
Dua bulan berlalu begitu saja setelah aku memutuskan untuk kembali hidup bersama dengan Frank Jefferson, ayah dari putraku, Ian.
Kami menggelar acara pernikahan outdoor sederhana namun meriah di sebuah tempat yang paling romantis.
Hari ini adalah hari paling bahagia bagi kami, aku dan Frank. Di pernikahan kami yang kedua dengan orang yang sama kami berikrar akan bersama selamanya sampai maut memisahkan.
Aku bersyukur teman - teman terdekat kami semua datang dalam acara pemberkatan pernikahan kami.
Natasya Perrone, Scully Madison dan beberapa teman di kantor real estate di San Fransisco dulu. Hingga orang yang paling penting bagiku Joseph Hayden dan Garth Gaskins pun datang menghadiri pernikahan kami kali ini. Ini sangat berbeda sekali waktu aku dan Frank menikah untuk yang pertama kalinya. Karena saat itu aku belum mengenal Joseph Hayden dan Garth pun tak hadir dalam pernikahan kami karena saat itu hubunganku dan Garth tentu saja belum sebaik seperti sekarang.
Walaupun Garth telah melakukan kesalahan besar dengan melakukan konspirasi bersama dengan Carol hingga membuatku dengan Frank berpisah dalam waktu yang cukup lama namun aku masih bisa memaafkannya. Begitu juga dengan Frank, ia secara pribadi telah memaafkan mantan rivalnya itu karena mengingat selama hampir 7 tahun ini telah menjagaku dan Ian dengan baik, terlepas dari segala kesalahan Garth Gaskins di masa lalu.
Sedangkan untuk Joseph Hayden, pria baik hati itu datang dengan lapang dada seperti tanpa beban. Sedikit rasa bersalah masih kurasakan dalam hatiku karena aku sempat membuatnya menaruh harapan padaku tapi berakhir dengan rasa kecewa. Namun bukan Joseph Hayden namanya jika pria itu selalu bersikap bijaksana dan bersahaja untuk menyikapi segala hal sekalipun mungkin itu menyakitkan hatinya.
Seperti sore menjelang malam ini, di tempat yang sama kami mengelar acara resepsi setelah pemberkatan.
Joseph menghampiriku dan Frank, pria tampan berkharisma itu datang dengan memakai tuxedo hitam yang melekat erat di tubuh proposionalnya.
"Selamat Jeanny, kini kau resmi menjadi Mrs. Jefferson kembali. Semoga kalian berdua selalu berbahagia bersama sampai maut memisahkan. Doaku selalu yang terbaik untuk kebahagiaan kalian berdua dan juga putra kalian, Ian." Tutur Joseph seraya menjabat tanganku dan Frank, senyum cerah tak lepas di wajahnya yang tampan.
"Terima kasih, Mr. Hayden. Aku secara pribadi sangat berterima kasih padamu karena selama ini kau menjaga Jeanny dan putraku, Ian dengan baik hingga mereka berdua bisa kembali padaku, itupun berkat pengorbananmu. Aku sangat berterima kasih dan banyak berhutang padamu untuk itu." Frank menjawab tulus saat mereka berdua berjabat tangan.
"Hahaha, tak perlu kau pikirkan Mr. Jefferson. Bagiku melihat kebahagiaan kalian sudah lebih dari cukup dari segala hal. Aku harap kerja sama kita juga tidak akan terputus sampai kapanpun." Sahut Joseph dengan senyuman lebarnya.
"Tentu saja Mr. Hayden. Aku justru meminta maaf padamu karena sempat menganggapmu sebagai rival karena sejatinya sebenarnya aku menyukaimu karena kita memang cocok jika bekerja sama dalam masalah pekerjaan." Ucap Frank, kemudian setelah itu tawa renyah terdengar dari kedua pria tampan di depanku.
"Astaga, apa kalian berdua melupakanku yang masih berada disini bersama kalian?" Aku bertanya seraya memasang wajah pura - pura masam dan kesal.
"Hahaha, Jeanny. Tentu saja tidak, tapi karena memang sebenarnya aku memang menyukai suamimu ini sejak dulu ketika kami bersama dalam masalah pekerjaan. Ehmm, untuk kali ini, apakah aku boleh meminta izin untuk mengajak istrimu ini berdansa bersamaku Mr. Jefferson? Jika kau tidak keberatan, anggaplah ini adalah sebuah permohonan untuk yang pertama dan terakhir dariku." Ucap Joseph mengejutkanku.
