One Day In Your Life

One Day In Your Life
DIA PUTRAKU



Malam itu saat aku tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk Ian dan diriku sendiri aku dikejutkan oleh suara ketukan di pintu rumah.


"Kau tunggu disini ya sayang, mom akan membuka pintu dulu sebentar" perintahku pada Ian di meja makan.


"Okay, mom."


"Ya, sebentar!" sahutku menjawab ketukan pintu yang tak berhenti itu sejak tadi.


Setelah membukanya akupun terkejut setengah mati saat melihat siapa tamu yang datang malam ini.


"Frank?!! Bagaimana bisa kau-?" Aku berseru tak percaya.


Ia kini tampak berdiri di depanku, dengan memakai jaket kulit hitam dan kaos berkancing biru. Sorot matanya tampak kosong dan menatapku lemah.


Masih seperti mimpi saat Frank kini berdiri tepat di depan rumahku sekarang.


"Kenapa kau kesini Frank?? dan bagaimana bisa kau menemukanku?!" tanyaku tak percaya.


"Tentu saja karena aku merindukan kalian. Aku ingin bertemu anakku, Jeanny. Aku adalah ayahnya, izinkan lah aku untuk bertemu dengannya walau sejenak" ucapnya dengan tatapan memohon.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Frank Jefferson! Bagaimana kau bisa menemukanku? Apa selama ini kau memata - mataiku, katakan Frank?!" seruku marah.


"Jika aku harus melakukannya tentu aku akan melakukannya, Jeanny. Karena aku tak mau mengambil resiko, kau akan pergi dariku lagi" jawabnya tegas.


"Sudah berapa kali aku mengunjungi butikmu sejak pertemuan kita waktu itu namun aku tak pernah menemukanmu disana, jadi kupikir kau pasti menghindar dariku, bukankah itu benar?" jelasnya menambahkan.


Tak ada yang bisa kukatakan atau membantah ucapan Frank kini, karena memang semua yang dikatakan memanglah benar adanya. Sejak pertemuan kami 2 hari yang lalu di butik malam itu, sejak itupula aku tak pernah mengunjungi butik. Semua tugas kupasrahkan pada Margareth dan Pauline, aku hanya fokus mengantar dan menjemput Ian di sekolah.


"Mom..., siapa yang datang? kenapa mommy lama sekali" Ian tiba -tiba sudah ada di belakangku hingga membuatku melonjak kaget.


Saat itupun aku reflek menutupi Ian dengan tubuhku di hadapan Frank, namun aku kalah cepat dengan Frank yang sigap menghalangiku untuk melakukannya.


"Hallo, jagoan. Bolehkan aku masuk kedalam?"


Maka saat itu juga, Frank dan Ian pun bertatap muka untuk yang pertama kalinya. Semua sudah terlanjur terjadi di depan mataku kini, maka tak ada yang bisa kulakukan lagi selain hanya bisa membiarkan Frank bertemu dengan Ian, putranya yang memang tak pernah ia temui selama ini.


"Kau siapa? apakah uncle baru yang ingin menjadi Daddy ku?" tanya Ian dengan wajah polosnya.


"Uncle baru??


Wah, mungkinkah mommy mu memiliki banyak penggemar selama ini?" tanya Frank pura - pura bodoh.


"Astaga, Ya Tuhan..." keluhku dalam hati.


"Tentu saja, aku memiliki banyak uncle karena mommy ku memang cantik!" Ian menyahut penuh percaya diri.


"Aku bukanlah uncle, jagoan..., tapi aku adalah daddy mu."


"Frank!!!" tegurku keras saat itu juga.


"Dia berhak tahu, Jeanny! karena dia memang putraku! kau tak bisa menyangkal ataupun selamanya menyembunyikan kenyataan ini!" seru Frank lantang.


Kulihat Ian cukup terkejut dengan keadaan, aku yang tak ingin membuatnya ketakutan segera kupeluk tubuh mungilnya.


"Sayang, kau percaya pada mom kan?" tanyaku seraya menatap lembut Ian dalam pelukanku.


"Maka dengarkan mom sekarang, mom minta kau masuklah ke dalam kamarmu. Mom akan pergi menyusulmu setelah mom selesai disini, okay, honey?" perintahku lembut.


"Okay, mom" Ian menjawab pendek.


"Kau memang anak yang baik, sekarang pergilah ke kamarmu" ucapku seraya kukecup pipinya dengan penuh sayang.


Setelah Ian berjalan pergi dengan patuh masuk ke dalam kamarnya, saat itu juga kualihkan tatapanku dengan tajam pada Frank yang masih tampak berdiri di depanku.


