One Day In Your Life

One Day In Your Life
Pesan dari seorang pria misterius



San Fransisco, 3 hari menjelang Natal.


Selama ini aku tak pernah merasa terganggu dengan kehamilanku yang kini menginjak bulan ke 3.


Selama itupun tak ada orang yang tahu tentang kehamilan ini terkecuali Scully Madison, teman kerjaku sekaligus teman dekatku di kantor.


Kami begitu dekat sama seperti hubunganku dengan Natasya Perrone.


Selain Scully tak ada yang tahu kehamilanku karena hanya dia yang memperhatikan perubahanku sepulangku dari New York.


Awalnya aku telah bertekad untuk merahasiakan kehamilan ini hingga menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukannya pada teman - teman terdekatku namun seperti biasanya tak ada yang pernah lepas dari perhatian Scully, ia begitu detail memperhatikan perubahan bentuk tubuhku yang belum terlalu mencolok saat ini.


Mau tak mau akupun harus berkata jujur padanya, tetapi sampai saat ini aku masih merahasiakan jati diri Frank Jefferson, ayah dari anakku yang masih dalam kandunganku ini dan Scully memahami ketertutupanku, ia tahu bagaimana harus bersikap sebagai teman baik, itu yang aku suka darinya.


"Natal kali ini mungkin akan terasa sepi" tutur Scully tiba - tiba, ia mendesah pelan.


Aku yang tengah sibuk mempersiapkan berkas - berkas dari calon pembeli, tersenyum tipis mendengar keluhan Scully yang kini tampak termenung, pandangannya tak lepas memperhatikan jalanan kota yang sibuk di jendela luar kantor.


"Apa kau tak punya acara Natal tahun ini?


Kita kan bisa merayakan bersama - sama seperti tahun lalu" sahutku mencoba mengingatkan.


"Bukan itu maksudku, Jeanny.


Natal tahun ini sepertinya tak seperti yang kuharapkan, William tak akan pulang bulan ini.


Kepulangannya diundur selama 4 bulan kedepan, itu artinya kita berdua tak bisa merayakannya bersama lagi seperti tahun lalu..." Scully menegaskan dengan raut wajah kesal.


"Aku turut menyesal Scully tapi setidaknya William tetap akan pulang walaupun tidak di bulan ini kan?" tuturku menghibur seraya menepuk bahunya lembut.


Scully berpaling padaku dan tersenyum.


"Iya..., kau memang benar Jeanny" jawabnya sedikit merasa terhibur.


"Kau sendiri bagaimana, apa kau akan pulang kembali ke New York menemui 2 teman kecilmu itu?" tanya Scully kemudian.


Aku mendesah pelan sebelum menjawab,


"Aku rasa tidak, itu tak mungkin kulakukan mungkin nanti aku hanya bisa mengirimi kartu ucapan dan kado Natal untuk mereka berdua nanti."


"Yeah, itu lebih baik daripada tidak sama sekali" sahut Scully pelan.


"Kau akan berangkat pagi ini?" tanya Scully kembali.


"Iya, aku harus sampai tepat waktu di sana sebelum Mr Nelson berubah pikiran mencari calon penjual lain nanti.


Mengejar waktu, itulah prioritas utama kita bukan?" sahutku, bersiap - siap untuk pergi.


"Jaga baik - baik dirimu Jeanny, cuaca hari ini begitu dingin.


Utamakan keselamatanmu nanti di jalan, ingat kau tidak sendiri lagi saat ini akan ada manusia baru yang lahir sebentar lagi" tutur Scully mengingatkan.


Aku yang tengah memakai blazer panjang dari bahan tweed saat itupun langsung berpaling pada Scully seraya tersenyum.


"Aku tahu, terima kasih telah mengingatkanku..." jawabku tulus.



"Maaf apa ada yang bisa saya bantu?" sapa Scully ramah pada seorang pria yang baru saja datang di kantor Real - Estate miliknya.



Scully Madison bertugas sendiri saat ini, semua karyawannya mengambil cuti Natal mulai 4 hari menjelang Natal, terkecuali Jeanny Anderson, karyawan sekaligus teman baiknya sendiri.



Jadi, Scully Madison lah pemilik sekaligus pengelola kantor Real - Estate yang kini cukup memiliki nama besar di kota San Fransisco.



Pria berambut hitam itu tersenyum tipis.



"Maaf saya hanya ingin bertanya, apakah benar disini tempat miss Anderson bekerja?


Jika benar, saat ini saya ingin bertemu dengannya" pria itu menjawab sopan.



Seketika itupun alis Scully langsung berkerut,


"apa yang anda maksud itu adalah Jeanny Anderson?" tanya wanita berambut hitam berpotongan bob itu memastikan.



