
"Kita akan kemana Frank?" tanyaku memecahkan keheningan.
Suasana dingin, senyap dan kaku membuatku gugup menghadapi situasi ini.
Setelah kami melaju dengan mobil Jaguar milik Frank dalam perjalanan yang bagiku terasa begitu lama.
Selama itu pun kami saling diam dalam keheningan yang terasa tak berkesudahan karena itu kuberanikan diriku untuk bertanya untuk memuaskan rasa penasaran yang tak ada henti - hentinya memenuhi kepala dan otakku.
Frank memalingkan wajahnya padaku,
"Aku tak harus menjawab pertanyaanmu miss Anderson, kau akan tahu nanti" jawabnya dingin kemudian berkonsentrasi mengemudi di jalanan sepanjang Park Avenue.
Begitu gugupnya aku hingga tanpa sadar aku memainkan jari tanganku sendiri di atas pangkuan kedua kakiku.
Rasanya seperti tak berkesudahan.
"Ngomong - ngomong miss, aku tak suka caramu berpakaian" ucap Frank mengejutkanku.
"Mak...sud mu kau tak suka penampilanku malam ini?" sahutku bertanya gugup.
Pandangan Frank tetap di depan, tanpa ekspresi, wajahnya tetap datar.
"Tepatnya buruk" jawab Frank kasar.
"Dengan penampilanmu yang berani itu kurasa kau lebih pantas pergi dengan tujuan memamerkan tubuh dan menggoda", tukasnya tajam.
Ohh,,, pernyataan yang cukup kasar ditunjukkan padaku dan telingaku panas saat mendengarnya.
Kutatap Frank dengan wajah gusar,
"Aku tak punya pilihan lain Frank, hanya gaun ini satu - satunya yang kubawa dari San Fransisco dan perlu kau tahu aku sama sekali tidak ada persiapan sama sekali untuk malam ini" sahutku membalas.
Frank balas menatapku, ia tersenyum pahit.
"Kurasa kau salah paham miss, kita pergi malam ini bukan untuk acara kencan seperti yang kau kira.
Kalau bukan karena terpaksa aku tak akan sudi mengajakmu bersamaku malam ini!
Dengarkan itu miss Anderson!
Ini adalah kesalahan besar!" tambahnya pedas.
Mulutku terasa kering untuk membantah, tak pernah terpikirkan olehku lidah Frank begitu tajam dan pedas.
Aku berjalan dengan langkah kikuk mengikuti Frank di belakang, bukan di sampingnya seperti pasangan dan pengunjung yang lain di Restoran Richmond's yang bergaya eksklusif.
Penataan dan dekorasinya kurasa memang sengaja di desain se- formal mungkin agar kesannya mendukung untuk tujuan bisnis.
"Bisnis?" tiba - tiba aku tercekat saat memikirkan satu hal itu.
"Mengapa Frank menyuruhku ikut untuk urusan bisnisnya? Terpaksa," itulah yang Frank katakan tadi di dalam perjalanan.
"Karena apa?" batinku bingung.
Frank menghampiri meja yang tengah di duduki oleh pria dan wanita yang cukup membuat seluruh pengunjung restoran ini mengalihkan perhatian mereka pada pasangan itu.
Aku berjalan sedekat mungkin di belakang Frank agar tidak terkesan terlalu menjaga jarak.
"Apa kalian terlalu lama menungguku?" sapa Frank pada mereka.
Seketika itu pula pasangan itu menghentikan obrolan mereka dan beralih menatap kami.
Saat itu pula aku terkejut bagai tersentak bangun dari mimpi yang melemparkanku hingga jatuh.
Wanita yang sangat kukenal.
"Nat?!" seruku dalam hati.
Aku membelalakkan mata, terpana mencoba memperjelas penglihatanku.
"Kau sudah datang Frank," pria itu melirik ke arloji Rolex mahal miliknya
"Kau terlambat 5 menit, tak masalah" tuturnya kemudian seraya berdiri mempersilakan duduk.
Pria itu beralih memandang ke arahku, cukup terkejut dengan kehadiranku.
"Wah! kau membawa teman kencan cantikmu malam ini Frank..?!" serunya tak percaya.
Seperti biasa Frank menanggapinya dengan ekspresi datar.
