One Day In Your Life

One Day In Your Life
INSIDEN DI BUTIK



Siang itu setelah aku menjemput Ian dari sekolah, aku kembali ke butik untuk menyelesaikan pekerjaanku yang sempat ku tinggalkan tadi.


Sementara Ian seperti biasa berada di rumah bersama dengan Suzy, pengasuh Ian yang menjaga Ian selama aku sibuk bekerja di luar rumah karena memang aku tak mungkin bisa menghabiskan waktu sepenuhnya bersama dengan Ian selama aku sibuk bekerja untuk kelangsungan hidup kami.


Begitu sibuknya aku hingga aku lupa waktu dan makan hari ini.


Kurenggangkan otot tubuhku agar sedikit rileks selama berjam - jam sibuk berkutat di laptopku sejak siang tadi.


Kulirik jam tangan dan aku cukup terkejut ketika waktu sudah menunjukan pukul 5 sore lebih 24 menit.


"Astaga, aku sudah melewatkan jam makan siangku!" pekikku tak percaya.


Kuperiksa ponsel milikku di atas meja kerjaku dan aku lihat beberapa pesan dari Joseph dan Garth yang belum sempat aku buka sejak tadi.


[ Jeanny sayang, aku merindukanmu? apakah kau merindukanku? ] pesan dari Garth dan aku tersenyum membacanya.


"Dia memang masih belum berubah, selalu mengombal dan merayu sepanjang waktu" ucapku lirih dan akupun mulai membalas pesan dari Garth.


[ Maaf Garth, aku baru membaca pesan darimu ]


[ Hari ini aku sibuk mengerjakan desainku yang baru sampai lupa waktu ]


Setelah mengetiknya kemudian aku kirim pesan itu pada Garth, kemudian aku kembali membuka pesan dari Joseph.


[ Jeanny, sepertinya hari ini aku tidak bisa mampir ke butik dan ikut menjemput Ian lagi seperti kemarin ]


[ tapi aku harap besok kita bisa makan siang bersama seperti kemarin ya ]


[ Kau jangan lupa makan siang dan terlalu lelah bekerja ]


Senyum terbit di wajahku saat membaca pesan teks dari Joseph dan mulai mengetik pesan untuk membalasnya namun belum sempat aku selesai membalas pesan itu, kudengar dari luar ruangan suara ribut - ribut dan teriakan Paulina dan Margareth.


Tanpa pikir panjang saat itu juga, akupun berlari ke arah luar dan terkejut bukan main saat mendapati hampir seluruh butik sudah hancur berantakan.


Kulihat 2 pria asing menghancurkan seluruh isi dalam butik dan pakaian - pakaian yang terpajang di sobek paksa hingga sampai tak tersisa, sementara Paulina dan Margareth berteriak histeris ketakutan berdiri di pojok ruangan.


"Ya, Tuhan siapa kalian?!!


Kenapa kalian menghancurkan butikku??!!" aku berteriak histeris mendekati kedua pria asing itu dan menghalangi mereka berdua dengan sekuat tenaga.


Namun susah payah aku menghalangi mereka ketika hendak menghancurkan segala isi butik tetap saja kekuatanku tak bisa menghadapi dua pria dewasa yang berpenampilan garang itu.


"Minggir!!!!" seru salah satu dari mereka dengan mendorong keras tubuhku hingga aku jatuh tersungkur membentur lantai yang keras.


"Miss. Anderson?!!!"


"Anda baik - baik saja?!!" pekik Paulina dan Margareth berlari menyelamatkanku.


Kepalaku pening seketika saat itu, dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk bangkit di bantu oleh kedua karyawanku, dapat kulihat Margareth menangis histeris melihat kekacauan ini.


"Siapa kalian??! aku mohon hentikan!!" aku berseru memohon dengan suara serak, pandanganku agak kabur karena rasa pening yang masih ada di kepalaku.


"Tolooong!!! Toloongg!!" Paulina berteriak meminta tolong namun sepertinya suasana di luar butik tampak sepi karena saat itu waktu menjelang malam, keadaan di luar butik agak sepi jika jam - jam tersebut.


Aku pikir kedua pria asing ini sepertinya tahu keadaan aman untuk menyerang dan membuat kekacauan di butikku.


"Hentikan aku mohon!!!! apa yang kalian inginkan??!!" aku berseru mencoba menghalangi mereka kembali sebisa mungkin yang aku bisa lakukan untuk menyelamatkan aset - aset yang ada di dalam butik milikku.


Hingga salah satu dari mereka memukulku dengan tangannya yang besar karena aku mencoba sekuat tenaga menghalangi mereka yang seperti kesetanan menghancurkan segala isi dalam butik.


"Minggir kau sialan!! kalau kau ingin selamat!!!" ancamnya memukulku, pukulannya keras mendarat di salah satu bahu dan leherku.


