap setenang mungkin.
Sekilas ia melirik ke arahku dengan ekspresi enggan dan kemudian kembali beralih ke bukunya.
"Jika kau tahu menggangguku, untuk apa kau datang kemari?" sahutnya dingin.
"Aku tahu, tapi ini sangat penting Frank, kita harus bicara malam ini, ini tentang Alex" tuturku mencoba menjelaskan.
Mungkin karena mendengar nama adiknya ia langsung menanggapi.
"Ada apa dengan Alex? Dia berbuat onar lagi?! tanyanya sedikit galak.
"Tidak! kali ini masalahnya cukup serius Frank, Alex bisa saja di keluarkan karena perbuatan yang tidak ia lakukan", sahutku hati - hati.
Frank berdiri dengan tiba - tiba dan langsung menatapku tajam, ekspresinya tampak terlihat terkejut.
"Dikeluarkan?! Apa kau gila?! Kusarankan Miss Anderson jaga bicaramu di depanku atau kau akan kupaksa angkat kaki dari tempat ini!" tegasnya tajam.
Aku mencoba melangkah mendekat, kupasang seluruh keberanianku di depannya sekarang.
"Aku mohon Frank, dengarkan aku dulu!
Ada sesuatu yang belum kau pahami tentang
Alex, yang aku katakan adalah hal yang sesungguhnya!" aku memohon penuh harap pengertian darinya.
Frank diam sesaat dan kemudian angkat bicara.
"Baik, kuberi waktu 5 menit untuk menjelaskannya padaku apa yang terjadi!"
Dalam waktu singkat itu aku berusaha sebaik - baiknya menjelaskan pada Frank, perihal tentang apa yang terjadi pada Alex di sekolahnya.
Aku tahu sebenarnya, ia begitu enggan berhadapan denganku dari tatapan matanya ataupun ekspresi wajahnya padaku.
Kurasa ia begitu muak denganku namun aku tak bisa apa - apa selain tetap bersikap baik padanya sebisa mungkin. Aku harap aku bisa.
"Lalu apa yang kau inginkan setelah menjelaskan semua ini padaku?" tanyanya ketus setelah aku selesai bicara.
"Aku hanya ingin pengertianmu Frank, izinkan aku yang menyelesaikannya besok di sekolah Alex dan aku berharap kau berperan memberi pengertian pada Alex tentang semua ini.
Bagaimanapun juga kau adalah kakak laki - lakinya dengan kata lain kau lebih tahu langkah apa yang seharusnya kau lakukan saat memberikan pengertian pada Alex" tuturku menjelaskan.
Setelah itu kulihat Frank tersenyum kecut.
"Kau berkata begitu seolah kau lebih tahu segala hal tentang keluarga Jefferson dan sekarang dengan sikapmu yang seolah bak dewi penolong memerintah ku untuk melakukan seperti apa yang ada dalam jalan pikiranmu itu, miss " sahutnya ketus dan tajam.
"Aku hanya berusaha melakukan apa yang terbaik untuk Alex demi kebaikan seluruh keluarga Jefferson.
Untuk itu aku mohon dengan sangat padamu Frank..., jangan libatkan masa depan Alex dengan kebencian mu padaku selama ini" sahutku membenarkan.
Seketika itu Frank berdiri dari tempat duduknya dan melemparkan tinjunya tepat di meja hingga getaran yang ditimbulkan seakan ikut masuk dalam diriku.
"Kuperintahkan kau keluar dari tempat ini, miss Anderson atau kau ingin aku melakukan sesuatu yang terburuk dalam hidupmu!" bentaknya kasar.
###
Sarapan pagi telah aku siapkan dan semua kegiatan pagiku telah selesai.
Diantara guyuran air yang membasahi tubuhku, mataku terpejam mengingat pembicaraanku dengan Frank semalam di ruang kerjanya.
Hatinya sudah di penuhi oleh kebenciannya padaku, sejak kematian Max dan ibunya rasa bencinya padaku semakin bertambah.
