One Day In Your Life

One Day In Your Life
Sebuah tamparan



"Masukk!!" perintah seseorang di ruang depan.


Mendengar suara yang tak lagi asing itu, aku yang malam itu tengah sibuk menyiapkan makan malam bersama dengan Kimmy langsung berjalan cepat menuju ruang depan.


"Frank?!" seruku tak percaya, bagaimana tidak percaya dengan kasar Frank mendorong Alex ke kursi yang tak jauh di belakangnya.


"Duduk!!" perintah Frank lagi.


"Tidak!!" Alex membantah cepat - cepat.


"Aku bilang duduk!!" ulang Frank marah, ku lihat ekspresi menyeramkan di wajah Frank yang sama seperti malam itu saat ia menyakitiku di malam ulang tahun Frank beberapa waktu yang lalu.


Tampaknya sesuatu yang mengerikan terjadi pada mereka.


Ya, aku dapat menyimpulkannya.


Yang ku tahu Alex sore tadi berpamitan untuk belajar kelompok bersama dengan teman - teman di sekolahnya untuk mengerjakan sebuah tugas tahunan sekolah dan baru pertama kali aku melihat Frank semarah ini pada adiknya, Alex.


"Kau mau jadi apa, Alex?!


Menjadi anak brengs*k yang tak tahu aturan sama sekali?!" seru Frank, tampak otot - otot di lehernya menonjol, kedua telapak tangannya mengepal erat menahan emosi yang meluap - luap di dadanya.


"Aku tak pernah melakukan sesuatu yang buruk Frank!" tukas Alex membela diri.


Sama sekali tak kupercaya Alex seberani itu pada kakaknya, Frank.


"Apa kau bilang?! tak pernah melakukan apa - apa?


Lalu apa yang ku lihat tadi hah?!!" Frank berseru seraya menunjuk ke arah pintu luar yang masih terbuka.


"Brengs*kk!!!" umpatnya keras - keras dan menendang pintu itu tak kalah kerasnya.


Hingga aku kaget setengah mati saat mendengarnya dan dapat kurasakan pelukan spontan si kecil Kimmy di sampingku yang kini tampak ketakutan.


Aku rasa sejak tadi Kimmy ikut melihatnya dan akupun menepuknya dengan tepukan hangat menenangkan.


Aku tak akan ikut campur sampai keadaan ini masih dapat di kendalikan.


Frank yang bertanggung jawab penuh atas kedua adiknya, aku tahu itu.


"Kau selalu membesar - besarkan masalah Frank! aku hanya mencoba membela Debbie dari mereka semua, mereka menganggu kami berdua dan aku hanya mencoba membela diri!" seru Alex mantap saat menjelaskannya pada Frank yang masih menampakkan ekspresinya yang sama.


"Persetan dengan semua itu!" umpat Frank tak mau tahu.


"Selama ini kau selalu bikin onar, membuat masalah dimanapun kau berada.


Apa kau tak pernah menggunakan akal sehatmu lagi?!" maki Frank kasar yang bagiku tak pada tempatnya.


Tak terima dengan kata - kata kasar Frank, Alex pun menatap tajam dengan berani.


"Bukankah kau sendiri yang tak pernah menggunakan akal sehatmu?" sahut Alex pedas.


Aku sendiri tak percaya, Alex mengucapkan kalimat itu pada Frank.


"Apa kau bilang?!


Coba kau ulangi lagi, anak brengs*k!!" seru Frank garang, kulihat tangan berototnya siap - siap melayangkan tamparan di wajah anak yang belum genap 13 tahun di depannya.


Seperti tak takut dengan apa yang mengancam di depannya, Alex berdiri tegap, kukuh tanpa bergerak.


Tatapannya tak bergeming sedikitpun.


Emosi Frank seakan tak terbendung lagi melihat sikap Alex yang menantangnya, saat dengan tenangnya Alex mengucapkan kata - kata,


"Aku tak pernah bohong Frank, kalau kau sendiri yang tak pernah menggunakan akal sehatmu sendiri selama ini."


Detik itu pun Frank menampar keras - keras pipi Alex yang merah.


Plaaakkkkk!!!!!


Tamparan itu seperti terdengar bergema di telingaku.


"Cukup!!!" aku berteriak keras sebelum terjadi sesuatu yang tak kuinginkan.


Secepat kilat aku berlari ke tengah - tengah mereka berdua, Frank dan Alex.


Sempat ku lihat Alex meringis kesakitan menahan nyeri di pipinya sebelum tatapanku beralih pada Frank kini menatapku dengan pandangan ber api - api.


"Kenapa kau selalu ikut campur, wanita brengs*k?!!" makinya pedas, rahangnya tertutup rapat menahan kedongkolan.


Kutatap pria menakutkan di depanku dengan berani.


"Tak seharusnya kau berbuat di luar batas seperti yang kau lakukan tadi pada Alex!" tegurku spontan.


Walaupun dalam hati aku menyimpan kegembiraan yang egois setelah beberapa hari ini Frank tak pernah sedikitpun menegurku.


Mendengar ucapanku Frank tertawa mengejek.


"Di luar batas?


Apa aku tak salah dengar miss Anderson?


Kau baru saja membicarakan dirimu sendiri.


Aku ingin bertanya 1 hal padamu miss..., apakah kau tak pernah berkaca?


