
Tok...tok..tok...
Terdengar suara ketukan pintu di luar kamarku pagi itu.
"Maaf, nyonya ada kirimin bunga untukmu..." ucap Miss. Helen dari balik pintu.
Aku yang saat itu berada di dalam kamar pun segera berjalan menuju pintu dan membukanya.
Aku cukup terkejut dengan apa yang kulihat kini di depanku, Miss. Helen tampak tersenyum dengan membawa sebuah buket bunga mawar merah yang cantik di tangannya.
"Bunga?
Dari siapa?" tanyaku penasaran seraya memeriksa buket bunga cantik itu.
"Entahlah nyonya, seorang kurir tadi yang mengantarkannya dan disini memang tidak tertulis siapa pengirimnya, hanya sebuah pesan ada di dalam buket bunga itu" Miss. Helen memberitahu.
"Apakah ini benar untukku?
Rasanya aneh sekali, sudah lama aku tak mendapatkan buket bunga seindah ini..." aku bertanya penasaran seraya, memeriksa amplop merah kecil di dalam buket bunga itu.
"Baiklah, terima kasih Miss. Helen..., kau boleh pergi sekarang" ucapku kemudian dan Miss Helen hanya mengangguk mengiyakan.
Kubuka amplop merah dan aku mulai membaca isi pesan singkat itu di dalamnya.
...**Semoga kau senang dengan bunganya Mrs. Jefferson❤️...
...Ini hadiah dariku atas pernikahan dan kehamilanmu**....
Tak ada nama, siapa?
Sungguh aneh..., apakah ini dari salah satu teman Frank atau kliennya?
Entahlah, aku tak bisa berpikir jauh saat ini.
Kupandangi buket bunga cantik itu dengan seksama.
Sungguh cantik, aku suka dan suasana hatiku merasa tenang seketika, hanya karena melihat buket bunga ini.
Rasanya lama sekali aku tak memiliki perasaan seperti ini hanya karena melihat sebuah buket bunga, sejak beberapa hari ini banyak kejadian mendadak yang mengubah hidupku belakangan ini.
"Mungkinkah Frank?
Tapi rasanya tak mungkin" pikirku dalam hati.
Sejauh yang kukenal, Frank bukan tipe romantis seperti ini jadi rasanya tidak mungkin jika dia yang memberikan aku kejutan manis seperti ini, apalagi sebuah buket bunga disaat hubungan pernikahan kami sedang dilanda masalah saat ini.
Komunikasi kami pun menjadi buruk dan tak seharmonis awal - awal pernikahan waktu itu.
Aku tersenyum pahit jika memikirkannya.
Semua terasa hampa karena sebuah rasa kecewa.
..
..
..
Malam itu saat Frank baru pulang dari kantor, ia mengecup keningku seperti biasa yang ia lakukan sepulang dari kantor ataupun ketika ia hendak berangkat bekerja.
"Bagaimana keadaan di rumah, honey, baik - baik saja kan?" tanyanya perhatian.
"Tak ada masalah, semua baik - baik saja" sahutku dingin.
Sempat kulihat di sudut mataku, tatapan Frank tampak sendu melihat sikapku yang selama beberapa hari ini berbeda dan ia hanya menghela nafas dalam - dalam dan menatapku pasrah dengan perubahan sikapku sekarang.
Ya, memang kuakui sikapku dengan Frank berubah dingin sejak pertengkaran kami waktu itu atau mungkin lebih tepatnya sejak aku tahu kalau Frank mempunyai hubungan dengan wanita lain di belakangku apalagi sampai memiliki anak, walaupun hanya satu malam seperti yang ia katakan tempo hari.
Istri mana yang tidak merasa sakit mengetahui kenyataan itu bukan?
Saat Frank melihat sebuah buket bunga dan amplop kecil merah yang tergeletak begitu saja di meja nakas samping ranjang, matanya membulat seketika.
"Bunga? kau membelinya atau ada seseorang yang mengirimkannya padamu, sayang?" tanyanya terkejut.
"Seseorang mengirimkannya padaku pagi tadi dan aku tak tahu siapa itu" jawabku singkat.
Tanpa berpikir panjang, Frank pun membuka isi dari amplop merah itu dan membacanya.
