One Day In Your Life

One Day In Your Life
Ajakan Makan Malam



"Aku ingin Jeanny ikut serta dalam pembicaraan bisnis kita bersama dengan Garth nanti malam," tutur Natasya Perrone memaksa.


"Apa kau gila?! seru Frank tak percaya.


Natasya Perrone dan Frank Jefferson memang saling mengenal sejak lama dan bukan suatu kebetulan kalau kini mereka menjadi sering bertemu apalagi sejak Nat menjadi kekasih Garth Gaskins yang kini menjadi rekan bisnis Frank dan siang itu Nat datang menemui Frank di perusahan tempat Frank bekerja.


"Jangan jadikan pembicaraan bisnisku bersama dengan Garth menjadi ajang reuni konyolmu Nat!" sahut Frank memendam kedongkolan.


"Aku tak mau tahu Frank Jefferson, jika kau masih ingin melanjutkan proyek besarmu bersama dengan Garth kekasihku maka patuhi ucapanku atau kau akan kehilangan kesempatan besar itu!" kini kata - katanya terdengar mengancam.


Dengan tenang Natasya mendekatkan tubuhnya pada Frank yang tampak di depannya dan berkata.


"Ingat Frank kau akan kehilangan kesempatan besarmu yang mungkin hanya akan datang satu kali dalam hidupmu jika kau melewatkan proyekmu bersama dengan Garth Gaskins dan itu jelas akan berpengaruh besar pada masa promosimu sebagai wakil presdir di Wilson Grup's Corporation, pikirkan itu lagi Mr Jefferson yang terhormat," ucap Nat dengan penuh percaya diri.


Tanpa memberikan kesempatan Frank untuk bicara, Natasya Perrone dengan santai meninggalkannya, berusaha menyimpan senyum kemenangan karena ia baru saja membuat seorang Frank Jefferson bertekuk lutut dan tak bisa apa - apa.


Sementara itu Frank Jefferson dalam hati memaki - maki, marah dan kesal pada dirinya sendiri karena tak bisa melakukan apapun untuk menyangkal ucapan Natasya Perrone padanya tadi.


Seumur hidup baru kali ini ia seperti orang tolol dan bodoh di hadapan seorang wanita yang hanya bersembunyi dengan menyandang status kekasih Garth Gaskins, orang yang sekarang dianggapnya penting untuk membantunya mewujudkan mimpinya menjadi wakil presdir di Wilson Grup's Corporation, perusahaan tempatnya bekerja.


"Dasar wanita sial*n !!!" makinya kasar sebagai pelampiasan rasa kesalnya yang tak bisa di bendung lagi.



Secepat mungkin aku mencapai ponsel milikku yang tak ada hentinya berbunyi, aku yang tengah sibuk di dapur meninggalkan ponselku di meja makan sebrang ruangan berlari untuk meraihnya.



Kutatap layar di ponselku dan kulihat panggilan dari Natasya.


"Ya, hallo Nat?"



"Jeanny sayang..., apa kau selalu sibuk hingga melupakanku?" godanya di sebrang sana.



Aku tertawa tertahan dan menyahut ringan,


"Aku tak sesibuk seperti Natasya Perrone bersama dengan kekasih barunya yang tampan," sahutku santai



"Ada apa Nat, tak biasanya kau menelepon?", sambungku bertanya.



"Aku hanya merindukanmu Jeanny, kau baik - baik saja bukan?"



"Tentu saja Nat, aku baik - baik saja." sahutku



"Dua teman kecilmu, Alex dan Kimmy bagaimana kabar mereka?"



"Mereka juga baik -baik saja, saat ini mereka belum pulang dari sekolah."



"Tsk,,, apa kau tak ingin mempunyai waktu untukmu dirimu sendiri Jeanny, kau tampak lelah sayang..."



"Aku baik - baik saja Nat, tak ada yang perlu kau khawatirkan"



"Kalau begitu aku akan memberikanmu kejutan, karena bagaimanapun kau butuh sesuatu untuk mencairkan suasana Jeanny."



"Maksudmu Nat?"



"Maaf aku belum bisa menjawabnya Jeanny, kau akan tahu nanti. Ini akan menjadi kejutan untukmu.



"Bye..., see you sweetty. Kau jaga baik - baik dirimu di sana ya." ucap Nat mengakhiri panggilannya dan membiarkan aku yang masih bingung dan bertanya apa maksud ucapannya itu tadi.



\#\#\#\#\#\#\#



"Kuberi waktu 55 menit untuk bersiap - siap, kita akan pergi malam ini juga!" perintah Frank tiba - tiba sepulang ia dari kantor.



Tentu saja aku terkejut saat mendengarnya, malam itu sekitar pukul tujuh malam aku tengah menemani Alex dan Kimmy di ruang kelurga dekat perapian.



Frank yang baru saja pulang dengan masih mengenakan setelan jas kerja dan dasi dengan garis vertikal biru tua, mengejutkan kami bertiga dengan mengatakan sesuatu yang belum aku mengerti.



"Untuk apa?" aku bertanya penasaran.


Frank memalingkan wajahnya padaku yang tengah berdiri kebingungan.



Kemudian Frank berlalu pergi menuju ke anak tangga, saat itu pun aku berusaha mencegahnya.


"Tunggu Frank!" setidaknya aku tahu pakaian apa yang harus aku kenakan untuk acara itu?" tanyaku agak gugup.



Frank menghentikan langkahnya dan sedikit menoleh ke arahku, di belakangnya.


"Berpikirlah miss Anderson, apakah pantas mengenakan jeans belel dan blus tuamu itu dalam acara makan malam resmi?" sahutnya dingin.