Bahwa kau adalah wanita yang paling tidak tahu malu yang pernah aku kenal" ucapnya dengan nada meremehkan.


Senyuman dingin khasnya yang selalu di tujukan padaku kali ini menyiratkan kesinisan, mewakili pandangannya yang tiba - tiba merasa jijik padaku.


"Jangan salah artikan sikap diamku selama ini sebagai kekalahan jadi jika kau memang wanita yang cukup pintar, seharusnya aku tak perlu repot - repot mengusirmu untuk kesekian kalinya karena sudah cukup lama aku MUAK dengan apa saja yang kau lakukan di rumah ini!


Dan perlu kau tahu ada dan tidaknya kau dirumah ini tak ada artinya sama sekali bagiku karena selama ini aku tak pernah sekalipun menganggapmu ada dalam hidupku!!"


Semua pernyataan Frank bak pukulan berat tepat di dadaku, rasanya sesak sekali.


Hingga tanpa kusadari mataku mulai berair.


Itu kah isi hati Frank yang sesungguhnya padaku selama ini?


Walaupun aku tahu dari dulu ia tak pernah menyukaiku namun kali ini mendengar ucapan menyakitkan itu dari bibir Frank, entah kenapa aku merasa sesak?


Sungguh sangat menyakitkan.


Hingga tanpa kusadari dengan spontan, ku layangkan sebuah tamparan tepat di wajah angkuh Frank Jefferson yang kini menatapku dengan tajam dan mengerikan.


Kehampaan seketika ada diantara kami semua, seperti tak percaya dengan apa yang baru saja aku lakukan pada Frank.


Saat Frank mulai membalasku dengan melayangkan telapak tangannya di wajahku aku berseru cepat.


"Tampar aku Frank!


Pukul aku jika itu yang bisa membuatmu merasa puas!


Anggap saja sebagai balasan atas tamparanku padamu tadi.


Aku rela Frank, semua akan terasa adil bagi kita! bukankah itu yang kau inginkan?!"


"Jangan! Jangan pukul Jeanny!


Aku mohon Frank! Jangan sakiti dia!!"


Tiba - tiba saja sebelum Frank melakukan apa yang ingin ia lakukan padaku, Kimmy yang sejak tadi berdiri diam di depan pintu ruang tengah berlari kecil ke arah kami berdua, aku dan Alex.


Dengan tubuhnya yang mungil, Kimmy memelukku erat - erat seakan tak ingin di lepaskan, pelukannya hanya sampai sebatas pinggang namun aku merasa terlindung dan nyaman di buatnya.


"Sudah cukup kau menampar Alex dan kini kau ingin menampar Jeanny'ku..., kau jahat Frank! kau benar - benar jahat!" suara Kimmy terdengar nyaring walaupun kecil.


Entah kekuatan apa yang membuat Frank diam mematung, emosinya seakan mulai mereda dan dapat ia kendalikan setelah melihat si kecil Kimmy.


Ia menatap kami, aku dan Kimmy secara bergantian kemudian berlanjut pada Alex yang sejak tadi berdiri terpaku di belakangku.


"Ku ucapkan selamat miss Anderson, kau berhasil merebut simpatik kedua adikku.


Kau boleh merasa bangga dengan kemenanganmu namun itu tidak akan berlangsung lama karena aku tak akan pernah mengizinkanmu berada di rumah ini lagi!" Frank berseru dengan lantang.


"Secepatnya kau harus pergi dari kehidupan kami miss Anderson karena aku tak mau lepas kendali dan melakukan sesuatu yang buruk yang akan membuatmu menyesal tinggal di rumah ini!!" seru Frank kembali.


Kali ini Frank tak main - main dengan ucapannya.


"Kau boleh mengusirku kapan saja Frank, tapi tidak untuk saat ini!


Aku tak akan pergi sebelum aku rela melepaskan Alex dan Kimmy tinggal seatap hanya denganmu, mereka berdua yang selama ini menjadi alasanku berada di rumah ini.


Aku menyayangi mereka melebihi diriku sendiri karena itu aku punya alasan kuat untuk melindungi mereka jadi sekalipun kau membunuh dan mencaci - makiku itu tak akan menjadikan alasanku untuk pergi meninggalkan mereka.


Sikapmu pada Alex sudah cukup untuk membuktikannya kalau kau belum mampu mencintai dan menyayangi mereka sebagaimana mestinya Frank Jefferson," aku menjawab dengan penuh keyakinan.


Frank hanya mencibir mendengar penjelasanku, kini ia menatapku dengan tatapan mematikan.


"Perlu kau tahu Jeanny Anderson, semua yang kau lakukan dan yang kau katakan padaku adalah sampah!!


Seharusnya kau bersyukur karena aku masih bisa menahan emosiku saat ini karena jika tidak kau tak akan lagi bisa melihat senyum cantikmu yang selalu kau banggakan selama ini di depan semua orang!!


Dan kalian berdua!" Frank berseru menunjuk bergantian pada Alex dan Kimmy di sampingku.


Pelukan Kimmy dapat kurasakan semakin erat di tubuhku saat Frank menatap mereka berdua satu persatu.


"Mulai saat ini, jangan anggap aku seorang kakak jika kalian tak pernah menghargai apa yang telah aku lakukan untuk kalian berdua!!"


...🔥🔥🔥🔥🔥🔥...