
"A-pa kau bilang tadi? Hamil?!" seru Frank tak percaya, mata tajamnya membulat sempurna seakan apa yang baru saja ia dengar membuatnya syok seketika.
"Ya, aku ha-mil Frank Jefferson. Sama seperti istri yang kau cintai itu dan ini adalah hasil buah cinta kita," sahut Carol dengan menyunggingkan senyuman bangganya, namun bagi Frank senyuman itu adalah senyuman palsu yang tak tahu malu.
Ucapan Carol bagi Frank terdengar seperti meledek dan menguji kesabarannya yang hampir habis, ia pun mendengus kasar dan tertawa pahit.
"Kau benar-benar wanita sinting Carol Gilmore! aku tak menyangka ternyata teman wanita yang selama ini aku kenal adalah wanita picik!!!" umpatnya kasar.
"Terserah apa katamu Frank, aku bisa membuktikannya kalau ucapanku ini benar!" sahut Carol kemudian ia menggapai beberapa lembar kertas di atas meja rak yang tak jauh di belakangnya.
"Lihat ini!! dan setelah itu apakah kau bisa menyangkal semua ucapanku Frank Jefferson?! seru Carol seraya menunjukkan beberapa lembar kertas itu di hadapan Frank yang berdiri dengan wajah tegang.
"Dan aku juga tak sabar untuk melihat bagaimana reaksi istri tercintamu itu jika melihat bukti-bukti yang aku tunjukan itu padamu sekarang," ucap Carol dengan nada mengejek dan tatapan penuh percaya diri.
Sepasang mata elang Frank menatap lembaran-lembaran kertas itu dengan tak sabaran dan beberapa detik kemudian ia melempar sembarang lembaran kertas di tangannya dengan kasar.
"Persetan!!! aku tak akan percaya dengan mudah hanya dengan bukti seperti ini Carol Gilmore!!!" serunya lantang.
"Kau- dengan otak picikmu itu bisa saja menipuku dengan cara seperti ini! karena aku sangat yakin aku bukanlah pria yang pantas bertanggung jawab dengan kehamilanmu itu sekarang!!!" serunya sekali lagi dengan emosi yang meluap.
Carol tertawa kecut mendengar penyangkalan Frank kali ini.
"Sungguh pengecut!! kita melakukannya satu bulan sebelum Natal Frank Jefferson dan kau masih bisa menyangkalnya dengan bukti akurat dari rumah sakit itu!!
Jika kau pria yang cerdas, seharusnya kau bisa berpikir kalau rumah sakit tak akan sembarangan memberikan berkas palsu pada seseorang!!" seru Carol lepas kendali.
"Heh, siapa bilang aku tak percaya Carol Gilmore..., aku bukanlah pria bodoh yang dapat kau bodohi dengan hanya bukti lembaran kertas omong kosong itu!! ucap Frank menyeringai kasar.
"Yang aku katakan adalah- aku tidak yakin kalau hanya akulah satu-satunya pria yang tidur denganmu wanita jal*ng!!!" seru Frank sekali menambahkan dengan kedua mata yang berkilat.
"Kau-?!!" sahut Carol gemetar, telapak tangannya bersiap melayangkan tamparan di wajah mengerikan Frank Jefferson sekarang namun dengan gerakan sigap, Frank dengan cepat menangkapnya.
Kedua mata mereka bertemu dengan amarah yang saling meluap, susah payah Carol hendak melepaskan diri dari cengkraman kuat Frank di tangannya.
"Kita lihat, seberapa besar usahamu untuk merusak rumah tanggaku dengan Jeanny! karena aku berani menjamin aku bukanlah ayah dari anak yang kau kandung itu sekarang!!!"
Frank berseru dengan nada tegas dan lantang kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Carol Gilmore yang hanya bisa menatapnya dengan amarah meluap.
"Kau pria brengs*k sialan Frank Jefferson!!
Kita lihat apa kau masih bisa bersikap sombong setelah ini, pengecut sialan!!!" maki Carol membabi buta.
..
..
..
Malam itu setelah ia pergi meninggalkan apartemen Carol Gilmore, Frank melajukan cepat mobilnya dengan wajah frustasi yang tak bisa ditutupi.
Sungguh ia tak menyangka kalau Carol Gilmore akan bertindak senekad ini untuk menghancurkan rumah tangganya dengan Jeanny.
"Brengsek sialan!!!" makinya kasar di dalam mobil.
Wajahnya kini tampak tegang dan merah menahan amarah di dadanya yang terasa panas.
Kini dalam hatinya ia berpikir keras, bagaimana caranya untuk meyakinkan istri yang amat dicintainya itu kalau, bukan dialah pria yang menghamili Carol Gilmore, karena ia sangat yakin akan satu hal itu.
Pantas saja kemarin malam Jeanny bersikap dingin padanya.
Ternyata istrinya sudah tahu tentang kehamilan Carol yang baginya sangat tidak masuk akal dan sebuah omong kosong.
Dalam hatinya ia menyesali perbuatan bodohnya waktu itu saat ia dalam keadaan mabuk di apartemen Carol dan sekarang wanita picik itu menggunakan kelemahannya untuk menghancurkan hubungannya dengan Jeanny.
"Sungguh bodoh kau Frank!!!" makinya sendiri merasa frustasi.
Setelah ia sampai di muka halaman rumahnya, Frank menepikan mobil dan memparkirnya di garasi mobil dengan tak sabaran.
Rasanya ia ingin segera menemui istrinya dan memohon maaf.
Dengan segera ia pun masuk dalam rumah dan mencari-cari Jeanny di setiap ruangan tapi ia tak menemukannya.
Dilihatnya di kamar Alex dan Kimmy ia pun hanya menemukan kedua adiknya itu yang sudah tertidur.
Merasa cemas dan aneh, segera pun ia menemui Miss. Helen di kamar pengurus rumah tangga itu.
"Ya, Tuan..ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ketika membuka pintu kamar yang diketuk Frank dengan tak sabaran.
"Miss. Helen, apakah kau tahu di mana istriku? aku tak menemukannya di dalam rumah sekarang" tanyanya cemas.
"Oh, nyonya? sejak tadi siang nyonya berpamitan pergi Tuan, tp entah dimana saya kurang tahu karena Nyonya tak mengatakan apapun, saya pikir tuan sudah mengetahuinya" sahut Miss Helen bingung.
"Astaga, dimana kau Jeanny?!" Frank tiba-tiba merasa frustasi, ia panik sekarang.
Dengan cepat ia menghubungi ponsel istrinya itu tapi tetap tak ada jawaban, terakhir ia mengirim pesan pun tak dibalas oleh Jeanny sejak siang tadi.
Melihat sikap tuannya yang tak biasa dan panik membuat Miss. Helen semakin bingung.
"A-pa terjadi sesuatu pada nyonya, tuan?" tanyanya cemas dengan suara yang gemetar.
"Tidak, tidak ada Miss. Helen, jangan kau ucapkan pertanyaan seperti itu karena aku tidak suka!" tegur Frank kacau.
Miss Helen yang tak pernah melihat tuannya dengan keadaan seperti itu pun kini merasa takut.
"Ma-af Tuan... , saya tak sengaja mengatakannya karena saya juga khawatir dengan Nyonya," sahut miss Helen dengan gugup.
"Sudahlah, aku harus pergi dan mencari istriku.
Aku pasrahkan Alex dan Kimmy padamu miss Helen" ucap Frank seraya berlalu meninggalkan pengurus rumah tangga itu yang kini hanya bisa menatap Tuannya dengan bingung.
Dalam hati ia berpikir, mungkinkah terjadi sesuatu pada Tuan dan Nyonya nya sekarang? sampai membuat Nyonyanya yang baik hati itu pergi dari rumah tanpa izin dari suaminya?
"Ah, sungguh rumit urusan rumah tangga orang kaya," pikirnya dengan mendesah pelan.
Sekarang ia merasa bersyukur kalau ia tak menikah hingga saat ini, sepertinya keputusannya memang baik dengan tak berkeluarga walaupun usianya sudah tak muda lagi karena ia berpikir menjalin sebuah hubungan itu sangat rumit dan melelahkan.
Akan ada hati yang dikorbankan jika mencintai seseorang dengan sepenuh hati.
Itu yang ia pikirkan selama ini.
...🔥🔥🔥🔥🔥🔥...