"Aarrgggghhh!!!!" pekikku kesakitan, setelah itu beberapa detik kemudian suara pukulan keras datang di waktu bersamaan saat itu juga.


"Buuggggg!!!!"


"Aaarrgghhtt...!!!" kulihat seorang pria yang memukulku melangkah mundur hingga jatuh ke etalase toko hingga pecah, Margareth dan Paulina berteriak ketakutan.


Diantara menahan sakit karena pukulan di bahu dan leherku, aku bisa melihat dengan jelas siapa sosok pria yang menolongku.


"Joseph?!!" aku bersyukur karena dia datang di waktu yang sangat tepat.


Melihat teman prianya jatuh tersungkur, saat itu juga pria garang yang lain berusaha menyerang Joseph dan memukulnya.


Baku hantam antara Joseph dan kedua pria asing itu terjadi selama beberapa menit hingga akhirnya Joseph bisa mengalahkan dua pria asing itu sampai babak belur tak sadarkan diri.


Aku menatap nanar pemandangan di depanku kini dengan syok dan pikiran kacau, terduduk lemas menatap tumpukan pakaian yang sudah tak layak dan barang - barang yang berserakan tak jelas wujudnya.


Tanpa terasa air matapun mulai merebak di kedua mataku yang kini terasa berat dan berair.


"Ke-na-pa bisa seperti ini...? kenapa??" lirihku pilu seraya menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.


"Jeanny...., bagaimana keadaanmu?


Apa kau terluka?" Joseph menghampiriku dan merangkulku ke pelukannya dengan lembut.


Detik itu juga aku menangis di pelukannya.


Siapa yang tidak syok melihat sumber kehidupannya kini sudah berantakan tak bersisa seperti ini, hancur berantakan di tangan oleh orang asing yang tidak dikenal.


"Polisi akan segera datang dan mengusutnya, kau tenang saja ya..., mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya, aku akan menjamin itu!" ucapnya menenangkanku.


"Kau tidak terluka kan?


Maafkan aku datang terlambat, Jeanny...


Seandainya aku bisa datang lebih awal semua ini tidak akan terjadi..." ucap Joseph menyesal.


Aku menggeleng menatap sendu Joseph di depanku.


"Ti-dak Joseph, aku berterima kasih karena kau datang dan menyelamatkanku..." jawabku lirih dengan mata yang masih berkaca - kaca.


"Tadi siang aku tidak bisa mampir karena aku masih sibuk dengan pekerjaanku dan aku datang kemari sekarang bermaksud menengok dan mengajakmu untuk makan malam bersama tapi malah terjadi hal yang tidak diduga seperti ini..." tutur Joseph mencoba menjelaskan.


"A-ku tidak tahu siapa mereka, Joseph..


Aku tidak mengenal mereka sebelumnya" ucapku bingung.


"Saya mengenal salah satu diantara mereka Miss. Anderson!" tiba - tiba Paulina angkat bicara.


"Maksudmu...?" Joseph bertanya.


"Ya, pria itu yang waktu itu pernah kami ceritakan Miss! salah satu dari mereka yang pagi itu mondar mandir di butik ini!!" Paulina menjelaskan dengan yakin, sementara Margareth di sebelahnya mengangguk membenarkan.


Aku dan Joseph saling bertatapan dalam diam, hanyut dalam pikiran masing - masing.


..


..


Saat keadaan agak tenang dan polisi datang memeriksa tempat kejadian dan menangkap kedua pria asing yang mengacau itu kini aku terduduk lemah di meja kerjaku sendiri.


Joseph dan kedua karyawanku sibuk memberikan informasi pada polisi yang datang memeriksa.


Bunyi getaran di ponselku beberapa kali tak kuhiraukan karena pikiranku melayang tak jelas kemana, hingga aku merasa sudah siap akupun mengangkat telepon yang sejak tadi bergetar itu tanpa henti, panggilan dari Garth.


"Hallo Jeanny, astaga kenapa kau lama sekali mengangkat telepon dariku?? Tidak ada yang terjadi padamu kan??!" tanyanya cemas di sebrang sana.


Aku tak bisa menjawabnya, yang keluar hanya suara isakan tangisku saja.


Mendengar ada yang tidak beres, Garth pun bertanya panik.


"Apa yang terjadi, Jeanny?!!


Kenapa kau menangis?!! Katakan padaku, jangan membuatku bingung, honey...?!"


Garth..., semua hancur..., butikku..." ucapku terbata, berusaha menyusun kalimat namun yang keluar hanya itu.


"Astaga, ya Tuhan!! Bagaimana bisa terjadi?!


Baiklah, Jeanny... kau tenang saja ya!


Aku akan datang malam ini juga ke Paris!!" ucapnya yakin kemudian menutup sambungan telepon itu begitu saja setelah mengucapkannya.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...