One Day In Your Life

One Day In Your Life
AKU HANYA INGIN SENDIRI



"Kau tak ingin memberitahu suamimu kalau kau ada disini, Jeanny?" Natasya bertanya seraya memberikan teh hangat untukku malam itu.


"Tidak, biarkan saja.


Ia pasti tahu aku ada di sini," sahutku tenang.


"Yah, itu terserah padamu.


Setidaknya kau harus memberikannya pelajaran sedikit padanya," dukung Natasya padaku.


Kini ia duduk di sampingku dan mengelus lembut punggung tanganku.


"Kau harus kuat, Jeanny demi anakmu...


Mungkin ini cobaan bagi pernikahan kalian.


Aku tahu apa yang kau rasakan, pasti begitu sakit jika tahu orang yang dicintai punya hubungan dengan wanita lain apalagi jika benar sampai memiliki anak," tutur Natasya simpatik.


"Apapun yang kau putuskan, aku akan selalu berada di pihakmu, jadi kau tak perlu merasa bersedih seorang diri ya," tambahnya dengan wajah penuh sayang.


Kutatap Nat dengan tatapan lemah dan berkabut.


"Terima kasih, Nat..


Aku tak tahu harus pergi kemana jika tak ada kau di sisiku," ucapku lirih dan Natasya hanya tersenyum manis menenangkan.


"Lantas apa yang akan kau lakukan pada wanita bernama Carol itu, Jeanny?" tanyanya kemudian.


"Entahlah, aku belum bisa berpikir jernih.


Aku akan menemuinya besok, karena aku masih punya keyakinan pada Frank.


Hati kecilku mengatakan kalau Frank tak mungkin mengkhianatiku, mungkin ada sesuatu yang tidak aku ketahui selama ini dan aku akan mencari celah itu, Nat," jawabku penuh dengan keyakinan.


"Akan kutemani kau jika kau menemui perempuan sialan itu besok, aku tak mau kau menemuinya seorang diri" sahutnya menawarkan diri.


"Tidak Nat, aku harus datang seorang diri.


Jika aku datang bersamamu, dia akan berpikir kalau aku adalah wanita lemah dan pengecut.


Aku ingin tahu kebenaran apa yang ingin ia tunjukkan padaku jika kita bertemu nanti, dan kita akan buktikan apakah ucapannya bisa dipercaya atau justru sebaliknya," sahutku.


Natasya mendesah pelan mendengar jawabanku.


"Baiklah, kalau itu yang kau mau Jeanny..., tapi ingat hubungi aku secepatnya jika ada sesuatu nanti, okay?!"


Aku tak mau terjadi apa-apa padamu, karena aku takut si Carol sialan itu akan bertindak nekad padamu," ucap Natasya cemas.


"Kau tak perlu khawatir, Nat...


Dia tak akan berani macam-macam padaku karena jika ia melakukannya ia sama saja menggali kubur untuk dirinya sendiri," sahutku yakin.


Kemudian selang beberapa menit, kudengar seseorang mengetuk pintu apartemen Natasya.


Kami berdua pun bertatapan seakan saling memahami siapa yang mungkin datang malam-malam begini.


"Kau tunggu di sini! akan kubukakan pintu.


Aku sangat yakin kalau itu adalah suamimu" tutur Natasya dan aku hanya mengangguk sekilas.


Natasya membuka pintu dan memang dugaan kami benar, kudengar suara Frank dari luar ruangan.


"Jeanny, di mana Jeanny Nat?!


Aku tahu pasti dia ada disini bersamamu kan?" Frank bertanya seperti orang gila.


"Dia ada disini sejak siang tadi, kau tenang saja," Natasya menjawab singkat.


"Syukurlah, aku pikir dia akan pergi jauh dariku Nat.."


A-ku ingin menemuinya Nat, bisakah aku menemui istriku sekarang?" tanya Frank kemudian.


"Dia ada di dalam kamar, sebagai teman kusarankan sebaiknya kau tak menemuinya dulu saat ini.


Dia hanya butuh ketenangan, jadi berikan dia ruang dulu untuk beristirahat," tutur Natasya memberikan nasehat.


"Biarkan aku bertemu dengannya sebentar Nat, aku harus memastikan diriku sendiri kalau dia baik-baik saja," sahut Frank cemas.


"Dia baik - baik saja, untuk saat ini.


Jeanny wanita yang kuat, tapi ingat Frank Jefferson kuperingatkan kau kali ini, sekalipun kau adalah suaminya, jika sedikitpun kau menyakiti hatinya lagi seperti dulu maka aku- adalah orang pertama yang akan berurusan denganmu," tutur Natasya tegas.