Ya Tuhan.., berikan lah aku kekuatan untuk menghadapi semua ini.
Bukalah pikiran dan hati kecil Frank untuk lebih mengerti mana yang baik dan buruk.
Kubalut tubuhku yang masih basah dengan handuk tebal hingga menutupi dada dan kubuka pintu dengan langkah hati - hati.
Namun detik itu pula, langkahku terhenti setelah melihat apa yang tampak di depanku hanya beberapa senti.
Pandangan kami langsung bertemu beberapa saat dalam diam dan keheningan.
"Frank...?" bisikku terkejut.
Pagi ini, ia tampak rapi dan gagah, setelan jas tak lagi di dikenakannya kali ini ia memakai kemeja hitam polos dan celana panjang coklat dengan bahan tweed.
Kami begitu dekat hingga begitu jelas kulihat warna matanya yang gelap tajam menatap ke arahku, nafasnya yang hangat menyentuh lembut seluruh kulit wajahku saat ini.
"Kau boleh merasa menang miss Anderson, pagi ini kita akan bersama - sama menemui kepala sekolah brengs*k itu" tuturnya dengan nada sedikit dingin.
Aku tersenyum beberapa saat, sedikit puas apa yang Frank katakan di depanku sekarang.
Tanpa kata - kata aku pun hanya mengangguk pelan mencoba menyimpan sejuta senyum yang ingin ku tampilkan di depannya sekarang.
Ini untuk pertama kalinya kami berempat berkumpul bersama dalam satu mobil, Alex, Kimmy, aku dan Frank.
Suasana yang mungkin asing bagi kami, saling diam dalam perjalanan diantara lalu - lalang keramaian kota New York yang bagiku masih cukup asing.
Salon - salon di fifth Avenue, bangunan apartemen, toko - toko sibuk serta beberapa hotel dan restoran di sepanjang Lexington dan Third Avenue.
Cukup lama dalam perjalanan yang terasa begitu lama seperti di dalam sebuah gedung kosong seorang diri dalam keheningan dan kesunyian yang berada di sekelilingku.
Tetapi aku menikmatinya, seandainya saja keadaannya tidak seperti ini mungkin kebahagian yang aku rasakan berpuluh kali lipat dari saat ini.
Sekolah Alex dan Kimmy bagiku adalah gedung kolonial berlantai 3 dengan di sekelilingnya terdapat pepohonan elm dan magnolia dengan dahan rantingnya yang kini sedikit kering karena mungkin terpengaruh dengan musim panas.
Aku membungkuk pada Kimmy kecil yang kini tampak begitu tegang seharian, entah karena apa. Mungkin ia sedikit terpengaruh dengan situasi kami tadi di dalam mobil.
"Masuklah ke kelasmu Kimmy, aku dan Frank akan menemui kepala sekolah kalian untuk membicarakan masalah yang dihadapi Alex" kataku lembut seraya menyentuh pipinya yang bersemu merah.
Kimmy hanya mengangguk tanpa suara dan berlari kecil menyusul beberapa temannya di aula gedung sekolah Brooks Burks School.
Frank menatap sekilas padaku kemudian beralih pada Alex di belakangnya.
"Kuperingatkan Alex, selama kami menemui kepala sekolahmu jangan berbuat macam - macam di dalam sekolah atau kau akan mendapatkan masalah yang lebih besar lagi!" ucapnya memperingati.
"Aku tahu..." jawab Alex singkat kemudian ia berlari menyusul adiknya, Kimmy.
Aku memandang seluruh isi gedung sekolah yang kini tampak hanya beberapa meter jaraknya dari mobil Frank yang terparkir dan mulai berjalan menuju ruang kepala sekolah dengan langkah mantap.
"Anda berdua keluarga dari Alex Jefferson?" sapa Mrs Hansen memastikan.
Setelah kami dipersilakan duduk di ruang kepala sekolah di lantai 2, kami bertiga mulai terlibat dalam pembicaraan serius.
Mrs Hansen bagiku lebih tepat dijuluki si gendut merah.
