One Day In Your Life

One Day In Your Life
PENCARIAN



Sementara itu di lain tempat, Natasya dan Frank mencari keberadaan Jeanny.


Mereka berdua panik mengetahui Jeanny tak kembali dan bahkan meninggalkan mobil milik Natasya begitu saja di tepi jalan.


Natasya yang lebih dulu mengetahuinya, ia merasa khawatir setelah beberapa kali menghubungi ponsel Jeanny namun tidak ada jawaban, padahal Jeanny sudah berjanji pada dirinya kalau ia akan secepatnya pulang dan kembali ke apartemen Natasya setelah ia mengambil barang - barang miliknya di rumah Frank.


Dengan cemas Natasya pun menghubungi Frank Jefferson untuk menanyakan keberadaan Jeanny, namun ternyata justru Frank tak tahu menahu tentang keberadaan istrinya sendiri saat itu.


Mengetahui ada sesuatu yang tidak beres, Frank Jefferson kalang kabut mencari keberadaan Jeanny malam itu, namun yang ditemukan hanya sebuah mobil milik Natasya di pinggir jalan dengan barang - barang Jeanny yang masih utuh.


Dengan bantuan pihak polisi, Frank mencari keberadaan istrinya namun hingga sampai saat ini hasilnya masih nihil.


Pihak polisi juga belum menemukan titik terang karena hilangnya Jeanny belum sampai dalam tahap penyelidikan selama belum 24 jam setelah berita kehilangan.


Tak mau menunggu lama kini Frank lah yang mencari Jeanny di segala tempat yang ia tahu selama mengenal istrinya itu.


Hampir seluruh tempat di kota New York ia cari, namun ia belum bisa menemukan Jeanny.


Pikirannya buntu karena selama beberapa hari, Frank begitu lelah dengan berbagai peristiwa buruk yang beruntun hadir dalam hidupnya kali ini.


Dimulai sejak kedatangan Carol, sikap dingin istrinya hingga penjebakan di hari itu dan kini ia harus kehilangan Jeanny bahkan pernikahannya kini mungkin tidak akan bisa diselamatkan karena ia tahu Jeanny tak akan memaafkan dirinya setelah mengetahui video itu.


Dan kali ini Frank Jefferson merasa lelah, ia tak bisa berpikir apa - apa lagi untuk saat ini.


Ia hentikan mobilnya di suatu tempat malam itu, pandangannya kosong dan raut wajahnya tampak lelah dan suram.


Penampilannya tampak lusuh dengan memakai kaos lengan panjang hitam semakin menambah aura gelap yang ada dalam dirinya sekarang.


Ia sandarkan kedua tangannya melipat di stir mobil, ini sudah malam kedua sejak Jeanny dinyatakan hilang. Frank Jefferson merasa kacau dan bingung, ia tak sanggup kehilangan Jeanny dengan cara seperti ini.


Apalagi Jeanny dalam keadaan hamil dan ia belum sempat mengatakan sebuah permintaan maaf pada istrinya itu, sejak mendapatkan video memalukan itu dari si jal*ng Carol.


"Dimana kau sayang...?? aku mencemaskanmu, aku harap tak terjadi apa - apa padamu dan anak kita..." lirihnya dengan kedua mata tajamnya yang kini tampak berkaca - kaca.


Beberapa menit kemudian ponsel Frank bergetar dan dengan cepat Frank mengambil ponselnya untuk melihat panggilan dari siapa itu.


"Nat..?" gumamnya lirih, tanpa pikir panjang Frank pun mengangkat telepon dari Natasya itu.


"Ya, Nat..?"


"Hallo, Frank, bagaimana apakah kau sudah menemukan tanda - tanda keberadaan Jeanny?!" tanya Natasya cemas.


Frank mengembuskan nafas dengan kasar.


"Belum..., aku buntu Nat."


"Kau..!? bagaimana bisa kau tak tahu dimana istrimu sendiri Frank Jefferson?!!


Kau benar - benar suami yang bodoh!!" umpat Natasya kesal.


"Aku sudah berusaha mencarinya di tempat yang biasa Jeanny kunjungi selama ini, Nat namun aku belum bisa menemukan apa - apa!" sahut Frank putus asa.


"Berpikirlah Frank Jefferson! saat sebelum Jeanny hilang, apa saja yang kau dan Jeanny alami hanya kau sendiri yang tahu!


Mungkin itu bisa dijadikan petunjuk untuk mencari keberadaan Jeanny!" ucap Natasya dengan nada keras.


Seperti mendapatkan jackpot dari pecahan puzzle - puzzle yang hilang Frank pun langsung merasa ucapan Natasya menyadarkan Frank dari kenyataan.


"Kau benar Nat!! terima kasih, aku akan segera mengabarimu jika aku sudah menemukan Jeanny! karena aku yakin ia ada di suatu tempat yang selama ini tidak pernah aku pikirkan!" sahut Frank yakin kemudian tanpa ragu ia menutup panggilan itu.


✨✨✨✨✨✨


Kuhentikan langkah kakiku di sebuah pintu besar di depanku kini, Liza berhenti tepat di depanku dan mulai mengetuk pintu itu dengan sopan.


Tok...tok...tok...


"Permisi tuan, saya sudah datang dengan membawa nona Jeanny" ucapnya.