"Perkenalkan Garth, ini Jeanny Anderson"
Frank menghentikan ucapannya dan berdehem sesaat. " Tunanganku..." lanjutnya lirih.
Kemudian melirik sekilas wanita di samping pria yang di panggil Garth itu.
Detik itu pula, pria itu tersenyum ramah dan semanis madu kemudian menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan denganku.
Berusaha menyimpan kegugupan, aku tersenyum sopan seramah mungkin dan membalas jabatan tangannya.
"Jeanny Anderson, Mr....?" tuturku
"Garth Gaskins," pria itu melanjutkan dengan gayanya yang cool.
Aku hanya mengangguk seakan mengerti.
"Senang berkenalan dengan anda miss Anderson," tuturnya semangat.
"Saya pun demikian Mr. Gaskins," sahutku membalas.
"Miss Anderson, ini Natasya Perrone tunanganku..., maksudku sebentar lagi.
Bukankah itu benar sayang?" ucapnya pada Natasya.
Seperti tak ada apa - apa Nat tersenyum simpul dan manis padaku yang masih tampak bingung dengan keadaan dan situasi ini.
Dengan anggun Nat berdiri.
"Kita pernah bertemu sebelumnya miss Anderson," ucapnya seraya menganggukkan sedikit kepalanya memberikan salam kepadaku.
"Ehh...?, i -ya" jawabku terbata.
"Oh, kebetulan sekali!" Garth memotong seketika.
"Pertemuan kita akan menjadi menyenangkan dengan kehadiran dua wanita cantik yang mendampingi kita, kau setuju kan Frank?" tambahnya beralih pada Frank sejak tadi tampak duduk diam.
"Atau malah sebaliknya," sahutnya dingin tanpa ekspresi.
Keheningan muncul dengan tiba - tiba setelah pernyataan tajam Frank tadi.
Sadar akan hal itu Garth pun berusaha mencairkan suasana.
"Oh ya, kalian mau pesan apa?" tanyanya santai.
"Scott" jawab Frank singkat.
Garth berganti menatapku, "kau miss Anderson?"
"Jeanny, panggil saja Jeanny itu lebih baik" sahutku memotong.
"Jeanny maksudku" tanyanya ramah.
Aku tersenyum membalas dan menjawabnya,
"Anggur putih kurasa."
Beberapa menit saja aku mengenal Garth Gaskins, pria yang mungkin pernah di ceritakan Nat sebagai 'dewa penolongnya' aku langsung menyukainya.
Ia pribadi yang menyenangkan, seksi kurasa dan tipe wanita idaman semua wanita pada umumnya.
Wajahnya bulat lebih mirip di sebut baby face.
Rambutnya pirang gelap, terutama senyumannya yang begitu memikat.
Penakluk wanita, itulah sebutan yang lebih pantas untuknya.
Walaupun sesekali Garth bertanya tentang asal usul dan kehidupanku namun ia lebih fokus dengan pembicaraannya bersama dengan Frank.
Aku kurang mengerti dengan pembicaraan mereka tentang bisnis dan proyek yang mereka sebut - sebutkan.
Aku dan Natasya Perrone bersikap seperti sewajarnya, seolah tidak terlalu saling mengenal.
Situasi yang membuat aku dan Nat terpaksa bersikap demikian, walaupun aku masih belum dapat menebak apa arti di balik senyuman ataupun tatapan Nat padaku.
"Permisi sebentar, saya harus ke toilet" kataku seraya berdiri dari tempat duduk.
"Bolehkah aku ikut denganmu miss Anderson? kurasa kita sama - sama sehati," seloroh Nat.
Garth hanya tersenyum lucu dan mengiyakan, aku tak berani mengalihkan tatapanku pada Frank di sampingku.
"Jadi yang kau maksud kejutan ini Nat?"
Setelah menutup pintu kamar toilet wanita dan merasa tak ada orang lain di dalam yang bisa mendengar pembicaraan kami, segera pun aku langsung menyerbu Natasya dengan pertanyaan - pertanyaan yang sempat hampir membuatku seperti orang sinting.
Dengan santai Nat hanya tersenyum seraya mengangkat kedua bahunya.
"Menurutmu?" sahutnya santai.