Wajah pria berpenampilan menarik itupun langsung berseri ketika mendengarnya dan kemudian mengangguk memberikan jawaban.



"Iya benar, tak salah lagi.



"Sayang sekali, anda tak bisa menemuinya sekarang, dua jam yang lalu ia baru saja pergi ke San Mateo untuk menemui calon pembeli kami disana.



Jika urusan anda begitu mendesak paling tidak anda akan dapat menemuinya besok pagi sesuai jam kerja kantor disini tetapi jika urusan anda berkaitan dengan hal pribadi, anda dapat menitipkan pesan untuknya melalui saya" jawab Scully menjelaskan dengan rinci.



Wajah yang tadi tampak berseri itu kini kembali tampak serius, terlihat cukup jelas kekecewaan tercermin di ekspresi wajahnya yang tampan.



Mengetahui hal itu, Scully mencoba memberikan angin segar.


"Bagaimana tuan, apa mungkin anda ada pesan untuknya karena mulai besok kami akan mulai mengambil cuti Natal" tutur Scully seraya tersenyum ramah.



"Iya, tunggu sebentar!" sahut pria itu, setelah itu kemudian ia menulis beberapa kata di secarik kertas yang Scully siapkan untuknya.



"Ini ada pesan untukmu" tutur Scully setibanya di apartemen baru yang kini aku tinggali selama beberapa minggu ini.


"Dari siapa?


Apa pesan itu begitu penting sampai - sampai kau mengantarkannya sendiri malam - malam begini?


Kau kan bisa memberitahuku di telepon" sahutku penasaran.


Setelah menaruh jaket wol tebal miliknya, iapun menjawab.


"Aku tak mau mengecewakan pria tampan itu lagi saat aku harus mengatakan padanya kalau kau pergi dan tak bisa ditemui.


Kau tak melihat bagaimana ekspresi kekecewaannya saat itu, karena itu aku yakin pesan untukmu ini mungkin sangat penting" tambah Scully menjelaskan.


Ku ambil secarik kertas itu dari tangan Scully yang masih mengenakan sarung tangan pemberian William saat Natal tahun lalu dan aku mulai membaca barisan kalimat di dalamnya.


...Aku tunggu kau besok di Golden Gate Park besok pukul 10 pagi....


...Aku sangat berharap kau mau datang dan menemuiku di sana....


Kutatap Scully di depan yang kini tengah duduk di sofa favoritnya yang selalu didudukinya setiap ia datang kemari.


"Apa ada masalah?" tanya Scully ingin tahu.


Aku berkedip beberapa saat mencoba berpikir jernih.


"Tidak, hanya saja kelihatannya aneh.


Apa pria itu tak menyebutkan siapa namanya padamu Scully?" aku bertanya memastikan.


Scully menggeleng mantap,


"tidak, aku lupa tak menanyakannya.


Kau tahu sendiri bukan, kadang aku merasa linglung jika pikiranku hanya terfokus pada satu hal.


Pria itu begitu tampan, jauh lebih tampan dari William'ku maka kupikir kau tak akan mungkin tak mengenalnya" sahutnya seraya tersenyum nakal.


"Ayolah Scully, serius lah sedikit!" seruku memohon.


"Bisakah kau menyebutkan bagaimana ciri - cirinya padaku, seperti wajah dan rupanya.


Coba kau ingat - ingat kembali! Apakah mungkin kau tak pernah melihat pria itu sebelumnya?" mohonku penuh harap.


Pandangan Scully kini menerawang ke atas, seakan berpikir keras mengingat detailnya.


"Yang jelas kuingat, pria itu berambut hitam, berpenampilan menarik, matanya begitu tajam dan wajahnya begitu tampan..., hingga mungkin semua wanita bisa luluh setelah melihat penampilannya yang begitu memikat itu.


Itulah yang kuingat dari pria itu, kuharap kau dapat menggambarkannya sendiri" Scully mencoba menjelaskan serinci mungkin di depanku seraya memamerkan senyuman genitnya padaku yang hanya menatapnya penuh tanya.


Kuhempaskan tubuhku ke sofa di samping Scully dengan pandanga kosong kedepan.


"Aku rasa aku tak mengenalnya, Scully...


Mungkinkah pesan ini dapat dipercaya?" tanyaku pesimis.


"Hey! berpikirlah positif Jeanny!" seru Scully spontan hingga mengejutkanku.


"Aku yakin pesan ini begitu penting untukmu, jika memang pria itu bermaksud jahat padamu mana mungkin ia berani mencarimu di tempatmu bekerja, lagipula kupikir tak ada sedikitpun tampang buruk di wajah tampan itu.


Saranku Jeanny, ikutilah apa yang ada dalam pesan itu.


Aku yakin kau tak akan menyesal jika bertemu dengannya nanti."


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...