Aku menelan saliva dengan gugup, entah kenapa aku merasa gugup melihat keadaan Garth sekarang.


"Masuklah..!" sahut sebuah suara dari balik pintu itu, suara Garth.


"Silakan masuk nona, tuan sudah menunggu anda di dalam" tuturnya dengan senyuman singkat.


Aku mengangguk dan menjawab lirih.


"Terima kasih, Liza..."


Kemudian akupun masuk kedalam kamar mewah itu.


Kulihat Garth tampak duduk bersandar di ranjang mewah king sizenya, dengan balutan perban yang melingkar di sepanjang punggungnya.


Senyum mengembang di wajah Garth saat melihatku melangkah mendekatinya dengan sedikit gugup.


"Hay, Jeanny.... bagaimana kabarmu?" sapanya ramah, senyuman khasnya tak lepas di wajahnya yang tampak sedikit pucat.


"Garth..., aku baik - baik saja..., seharusnya aku yang bertanya padamu" sahutku lirih, aku menatap Garth sendu melihat keadaannya yang tampak menyedihkan karena balutan perban di punggungnya itu, sungguh berbeda dengan penampilan Garth yang biasa aku lihat selama ini.


"Duduklah disini, aku senang melihatmu baik - baik saja Jeanny..." ucap Garth perhatian memberi perintah seraya menepuk ranjangnya agar aku duduk di dekatnya.


"Aku harap kau tidak takut padaku lagi Jeanny..." tambahnya.


"Ah.., a-ku sangat berterima kasih karena kau sudah menyelamatkanku, Garth...


Kau terluka seperti ini karena aku, aku berhutang nyawa padamu..." ucapku tulus, kini aku duduk di tepi ranjang Garth.


"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan..., kau tak perlu berterima kasih ataupun merasa bersalah padaku, Jeanny" sahut Garth lirih seraya tersenyum tipis menenangkan.


Dan aku hanya bisa diam menatapnya,


"apa masih sakit...?" tanyaku cemas, salah satu tanganku menyentuh lembut bekas luka di punggungnya itu yang masih dalam balutan perban.


"Kau tenang saja Jeanny, aku bukanlah pria lemah yang akan merasa kesakitan hanya karena luka kecil seperti ini" sahut Garth percaya diri dengan tersenyum lebar.


"Bagaimana kandunganmu, apa kau merasa baikan sekarang?" Garth bertanya kemudian.


"Aku sangat bersyukur kalau anakku baik - baik saja Garth, setelah beberapa peristiwa buruk yang aku lalui akhir - akhir ini..." sahutku lirih, kepalaku menunduk seraya mengelus lembut perutku yang membuncit di balik gaun dari bahan sifon yang aku kenakan.


"Aku turut priatin, Jeanny... aku harap aku bisa melakukan sesuatu untuk membantumu" ucap Garth perhatian dengan menatapku sendu.


"Kau sudah membantuku dari niat buruk penculik itu, Garth dan sampai kapanpun aku tak akan melupakan itu.." jawabku serius.


"Ta-pi bagaimana bisa kau mengetahui aku di sekap dan dibawa oleh pria besar itu, Garth?" tanyaku penasaran.


"Itu..., maafkan aku karena lancang, Jeanny...


Aku menyuruh orangku selama beberapa hari untuk mengawasimu, karena sejak pertemuan kita di depan restoran waktu itu aku tak bisa berhenti berpikir untuk memikirkanmu, Jeanny..


Sekali lagi, maafkan aku karena lancang..." Garth menjelaskan dengan ekspresi wajah serius dan kulihat ia benar - benar jujur mengatakannya.


"Aku bisa mengerti Garth, mungkin itu bisa dikatakan sebuah hal baik karena jika kau tak menyuruh orang untuk mengawasiku mungkin aku dan anakku kini sudah tak bisa diselamatkan..." ujarku lirih.


"Semua sudah berakhir, Jeanny...


Kini kau aman di tempatku, tak ada lagi orang - orang yang akan mengganggumu ataupun berusaha mencelakaimu karena aku sudah menangani si penculik brengsek itu kemarin" tutur Garth menenangkan.


"Benarkah...?" tanyaku dengan pandangan sendu dan Garth mengangguk meyakinkan dengan senyuman manisnya.


"Terima kasih, Garth..." ucapku lirih dengan senyuman tipis.


"Sama - sama Jeanny..., aku harap kini kita bisa jadi teman...i-tu kalau kau mengizinkannya dan mau menerimaku lagi sebagai temanmu..." tutur Garth seraya menyentuh lembut punggung tanganku, entah kenapa aku tak lagi gugup dan takut di depan Garth saat ini apalagi saat ia menyentuh tanganku aku merasa sentuhan itu tulus dan tak terburu - buru ataupun bernafsu seperti sebelum - sebelumnya.


"Kau mau kan Jeanny menerimaku menjadi temanmu? aku berjanji aku tak akan melukaimu ataupun berniat buruk padamu lagi seperti waktu itu..., kuharap kau mau melupakan dan memaafkanku" tuturnya menyesalnya.


"Ah..., ya Garth..., aku harap kita bisa menjadi teman lagi" sahutku lirih dengan tersenyum tipis.


"Terima kasih Jeanny... terima kasih...!" Garth


sontak menjawab dengan ekspresi wajah senang dan aku berharap Garth memang benar - benar sudah berubah.


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺...