One Day In Your Life

One Day In Your Life
FRUSTASI



Frank dengan berat mulai membuka matanya.


Rasanya semua bagian tubuhnya remuk redam tak bertulang.


Lelah dan tanpa tenaga, kepalanya pusing dan pandangannya kabur saat ia mulai mencoba membuka mata.


"Argghh...., ada apa denganku?" pekiknya penuh tanya.


Rasanya terjadi sesuatu tadi malam, tapi ia belum bisa mengingatnya dengan jelas.


Yang ia ingat terakhir kalinya adalah sebelum ini ia pergi menemui Carol di apartemennya dan berniat memberikan wanita sial itu pelajaran.


Mengingat nama Carol, seketika langsung membuat Frank sadar dan bangun.


"Astaga, apakah semalam....?!" Frank berseru mulai panik dan benar saja, kini ia mendapati dirinya di tempat yang asing, bukan rumah ataupun kamar miliknya.


Detik itu juga ia menyadari kini ia tertidur dengan tanpa memakai apapun di tubuhnya, semakin panik Frank berpaling pada sesosok tubuh yang tampak terbaring di sebelahnya.


Seorang wanita yang cukup ia kenal, wanita yang seharusnya ia hindari jauh dan sebuah malapetaka bagi dirinya dan kehidupan pernikahannya dengan Jeanny.


"Carol??!!" Pekiknya dengan mata membulat sempurna.


Tampak Carol masih terbaring dengan keadaan yang tak jauh berbeda dengan dirinya sekarang.


Polos dan tanpa busana, beberapa tanda merah memenuhi di setiap inci tubuhnya hinga di bagian yang paling sensitif.


"Astaga, apa yang aku lakukan??!!" Frank berseru panik, kali ini ia benar - benar panik dan kacau, sungguh tak bisa diungkapkan.


Perasaannya campur aduk dan masih belum mengerti dengan keadaan.


Namun yang jelas, semalam terjadi sesuatu padanya dan Carol Gilmore, sesuatu yang tidak seharusnya dan terulang lagi seperti dulu.


Mendengar teriakan Frank yang seperti orang gila membuat Carol mulai bangun dan membuka matanya dengan berat.


"Frank..." Lirihnya serak.


"Bangun kau jal*ng!! apa yang kau lakukan padaku semalam, hah?!!! Katakan!!!!" Frank berseru hilang kendali.


Carol yang masih dalam keadaan setengah bangun pun dengan acuh memeluk tubuh polos Frank yang tampak terduduk di sebelahnya dengan wajah dan tubuh tegang.


"Sayang, apakah kau lupa? Kau begitu menggairahkan semalam dan itu membuatku suka..." Sahutnya dengan suara seperti bisikan.


Mengetahui kenyataan buruk yang telah terjadi pada dirinya semalam, Frank pun mendorong kasar tubuh Carol hingga wanita itu terjatuh di sisi ranjang, membuat Carol menjerit kaget.


"Jangan menyentuhku!!!!" Seru Frank lepas kendali.


"Frank?!! aku sedang hamil!!" Carol berseru kesakitan seraya menyentuh perutnya yang merasa sedikit nyeri.


"Aku tak peduli!!!! Kau telah menjebakku wanita jal*ng!! begitu hina kah kau sampai melakukan cara busuk seperti ini untuk kedua kalinya, hah??!!" Frank berseru lantang.


Tanpa berpikir panjang, Frank pun berusaha mengumpulkan kekuatannya, tubuhnya masih lemah karena pengaruh obat yang semalam Carol suntikan di tubuhnya tanpa ia sadari.


Ia mencoba bangkit dari ranjang dan mencari pakaiannya, sama sekali ia tak memperdulikan Carol yang tampak meringis kesakitan karena perlakuan kasar Frank tadi.


"Kau kejam Frank Jefferson!! Aku sedang hamil anakmu tapi kau justru memperlakukan aku seperti sampah!! Apa kau lupa semalam kau juga ikut menikmatinya!!? Apa kau tak melihat semua tanda ini di seluruh tubuhku!!? Kau yang melakukannya secara paksa padaku, Frank!!" Carol berseru seraya mencoba untuk bangun dari lantai.


"A-pa kau bilang...?!! secara paksa??!" Kedua mata tajam Frank kini tampak berkilat bagai nyala api mendengar ucapan Carol tadi.


Bagai langkah serigala buas, Frank menghampiri Carol dan mencengkram rahang wanita itu hingga Carol menjerit kesakitan.


Kemudian Frank melemparkan tubuh polos itu ke ranjang dengan kasar.


"Kau- , kalau saja kau bukan seorang wanita aku bunuh sekarang juga di tempat ini, Carol Gilmore...!!


Bersyukurlah karena aku masih bisa menahannya saat ini, karena aku tahu setiap akal busukmu itu semakin membuatku yakin kalau anak yang kau kandung itu bukanlah anakku!!!" ucap Frank dengan mata berkilat bagai seorang pembunuh.


