
"Anda harus banyak istirahat Mrs. Jefferson, saya sarankan jangan terlalu stres dan terlalu berat berpikir, kurangi juga kegiatan anda yang berat - berat selama masih dalam masa riskan karena jika hal itu terjadi itu akan sangat beresiko untuk kandungan anda" Dokter Brian memberikan penjelasan padaku yang saat itu baru beberapa menit sadar.
Entah apa yang terjadi padaku aku tak tahu, yang pasti saat aku terbangun, aku sudah ada di dalam kamar pasien rawat inap.
Seorang suster mengatakan kalau aku dirawat karena pingsan, dan suamiku yang membawaku ke rumah sakit beberapa jam yang lalu.
Suami? Frank Jefferson..., apakah ia masih pantas disebut suamiku?
Aku tersenyum pahit memikirkannya, bagaimana rasa sakit ini masih ada dalam hatiku.
Begitu besar dan sangat menyiksa, sebuah pengkhianatan yang menyakitkan hati.
Aku tahu suatu saat mungkin hal ini terjadi pada pernikahanku sejak aku tahu kenyataan kalau Frank memiliki hubungan dengan wanita lain.
Namun aku tak menyangka ternyata sesakit ini.
Segala ucapan dari mulut manisnya tentang cinta padaku dan penyangkalan tentang perasaannya pada Carol Gilmore sungguh berbeda dari kenyataan.
Dia bohong tentang semuanya, sungguh memuakkan.
Rasa kecewa yang ada selama beberapa minggu ini kini dengan cepat berubah menjadi benci hanya dalam sekejap mata.
Karena aku merasa sudah baikan, aku meminta seorang suster untuk menghubungi sahabatku Natasya Perrone untuk menjemputku dari rumah sakit.
Untuk saat ini aku tak ingin bertemu Frank Jefferson, tidak...
Dan untuk itu aku minta Natasya untuk menjemputku malam itu juga.
..
..
..
"Bagaimana bisa Frank meninggalkan istrinya seorang diri di rumah sakit seperti itu?!
Aku heran, apa yang sebenarnya ada di dalam otaknya saat ini?!!" rutuk Natasya di dalam mobil saat kami dalam perjalanan pulang.
Aku hanya diam mematung tak menanggapi omelan Natasya dan makiannya pada Frank selama dalam perjalanan pulang.
Pandanganku hanya menatap kosong ke jendela mobil.
Entahlah, aku merasa lelah dan aku belum menceritakan tentang video itu pada Natasya saat ini.
Karena aku tahu, pasti Natasya akan mengamuk pada Frank.
Bukan karena ingin melindungi Frank dari kesalahannya namun aku masih dalam keadaan syok dan tak ingin bicara dengan siapapun.
Aku rasa Natasya bisa memahami itu, oleh karena itu ia tak berniat memaksaku untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi hingga aku bisa berakhir dirumah sakit dan ditinggalkan oleh suamiku sendiri.
"Kau istirahat saja, Jeanny...
Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu" perintah Natasya saat kami baru sampai di apartemen miliknya.
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Sekarang aku minta kau jangan terlalu banyak berpikir, karena itu tak baik untuk kesehatanmu dan keselamatan kandunganmu...
Jika Frank datang kesini dan mencarimu, aku yang akan menghadapi kau tenang saja ya" tutur Natasya perhatian.
"Terima kasih banyak Nat, aku hanya punya kau dan Scully di dunia ini, entah apa yang terjadi padaku jika kalian berdua tidak ada disaat aku jatuh sendiri seperti ini..." ucapku lirih dengan mata sendu.
"Hey, sejak kapan kau jadi cengeng seperti ini? kita sudah lama menjadi teman, Jeanny jadi jangan anggap aku sebagai orang lain.
Kau boleh tinggal sampai kapanpun kau mau disini jadi jangan sungkan padaku, okay?" sahut Natasya tulus mencoba menenangkanku dan aku hanya tersenyum dengan wajah haru saat mendengarnya.
Setelah Natasya pergi meninggalkanku di kamar malam itu, aku tak bisa memejamkan mata sama sekali.
Entah mengapa, bayangan Frank dan kalimat ungkapan cintanya pada Carol dalam video itu masih berkelebat jelas di mataku.
