One Day In Your Life

One Day In Your Life
Sebuah pesan perpisahan



Pikirannya tidak pada perjalanannya menuju sekolah Alex dan Kimmy namun pikirannya jauh melayang pada ucapan Natasya Perrone siang tadi di telepon, saat wanita menyebalkan itu menghubungi ponselnya dengan beberapa kali panggilan yang hampir membuatnya frustasi.


Setiap kata - kata Natasya seperti masih bergema di telinganya hingga kini.


Sungguh sama sekali ia tak menduga Natasya Perrone sampai meneleponnya berulang kali hanya untuk menghakimi dirinya dengan kalimat - kalimat pedas yang membuat telinganya panas.


Ini untuk kedua kalinya wanita itu meributkan masalah yang sama, Jeanny Anderson.


( Flash back )


"Kesombongan dan keangkuhanmu memang membuatmu jauh bernilai dari orang lain Frank Jefferson namun semua itu tidak akan berlangsung lama, cepat atau lambat kau akan menyesal dengan keangkuhanmu sendiri"


"Ingat baik - baik Frank, tidak semua kebenaran itu selalu tampak di depan mata, namun berlalunya waktu akan mengungkap sebuah kebenaran yang sesungguhnya!"


"Brengs*kkk!!!" maki Frank kesal mengingat ucapan Natasya padanya siang tadi.


Ia berkali - kali memukul stir mobil dengan ekspresi wajah marah.


Tak henti - hentinya ia memaki 2 wanita yang selama ini selalu membuatnya kesal, Jeanny Anderson dan Natasya Perrone yang baginya adalah wanita yang memiliki tabiat dan kepribadian yang sama.


"Sialan!!! Dasar wanita siall!!!" makinya keras.


Apa maksud ucapan Nat padanya tadi sampai saat ini belum ia mengerti.


Susah payah ia berpikir keras untuk mencari jawabannya namun terasa sia - sia saja, semua itu hanya membuatnya semakin kesal dan marah.



"Jeanny bilang ia akan memasak makanan spesial hari ini!" Kimmy berseru girang saat kepulangannya di dalam perjalanan.



"Benarkah?


Tapi tadi pagi ia tak memberitahunya padaku, apa hari ini Jeanny ulang tahun?" sahut Alex penasaran.



Kimmy berpaling pada Alex di belakang tempat. duduknya,


"Aku pikir tidak, bukankah ulang tahun Jeanny di awal tahun lalu.


Tapi aku yakin ia tak mungkin berbohong karena setahuku ia tak pernah berbohong, itu benar kan Frank?" tanya gadis kecil itu kemudian pada Frank yang sejak tadi diam di sampingnya.



"Jangan hanya percaya pada mulut manis seseorang, apalagi seorang wanita yang belum tentu kau kenal" Frank menyahut dingin.



Mendengar jawaban menusuk kakaknya, Kimmy pun langsung terdiam, wajahnya yang tadi berseri girang kini berubah teduh.



"Kenapa kau selalu membencinya Frank, Jeanny tak pernah bersalah padamu selama ini.


Ia menyayangimu sama seperti ia menyayangi aku dan Kimmy.


Apa kau tak pernah memperhatikan ekspresi wajahnya setiap kali ia memandangmu?



Sampai saat ini aku tak pernah melihatnya tersenyum gembira ketika bersama denganmu.


Apakah ada sesuatu yang terjadi pada kalian berdua diluar sepengetahuan kami Frank?" Alex dengan berani berkomentar.



Tentu saja komentar Alex yang tak biasa tadi begitu mengejutkan Frank hingga tanpa di sadarinya kakinya menginjak pedal gas dan membuat mobilnya melaju kencang ke jalanan kota yang cukup di padati keramaian mobil di sepanjang jalan lexington avenue.



"Frank...?" ucap Kimmy lirih dan ia semakin mengencangkan sabuk pengamannya karena ketakutan.



"Sudah aku bilang, jangan memancingku berdebat dengan kalian soal yang berhubungan dengan Jeanny Anderson!


Aku tidak suka jika kalian membicarakannya di depanku, tentang hal apapun itu!


Kalian dengar itu?!" Frank menyahut dengan nada tinggi.



..



..



..



Hati Kimmy semakin gelisah ketika ia memasuki kamar Jeanny dan belum juga menemukannya.




