One Day In Your Life

One Day In Your Life
AKU HARUS PERGI



Siang itu Natasya Perrone untuk yang kedua kalinya ia menginjakkan kakinya ke mansion Garth Gaskins, yang tak lain adalah mantan kekasihnya.


Hubungan mereka hanya dalam hitungan bulan karena Natasya lah yang memutuskan hubungan itu secara sepihak dan Garth tak mempermasalahkan hal itu.


Karena sejatinya hubungan mereka hanyalah saling menguntungkan saja bukan berdasarkan cinta.


Dan kali ini Natasya memberanikan diri masuk ke Mansion Garth, ia harus menemui Garth Gaskins dan bertemu dengan Jeanny, sahabatnya.


Setelah Natasya mengetahui dari Frank Jefferson kalau Jeanny berada di mansion Garth dan di selamatkan oleh mantan kekasihnya itu dari penculikan.


Ia harus memastikan kebenaran itu dan bertemu dengan Jeanny secara langsung.


"Ini sebuah kejutan,si cantik Natasya Perrone berkunjung ke mansionku..." sapa Garth dengan gaya khasnya yang flamboyan, seakan tak memperdulikan penampilannya di wajahnya yang bengkak dan tubuhnya yang terbalut perban tak mengurangi ruang gerak pria itu.


"Apa kabarmu, honey...?" sapanya kembali dengan senyum mengembang nan menggoda.


Natasya tak bereaksi apapun, ia menatap mantan kekasihnya itu dengan ekspresi wajah datar.


"Dimana Jeanny? aku ingin menemuinya sekarang, dan kau Garth Gaskins, kau berhutang penjelasan padaku" ujar Natasya dengan nada tegas.


"Astaga, kau langsung sekali pada intinya honey, apa kau sama sekali tak sedikitpun merindukanku ataupun sekedar menyapaku sekarang?" sahut Garth dengan gaya cueknya.


"Aku sedang tak ingin berdebat Garth, karena memang tujuanku datang kesini hanya ingin memastikan kalau Jeanny baik - baik saja" ucap Natasya tenang.


"Apakah kau tak percaya padaku, honey? seharusnya dalam beberapa bulan kita bersama, kau dapat mengenal siapa itu Garth Gaskins" sahut Garth dengan senyuman lebarnya.


Natasya berjalan mendekat ke arah Garth, tatapannya tak lepas pada sosok pria flamboyan itu di depannya.


"Justru aku sangat mengenalmu, Garth Gaskins karena itu aku datang langsung kesini untuk memastikannya..." ucap Natasya, ucapannya seolah tampak memperingati.


Garth menghembuskan nafas dengan kasar.


"Kau tak usah khawatir, honey... Jeanny aman bersamaku disini, justru aku tak bisa menjamin kalau Jeanny akan aman jika ia diluar sana..." sahut Garth percaya diri.


"Aku pastikan itu benar, Garth karena jika kau membuat Jeanny dalam masalah lagi kau akan berurusan denganku" Natasya berucap tegas.


"Aku senang Jeanny memiliki teman sepertimu, sweety setidaknya ia tak merasa sendirian kini" ucap Garth serius.


Natasya menatap Garth dengan tatapan penuh selidik, seakan meragukan ucapan mantan kekasihnya itu.


"Dengar Garth, kuperingatkan sekali lagi padamu. Jeanny bukanlah wanita seperti yang selama ini kau temui dalam hidupmu, jadi sebaiknya kau buang jauh obsesimu itu karena bagaimanapun juga Jeanny telah bersuami" tutur Natasya memperingati.


Mendengarnya Garth pun terkekeh.


"Aku sudah insaf sayang..., aku bukanlah Garth Gaskins yang dulu kau kenal.


Percayalah padaku, karena aku tulus menolong Jeanny sebagai seorang teman sama seperti halnya denganmu, jadi kau tak perlu meragukan aku" jawab Garth yakin.


"Aku pegang ucapanmu itu, Garth Gaskins" sahut Natasya.


Tak menjawabnya, Garth kemudian memerintah pelayan setianya, Luke untuk mengantarkan Natasya ke tempat Jeanny berada.


"Mari nona, nona Jeanny sedang berada di taman mansion belakang, saya antar anda kesana" ucap Luke mulai mengantar Natasya dan Natasya berjalan mengikutinya dari belakang.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺



Setelah malam itu yang kulakukan seharian hanya duduk termenung seorang diri di taman belakang mansion Garth.


Menatap kosong dengan pikiran yang melayang entah kemana.


Rasanya terlalu sesak jika memikirkan apapun mengenai Frank, namun tekadku sudah bulat saat ini.


Tentang kepergianku dan mengurus perpisahan pernikahanku dengan Frank Jefferson secepatnya.


Garth menjanjikan itu semua, ia telah berjanji padaku untuk membantuku menyelesaikan pernikahanku dengan Frank dan membantuku untuk pergi ke suatu tempat yang jauh dari Frank Jefferson.


Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini, akan lebih baik jika aku melepas Frank.


Semoga saja, anakku akan mengerti jika ia sudah lahir nanti, itulah harapanku.


"Jeanny...."


Sebuah suara membuyarkan lamunanku, suara yang cukup kukenal, Natasya.


"Nat...?" lirihku terkejut dengan kehadirannya.


Ia menatapku sendu dan aku bisa menebak seribu tanya ada dalam pikirannya saat ini.


Tanpa berpikir apapun, akupun langsung beranjak dari tempat duduk dan berjalan berhambur kepelukannya.


