One Day In Your Life

One Day In Your Life
SEBUAH KEINGINAN



"Ternyata itu tujuanmu ke Paris selain untuk perjalanan bisnis, Frank?!" Protes Laura Harris di dalam mobil sesaat mereka keluar dari Restoran L'oiseau Blanc siang itu.


"Itu bukan urusanmu" Frank menjawab ketus.


"Dengar Frank, dia sudah menjadi mantan istrimu, milik orang lain! dan kau pun telah memiliki aku! Kau lihat sendiri bukan, bagaimana kebersamaan mereka tadi di restoran?! Apa itu belum cukup membuka mata dan hatimu?!" Laura berseru hilang kendali.


"Diam kau Laura!! Kau harus tahu batasanmu!!" Frank menyahut marah, wajahnya kini tampak garang dan serius seakan ia menahan emosi yang sangat besar dalam dirinya sekarang.


"Frank, aku mohon dengarkan aku. Aku mencintaimu sepenuh hati, sampai kapan kapan kau akan mengejar bayang - bayang mantan istrimu seperti ini? Itu sangatlah tidak adil untukku..." ucap Laura dengan tatapan lemah.


"Tak perlu kujelaskan sepertinya kau sudah tahu jawabannya" sahut Frank acuh, pandangannya tak lepas fokus ke jalanan dengan tanpa ekspresi.


Dan detik itu juga, kedua mata Laura berkaca - kaca, ia menahan tangis karena tak bisa menerima kenyataan ini. Sungguh ia tak mengerti dengan jalan pikiran Frank, hati pria itu seperti terbuat dari beton. Sungguh sulit untuk diraih bahkan di sentuh. Ia pikir selama ini menjadi tunangan seorang Frank Jefferson, ia akan mendapatkan kesempatan besar untuk mendapatkan hati sang pujaan hati tapi kenyataannya sudah lebih dari 1 tahun, ia tak pernah bisa menjangkau hati sang tunangan sama sekali. Haruskan ia menyerah begitu saja sekarang?


"Setelah kembali ke New York aku akan membicarakan pada ayahmu tentang pembatalan pertunangan kita, Laura. Aku tak mau status kita membuat salah paham semua orang nanti" tutur Frank tiba - tiba dan tentu saja penyataan itu begitu mengejutkan Laura Harris.


Bagai petir di siang bolong, ia tak percaya dengan apa yang di ucapkan pujaan hati sekaligus sang tunangan.


"Frank??!! Kau kejam!!


Kenapa kau bicara seperti itu?! Aku tak mau jika kau sampai membatalkan pertunangan kita!" Protes Laura tak terima, ekspresi wajahnya kini tampak tegang menatap nanar Frank Jefferson.


"Terserah, itu maumu tapi pertunangan ini bukanlah keinginanku. Kau dan ayahmu tak bisa selamanya menjerat hidupku dengan keinginan kalian!" sahut Frank tetap teguh dengan keputusannya.


"Apa karena wanita itu, kau berubah pikiran begitu cepat, Frank?!


Sadarlah, Frank aku mohon, wanita itu sudah memiliki pasangan dan keluarga baru. Kau akan kehilangan banyak hal jika kau membatalkan pertunangan kita!" Laura berseru mengingatkan.


"Persetan! Aku tak peduli dengan semua itu! Bagiku Jeanny dan anakku adalah segalanya, kau ataupun ayahmu sama sekali tak berhak mengatur kehidupanku, Laura!!" Sahut Frank tak peduli.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Malam itu aku dikejutkan kembali dengan kedatangan Frank Jefferson di rumahku lagi. Hingga aku spontan menutup pintu luar saat melihatnya malam itu di depan pintu rumahku, namun dengan cepat Frank menahan pintu dengan tubuhnya yang tinggi dan kokoh.


"Kau tak bisa menolakku, Jeanny Anderson!" serunya kesal saat itu juga.


"Kau, pergilah Frank! Kau tak lagi diterima dirumah ini!!" teriakku lantang.


Setelah beberapa detik susah payah saling menahan daun pintu yang ingin kututup itu, Frank pun akhirnya berhasil menggagalkan niatku hingga membuatku sempat terdorong dan mundur beberapa langkah.


"Semakin kau menolakku semakin pula aku akan mengejarmu, Jeanny!" ucapnya dengan wajah serius.