Tubuhnya pendek dan gendut, garis - garis wajahnya masih jelas terlihat di sekeliling wajahnya, walaupun kini ia nampak memakai riasan dan maskara tebal untuk menutupinya.
Warna rambutnya yang merah menyala di ikat di sekeliling belakang kepalanya, cukup anggun terlihat.
Mungkin usianya sekitar kepala empat.
"Saya terpaksa akan mengeluarkan Alex Jefferson jika ia memang terbukti bersalah, Mr Jefferson" ucap Mrs Hansen tegas pada Frank yang kini duduk di sampingku.
"Kami akan menerimanya Mrs Hansen namun jika memang Alex benar - benar melakukan perbuatan rendah itu" sahut Frank dengan gayanya yang berwibawa.
Kini Mrs Hansen beralih pandangannya padaku,
"Anda istri Mr Jefferson?" tanyanya tanpa ragu.
"A..ku - ?" ditodong dengan pertanyaan itu tentu saja aku langsung gagap tak tahu harus menjawab apa.
"Dia istri saya Mrs Hansen, kami baru beberapa bulan menikah" sahut Frank tiba - tiba.
Seketika itu pula aku langsung berpaling menatapnya namun seperti biasa tak ada reaksi di wajah Frank Jefferson, ia mengatakan seolah tanpa beban namun ucapannya terdengar dingin yang hanya bisa di rasakan olehku saja.
Mrs Hansen mengangguk dan kemudian membenarkan posisi duduknya.
"Menurut beberapa saksi yang melihat kejadian itu, Alex yang memulai dengan menyerang Mark Helmholdt terlebih dulu tanpa sebab yang jelas dan kami pun menemukannya dengan beberapa obat - obatan terlarang."
"Hal itu tidak dapat kami biarkan terjadi, jika memang Alex memang sudah lama mengkonsumsi barang terlarang itu atau bahkan juga mengedarkannya di kalangan sekolah ini kami terpaksa mengeluarkan Alex dengan sangat tidak hormat, Mr dan Mrs Jefferson" Mrs Hansen berkata dengan nada cukup sengit.
"Apa anda tidak tahu Mrs Hansen Mark Helmholdt di mata anak - anak sekolah ini? terutama siswa perempuan.
Menurut cerita Alex dia adalah pengganggu bagi siswa perempuan di sekolah ini, sering melakukan pelecehan dan penyimpangan seksual.
Menodong dan memaksa siswa lain agar mereka mau mengikuti aturannya, dengan mengkonsumsi obat - obatan seperti yang anda temukan di ransel Alex waktu itu" tuturku mencoba menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Kedua mata Mrs Hansen menyempit,
"Maksud anda Mrs Jefferson?" tanyanya ingin tahu.
"Maksud istri saya adalah akan lebih baik anda perlu memeriksa siswa lain secara menyeluruh, terutama yang terlibat secara langsung dalam kekacauan itu, melakukan langkah selanjutnya tanpa terlebih dahulu memberikan kesimpulan kalau Alex Jefferson dinyatakan bersalah dalam masalah ini" sahut Frank tiba - tiba memotong.
Mrs Hansen pun berpaling pada Frank, sebelum kepala sekolah itu salah paham pada ucapan Frank, akupun mencoba angkat bicara.
"Untuk memperkuat bukti anda, Mrs Hansen dengan segala hormat sebaiknya anda memeriksa beberapa siswa di sekolah ini, terutama Debbie Farmer yang merupakan saksi kuat dalam kekacauan itu."
Setelah mendengar penjelasan dariku Mrs Hansen pun berpikir sesaat dan beberapa detik kemudian menghela nafas panjang.
"Baiklah Mr dan Mrs Jefferson saya setuju dengan pendapat anda, mungkin ada beberapa siswa kami yang terpaksa tutup mulut karena terancam tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasinya.
Tetapi perlu saya ingatkan, apabila hasilnya masih sama dengan sangat menyesal kami terpaksa angkat tangan" ucap Mrs Hansen sekali lagi.
...🔥🔥🔥🔥🔥🔥...