Natasya menyambut pelukanku dengan mengelus rambutku dengan sayang, kedua mataku mulai berkaca - kaca.


"Aku sangat mencemaskanmu, Jeanny.


Apa kau tahu itu? kau sangat bersyukur kini kau dalam keadaan baik - baik saja..." tutur Natasya lirih dengan penuh sayang.


"Maafkan aku, Nat.


Aku pergi dengan tanpa kabar dan membuatmu cemas, a-ku tak tahu... karena semua terjadi begitu cepat saat itu, saat pria besar yang tak kukenal membawaku secara paksa dan menyekapku!" aku menjelaskan dengan suara gemetar, kejadian di hari itu masih terbayang begitu jelas dan membuatku takut jika mengingatnya.


"Sudahlah Jeanny, semua sudah berlalu... kini kau aman sekarang" sahutnya menenangkan.


Kini kami berdua duduk berdampingan di kursi taman yang tadi sempat kududuki.


"Bagaimana kau tahu ada di sini Nat? apakah Frank atau Garth yang mengatakannya padamu? Maafkan aku tak sempat mengabarimu karena ponsel dan semua barang - barangku tertinggal di mobilmu waktu itu" ucapku lirih dengan kedua mata yang masih berkaca - kaca.


"Frank yang menceritakannya padaku semalam, aku yang memaksanya untuk menemuinya semalam karena kau tahu sendiri, sejak Frank mengetahui kau ada di mansion Garth, ia susah sekali ditemui" sahut Natasya menjelaskan.


Mendengarnya aku hanya tertunduk dan tak ingin berkomentar, mengetahui hal itu Natasya mengangkat wajahku dengan jemarinya yang lembut.


"Katakan padaku, apa benar yang Frank katakan padaku kalau pernikahan kalian sudah berakhir, Jeanny?" tanyanya lembut, seakan ia tak ingin aku sedih karena menanyakan hal itu.


"Ya, tekadku sudah bulat, Nat.


Hanya ini jalan terakhir yang bisa kulakukan karena pernikahan kami memang sudah tidak bisa diselamatkan..., dia berbohong padaku Nat, Frank sudah menyakitiku terlalu dalam..., aku sudah tak sanggup lagi bersamanya karena itu akan membuatku semakin sakit!" jawabku, bulir air mata kini mulai menetes di pipiku.


Dengan sayang, Natasya menghapus air mata di pipiku dengan jemarinya yang lentik.


"Aku bisa mengerti itu, Jeanny.


Apapun keputusanmu aku akan tetap mendukungmu, karena perasaanmu dan jalan hidupmu kau sendiri yang berhak menentukannya, aku sebagai sahabat hanya berharap kau bisa hidup bahagia..." tutur Natasya tulus.


"Lalu apa selanjutnya setelah ini, aku hanya mengkhawatirkanmu dan masa depan anakmu, Jeanny? apakah kau sudah siap jika nanti anakmu lahir dengan tanpa ayah di sampingnya...?" tanya Natasya lirih.


"Aku harus siap, Nat.


Aku akan secepatnya pergi dari New York, karena aku tak mau Frank akan mengambil anakku dan membayang - bayangi hidupku lagi..." sahutku yakin.


"Pergi?? kemana?? apa kau sudah memikirkannya baik - baik keputusanmu, Jeanny?" Natasya bertanya ragu.


"Entahlah Nat. yang pasti setelah aku mengurus perceraianku dengan Frank aku akan pergi jauh dari New York dan Garth sudah berjanji padaku untuk membantuku, kau tidak marah kan Nat?" jawabku seraya menatap sayu Natasya karena bagaimanapun juga Garth dan Natasya pernah menjalani sebuah hubungan dan aku takut hal itu melukai perasaannya.


Kulihat Natasya tersenyum simpul menenangkan mendengar jawabanku, seolah senyuman itu mengartikan kalau ia tak keberatan.


"Kalau hal itu memang yang terbaik lakukanlah, Jeanny..., aku berharap Garth kini sudah benar - benar berubah dan tak membuat masalah padamu lagi, karena jujur aku masih meragukannya karena aku tahu sifat buruknya itu yang masih saja terobsesi padamu" tutur Natasya seraya menggenggam lembut tanganku.


"Aku berhutang nyawa pada Garth, Nat.


Jika ia tidak datang menolongku waktu itu mungkin sekarang aku tak ada disini dan tak bernyawa sekarang...." ucapku lirih.


"Bahkan ia telah mengorbankan dirinya sendiri waktu itu untuk menolongku, hal itu lah yang membuatku percaya padanya sekarang Nat, kalau kini ia benar - benar sudah berubah" sambungku kemudian.


"Ya, aku bisa melihatnya tadi dengan mata kepalaku sendiri kalau Garth terluka dan ia cukup perhatian denganmu.


Semoga saja ia memang benar - benar tulus melakukannya, hanya itu yang kuharapkan" Natasya berkata seakan meyakinkan dirinya sendiri saat ini.


"Well, sekarang yang terpenting kau harus hidup bahagia, Jeanny... dengan atau tanpa Frank Jefferson karena aku rasa dia akan sangat kehilanganmu jika kau pergi jauh darinya" ucap Natasya kemudian dan aku hanya bisa menatapnya dengan senyum simpul sebagai ungkapan terima kasih kalau selama ini Natasya sudah menjadi sahabatku yang terbaik dalam hidupku.


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺...