
"Aku ingin bertemu Ian, Jeanny?" bolehkah aku menemuinya?" Tanya Frank di sambungan teleponnya.
"Kau yang memaksaku untuk pulang kembali ke New York dan mengancamku, Frank Jefferson. Apa kau lupa itu?" sahutku kesal.
"Kedekatanmu dengan Joseph Hayden membuatku berpikir hanya dengan cara itu kau bisa kembali padaku, Jeanny."
"Kau egois, Frank! Apa selama ini aku pernah melarangmu bersama dengan wanita lain?! Kau sendiri telah memiliki seorang tunangan, jadi kau tidak berhak untuk melarangku untuk dekat dengan siapapun, termasuk dengan Joseph Hayden!" seruku marah.
"Sudah aku bilang aku tak punya perasaan sama sekali pada Laura, Jeanny! aku bisa menjelaskannya padamu, kalau semua itu tidak seperti yang kau pikir!"
"Heh, apa kau pikir aku akan peduli, Frank? Tidak sama sekali!" Bentakku mengakhiri sambungan telepon itu dengan menahan emosi.
"Mom, apakah Dad yang barusan menelepon?" tanya Ian mengejutkanku.
"Ah, sayang apa kau mendengar percakapan mom tadi?" aku bertanya cemas seraya menggapai tubuh kecilnya untuk dekat denganku.
"Mom bertengkar dengan Dad lagi?" tanya Ian dengan kedua mata sendu, aku yang melihat reaksinya seperti itu sontak saja membuat hatiku nyeri.
"Maafkan mom, sayang. Mom dan Dad sudah lama berpisah jadi kadang ada perbedaan diantara kami berdua, itu yang membuat pertengkaran kecil kami selama ini." Sahutku mencoba menjelaskan pelan - pelan agar Ian bisa mengerti.
"Bolehkah jika Ian rindu Dad, Mom?" Ian bertanya kembali dengan wajah memelas.
"Astaga, Ian tentu saja nak. Apa kau ingin bertemu dengan Dad?" tanyaku serak dan Ian hanya mengangguk pelan, kedua matanya seakan penuh harap.
"Kalau begitu biar besok Mom antar kau untuk menemui Dad ya? Kau mau?" tawarku mencoba untuk tegar.
"Bolehkan Mom??!" Ian berseru senang saat itu juga.
"Tentu saja sayang."
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Mansion Harris's
"Dad, aku ingin bicara" Laura Harris berkata dengan berjalan mendekati ayahnya, Nickollas Harris yang tengah sibuk di ruang kerjanya.
"Hmmm, apa yang kau inginkan honey?" Nickollas menyahut sang putri namun tatapannya tak lepas pada sebuah buku yang tengah ia baca.
"Tentang pertunanganku dengan Frank, Dad" ucap Laura lirih.
Seketika itu juga, tatapan Nickollas beralih ke sosok sang putri tercintanya itu.
"Kenapa? apa Frank menyakitimu?!" Tanyanya dengan memasang wajah serius kini.
"Tidak Dad, kenapa kau berpikiran seperti itu?" Laura menyahut dengan sedikit gugup.
"Lalu kenapa kau tiba - tiba ingin mengatakan padaku tentang pertunangan kalau tidak ada masalah?" tanya Nickollas memastikan, pria paruh baya itu paham betul sifat putri semata wayangnya, jadi ia tahu apa keinginan putrinya itu.
"Kenapa Dad cepat sekali menyimpulkan seperti itu? aku hanya ingin mengatakan jika aku ingin pernikahanku dengan Frank ditunda, Dad. Sepertinya aku dan Frank masih ingin menikmati kebersamaan kami sebagai sepasang kekasih bukan sebagai suami istri" Laura mencoba menjelaskan pada sang ayah yang sejak tadi menatapnya penuh tanya dan tentu saja itu membuat Laura harus berhati - hati dengan ucapannya kali ini.
"Benarkah hanya karena itu? Tapi kenapa Dad merasa kau berbohong, Laura?" tanya Nickollas ragu.
"Dad?! Kenapa kau tidak percaya pada putrimu sendiri?!" seru Laura kesal.
"Dad pastikan sayang, jika Frank berbuat macam - macam padamu atau menyakitimu Dad tidak akan tinggal diam!" ancam Nickollas geram.
"Sudah aku bilang, Dad. Aku dan Frank tidak ada masalah, kami hanya perlu waktu lagi untuk membina hubungan ke jenjang yang lebih serius, hanya itu saja!" Jelas Laura dengan penuh keyakinan.
Setelah Laura pergi, Nickollas Harris tampak menelepon seseorang di sambungan teleponnya.
"Alden, aku ada tugas untukmu. Kau awasi setiap pergerakan Frank Jefferson mulai malam ini, apapun yang kau dapatkan secepatnya kau harus melaporkannya padaku!"
"Ya, apapun itu, kau harus dapatkan segera informasinya!" perintah Nickollas Harris kemudian menutup sambungan telepon itu begitu saja.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Seperti yang direncanakan weekend ini aku pun berniat menemui Frank dengan mendatangi rumahnya secara langsung, Garth yang memberikan alamat lengkapnya padaku.
Karena aku tak mau Ian bertemu dengan Frank hanya seorang diri ataupun di luar seperti sebelumnya karena aku tak mau mengambil resiko lebih besar untuk kehilangan Ian.
"Apa ini tempat Dad tinggal, Mom?" tanya Ian saat aku mengantarkan Ian ke depan hunian mansion yang kini di tinggali Frank Jefferson, status sosialnya kini memang jauh meningkat drastis dari sebelumnya. Ya, sejak perpisahan kami banyak hal yang berubah terutama segala hal tentang Frank. Aku rasa perpisahanku dan Frank berdampak baik untuknya dari segi sosial dan ekonomi.
"Kau ingin bertemu dengan Daddy mu kan, sayang?" tanyaku kembali memastikan dan Ian mengangguk cepat.
Maka dengan berat hati akupun mencoba untuk mengetuk pintu mansion dengan nafas sedikit tertahan, karena jujur saja aku merasa gugup sekarang. Seolah masuk kembali ke dalam keluarga Jefferson membuat hatiku sesak karena banyak sekali kenangan diantara kami, walaupun dengan hunian yang kini jauh lebih baik dari sebelumnya.
Setelah aku mengetuk pintu selama beberapa lama, kulihat seseorang membuka pintu itu kemudian. Pria setengah baya dengan memakai pakaian pelayan tersenyum ramah pada kami sekarang.
"Ya, ada yang bisa saya bantu nyonya?" sapanya ramah.
"Apakah Mr. Jefferson ada? Kami ingin bertemu dengannya." tuturku.
"Maaf anda siapa? Nanti saja sampaikan pada beliau di dalam, kebetulan beliau ada di mansion saat ini." Pelayan pria itu bertanya kembali.
"Katakan saja, Jeanny Anderson." jawabku singkat.
"Baiklah nyonya, mohon tunggu sebentar."
Selang beberapa menit kemudian saat aku dan Ian tengah menunggu di taman luar mansion, kulihat Frank kini berjalan mendekat dengan wajah terkejut, senyum lebar kini ada di wajahnya sekarang saat melihat aku dan Ian.
"Ian sayang?!!" panggilnya tak percaya, maka detik itu juga Ian yang melihat Frank pun berlari cepat mendekat dan merangkul Daddy nya dengan penuh semangat.
"Daddy!!" Panggil Ian.
"Bagaimana kau ada disini bersama dengan Mommy mu? Ini kejutan besar, sayang!!!" Frank berseru dengan semangat.
"Aku merindukan daddy" ucap Ian polos di pelukan Frank.
"Dad juga merindukan kalian berdua" sahut Frank seraya mengelus lembut rambut Ian kemudian tatapannya kini jatuh kepadaku yang masih tengah berdiri tak jauh di depannya sekarang.
"Kenapa kau tak mengatakan padaku niatmu langsung, Jeanny? Jika kau mengatakannya, aku kan bisa menjemput kalian sendiri." ujarnya.
"Ian yang memintanya karena ia mengatakan ingin memberikan kejutan padamu." sahutku dingin.
"Baiklah kalau begitu kau mau masuk ke dalam kan, Jeanny? Aku rasa akan ada yang sangat senang dan terkejut jika melihat kedatanganmu lagi di keluarga Jefferson." tutur Frank seraya mendekat ke arahku dengan mengendong Ian dalam pelukannya.
Saat itu juga, aku pun teringat dengan dua nama yang paling membekas dalam hidupku selama aku berada di keluarga Jefferson.
Ya, siapa lagi? dua teman kecilku yang kini pasti sudah beranjak dewasa, Alex dan Kimmy.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...