Carol yang tampak ketakutan karena baru pernah melihat sosok mengerikan dalam diri Frank langsung membuat hatinya menciut saat itu juga, saat ini ia tak ingin membantah makian Frank Jefferson karena ia tahu kali ini pria itu benar - benar marah dan tak main - main dengan ucapannya.


Kemudian tanpa mengucapkan apapun, Frank berlalu meninggalkan Carol yang masih merasakan sedikit syok karena ucapan Frank tadi.


Tapi apapun hasil akhirnya, Carol semakin yakin kalau rencananya kali ini untuk memisahkan hubungan Frank dan Jeanny akan berhasil.


Senyum jahat mengembang di wajah liciknya sekarang.


"Lihat saja, Frank Jefferson kau akan benar - benar kehilangan istrimu itu kali ini." Desis Carol yakin.


..


..


..


Rasa bersalah begitu besar memenuhi dirinya sekarang, ia takut dan bahkan sangat takut pada kenyataan.


Sungguh ia tak bisa melihat wajah istrinya sekarang, wanita yang begitu ia puja dan sangat dicintainya, Jeanny Anderson.


Frank merasa malu sekaligus bodoh.


Ia malu untuk menatap dan bertemu istrinya sekarang.


Ia pun merasa malu pada dirinya sendiri, karena ia begitu bodoh sehingga ia bisa terjebak dalam perangkap setan yang Carol buat padanya untuk yang kedua kalinya.


"Brengs**kk sialan kau Carol Gilmore!!!!" Maki Frank frustasi di dalam mobilnya sendiri saat itu.


Bagaimana ia harus menjelaskannya nanti pada Jeanny alasan ia tidak pulang, apalagi tanpa memberikan kabar sama sekali sejak semalam.


Siang itu Frank pun menepikan mobilnya di suatu tempat terpencil yang entah berantah, merenung dalam ketakutan yang ia rasakan saat ini.


Ia takut Jeanny akan pergi dari hidupnya.


Dipandangi foto istrinya itu dengan kedua matanya yang sendu, ia merasa putus asa sekarang hingga tanpa ia sadari air mata mulai menetes di pipinya.


Frank Jefferson menangis.


Seorang Frank yang berhati dingin dan angkuh menangis karena kebodohannya sendiri.


"Maafkan aku sayang..., maafkan aku." Lirihnya pilu, kedua matanya tak lepas menatap foto Jeanny di layar ponselnya.


...******...


"Frank..., ia tak pulang semalaman


Dimana kau?" Lirihku saat bangun dan menyadari kalau tak ada Frank yang tertidur di sampingku seperti biasanya.


Perasaanku tak enak karena ini tak seperti biasanya Frank lakukan selama ini.


Biasanya jika Frank lembur ataupun akan dinas ke luar kota ia akan mengabarinya dan memberitahukannya padaku.


Namun berbeda dengan sekarang, sejak semalam ia tidak ada kabar sama sekali.


Ponselnya pun tak aktif hingga sampai saat ini.


Sebagai istri tentu saja aku mengkhawatirkannya.


Walaupun selama beberapa minggu ini kondisi rumah tangga kita dalam keadaan yang tak baik tapi tentu saja aku tetap mencemaskannya karena dia adalah suamiku, pria yang kucintai walaupun aku kecewa padanya.


Tanpa pikir panjang siang itu, karena merasa ada yang tak beres aku mencoba menghubungi kantor Frank.


"Ya, hallo disini Wilson Grup's Corporation, ada yang bisa saya bantu?" Sapa seseorang mengangkat teleponku, suara wanita.


"Ma-af Miss, saya Mrs. Jefferson.


Apa saya bisa bicara dengan Frank Jefferson, suami saya sekarang? karena ponselnya tidak dapat dihubungi sejak semalam."


"Oh, Mrs. Jefferson, senang bisa bicara dengan anda, saya Britney Leaden, sekretaris pribadi Mr. Jefferson.


Maaf sekali Mrs. Jefferson, Mr. Jefferson tidak datang ke kantor pagi ini. Sayapun mencoba untuk menghubunginya namun tidak bisa."


"A-pa tidak datang? bagaimana bisa?


Kalau begitu kapan terakhir suami saya pulang Miss. Leaden?"


"Setahu saya Mr. Jefferson pulang kemarin malam sekitar pukul 7, Mrs. Jefferson.


Apa ada masalah Mrs. Jefferson? Saya akan berusaha membantu jika anda membutuhkan bantuan."


"Oh, tidak perlu, Miss. Leaden.


Terima kasih atas informasinya.


Saya akan menelepon lagi, jika sampai malam nanti suami saya masih belum bisa dihubungi" tuturku kemudian mengakhiri sambungan telepon dengan perasaan campur aduk dan beribu tanya yang kini memenuhi otak dan pikiranku.


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺...