One Day In Your Life

One Day In Your Life
DALAM BAHAYA



"Bisakah kau yang mengantar Ian kembali pulang Kim?" Aku menelepon Kimberley malam itu.


"Ya, Jeanny tak masalah. Tapi jika Frank bersikeras ingin mengantarkan sendiri ke rumahmu bagaimana?" Tanya Kim di sebrang sana.


"Kau katakan saja, ini untuk terakhir kalinya Ian kuizinkan ke mansion Frank. Aku yakin dia bisa mengerti itu jadi aku mohon untuk hari ini kau saja yang mengantarkan Ian pulang ya, karena aku tak mau bertemu dengan Frank terlebih dahulu untuk saat ini."


"Okay, baiklah Jeanny, serahkan itu padaku. Kau berikan saja alamat rumahmu padaku, aku akan datang bersama dengan supirku mengantar Ian pulang."


"Terima kasih sayang..."


"Sama - sama, Jeanny. Sampai ketemu nanti." Ucap Kimberley sebelum menutup sambungan teleponnya dan aku mendesah menghembuskan nafas panjang seraya menatap Joseph di depanku yang menatapku dengan tersenyum tipis.


"Jika kau mau aku saja yang menjemput Ian pulang, Jeanny" ujarnya padaku.


"Tidak, Joseph. Itu hanya akan menimbulkan masalah baru, aku tak mau kau terlibat masalah dengan Frank karena aku tahu temperamentalnya" sahutku.


"Baiklah kalau itu maumu, kau yang lebih tahu bagaimana menghadapi Frank Jefferson" tuturnya lembut.


"Terima kasih karena kau selalu bisa memahami dan mengerti aku, Joseph. Aku beruntung mengenalmu" Ucapku sungguh - sungguh.


"Aku yang beruntung memiliki wanita sepertimu, Jeanny Anderson dan aku tak akan menyesal jika suatu saat nanti kau tak memilihku" sahutnya mengejutkanku.


"Astaga, Joseph kau bicara apa? Aku sudah memilihmu menjadi pendampingku. Apa kau masih meragukan jawabanku?" Tanyaku bingung.


"Tentu saja tidak sayang, aku hanya merasa tidak yakin dengan diriku sendiri saat harus berjuang mendapatkan hatimu, saat itu yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya agar aku selalu bisa bersamamu dan membuatmu bahagia karena itu aku masih belum bisa percaya kalau kau mau menerima hatiku saat ini." Ucap Joseph lirih.


"Joseph Hayden, ini adalah nyata. Aku sudah memilihmu karena aku yakin kau adalah pria terbaik yang diberikan Tuhan untukku dan juga Ian" tuturku lembut seraya menyentuh pipi Joseph dengan salah satu telapak tanganku.


"Terima kasih, sayang karena kau telah memberikan aku kesempatan untuk bisa menjagamu. Aku berjanji akan berusaha agar kau dan Ian selalu bahagia" sahut Joseph, tangannya membalas sentuhan tanganku di pipinya dengan tatapan hangat dan aku tersenyum lembut seraya mengangguk membalasnya.


"Ian sebentar lagi akan pulang, kalau begitu aku harus pergi dulu, Jeanny. Karena tidak enak jika nanti adik dari Frank melihat aku berada di sini bersamamu untuk saat ini. Kau tidak apa - apa kan aku tinggal sendiri?" Tanya Joseph perhatian.


"Aku tidak apa - apa, Joseph kau tenang saja. Ayo kuantarkan kau sampai ke mobilmu." Tawarku seraya bangkit dari tempat duduk.


Maka kami berduapun berjalan beriringan ke luar menuju mobil Joseph yang terparkir di halaman depan bangunan flat yang kutinggali.


"Kau jaga baik - baik dirimu, Jeanny sayang, salam untuk Ian dariku. Sampai ketemu besok ya." Joseph mengecup lembut pipiku sebelum ia masuk ke mobilnya.


"Iya, hati - hati Joseph..." Sahutku seraya melambai padanya yang sudah siap melajukan mobil mewahnya pergi.


Setelah kepergian Joseph, aku menghela nafas dalam - dalam karena dengan tiba - tiba hatiku merasa kosong seketika. Kenapa? Bukankah aku sudah memilih Joseph sebagai pelabuhan terakhirku, kenapa aku masih saja merasa kosong?


Saat aku berdiri terpaku dengan tatapan kosong itu, saat itu aku menyadari kalau aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku dan mengawasiku saat ini. Dengan spontan akupun berbalik, menengok ke kanan dan ke kiri mencari entah siapa namun aku tak menemukan apapun.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Mobil yang membawa Kimberley dan Ian baru saja sampai di gedung flat yang ditinggali oleh Jeanny.


"Benar ini tempatmu tinggal Ian sayang?" Tanya Kim pada si kecil Ian yang duduk di samping gadis remaja berambut pirang itu.


"Benar bibi Kim! Ini tempat aku tinggal bersama dengan Mom." Ian menyahut penuh semangat.


"Okay, baiklah, kita turun disini sayang. Scott kau tunggu disini, aku akan mengantarkan Ian dulu ke dalam" perintah Kim pada supir pribadinya.


"Baik nona." Sahut sang supir bernama Scott itu singkat setelah memarkir mobilnya di depan gedung bertingkat yang tampak sepi itu.


Saat Kim dan Ian turun dari mobil itu, dia sempat dikagetkan oleh sebuah mobil sedan hitam yang melesat tiba - tiba dengan cepat melewatinya.


"Astaga, Ya Tuhan!! Apa begitu caranya menyetir?! Dasar tolol!!" Maki Kim kesal pada mobil yang baru saja melewatinya dengan cepat itu.


"Bibi Kim!! Bukankah yang di dalam mobil itu Mom?!" Ian berseru mengejutkan Kim yang sejak tadi mengucapkan sumpah serapah karena merasa kesal.


"Hah?! Apa maksudmu Ian??" Kim bertanya bingung.


"Aku melihat Mom tertidur di dalam mobil itu tadi, bibi!" Ian berseru kembali.


"Tidur? Di dalam mobil? Astaga bagaimana bisa Ian?!" Kim panik saat itu juga, merasa sesuatu yang tidak beres terjadi pada Jeanny.


"Scott apa kau melihatnya tadi?!" Kim bertanya pada sang supir yang masih di dalam mobil.


"Ya, nona saya tadi sempat melihat seorang wanita berambut pirang tertidur di dalam mobil yang baru saja lewat tadi.


"Ya, Tuhan!! Bagaimana bisa Jeanny tertidur di dalam mobil sedangkan dia sendiri yang menyuruhku mengantarkan Ian pulang ke rumahnya?!"


Kim yang merasa panik saat itu langsung menelepon seseorang yang dianggap penting. Saking paniknya hingga tangannya gemetar memegang ponselnya sendiri, sedangkan si kecil Ian hanya bisa menatap bibinya itu dengan tatapan kebingungan.


"Hallo, Frank! Jeanny... Frank! Jeanny!!" Kim berseru dengan suara gemetar.


"Jeanny kenapa, Kim!? Katakan dengan jelas!" Sahut Frank menjawab teleponnya.


"Jeanny..., aku rasa...aku rasa melihatnya diculik Frank!!"


"Apa??!!"


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...