
"Sama sekali aku tak mengharapkan pertolonganmu Carol.
Bagiku akan lebih baik bila aku menghajarnya di tempat itu tadi" ucap Frank kesal.
"Tidak semua persoalan harus di selesaikan dengan baku hantam, Frank karena itulah aku menolongmu tadi bukankah itu lebih baik daripada kau harus kehilangan salah satu anggota tubuhmu olehnya?" tutur Carol menjelaskan.
"Itu tidak lebih baik daripada aku kehilangan harga diri di depan banyak orang karena pertolongan seorang wanita yang menganggapku sebagai teman kencannya" Frank menyahut tajam dengan mempertahankan kecepatan laju mobilnya yang melaju di kegelapan jalanan kota, beberapa menit setelah mereka meninggalkan bar itu.
Carol menatap Frank saat itu kemudian,
"Jangan salah mengartikan pertolonganku padamu, Frank.
Billy Dog hanya menang dengan penampilannya dalam memanipulasi orang - orang yang hanya takut padanya namun jauh di balik semua itu, dia hanyalah pria lemah yang sama seperti preman - preman jalanan kota."
"Itulah sebabnya dia takut padamu setelah kau mengancamnya tadi" sahut Frank tersenyum sinis.
"Pria yang selalu tampil dengan topeng kemunafikan semata" lanjutnya sinis.
"Tidak, mentalnya hancur setelah aku membatalkan pernikahan kami beberapa tahun yang lalu" ucap Carol tiba - tiba.
Terkejut dengan pengakuan itu, Frank pun menatapnya tajam dengan pandangan penuh tanya, namun Carol hanya menanggapinya dengan tersenyum datar.
"Kau terkejut bukan?
Yeah, itulah bagian dari masa laluku..., Frank Jefferson.
Aku sudah melakukan 2 pengakuan padamu, jadi bagaimana, apa kau masih akan tetap menolakku Frank?"
..
..
"Di sini apartemen tempatmu tinggal?" tanya Frank memastikan setelah ia menghentikan mobil jaguar hitam miliknya.
"Iya benar.
Aku tinggal sendirian di sana, kau mau mampir kan Frank?
Aku sangat berharap kau tidak akan menolakku kali ini" sahut Carol dengan tatapan memohon.
Frank diam sejenak, ia berpikir sesaat sebelum menjawabnya dan tampaknya Carol tak menyukai sikap keraguan Frank.
"Jangan berpikir untuk menolakku, Frank Jefferson.
Aku tahu kau butuh teman malam ini dan aku bisa menjadi teman untuk tempatmu berbagi, aku jamin kau tidak akan menyesal" tutur Carol seraya mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Tak ada pilihan lain bagi Frank selain menerima ajakan Carol untuk mampir ke apartemen miliknya.
Ia tak bisa menolaknya kali ini, lagipula ia memang tak ingin pulang malam ini.
Baginya sekarang setiap ia menginjakkan kakinya di rumah miliknya ia seperti tak bisa lepas dari bayangan Jeanny Anderson, setiap jengkal dari rumah itu seperti mengandung aroma dari wanita yang dibencinya itu.
Entah mengapa?
Karena itu sekarang ia ingin melupakan semua itu dari kepala dan pikirannya, ia ingin segera menghapus bayangan Jeanny Anderson dari benaknya.
..
..
Apartemen Carol mempunyai bar kecil di sudut ruangan yang terletak tak jauh membelakangi ruang utama.
"Kau mau minum apa Frank?
Disini tersedia beberapa minuman, kau bisa memilih apa yang kau suka" Carol menawarkan seraya menyiapkan botol bir dan 2 gelas di meja bar kecil itu.
"Apa saja yang kau suka" sahut Frank dengan nada enggan.
Selagi Carol tengah menyiapkan minuman untuk Frank, Frank duduk malas di sofa damask warna biru telur, kepalanya menunduk seperti hilang semangat dan wajah yang selalu tanpa ekspresi itu kini menunjukkan kelelahan yang begitu nampak di dalamnya.