Menyakitkan sekali, seperti memergoki secara langsung suami sendiri bercinta dengan wanita lain di depan mataku.
Dadaku bergemuruh panas saat mengingatnya, entah siapapun yang mengirimkan dengan sengaja video itu padaku aku tak peduli, yang jelas bukti itu sudah cukup membuat kedua mataku terbuka lebar, jika suami yang selama ini aku banggakan dan yang kucintai dengan sepenuh hati telah berkhianat dan lebih memilih wanita lain.
Aku harus kuat untuk anakku dan aku tak boleh lemah hanya karena suamiku mengkhianatiku.
Hanya anakku ini yang aku punya sekarang, jadi akan aku pertahankan sampai kapanpun walaupun aku harus kehilangan seorang Frank jefferson.
Aku bisa hidup tanpa Frank Jefferson tapi aku tak bisa hidup tanpa anakku nanti.
Keputusan sudah aku buat dengan penuh keyakinan.
Pernikahanku dan Frank akan berakhir, aku akan melepasnya dengan tanpa beban.
Semua akan baik - baik saja..., aku akan bisa melewatinya dengan baik sampai anak ini lahir.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Drddrrrrrtt...drrdrrrttt....
Suara getaran ponsel di meja nakasnya membuat Natasya terbangun dari tidurnya pagi itu.
Ia berusaha menggapai ponselnya dan membaca nama panggilan yang muncul di layar ponselnya dengan malas.
"Frank Jefferson..." gumamnya.
"Ada apa kau meneleponku?" tanya Natasya ketus menjawab panggilan itu.
"Jeanny, apakah Jeanny bersamamu sekarang Nat?!" suara Frank serak di sebrang sana.
"Untuk apa kau mencarinya? kalau bersamaku memangnya apa yang akan kau lakukan?" sahut Natasya acuh.
"Dia istriku Nat! tentu saja aku mengkhawatirkannya!"
"Apa aku tidak salah dengar, Frank Jefferson?
Sekarang aku tanya padamu, apa pantas seorang suami meninggalkan istrinya sendirian di rumah sakit, hah?!!, pikirkan itu!"
"A-ku..., ada suatu hal yang sangat penting yang harus aku lakukan semalam Nat.., karena aku pikir Jeanny baik - baik saja dan sudah aku percayakan pada seorang dokter disana.."
"Seberapa penting itu dengan istrimu sendiri yang sedang hamil, Frank Jefferson?!
Dengar! aku tak tahu apa yang terjadi pada kalian berdua kemarin karena sampai saat ini Jeanny masih bungkam dan merasa syok!!
Tapi aku ingatkan lagi saat ini, jika kau berani menyakitinya kau berurusan denganku, Jefferson..., karena ini sudah yang sekian kalinya kau menyakiti perasaannya!!" Natasya berseru marah.
Hening.
Tak ada jawaban, Frank hanya diam di sebrang sana, seakan memang tak ada lagi penyangkalan yang dapat ia ucapkan sekarang pada Natasya.
Karena memang Frank merasa bersalah dan bodoh menjadi seorang suami yang baik bagi Jeanny.
Ia merasa gagal menjadi seorang ayah yang baik untuk calon anaknya, oleh karena itu ia tak bisa menyangkal segala ucapan yang Natasya katakan mengenai dirinya.
"Kusarankan, untuk saat ini biarkan Jeanny berada di rumahku, karena itu yang terbaik untuk saat ini dan satu hal lagi, kau akan menyesal Frank Jefferson, jika suatu saat kau akan kehilangan seorang istri seperti Jeanny.
Karena hanya pria bodohlah yang menyia - nyiakan dan berulang kali menyakiti wanita sebaik Jeanny Anderson" tutur Natasya menutup panggilan telepon itu.
...✨✨✨✨✨✨...
......Jangan lupa like, komen, faforite dan juga hadiah untuk author ya jika kalian suka novel ini......
...🥰🥰😚😚...
...( Astaga borongan😂😂🤭 )...
...Karena dukungan dari kalian lah, para readers sebagai penyemangat author☺️❤️...
...Jd jgn sungkan kalo mau kasih like dan koment yang bnyk ya😁💃...
...TERIMA KASIH...
...❤️🙏🏽❤️...