Dapat kulihat kedua matanya menyempit membaca isi tulisan dari pesan itu dan aku dapat menebak kalau Frank pun cukup terkejut dengan isi dari pesan di dalamnya.
"Ini tidak dapat dibiarkan terjadi!
Kau harus membuangnya, Jeanny! aku tak mau kau mendapatkan sesuatu dari orang tak di kenal!" perintahnya, melihat reaksinya aku dapat menebak jika ia marah.
"Lakukan apa yang kau mau, Frank aku tak peduli" sahutku acuh.
Maka dengan ekspresi serius, Frank membawa buket bunga dan amplop berisi pesan itu keluar dengan langkah panjangnya yang terburu.
Aku yakin Frank pasti akan membuangnya, namun aku tak peduli.
Kenapa ia bereaksi seperti itu hanya karena sebuah bunga? aku rasa ada yang aneh...
"*Ini tak bisa dibiarkan terjadi, aku harus memperingati Garth sialan itu untuk tak menganggu istriku lagi! karena aku yakin dialah pengirim misterius sialan* **itu**!"
Tanpa pikir panjang, Frank pun mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Garth Gaskins dengan nomer yang kemarin sempat ia simpan saat Garth meneleponnya waktu itu.
"Hallo, Frank Jefferson.
Apakah kau merindukanku?" ejek sebuah suara yang sangat dikenal Frank di sebrang sana.
"Garth Gaskins brengsek sialan! apakah kau lupa dengan peringatanku kemarin, hah?!" seru Frank marah.
"Ya, ampun Frank, apa yang membuatmu marah seperti ini?!" tanya Garth enteng.
"Jangan pura - pura bodoh, Garth sialan! aku tahu setiap rencana busukmu itu!" sahut Frank kesal.
Garth hanya tertawa keras mendengarnya.
"Apakah kau sangat marah padaku hanya karena aku mengirimkan buket bunga pada istrimu yang cantik itu?" sindir Garth tanpa basa basi.
"Kau jangan terlalu berlebihan, kawan.
Aku hanya melakukan hal kecil untuk kalian berdua, seperti selayaknya sebagai teman biasa yang memberikan selamat atas pernikahan kalian dan kehamilan istrimu itu, bukankah itu sangat wajar?" Garth menyahut santai.
"Kau bajing\*n brengs\*k Garth Gaskins! Hentikan sikapmu yang memuakkan itu karena aku sama sekali tak peduli dengan apa yang akan kau lakukan padaku!, tapi jika sedikitpun kau menyentuh Jeanny dan mengganggunya lagi maka aku akan tak segan padamu lagi, Garth Gaskins!!!" ancam Frank serius, kedua matanya tampak memerah kini karena menahan emosi.
Garth pun hanya terkekeh mendengar ancaman dari rivalnya itu.
"Kau ini, belajarlah menahan emosi dan sikap aroganmu itu Frank..., karena kau tahu?
Aku bisa memastikan, cepat atau lambat istrimu tak akan tahan dengan sikapmu itu dan akan berpaling dengan laki - laki lain yang lebih darimu sekarang" sindir Garth tegas.
"Persetan!!! kau pikir, dengan kekuasaanmu itu aku takut padamu Garth Gaskins?! itu salah besar!! karena jika kau mengenalku dengan baik, aku rasa kau cukup tahu dengan apa yang akan kulakukan jika kau berani menganggu Jeanny'ku lagi, ingat itu brengs\*kk!!!" ucap Frank keras - keras sebelum menutup dengan kasar panggilan itu.
Frank tampak frustasi, ia sungguh marah kali ini. Ia tak habis pikir, kenapa banyak sekali sepertinya pengganggu yang ingin merusak pernikahannya dengan Jeanny Anderson?
Apakah ia tak pantas bahagia dengan Jeanny, istrinya sekarang?
Ia tak ingin menjadi pria yang naif, karena ia tahu pernikahannya sekarang sedang dalam keadaan tak baik - baik saja.
Ia harus secepatnya melakukan sesuatu sebelum Jeanny akan benar - benar pergi lagi dari hidupnya.
Sebelum semuanya terlambat.
Namun saat ini pikirannya buntu, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan pernikahannya.
Untuk mengembalikan kepercayaan istrinya lagi pada dirinya.
Mengembalikan senyuman Jeanny seperti waktu itu, saat cinta mereka bersemi di awal pernikahan waktu itu.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...