Ia memijat sendiri pelipis dan kepalanya berulang kali, mencoba meringankan rasa penat di kepalanya yang terasa menumpuk.
"Aku sangat tahu kalau sekarang kau begitu membutuhkan sesuatu untuk meringankan beban di kepalamu, Frank.
Itulah sebabnya aku mengajakmu minum di apartemenku untuk menganti kesenanganmu di bar yang sempat terusik tadi.
Bagaimana apa kau menyukainya Frank?" tutur Carol sambil berjalan pelan membawa membawa minuman.
"Yeah, aku sangat berterima kasih padamu Carol" Frank menjawab kaku.
Bir bagi Frank Jefferson sekarang adalah bagai obat mujarab yang dapat menghilangkan segala hal yang menjadi bebannya akhir - akhir ini dan tanpa disadarinya ia telah menghabiskan 3 botol bir Jack Daniel's.
Kesadarannya mulai berkurang saat itu.
Tahu dengan situasi dan keadaan Frank yang demikian, Carol pun mencoba memanfaatkannya.
Dengan keahlian yang dimilikinya, ia pun mendekati Frank yang kini tampak dengan kondisi tak karuan.
"Kau sudah terlalu mabuk Frank, sampai kapan kau akan tetap minum?" tanya Carol berlagak cemas.
Seakan tak memperdulikan teguran wanita di sampingnya, Frank tetap menuangkan bir di gelas miliknya yang kini tampak kosong.
"Kau tahu, aku sanggup membayar berapapun sekalipun harus membayar dengan jaminan untuk mendapatkan 1 gelas ini" ucap Frank tak teratur, sorot matanya kini tampak kosong.
"Dengar ucapanku Frank Jefferson!" ucap Carol dengan membalikkan posisi tubuh Frank ke hadapannya.
"Berapapun banyak bir yang kau minum tak akan begitu saja menghilangkan beban masalah yang kini sedang kau hadapi.
Kau membutuhkan seorang wanita di sampingmu Frank, wanita seperti aku.." tutur Carol dengan suaranya yang menggoda.
Frank menatapnya kosong dan berkata seakan tak peduli.
"Kau ini bicara apa?
Jangan mencoba merayu Carol, aku tak butuh siapa - siapa saat ini yang kubutuhkan sekarang hanya minuman itu."
"Ayo cepat, mana minumannya Carol? berikan padaku sekarang!" perintah Frank tak peduli.
Tanpa di duga Carol membuka setengah pakaian yang dikenakannya, tank top keabuan yang dipakainya tergeletak begitu saja di lantai.
Seakan tak peduli dengan ketelanj*annya sendiri, Carol menuntun tangan Frank ke dadanya yang kini hanya mengenakan bra.
"Kau membutuhkan aku Frank dan aku membutuhkanmu.
Begitu lama aku menunggu saat seperti ini denganmu, untuk itu aku mohon padamu..
Bercintalah denganku Frank.., untuk malam ini.
Bercintalah denganku!" suara itu kini begitu terdengar bergaira*h kemudian dengan berani wanita bertubuh berisi itu merengkuh Frank ke pelukannya dan mengecup bibirnya pelan namun menggoda.
Gerakan dan sentuhan yang terasa mendadak itu membuat Frank terkejut, kedua matanya yang tajam kini menatap wanita di hadapannya dengan tak percaya.
Ia sedikit sadar dengan apa yang tengah di hadapinya.
"Carol..., kau?
A- pa maksud..?"
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Carol mencium bibirnya dengan tiba - tiba.
Gerakan bibirnya terasa nakal dan begitu menggoda hingga sentuhan spontan itu membuat Frank syok, dengan waktu yang relatif singkat nafas Frank menjadi tak teratur, suhu tubuhnya seakan menjadi panas dan siap meledak hingga membuat Frank seakan hilang kontrol dengan menyambut ciuman nakal Carol dengan ciuman panas.