Gadis berusia 10 tahun itu mulai merasakan keganjilan yang tidak seperti biasanya.


Jeanny tak biasanya pergi sesiang ini meninggalkan rumah.



Biasanya sepulang sekolah jika Jeanny tidak menjemputnya di sekolah, ia akan mendapati Jeanny menyambutnya dengan sayang namun kali ini ia tak mendapatkan sambutan manis itu.



Baginya keberadaan Jeanny di dalam rumah ini adalah suatu kebahagiaan tersendiri baginya, kebahagiaan yang datang sebagai pengobat kesedihannya sepeninggal ibunya.



Diam - diam jauh dalam dirinya, gadis kecil pirang itu mulai merasa takut, takut apa yang menjadi ketakutannya selama ini menjadi kenyataan, kepergian Jeanny.



"Kim!!" tiba - tiba Alex memanggil adiknya dari sudut ruangan, dengan langkah kakinya yang kecil Kimmy berlari ringan.



"Ada apa?" tanyanya penasaran, dilihatnya Alex memegang secarik kertas di tangannya.



"Jeanny..." ucap Alex dengan menatap Kimmy penuh arti.


Kimmy hanya berdiri terdiam dengan wajah kebingungan, kini pandangannya jatuh ke sekeliling meja makan yang tertata rapi.



Berbagai hidangan yang cukup istimewa tersedia di atasnya, persis seperti yang Jeanny janjikan padanya pagi itu.


Sandwich daging panggang, salad udang, kuah kerang manhattan dan pizza berukuran cukup besar.


Semua adalah makanan kesukaan dan favoritnya dan kakaknya, Alex.



Kemudian dengan matanya birunya yang kini tampak teduh gadis kecil itu menatap kakaknya, Alex tepat di depannya.



"Apa Jeanny telah pergi?" tanyanya lirih namun Alex tak menjawab karena di saat yang sama itu pula Frank menghampirinya dengan tatapan penuh tanya.



"Ini kan yang selalu kau harapkan Frank?" tutur Alex seraya menunjukkan secarik kertas ditangannya itu pada Frank, tanpa ragu Frank pun mengambilnya dari tangan Alex dan dengan sorot mata yang tajam ia mulai membacanya.



...Maaf, aku harus pergi tidak ada lagi yang harus kulakukan di tempat ini....


...Aku berharap sepeninggalku kalian berdua bisa menjaga diri dengan baik, karena sebenarnya kalian tidaklah sendiri....


...Aku percaya Frank bisa membagi waktunya bersama kalian karena itu aku berani mengambil keputusan ini....


...Sekali lagi ***maafkan aku***..., semoga makanan yang sengaja ku buat untuk kalian ini dapat menebusnya....


...Aku mencintai kalian semua......



***Jeanny Anderson***.



"Buang makanan itu ke tempat sampah!


Dan jangan tangisi kepergian wanita itu di depanku!" ucap Frank tak berperasaan seraya meremas kertas berisi pesan itu di tangannya dan membuangnya asal.



"Mulai sekarang kalian berdua harus hidup mandiri bersamaku, tak ada lagi nama wanita itu lagi di rumah ini dan jangan coba - coba kalian sebutkan namanya lagi di depanku mulai saat ini!" ucap Frank kasar sambil berlalu pergi.



Sepanjang hari Kimmy mengurung dirinya di dalam kamar, seorang diri.


Ia menangis.


Tentu saja ia menangis karena kepergian teman terbaiknya dan pengganti ibunya selama ini, Jeanny Anderson.


Ia tahu cepat atau lambat semua ini akan terjadi, karena sesungguhnya ia tahu penolakan Frank dengan keberadaan Jeanny di rumahnya selama ini.


Bagaimana ia beberapa kali melihat dan menyaksikan sendiri, perlakuan kasar Frank pada Jeanny Anderson selama ini namun sedikitpun ia tak pernah melihat Jeanny mengeluh di depannya.


Jeanny Anderson selalu menampilkan sesuatu yang terbaik di rumah ini.


Senyum cantik di wajahnya yang selalu tampak tulus itu selalu ia tampilkan, sekalipun ia melihat Frank bersikap kasar padanya.


Ia tak akan melupakan Jeanny Anderson sampai kapanpun, seburuk apapun yang dikatakan Frank ia tak akan pernah bergeming untuk mencintai dan menyayangi wanita itu di dalam hatinya.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...