
Di suatu tempat tampak Joseph Hayden sibuk menerima sebuah panggilan dari seseorang di sambungan teleponnya.
Hari ini ia akan mengadakan pertemuan mendadak dengan seorang kliennya dari New York, seorang presdir sekaligus CEO di salah satu perusahaan besar yang sudah lama menjalin kerjasama dengan perusahaan miliknya di Paris.
"Batalkan pertemuanku hari ini dengan Brian O'nell, aku akan segera kembali ke perusahaan setelah pertemuan ini nanti" perintah Joseph mengakhiri sambungan teleponnya.
Kemudian dengan langkahnya yang mantap ia menuju sebuah tempat yang dijanjikan oleh klien bisnisnya.
Sebuah restoran mewah yang ada di Four Seasons Hotel George V, Paris.
Hanya dalam beberapa detik Joseph Hayden menemukan seseorang yang sudah menantinya di salah satu kursi yang ada di restoran mewah itu.
Orang itupun tampak berdiri menyambut kedatangan Joseph Hayden.
Setelan jas hitam dan blazer panjang hitam yang dikenakannya membuat penampilan orang itu tampak tinggi dan berwibawa.
"Selamat datang di Paris, Mr. Jefferson.
Sungguh sangat mengejutkan kedatangan anda hari ini, suatu kehormatan kita bisa bertemu lagi setelah beberapa bulan lamanya sejak pertemuan terakhir kita di New York waktu itu" sapa Joseph dengan senyuman ramahnya seraya berjabat tangan dengan seorang pria yang menjadi klien bisnisnya.
Dialah Frank Jefferson, seorang CEO dari Wilson Grups Corporation, yang sudah selama 10 tahun menjalin hubungan kerja sama dengan pemilik perusahaan minyak dan gas terbesar di Prancis, Joseph Hayden.
"Anda terlalu sungkan Mr. Hayden saya senang bisa bertemu langsung dengan anda lagi sekarang di kota ini, dan saya harap kedatangan saya yang mendadak ini tidak menganggu jadwal anda yang sangat padat" sahut Frank formal.
"Momen seperti sungguh jarang terjadi dan kita bisa bersama merayakannya disini Mr. Jefferson" Joseph menyahut ringan dengan gayanya yang santai.
Kemudian selama beberapa menit mereka berdua terlibat perbincangan yang cukup serius, mengenai bisnis dan kerjasama perusahaan.
"Kalau boleh saya tahu, apa yang membawa anda ke Paris dalam waktu cepat Mr. Jefferson?
Jika anda tidak keberatan saya bisa memberikan referensi tempat liburan yang nyaman untuk anda di sini" Joseph menawarkan diri dengan ramah.
"Anda tak perlu repot Mr. Hayden, kedatangan saya kesini memang bertujuan untuk bisnis dan sekaligus untuk berlibur sejenak selama beberapa hari depan" sahut Frank memberikan alasan.
"Seperti yang saya duga sebelumnya, anda dapat menghubungi saya kapan saja jika anda membutuhkan bantuan nanti" tutur Joseph seraya tersenyum ramah.
"Terima kasih, Mr. Hayden.
Anda begitu banyak membantu dan secara pribadi saya menyukai anda, saya harap kita bisa menjalan kerjasama ini untuk waktu yang cukup lama" ujar Frank tulus.
"Tentu, Mr. Jefferson.
Karena menjalin pertemanan dengan baik itupun bisa membuat perjalanan bisnis kita lancar untuk kedepannya" sahut Joseph yakin.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Aku merasa lelah hari ini, entah kenapa tubuhku merasa kurang sehat sejak pagi tadi.
Setelah pertemuan terakhirku dengan Garth di apartemennya semalam, akupun tak mendengar kabar dari Garth lagi.
Biasanya tiap hari ia selalu mengirimkan pesan dan bahkan puluhan panggilan di ponselku.
Tapi sejak malam itu, tak ada pesan satupun darinya.
Aku memejamkan mata dan berpikir, kuharap Garth baik - baik saja karena sejak 6 tahun kita banyak menghabiskan waktu bersama sikap Garth tidak seperti ini.
Entahlah apa yang membuatnya berubah dalam waktu semalam.