"Apa maumu, Frank?! Kau dan aku sudah selesai, jangan lagi kau mengganggu hidupku lagi!" sahutku mengingatkan.


Kini Frank menatap tajam padaku, tatapan yang sejak lama kukenal, tatapan dulu saat awal pertama kami bertemu.


"Aku masih punya hak bertemu denganmu, Jeanny Anderson karena kau adalah ibu dari anakku. Aku hanya ingin mengenal anak kita lebih jauh..." ujarnya serius.


"Aku mohon, berikan aku kesempatan untuk bertemu dengan Ian, putra kita. Aku sangat merindukan dan ingin memeluknya sebagai ayah, Jeanny" ucap Frank kembali sungguh - sungguh.


"Mom...? Dad...?" tiba - tiba sebuah suara yang mengejutkanku sebelum aku membantah permintaan Frank saat itu.


"Apa aku boleh bertemu dengan Daddy??" tanyanya polos dengan wajah memelas yang tentu saja membuat hatiku nyeri seketika.


"Hay, jagoan....


Apa kau tahu siapa aku?" Ucap Frank tiba - tiba.


Aku mendelik saat itu juga pada Frank di sampingku.


Dengan acuh, seakan tak peduli dengan wajah protesku Frank menghampiri Ian dan kini bersimpuh di depannya dengan senyum secerah pagi.


"Mom bilang kau adalah Daddy ku, apa itu benar?" Ian menyahut polos.


"Tentu saja, jagoan. Apa yang dikatakan mommy mu benar, aku adalah daddy mu" Frank menyahut senang, ekspresi wajahnya kini tampak begitu bahagia saat menatap putra yang tak pernah ia kenal itu selama 6 tahun lamanya.


"Maafkan dad karena terlambat datang menemuimu, untuk itu maukah kau memeluk daddy sekarang?" Frank bertanya dengan penuh harap.


Saat itu juga, Ian pun beralih menatap ke arahku seolah ingin meminta izin dan aku hanya menjawabnya dengan senyuman kecil untuk meyakinkan hatinya.


"Ya" Ian menjawab dengan tersenyum kemudian. Maka detik itu pula Frank dan Ian pun berpelukan layaknya ayah dan putranya.


Pemandangan yang penuh haru sekaligus menyentuh seharusnya kini terlihat jika keadaan dan situasinya tidak seperti ini, hingga tanpa sadar kedua mataku sedikit mulai berkabut namun aku bersusah payah berusaha menahannya agar sampai tak terlihat di mata mereka berdua.


"Ian mau kan, jika dad mengajakmu jalan - jalan besok weekend?" tanya Frank beberapa saat kemudian.


"Jika mom mengizinkan aku mau..." Ian menjawab lirih, tatapannya beralih padaku kembali.


Dan Frank pun bangkit mendekatiku.


"Jeanny, apakah kau mengizinkannya? aku mohon..., berikanlah aku waktu untuk mengenal putraku sendiri. Aku berjanji padamu untuk menjaganya dengan baik nanti. Hanya beberapa jam, tidak lebih setelah itu aku akan membawa Ian kembali padamu" tutur Frank memohon dengan penuh harap.


Lama aku berpikir dalam kebimbangan. Karena sejujurnya aku takut hari ini akan datang seperti yang aku kira. Tapi jika aku menolaknya, tentu saja itu akan menyakitkan untuk Ian karena aku tak adil sebagai seorang ibu.


Karena bagaimanapun juga, Frank adalah ayah kandung Ian dan Ian berhak mendapatkan kasih sayang serta cinta dari ayah kandungnya sendiri. Aku tak mau menjadi ibu yang egois untuk putraku yang amat kucintai.


"Jeanny..., aku mohon" panggil Frank kembali.


"Ya, hanya untuk besok Frank Jefferson. Setelah itu kau harus mengantarkan Ian kembali padaku sebelum petang!" sahutku tegas.


Senyum mengembang di wajah Frank kini, begitupun sama dengan Ian.


"Terima kasih, Jeanny. Aku berjanji padamu untuk melakukan yang terbaik untuk putra kita!" sahutnya yakin dan sungguh - sungguh.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Jangan lupa Like dan komen serta hadiah ya...


...Author sayang kalian semua❤️❤️🥰...