"Selama hampir 12 jam kau nyaris membuatku gila Nat! kau tahu apa arti makan malam konyol ini untuk aku dan Frank?!" seruku hampir meledak.
"Yeah, tenangkan dirimu Jeanny! aku hanya berusaha membuat hubunganmu dengan Frank lebih baik, setidaknya mencairkan suasana tegang diantara kalian berdua," tutur Nat menjelaskan.
Mimik wajahku langsung berubah, aku sudah sedikit rileks menahan emosiku.
"Tapi bukan dengan cara seperti ini Nat," sahutku pelan kemudian ku dekati Natasya di depanku.
"Terima kasih atas perhatianmu padaku Nat.., tapi biarkan aku sendiri yang mengatasi masalah untuk menghadapi Frank dengan caraku sendiri," ucapku.
"Ku pikir juga begitu...," Nat menjawab lirih.
"Maaf...," tuturnya kemudian.
"Tak perlu di pikirkan lagi" sahutku menenangkan seraya menyentuh bahu Nat dengan lembut.
"Aku rasa memang benar dewa penolongmu yang sekarang jauh lebih tampan dari Hugh Andrea" tuturku berganti topik.
"Oh ya?! aku senang kau suka!" sahutnya riang dengan mata berbinar - binar.
Kini Natasya sibuk merapikan make up di wajahnya, gaun sutra hitam yang di pakainya begitu indah membalut tubuhnya yang terawat.
Rambut merah panjangnya dibiarkan di gerai indah dan anggun.
"Frank terlalu bodoh jika ia tidak terpesona dengan penampilanmu malam ini, Jeanny" komentar Nat tiba - tiba.
Aku yang tengah merapikan tatanan rambutku seketika itu pun berhenti, Nat tersenyum tipis padaku.
"kau cantik Jeanny bahkan sangat mempesona, tampaknya Garth pun sependapat denganku" tambahnya.
Aku menatap Nat dengan pandangan penuh tanya, "Maksudmu Nat?" tanyaku penasaran.
Nat memamerkan senyuman termanisnya padaku.
"Ku rasa ia terpikat padamu Jeanny. Kau tahu bagaimana cara dia menatapmu?" sahutnya santai.
Keningku langsung berkerut, tak kutemukan wajah cemburu ataupun kesal pada ekspresi wajah Nat dengan santai ia malah kelihatan bersemangat.
"Garth adalah pria beruntung yang mendapatkan wanita cantik sepertimu Nat bukan aku" sahutku membenarkan.
Sambil masih sibuk memperbaiki riasan wajahnya ia tertawa riang mendengar jawabanku.
"Hubunganku dan Garth hanya sebatas hubungan biasa Jeanny.
Kami tidak terlalu memikirkan untuk benar - benar saling memiliki dan mencintai dengan kata lain aku sudah siap kalau dia berpaling dengan wanita lain kapan saja," tutur Nat serius.
" Tapi bukankah Garth sendiri yang mengatakan tentang pertunangan?" tanyaku bingung.
Setelah menutup maskara dan lipstiknya kemudian menaruhnya di tas mungil dari kulit buaya berkualitas miliknya itu, ia kini beralih menatapku.
"Kau tak mengenalnya Jeanny, dia pria yang suka berpetualang.
Semua yang ada dan dimiliki olehnya mendukung apa saja yang dia inginkan termasuk memikat wanita cantik sepertimu ke dalam pelukannya.
Kau tahu apa artinya kan Jeanny? Hubungan kami hanya sebatas saling menguntungkan saja," jelas Nat padaku seraya tersenyum dengan tanpa keraguan.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
...Nah..nah...,sudah mulai konflik dari orang ketiga nih ๐ ๐...
...Nyatanya cerita cinta gak akan rame kalau gak ada orang ketiga khan guys๐คญ...
...Ditunggu respon dari kalian ya untuk para readers tercintaku๐ฅฐ๐ค...
...Kasih masukan, kritik juga ya di kolom komentar biar aku makin semangat buat up terus๐๐๐ค๐ช๐ช...
...Ditunggu juga like dan vote nya ya dari kalian,,trima kasih๐ค๐ค๐๐ฝ๐๐ฝ...
...๐ฅฐ๐ฅฐ...
...\# ngarep mode on๐๐๐คญ๐คญ...