Apa dia sudah terlalu lelah menungguku atau mungkinkah karena kehadiran Joseph, Garth menjadi lebih posesif sekarang?
Oh, ya Tuhan semoga apa yang kulakukan ini benar...
Aku tak berniat menyakiti hati siapapun, Garth ataupun Joseph hanya sebatas teman bagiku.
Namun jika mereka memiliki perasaan yang lebih padaku aku tak bisa melakukan apapun, dan aku tak mau mereka berdua terlalu berharap padaku saat ini.
Dering ponsel membuyarkan lamunanku, kulihat panggilan dari Joseph.
"Ya, hallo Joseph..."
"Jeanny, apa kau baik - baik saja?
Aku baru saja dari butikmu namun karyawanmu mengatakan kalau hari ini kau tidak bisa datang karena sakit, apakah itu benar?" tanyanya cemas.
"Ya, Tuhan...
Lalu sekarang kau dimana? apa kau di rumah seorang diri?"
"Aku bersama dengan Suzy, Joseph kau tak perlu khawatir" ujarku menenangkan.
"Lalu Ian, apakah dia bersekolah sekarang?
Jika iya, bolehkan aku menjemputnya, Jeanny sekalian aku akan mampir dan menengok keadaanmu ya, kalau kau mengizinkan?"
"Bukankah kau sedang bekerja, Joseph.
Aku tak mau hal kecil seperti ini menganggu waktumu yang sibuk."
"Tidak sama sekali, Jeanny...
Justru aku akan tidak bisa bekerja jika belum mengetahui keadaanmu secara langsung sekarang."
"Aku tidak bisa menolakmu jika tetap memaksa, Joseph...
Maaf ya telah banyak merepotkanmu."
"Tidak masalah Jeanny, aku mohon jangan selalu kau mengucapkan kata itu padaku ya.
Aku hanya melakukan yang ingin kulakukan, jadi kau jangan merasa enggan ataupun tak enak hati padaku."
"Baiklah..." desahku lirih.
"Kalau begitu kau istirahat saja, sekarang aku akan menjemput Ian di sekolah ya, sampai ketemu nanti, Jeanny." ucap Joseph mengakhiri sambungan teleponnya.
..
..
..
"Mom...mom.., apa mom baik - baik saja?"
sebuah suara yang sangat kukenal terdengar lirih membangunkanku yang masih dalam keadaan setengah sadar.
"Hmmm....?" aku menyahut lirih dengan kepala dan tubuh terasa berat, kedua mataku masih setengah terpejam.
"Ya, Tuhan Jeanny kau demam!
Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal padaku?!" kudengar samar - samar suara Joseph.
"Ian, uncle akan membawa mommy mu ke rumah sakit sekarang ya!" seru Joseph dengan suara panik.
"Aku ikut uncle Joseph! aku ingin bersama dan menjaga mom!" sahut Ian.
"Tentu sayang..., ayo ikut uncle bersama ke mobil" perintah Joseph.
"A..ku baik - baik saja, Joseph...
Kalian tak perlu khawatir..., a-ku hanya butuh istirahat itu saja...." ucapku lirih dengan mata terpejam, kurasakan panas dan berat di seluruh tubuhku saat ini.
"Kau demam tinggi, Jeanny! Jangan menganggap remeh suatu penyakit sekecil apapun itu!" sahut Joseph kemudian aku merasakan Joseph mengendong tubuhku yang terasa lemah dan tanpa tenaga, kemudian membawaku ke mobil dan melaju cepat mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Aku yang masih dalam keadaan setengah sadar karena merasa lemah dan panas hanya memejamkan mata sepanjang perjalanan, dapat kurasakan pelukan tangan mungil Ian di tubuhku.
"Mommy tidak apa - apa sayang, kau tak perlu cemas ya..., uncle Joseph ada bersama kita" ucapku lirih berusaha menenangkan Ian yang mungkin kini tampak khawatir melihat keadaanku sekarang.
"Bertahanlah, Jeanny..., sebentar lagi kita akan segera sampai."
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
...Jangan lupa tinggalkan :...
👍 Like
🙋 Komen
🎉 Vote
🎁 Hadiah dan juga
❤️ Faforite ya....🥰🥰