Frank menjadi hilang kendali, seiring dengan nafasnya yang berubah memburu, nafsunya menyala - nyala membuat Frank seakan mabuk dengan apa yang telah menggoda di hadapannya sekarang.
Dengan kasar ia membaringkan tubuh Carol hingga beberapa botol bir yang tergeletak di meja jatuh, namun mereka tak peduli.
Bukan pemberontakan ataupun jeritan rasa sakit yang dilakukan Carol tapi ia justru tampak menikmatinya keberingasan Frank ketika menyentuhnya.
"Sentuhlah aku sesuka hatimu Frank..., berikan aku kenikmatan seperti kau juga yang telah memberikanku kenikmatan!" pinta Carol dengan gair*h yang menggebu.
Saat ini akal sehat Frank telah tertutupi perasaan menggebu yang bergejolak di dalam dirinya, segala emosi yang meluap di dadanya seakan kini menjadi nafs* yang tak tertahankan.
Aliran darahnya seakan mengalir begitu cepat di dalam tubuhnya, begitu cepat hingga ingin meledak, seperti yang pernah dialaminya ketika ia melakukan kegilaan itu pada Jeanny Anderson namun kali ini Carol tahu bagaimana memanfaatkan situasi dari keadaan Frank yang demikian.
Beberapa menit setelah ketegangan mereda, tampak Frank terbaring di samping tubuh Carol yang kini tersenyum puas penuh kemenangan setelah pengalaman yang baru saja ia rasakan.
Baginya ini adalah pengalaman paling mengair*hkan yang ia lakukan bersama dengan Frank Jefferson.
Ia menikmati kebersamaan ini, bersama dengan Frank, pria yang ia inginkan sejak dulu.
Hingga seakan ia tak ingin kemesraan ini cepat selesai dan ia tak ingin tertidur kemudian terbangun tanpa melihat Frank berada di sisinya lagi.
Carol menatap pria tampan yang begitu mengusik hatinya itu selama ini.
Jemari putihnya membelai mesra wajah Frank yang kini tengah hanyut dalam tidurnya.
"Aku tahu kau tidak akan mengecewakanku, Frank.
Aku tahu dan aku akan membuatmu merasa puas dengan pelayanan ini namun aku tak akan berhenti dan melepaskanmu begitu saja dari tanganku karena aku yakin aku akan dapat memilikimu, cepat atau lambat..." ucap Carol penuh keyakinan.
..
..
Malam itu juga Carol memindahkan tubuh Frank ke kamar miliknya yang berukuran cukup luas.
Ia memang merencanakan ini dengan matang, baginya tak ada kata menyerah sebelum Frank Jefferson berhasil ia taklukan.
"Dimana aku?" tanya Frank lirih saat ia mulai sedikit membuka kedua matanya namun hal pertama yang ia lihat adalah Carol yang tersenyum padanya.
"Kau aman bersamamu Frank.
Tidurlah sayang...., aku akan membawamu terbang ke mimpimu.
Pejamkanlah matamu dan nikmatilah apa yang akan kulakukan untukmu" ucap Carol pelan.
Seperti terhipnotis dengan apa yang diperintahkan Carol padanya, Frank kembali memejamkan matanya dan mendes*h penuh kenikmatan saat ia merasakan sesuatu menyentuh bagian bawah tubuh miliknya.
Pelan namun pasti, lembut dan penuh kemesraan.
Frank begitu menikmatinya, menikmati setiap detail sentuhan yang Carol lakukan padanya hingga sebuah nama ia sebutkan tanpa disadarinya.
Sebuah nama seseorang, jelas dan diucapkannya dengan sepenuh hati hingga mampu membuat hati Carol panas dan darahnya seakan mendidih saat mendengarnya.
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...