"Tak seharusnya kau bersikap seperti itu pada Ian, Frank Jefferson!! Kau memang ayahnya tapi dia hanya anak kecil berumur 6 tahun yang masih belum mengerti!!" seruku marah, berusaha meredam suaraku agar tetap terkontrol dan tak terdengar sampai kedalam kamar Ian.


"Maafkan aku karena aku lepas kendali, aku hanya ingin anakku tahu keberadaanku, itu saja" sahutnya lirih.


"Setidaknya hargailah aku disini, Frank! Apa kau pantas berkata seperti itu pada anakmu sendiri? aku yang mengandung dan membesarkannya seorang diri selama ini, bukan kau yang hanya kebetulan memang sedarah dengannya!" seruku kesal.


"Aku minta maaf untuk itu, Jeanny! Tapi itu akan berbeda jika kita tak berpisah dan kau tak pergi dalam hidupku. Aku mencintaimu dan anak kita, dia adalah darah dagingku sendiri, seburuk apapun aku dimatamu, aku masih tetap ayahnya dan aku berhak untuk bersamanya." ujar Frank serius.


"Jangan sekalipun kau berniat untuk memisahkanku dengan Ian, Frank Jefferson! aku akan benar - benar membencimu jika kau melakukannya!" tukasku tajam.


"Sudah aku katakan padamu, aku akan berjuang agar kau bisa kembali padaku, Jeanny. Sama sekali aku tak berniat sedikitpun untuk memisahkanmu dengan putra kita!" Frank menyahut seraya menggenggam erat kedua bahuku.


Detik itupula kutatap Frank dengan mata nanar.


"Itu tidak mungkin terjadi, Frank. Kau dan aku sudah berakhir dan itu sudah lama terjadi.


Apakah kau lupa, bagaimana dalamnya kau menyakitiku dan meninggalkan luka dihatiku selama ini? Aku tak bisa Frank, aku sudah tak sanggup lagi bersama denganmu" ucapku dengan hati perih.


"Harus bagaimana lagi aku menjelaskan kalau semua yang terjadi adalah kesalahpahaman, Jeanny... Aku tak pernah mengkhianatimu selama pernikahan kita dulu bahkan selama hidup ini, tak ada wanita lain yang ada di hatiku selain kau!"


"Cukup! Aku bilang cukup, Frank!


Hentikan semua omong kosong ini, aku mohon silakan kau pergilah dari rumahku! aku sudah lelah malam ini" pintaku marah.


"Kau tak bisa mengusirku, Jeanny. Karena aku masih ada hak untuk bersama dengan putraku disini, 6 tahun aku tak bisa mengendong bahkan menyentuhnya dan kini setelah aku bisa melihat kalian berdua kau mengusirku begitu saja? Tentu saja aku akan menolaknya mentah - mentah!" sahut Frank keras kepala.


Kini ia memeluk tubuhku erat dalam dekapannya.


Susah payah aku mencoba berontak tapi semua sia - sia, karena Frank memang jauh lebih unggul segalanya dariku.


"Lepaskan aku, Frank! Apa maumu?!" aku berteriak mencoba melepaskan diri namun semakin aku mencoba untuk berontak semakin erat Frank mendekap tubuhku dalam pelukannya. Ia menciumku kembali, dengan kasar dan mendominasi namun lama kelamaan ciuman itu menjadi lembut jauh berbeda dengan di awal tadi.


Selama beberapa saat aku terbuai dalam ciumannya namun aku sadar kalau semua ini tidaklah benar. Walaupun dihatiku masih ada namanya, namun kenyataan kalau kami sudah tak mungkin bersama membuat akal sehatku kembali berfungsi, mencoba mengontrol tubuhku agar tidak terbuai dan tetap dalam kewarasan.


Hingga ciuman itu berhenti begitu saja, kini kami saling bertatapan dalam diam mencoba mengumpulkan tenaga yang seakan terkuras karena emosi satu sama lain.


Dapat kurasakan nafasnya yang hangat dikulit wajahku kini. Jemari Frank menyentuh bibirku lembut dan mengelusnya dengan gerakan penuh sayang. Entah kenapa aku hanya bisa diam setiap perlakuan yang kini ia lakukan padaku sekarang.


"Aku tahu kau masih mencintaiku, Jeanny Anderson...


Begitupun sama denganku. Karena itu aku akan tetap berjuang bagaimanapun caranya agar kita bisa menjadi satu keluarga lagi seperti dulu.


Hanya itu harapanku" tuturnya lirih.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...