"Tidak masalah, Mr. Hayden. Jeanny sekarang adalah istriku, ini adalah pesta kami dan kau adalah tamu istimewa kami sekarang. Aku mengizinkannya kali ini namun tidak ada kedua kalinya karena aku adalah tipe suami yang sangat posesif dan pencemburu apalagi dengan pria sepertimu, hahaha!" Sahut Frank enteng dengan wajah ceria, sungguh sangat diluar dugaanku.
"Hahaha, okay baiklah. Terima kasih. Kau tenang saja Mr. Jefferson. Aku akan menjaga istrimu dengan sangat baik kali ini." Joseph menjawab kemudian dengan gaya formalnya ia memberikan telapak tangan kanannya padaku sebagai ajakan sopan untuk berdansa bersama.
Aku melirik sekilas Frank di sampingku dan Frank hanya mengangguk seraya tersenyum seolah memang mengizinkan aku berdansa dengan mantan rivalnya ini.
Setelah mendapatkan izin dari suamiku, aku dan Joseph pun berjalan berdampingan menuju tempat dansa para tamu undangan pesta yang hadir di resepsi pestaku dan Frank.
Musik yang semula bertempo agak cepat kini berganti dengan musik slow yang beralun lambat namun pasti.
"Aku tak menyangka Frank akan mengizinkan kita berdansa bersama seperti ini, Joseph." Tuturku dengan sikap agak canggung saat Joseph melingkarkan salah satu tangannya di sepanjang pinggulku.
"Bukankah kau sudah dengar sendiri tadi, Jeanny. Kalau suamimu itu memang menyukaiku sejak awal kami berjumpa tapi karena dia tahu, kami berdua mencintai orang yang sama sikapnya berubah posesif dan merasa aku adalah rivalnya." Joseph menyahut seraya tersenyum tipis.
"Iya, syukurlah Frank kini tak menganggapmu rival lagi. Dan bagaimana kabarmu, Joseph? Aku berharap semoga kau akan cepat menyusul kami. Menikah dengan orang yang kau cintai dan bahagia selamanya." Tuturku tulus.
"Terima kasih, Jeanny. Tentu saja aku akan menikah karena tidak mungkin aku akan membujang selamanya bukan?" Sahutnya dengan tersenyum menggoda.
"Tapi tidak untuk saat ini, aku perlu waktu menata hatiku, Jeanny. Karena jujur kau adalah wanita pertama yang bisa memikat hatiku dan tentu saja itu tidak akan mudah membuatku melupakanmu begitu saja dalam waktu cepat bukan?" Tambah Joseph, kali ini ia tersenyum tipis, dapat kurasakan sedikit rasa kehilangan di matanya sekarang.
"Maafkan aku, Joseph. Untuk semuanya, kau adalah pria baik dan luar biasa, aku yakin suatu saat kau pasti akan menemukan wanita luar biasa pula." Sahutku lirih dengan ekspresi wajah menyesal.
"Astaga, Jeanny. Kenapa kau meminta maaf padaku? Kau tak perlu khawatir, aku baik - baik saja. Tenang saja, suatu saat aku akan membawa dan mengenalkan wanita pilihanku padamu dan Frank. Dan aku harap jika hari itu datang, kita berempat bisa berlibur bersama suatu hari nanti, aku rasa itu akan sangat menyenangkan bukan?" Ujar Joseph sungguh - sungguh.
Tentu saja jawaban Joseph membuatku tenang dan sedikit menghilangkan rasa bersalahku padanya.
"Tentu saja, Joseph. Aku sangat menantikan hari itu." Jawabku penuh harap seraya tersenyum.
"Maaf, bisakah sekarang mempelai wanita berdansa denganku?" Ucap seseorang mengejutkan kami berdua saat aku dan Joseph masih saling menikmati waktu kami berdua.
"Garth??!" Seruku kaget dan seperti biasa pria itu hanya tersenyum lebar tanpa dosa dengan wajahnya yang cerah ceria dan selalu tampak segar itu.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...