Mendengar suara Frank, entah kenapa hatiku terasa sakit.


Apalagi saat dia begitu mengkhawatirkan aku dan mencariku malam-malam begini ke apartemen Natasya hanya untuk ingin tahu keadaanku.


Kupejamkan kedua mataku dan mendesah pelan, cinta kami saat ini sedang diuji dan aku harus kuat menghadapinya.


"Tolong tinggalkan kami sebentar, Nat! aku ingin bicara dengan Frank," ucapku setelah keluar dari kamar dan melihat Frank dan Natasya masih saja berdebat.


"Baiklah kalau itu yang kau mau Jeanny," sahut Natasya mengerti dan berjalan meninggalkan aku dan Frank di ruangan itu.


Kulihat Frank menatapku lemah dan berjalan cepat menghampiriku, penampilannya kini tampak kacau.


Setelan jas yang masih dikenakannya tampak lusuh, dan wajahnya benar-benar tampak lelah.


"Sayang, aku bersyukur kau baik-baik saja.


Aku sangat cemas memikirkanmu," ucapnya cemas seraya menyentuh lembut kedua tanganku.


"Aku hanya ingin sendiri Frank, maafkan aku membuatmu cemas," sahutku lirih.


"Tidak, tidak sayang..., aku yang harusnya meminta maaf padamu karena aku, kau seperti ini.


Maafkan aku sayang..., sekali maafkan aku," ucap Frank dengan wajah penuh penyesalan.


"Ca-rol, dia-" sebelum Frank melanjutkan ucapannya, dengan cepat aku menukas ucapannya.


"Tidak! jangan kau bahas tentang dia malam ini, Frank. Aku sedang tak ingin memikirkannya, aku mohon," sahutku cepat.


"Baiklah sayang, maafkan aku..., aku bisa mengerti.


Tapi kau mau pulang malam ini bersamaku kan sayang?" tanyanya dengan ekspresi wajah memohon, kedua matanya yang tajam menatapmu sendu, entah kenapa hatiku begitu sakit saat melihatnya.


"Tidak Frank, aku akan pulang jika aku ingin pulang nanti tapi untuk saat ini, tolong biarkan aku disini sendiri.


Aku harap kau mau mengerti itu," jawabku tegas.


Kepala Frank menunduk dan tatapannya lemah, sedetik kemudian dia pun menjawab.


"Baiklah sayang, aku tahu...


Tapi, aku mohon tolong jangankan tinggalkan aku, Honey..


Aku mencintaimu, sungguh," ucapnya sungguh-sungguh, kedua tangannya kini mengenggam erat jemari tanganku kuat.


Aku tak menjawab dan berpaling dari wajahnya.


Entahlah, aku ragu.


Perasaanku kacau karena memang jujur kehadiran Carol yang begitu tiba-tiba dalam kehidupan keluarga kami membuatku syok dan hatiku sakit.


"Berikan aku waktu, Frank


Aku hanya ingin sendiri," ucapku lirih.


"Baiklah sayang, aku akan selalu menunggumu sampai kau kembali padaku," sahut Frank dengan suara lemah.


..


..


Setelah Frank pergi dari apartemen Natasya, entah kenapa aku tak bisa berhenti menangis.


Aku merasa rapuh dan lemah, apalagi saat mengingat bagaimana wajah Frank saat menatapku dan memohon agar aku ikut pulang bersamanya.


Rasanya aku saat itu ingin memeluknya dan berkata bersedia tapi hatiku menolak untuk melakukannya.


Entahlah..., perasaanku sungguh rumit.


Yang kutahu sekarang, aku hanya ingin sendiri dan tak ingin pulang.


Jauh dalam hatiku, aku merasa takut dengan perasaan cinta ini yang berlebihan, aku takut jika suatu saat perasaan cinta ini berubah menjadi benci suatu saat nanti.


Mungkinkah...?


Tidak, aku tak ingin itu terjadi karena aku percaya dengan keyakinanku sendiri dan semoga saja Tuhan berpihak padaku.


Semoga...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...Semoga perasaan Jeanny tak berubah ya gaes...💔😥🥺...


...Yukk, jika kalian suka part ini jgn lupa tinggalkan like dan koment kalian ya...


...Klik faforite jg, agar kalian tak ketinggalan up dr kisah Jeanny dan Frank😁😚...


...Salam hangat dan sayang untuk kalian semua...


...❤️❤️❤️...