Dalam waktu singkat yang Frank berikan padaku, aku mengaduk - aduk isi lemariku dengan masih menyimpan seribu pertanyaan yang ada di dalam otak dan kepalaku.


Acara makan malam apa?


Dengan siapa dan mengapa Frank tiba - tiba mengajakku untuk ikut bersamanya?


"Astaga, ada apa ini sebenarnya?" batinku rumit.


Belum puas dengan jawaban Nat dalam pembicaraan kami di telepon siang tadi yang bagiku masih terkesan teka - teki dan begitu jelas tampak ditutup - tutupi.


Sekarang aku harus kembali di bebani pikiran yang begitu mengganjal di otakku.


Semuanya seperti menyimpan jejak teka - teki tanpa tahu pasti bagaimana memecahkannya sebelum aku melihat sendiri siapa dan alasan apa Frank membawaku serta untuk ikut bersamanya?


Kubasuh wajahku dengan air di wastafel sebanyak mungkin, aku tak ingin terlihat pucat di depan Frank ataupun yang lainnya.


Ingin rasanya aku menangis saat tahu kalau aku hanya membawa sebuah gaun berenda putih dengan bahu terbuka, gaun yang sama ketika kukenakan saat masih di San Fransisco, merayakan pesta ulang tahunku ke 25 di bulan February lalu.


Apakah pantas mengenakan gaun ini dalam acara makan malam yang sama sekali belum aku tahu jelasnya?


Akhirnya dengan masih menyimpan setumpuk rasa kebimbangan aku pun memutuskan mengenakannya malam ini, lebih baik daripada tidak sama sekali.


Kutatap beberapa lama bayangan diriku di cermin dan kuambil nafas panjang - panjang untuk berusaha tidak gemetar.


Kemudian langkah selanjutnya ku ikat rambutku yang sepanjang bahu bawah dengan model yang pernah ku pelajari di salah satu majalah Fashion yang pernah aku baca.


Kuperbaiki tampilannya dengan sebuah jepit kulit kerang putih di bagian atasnya.


Setelah itu kukenakan kalung mutiara di sekeliling leher.


Kulirik jam digital di meja rias di depanku, masih ada waktu 12 menit dari waktu yang telah ditentukan Frank.


Aku mencoba berdiri dan mengambil sepatu bertumit tinggi serta syal sutra paisley kemudian membuka pintu dan berjalan keluar siap menantikan saat - saat yang menegangkan bagiku.


Makan malam bersama dengan Frank yang tak pernah menyukaiku.


Dengan langkah ragu aku menghampiri Alex dan Kimmy yang tampak duduk menonton televisi di ruang keluarga.


Susah payah aku berusaha menampilkan penampilan terbaik di depan mereka terutama di depan Frank nanti.


Mimpi atau bukan kulihat dengan jelas reaksi mereka saat melihatku.


"Kaukah itu Jeanny?!" seru mereka tak percaya dan aku hanya bisa tersenyum dipaksakan.


Si kecil Kimmy berlari kecil menghampiriku dan berseru dengan semangat.


"Malam ini kau begitu cantik Jeanny! sungguh!


Aku suka kau memakai gaun putih ini!"


Entah memang benar atau tidak, mereka memujiku tapi aku bisa sedikit lega saat mendengar komentar mereka padaku.


"Kalau aku dewasa nanti, aku ingin pacarku secantik kau Jeanny!" Alex menambahkan dengan ekspresi sangat yakin.


Aku membungkuk di depan mereka dan berkata seraya tersenyum.


"Terima kasih Kimmy ku yang manis dan Alex ku yang tampan."


"Aku yakin Frank akan menyukaimu, Jeanny," tutur Kimmy lirih meyakinkanku."


Belum sempat aku menjawab, disaat yang sama itu pula Frank muncul dari tangga di depan kami.


Aku terpana sejenak saat melihatnya, dengan masih memperbaiki lengan jas yang di pakainya ia pun kini beralih memandang ke arahku dari rambut sampai ujung kaki.


Saat tahu ia memperhatikan penampilanku malam ini, aku pun hanya bisa berdiri kaku dengan jantung yang tak berhenti berdebar kencang menunggu - nunggu saat ia berkomentar nanti.


Aku pun berpikir seandainya saja Frank tidak menatapku dengan cara seperti itu dan situasi kami tidak canggung seperti ini, dengan senang hati aku akan memuji penampilannya yang kini tampak begitu berbeda.


Ia tampan, jauh lebih tampan dari yang pernah aku lihat sejak perkenalan pertama kami dulu.


Setelan kelabu gelap dan kemeja putih sebagai ********** nampak begitu memikat.


Rambutnya yang kini nampak rapi di sisir ke belakang menunjukkan begitu jelas sinar matanya yang gelap saat dia menatap tajam padaku.


"Kau menggunakan waktumu dengan baik miss Anderson", ucapnya datar tanpa ekspresi.


Kemudian tanpa berkata apa - apa lagi dengan santai ia berjalan melewatiku untuk menghampiri Alex dan Kimmy yang berada di belakangku.


"Kalian baik - baik di rumah, kami pergi tak akan lama. Kunci pintu rumah dan jangan pergi kemana - mana!" perintahnya tegas.


Kedua bocah kecil itu hanya mengangguk menurut.


"Kalian akan pergi kencan kan Frank?" tanya Alex polos.


Mendengar pertanyaan lugu dari mulut Alex kontan saja aku sedikit mencemaskan reaksi Frank setelah mendengarnya.


Namun dugaanku salah Frank diam seolah tak memperdulikan pertanyaan itu.


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺...