One Day In Your Life

One Day In Your Life
Sentuhan pertama



Aku dan Frank berpisah dengan pasangan Garth dan Natasya di lobi Richmond's Restoran.


Setelah mengucapkan kata perpisahan Garth menjabat tanganku dan menciumnya dengan tanpa memperdulikan Frank ataupun Natasya di sampingnya.


"Senang bisa berkenalan denganmu miss Anderson..., maksudku Jeanny" tuturnya dengan tatapan menggoda.


Sikap Garth yang demikian itu sempat membuatku merah padam, perasaan malu bercampur marah karena sikapnya padaku seolah tak memandang Natasya sebagai kekasihnya.


Aku kaget setengah mati saat Frank menarik lenganku dengan kasar dan memaksaku untuk mengikuti langkah kakinya yang cepat.


"Kenapa kau Frank?!" tanyaku kaget.


"Tak usah banyak tanya perempuan jal*ng!" sahutnya kasar.


Dengan tubuhnya yang tegap dan kokoh ia menghimpitku diantara bagian samping mobil jaguar miliknya.


Matanya berkilat - kilat bagai api yang bisa menelan tubuhku hingga sampai ke dasarnya.


"Aku tahu apa yang kau bicarakan dengan Nat tadi di dalam toilet, kalian berdua merencanakan ini semua bukan?!" serunya marah.


Aku berkedip beberapa saat, berusaha menenangkan diri.


"Tidak!! kau salah paham Frank! kami sama sekali tak pernah merencanakan ini sebelumnya!!" jawabku membela diri.


Frank menyerigai tajam dan berkata.


"Kau kira aku tak tahu apa yang ada dalam pikiranmu miss Anderson!?


Kalian berdua berusaha menghancurkan reputasiku di depan Garth dan menggagalkan apa yang telah kami rencanakan!"


"Tidak, Tidak!!" aku menggeleng menyangkal.


"Apa yang kau tuduhkan padaku berlebihan Frank, aku sama sekali tak tahu menahu tentang bisnismu bersama dengan Garth Gaskins!" sahutku membela diri.


Wajah Frank semakin dekat dengan wajahku, begitu dekat sehingga aku sulit untuk bernafas.


Ia menciumku, ciumannya kasar dan brutal seakan ia memang sengaja melampiaskan amarahnya dengan cara seperti ini.


Selama Frank menciumku dengan kasar nafasku menjadi tak teratur, aku sulit untuk bernafas.


Susah payah aku memberontak tapi tak mampu, tubuhku kaku bagai dihimpit beban berat.


Kedua tanganku tak dapat di gerakkan karena cengkraman Frank begitu erat di pergelangan tanganku.


Beberapa menit kemudian Frank melepaskan ciumannya begitu pula cengkraman kuat di tanganku.


Lama kami bertatapan dalam diam, yang terdengar hanya suara nafas kami berdua.


Tubuhku masih gemetar karena pengaruh kuat ciuman kasar Frank padaku tadi.


"Ini hukuman yang pantas untuk perempuan penggoda sepertimu," ucapnya sinis.


Mataku berkaca - kaca karena perlakuan kasar Frank padaku, entah kenapa bibirku terasa kaku untuk membantah atas ucapan kasar tak berperasaan Frank mengenai diriku saat ini.


#######


Selain itu di lain tempat, dalam perjalanan pulang Natasya Perrone dan kekasihnya Garth Gaskins membicarakan pertemuan mereka dengan Frank Jefferson bersama dengan Jeanny Anderson tadi di Richmond's Restoran.


Mereka mengendarai mobil mewah Lamborghini keluaran terbaru dengan kecepatan sedang.


"Aku tak yakin kalau Jeanny Anderson adalah tunangan Frank, kau setuju dengan pendapatku kan sayang?" tanya Garth santai pada Nat yang duduk di sampingnya.


"Mungkin," Nat menjawab ringan dengan pandangan tetap fokus ke depan.


Garth tersenyum sendiri mengenang pertemuan dengan wanita bergaun putih berwajah melankolis itu.


Pertemuan yang singkat namun menimbulkan kesan mendalam bagi dirinya.


"Aku rasa bisnisku dengan Frank akan berjalan mulus tanpa halangan bahkan akan sangat mulus," ucap Garth kemudian mencoba menepis bayangan wajah dalam lamunannya.


Natasya yang kini tampak kesal mulai angkat bicara.


"Aku merasa tak yakin kalau proyekmu di Wilson Grup's Corporation akan berjalan dengan tanpa hambatan bersama dengan Frank" sahut Natasya.


"Kau meragukan kemampuan kami, sayang?" sahut Garth menggoda kekasihnya.


"Entahlah.., karena ku pikir yang terjadi nanti akan lebih dari itu" jawab Natasya memberikan kode sinyal pada Garth di sampingnya.


Mendengar ucapan Natasya, Garth tertawa tertahan dengan gerakan santai namun menggoda ia mengelus - elus paha kekasihnya.


"Kau pikir aku tak tahu kalau kau cemburu pada teman cantikmu itu, honey?" tutur Garth menahan tawa.


"Dan kau pikir aku tak tahu apa yang ada dalam otakmu sekarang" sahut Nat kesal.


"Yeah, tapi ku harap kau tak mencampur adukkan bisnis kami berdua dengan masalah perasaan wanita," tutur Garth ringan.


Natasya menepis sentuhan Garth dengan gerakan mendadak yang sempat membuat pria itu cukup terkejut dengan reaksi Nat yang tidak biasa padanya.


Wajah Nat kini berubah serius dan kini ia menatap tajam pada Garth Gaskins.


"Jangan salah artikan sikapku ini sebagai wanita Garth tapi perlu kau tahu, sebaiknya hilangkan pikiran kotormu itu untuk menggoda Jeanny Anderson karena dia adalah wanita yang tak pantas untuk diperlakukan sama sepertiku ataupun wanita - wanita lain yang pernah mengisi hidupmu."


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Kuketuk pintu kamar Frank malam itu.


Saat ini adalah waktu makan malam dan aku rasa Frank seharusnya sudah keluar.


Entah mengapa dadaku bergejolak hebat saat mendekati pintu ruang kamar Frank.


Seingatku ini untuk kedua kalinya aku melangkahi kakiku di kamar Frank setelah apa yang terjadi beberapa hari yang lalu di kamar ini, perlakuan kasar Frank ketika ulang tahunnya saat itu.


Masih belum ada jawaban, maka dengan keberanian yang aku punya kubuka pintu kamar dengan hati - hati, takut kalau suara itu menimbulkan gangguan.


Pandanganku menyapu seluruh isi ruangan.


Tak ada siapa - siapa, sepi dan yang ada hanya beberapa tumpukkan map serta mungkin berkas - berkas penting lainnya tergeletak di tepi meja samping ranjang.


Selain itu juga seprai ranjang tampak berantakan diatasnya tergeletak kemeja putih dan setelan jas kerja yang Frank kenakan pagi tadi.


"Frank, kau di dalam?" panggilku sekali lagi namun masih belum ada jawaban.


Mengikuti dorongan hati, kudekati ranjang itu dan mulai merapikan sebaik mungkin kemudian berbalik dengan membawa setelan jas kerja serta kemeja kotor untuk ku cuci.


Namun saat itu pula aku terkejut setengah mati hingga tubuhku nyaris jatuh saat menyadari apa yang tampak di depanku.


Begitu dekat, nyaris kutabrak kalau saja aku tak cepat - cepat menyadarinya.


"Begini caramu masuk ke kamar pribadi milik tuan rumah miss?" tegurnya dengan suara yang hampir membuatku meledak.


Kutatap Frank dengan masih di selimuti rasa keterkejutan dan aku mundur menjaga jarak.


Susah apa aku mengontrol diriku agar tidak jatuh karena tergoda saat tahu Frank hanya mengenakan handuk sebatas pinggang dengan tubuh yang masih basah kena air.


Bau wangi sabun yang maskulin seperti hampir memenuhi isi kamar.


"Ma-af...Frank, aku tadi sudah mengetuk pintu berulang kali jadi kupikir kau tidak ada karena tidak ada jawaban dan saat kutahu ranjangmu berantakan aku mencoba merapikannya," sahutku menjelaskan dengan suara sedikit tertahan.


Frank tersenyum kecut dan mulai mendekat ke arahku, butir - butir air yang masih menempel di tubuhnya tampak mengkilat seperti buih mutiara kena cahaya menyapu seluruh bagian tubuhnya.


"Rasanya aneh tiba - tiba kau peduli padaku atau kau punya maksud tersembunyi dengan mencoba masuk ke kamarku seenaknya?" tuturnya tajam.


"Tidak!" aku cepat - cepat menyangkal.


"Aku hanya bermaksud memanggilmu untuk makan malam karena Alex dan Kimmy telah menunggumu di bawah," jawabku kemudian dengan gugup.


"Benarkah itu miss? Rasanya aku meragukannya," ucapnya tajam.


Tanpa sadar kini aku terpojok di dinding ruangan sehingga kini posisiku menjadi terhimpit.


Setelan jas yang ku bawa jatuh di lantai saat tubuh kekar Frank menghimpitku, tubuh Frank yang tinggi membuat kepalanya menunduk saat ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku yang kini mungkin menjadi pucat pasi menahan panik.


"Atau kau sengaja datang ke kamarku untuk menawarkan dirimu miss?" tuturnya dengan nada melecehkan.


Mendengar kalimat pedasnya seketika itupun nafasku menjadi tak teratur menahan diri agar tetap terkontrol.


"Apa maksudmu Frank?!" tanyaku panik.


Senyuman dengan kesan mengejek itu muncul lagi di wajahnya, bau wangi khas pria menusuk hidungku saat tangannya yang kekar dan berotot menyentuh pipi dan kemudian turun ke leher bahuku yang cukup terbuka.


Mataku terpejam tak kuat dengan apa yang terjadi padaku sekarang.


Sentuhan tangan Frank berhenti di leher, tanpa sadar aku mengigit bibir bawahku sendiri.


"Sekarang aku tahu, mengapa dengan mudahnya pria tergoda padamu miss Anderson.


Termasuk Max...., yang kau bunuh."


Kedua mataku terbuka seketika, seperti mimpi rasanya mendengar kata - kata itu.


Saat sadar itu bukan mimpi, kudorong tubuh Frank sekuat tenaga hingga ia jauh dariku.


"Tak cukupkah kau menyakitiku dengan kalimat kejam itu Frank?!" seruku serak.


Hatiku semakin sakit saat Frank menanggapinya dengan santai seolah tanpa dosa.


"Cukup?!"tukasnya lantang.


"Tentu saja tidak!! Ini baru awalnya jika kau ingin tahu itu," ucapnya tanpa perasaan.


Aku menggeleng cepat, tak kuasa menahan air mata yang kini menetes di pipiku.


"Kau keterlaluan Frank! Harus bagaimana lagi agar kau tahu aku bukan penyebab kematian Max!!" ucapku dengan suara serak.


Frank tersenyum dingin.


"Jangan coba - coba mengubah pendirianku dengan tampang memelas dan air mata brengs*k itu di depanku!" umpatnya kasar.


"Kalau bukan memandang ibuku, kau sudah ku usir dari rumah ini dari awal!!" tambahnya tanpa perasaan.


Kali ini ku tatap mata Frank dengan tatapan berani.


"Aku tak habis pikir hati dan perasaanmu sekeras batu karang Frank.


Rasa bencimu yang begitu berlebihan menutup mata hatimu untuk menerima kenyataan yang sesungguhnya," ucapku pelan dengan mata berkaca - kaca.


Ekspresi wajah Frank tetap sama, bahkan lebih tajam.


"Sepertinya kau ingin menguji kesabaranku lagi, jika kau datang ke sini dengan sengaja untuk mengulang kembali peristiwa malam itu di tempat ini, maka dengan senang hati aku akan membantumu mengingatnya kembali, miss Anderson."


...πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯...