One Day In Your Life

One Day In Your Life
Kenapa kau menolongku?



Ia enggan untuk pulang tapi ia harus pulang.


Ia masih punya tanggung jawab di rumah itu, tanggung jawab besar.


Alex dan Kimmy.


Ya, dua nama itu selalu diingat dan memberatkannya selama ini.


Ia tak boleh lari dari kenyataan, lari dari semuanya ini dan lari dari Jeanny Anderson.


Apa yang harus ia takutkan pada wanita itu?


Kecantikannya atau setiap tutur kata yang di ucapkan di bibir manis yang pernah ia rasakan waktu itu?


Di dalam alam bawah sadarnya ia menginginkannya kembali.


Ia ingin merasakan bibir itu lagi di bibirnya.


"Frank?!"


Dengan tiba - tiba dan seruan kaget, gadis kecil pirang itu berlari kencang dan langsung memeluknya erat - erat.


"Hei, ada apa ini?!" tanyanya tak mengerti dengan sambutan yang terasa asing itu.


"Kau baik - baik saja, Frank...


Aku pikir kau akan mati di jalan dan tak akan kembali" tutur gadis kecil polos itu lugu.


Frank membungkuk dan menatap Kimmy dalam - dalam.


"Mati?


Siapa yang bilang aku mati?" tanyanya penasaran.


Belum sempat Kimmy menjawab, Alex yang sejak tadi duduk di sofa angkat bicara.


"Jeanny bilang kau kecelakaan di jalan.


Ia sekarang sedang di rumah sakit hendak menjengukmu."


"Wanita itu lagi..." pikir Frank kesal.


Ia tak habis pikir kenapa wanita itu selalu membuat masalah, sejak kehadirannya di rumah ini sepertinya tak ada henti - hentinya ia tertimpa masalah.


"Kau bertemu dengan Jeanny, Frank?


Ia tadi begitu mengkhawatirkanmu" tutur Kimmy polos.


Kebenaran belum terjawab, Frank belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi dirumah ini.


Dengan langkahnya mantap, ia menghampiri Alex yang berada tak jauh di depannya.


"Kau bilang kecelakaan?


Siapa yang mengatakannya pada kalian?" tanyanya bagai seorang penyelidik.


"Seseorang bernama Garth, ia mengantar Jeanny ke rumah sakit" jawab Alex datar.


"Garth..?"


Terjawab sudah apa yang menjadi pertanyaannya kini.


"Sudah berapa lama mereka pergi?" tanya Frank memastikan.


"Sekitar 1 jam yang lalu" sahut Alex yakin.


Frank melirik arlojinya dan berbalik hendak pergi.


"Apa yang terjadi Frank?


Jeanny baik - baik saja kan?" tanya Alex cemas.


"Tak ada apa - apa, tak ada yang perlu kau khawatirkan.


Aku akan pergi menyusulnya" sahut Frank mantap.


"Apakah pria itu jahat, Frank?" Kimmy tiba - tiba saja bertanya mendekati Frank.


Tak kuasa dengan tatapan polos gadis kecil itu, Frank pun kembali membungkuk di depan Kimmy.


"Semua baik - baik saja, aku akan membawa Jeanny pulang.


Tunggulah di sini aku akan segera kembali" perintahnya berwibawa.


Kemudian tatapan Frank beralih pada Alex di sampingnya dengan mantap ia menepuk pundak Alex.


"Aku tahu kau masih marah padaku soal penamparan itu.


Maafkan aku..., aku berjanji tak akan mengulanginya lagi" tutur Frank serius.


Ia mengepalkan telapak tangannya di depan Alex, menunggu balasan darinya.


"Ja..di?" Frank memastikan


"Ok!!" sahut Alex mantap dengan membalas kepalan tangan itu dan menempelkannya sebagai tanda perjanjian.


"Baiklah, aku harus segera pergi.


Jangan kemana - mana aku akan segera kembali."



"Kau memang ditakdirkan untukku Jeanny Anderson.


Aku tahu itu" ucap Garth berusaha meyakinkan dirinya.



Tatapannya tak lepas menatap sosok tubuh wanita berambut pirang keemasan yang terbaring di ranjang miliknya.



Malam itu, setelah Garth membius Jeanny di dalam mobil tanpa berpikir panjang lagi ia meluncurkan mobilnya menuju ke villa miliknya.



Garth Gaskins adalah seorang yang kaya, ia mempunyai segalanya dan ia memang merencanakan semuanya ini.



Penculikan Jeanny yang tanpa cela, wanita memang dapat dengan mudah dibohongi, namun yang membuat seorang Jeanny Anderson berbeda dan lain di matanya, wanita itu tidak mudah ditaklukan.



Ia percaya wanita seperti Jeanny Anderson tak akan bergeming jika disuguhkan oleh materi.


Baginya ini adalah sebuah tantangan, tantangan yang membuatnya mabuk untuk berusaha mendapatkan Jeanny Anderson.



Wanita itu mencintai Frank Jefferson, itu yang ia tahu dan ia menggunakan cara itu membohongi Jeanny.



Garth Gaskins memang tahu segalanya tentang Jeanny Anderson, setelah mengenalnya di Richmond's Restoran beberapa waktu yang lalu, ia berusaha mendapatkan data terlengkap dari semua yang berhubungan dengan Jeanny Anderson.



Hal itu bukanlah masalah yang sulit untuk seorang Garth Gaskins.


Frank Jefferson telah melakukan kesalahan besar dengan memperkenalkan Jeanny sebagai tunangannya malam itu.



Garth menyunggingkan senyuman kepuasan, ia ingin tahu bagaimana reaksi Frank Jefferson jika tahu ia berhasil meniduri wanita yang menjadi kekasih sahabatnya ini, Max Bremmes.



Sepanjang sejarah kehidupan cinta Garth Gaskins, tak ada wanita satupun yang lepas di pelukan Garth Gaskins dan kini ia tersenyum penuh kemenangan menatap lekat - lekat wanita yang selama ini membuatnya gila.



"Frank...." aku menyebut nama itu tanpa sadar.


Hanya nama itu yang terlintas di pikiranku sekarang saat dengan susah payah aku berusaha menggerakkan tubuh ini tapi tak bisa.


Kenapa?


Kenapa tubuh ini terasa berat?


Dapat kurasakan seluruh tubuhku bergetar hebat hingga tanpa kusadari aku mendes*h pelan.


Sesuatu yang dingin terasa di kulit tubuhku, dingin dan menggelitik kulitku.


Desah*an dan erang*n pelan kudengar begitu jelas di telingaku namun aku tahu suara itu bukan berasal dariku sendiri.


Sedikit demi sedikit indera - inderaku mulai berfungsi, aku mulai dapat merasakannya kembali.


Namun yang paling terasa berat adalah kedua mataku, rasanya sulit sekali untuk membukanya.


Sentuhan itu, apakah sentuhan itu?


Ya ampun, kenapa semakin lama semakin terasa nikmat.


"Garth?!" tiba - tiba saja aku ingat nama itu.


Ya tuhan! apakah yang terjadi padaku?


Ku coba untuk mengingat - ingat kembali kejadian sebelum ini, mobil...


Ya, di dalam mobil!


Garth mengunciku di dalam mobilnya malam itu, saat ia mengungkapkan kebohongan tentang Frank.


"Tidak!!" aku menjerit dalam hati, berusaha menggerakkan seluruh anggota tubuhku, melawan semua ini, sentuhan ini dan kenikmatan yang benar - benar terlarang.


"Nikmatilah Jeanny, rasakan dengan seluruh tubuhmu.


Kau milikku dan hanya milikku sepenuhnya..." suara itu terdengar seperti bisikan di telingaku.


Lembut dan begitu menggoda.


Hingga aku teringat sebuah nama,


"Garth?!"


Ya, itu suara Garth!


"Tidak, jangan aku mohon...


Jangan Garth! Jangan lakukan itu padaku!" seruku memohon.


Namun aku sendiri tak yakin, apakah itu terdengar sebagai sebuah jeritan atau bisikan?


"Ya..ya..ya.


Kau memang sempurna, Jeanny'ku sayang..." ucapnya tertahan.


Bersamaan saat itu, aku merasakan sesuatu, sesuatu yang dingin menyentuh kulit di bagian sensitifku.


Bergerak cepat dan terus semakin cepat.


"Ah, jangan! aku mohon jangan!!" jeritku sekuat tenaga.


"Brengs*k kau!!!" suara makian itu terdengar keras di telingaku kemudian di susul suara benda terjatuh, sesuatu yang besar.


"Frank?!


Bagaimana kau bisa ke sini?!


Bukankah mereka...., semua pengawalku? desis seseorang tak percaya.


"Mereka? bodyguard tolol yang sengaja kau sewa?


Perlu kau tahu kawan, hanya pria tolol yang membanggakan kekuatan fisik mereka saja jika di bandingkan dengan otak dan akal, mereka tidak ada artinya sama sekali" sahut sebuah suara yang cukup aku kenal.


"Bedeb*h sialan!!!


Kau merusak kesenanganku, Frank?! Garth berseru marah.


"Frank..., benarkah itu kau?"


Dalam hati aku berseru kegirangan.


"Oh, Frank kau datang untuk menolongku, sama sekali aku tak menyangka.." batinku senang dan tak percaya.


"Apa hanya dengan cara ini kau berhasil meniduri semua wanita yang kau inginkan?" kalimat itu terdengar mengejek.


"Persetan!!


Cepat keluar dari rumahku, sialan!!" Garth berseru marah, sepertinya kali ini Frank benar - benar membuatnya malu.


Namun Garth tak bergeming, ia malah tertawa.


Tawanya meledak sampai keseluruh ruangan, bagiku itu terdengar mengerikan.


Namun aku tak bisa melakukan apa - apa selain berbaring diam dan tak bisa bergerak.


"Peduli apa kau pada Jeanny Anderson, Jefferson...?


Bukankah kau membenci wanita itu, bahkan setelah kematian Max Bremmes, sahabat tololmu yang selalu kau bela itu.


Kau menganggap Jeanny adalah penyebab dari kematian konyol sahabatmu itu.


Kusarankan padamu Frank Jefferson


berkacalah sebelum kau terjebak dengan ucapanmu sendiri.


Kemarin malam di Richmond's Restoran kau baru saja memperkenalkan wanita yang kau benci setengah mati itu sebagai tunanganmu padaku, aku rasa ada yang salah pada ingatanmu sobat..."


"Brengs*kk kau!!!" kudengar kata - kata kasar itu sebelum pukulan keras mendarat di wajah Garth atau mungkin di perutnya.


Aku tak tahu pasti, yang kutahu kini tubuhku gemetar setelah mendengar ucapan Garth tadi.


Kemudian aku mendengar suara gaduh, tak karuan di dalam ruangan tempat aku terbaring.


Pukulan keras terdengar dan mungkin hantaman mematikan yang kemudian disusul suara rintihan rasa sakit dan makian yang terus berlangsung selama beberapa saat membuatku ingin menjerit dan lari menjauh dari semua ini.


"Kau terlalu banyak ikut campur dalam kehidupanku, brengs*k!


Urusi saja wanita - wanita jalangmu itu di tempat tidurmu dan jangan mencoba mengkritik kehidupanku lagi!!" seru Frank kemudian di susul suara pukulan keras lagi.


Rintihan rasa sakit kudengar setelah itu.


Frank menghajarnya habis - habisan, aku tak bisa membayangkan semua yang terjadi kini di depanku.


Aku yang menyebabkan semuanya ini, mereka berkelahi karena aku.


Kucoba untuk bergerak, membuka lebar - lebar kedua mataku dan memperjelas penglihatanku yang masih samar - samar.


Di saat yang sama itu pula kulihat Garth jatuh dengan menopang salah satu sikunya berusaha untuk bangkit dan kulihat ia hanya mengenakan celana d*l*m


Frank berdiri tegap membelakangiku dengan kedua tangannya mengepal erat tak jauh di depan Garth.


Dengan susah payah Garth mencoba untuk bangkit, tampak jelas wajah Garth lebam kena pukulan, darah segar masih menetes di sudut bibirnya.


Setelah meludah darah yang menetes di bibirnya, ia berkata dengan suara cukup jelas.


"Kau sudah cukup main - main denganku Jefferson.


Jujur katakan padaku kau cemburu bukan?


Jauh di dalam dirimu kau tak rela Jeanny Anderson bercinta denganku.


Kau tahu kenapa?


Karena kau sendiri ingin menidurinya, kau pun menginginkannya sama seperti aku menginginkan tubuh indah Jeanny Anderson.


Suatu monopoli s** yang egois bukan sobat?"


Ucapan Garth seperti bergema di telingaku bahkan mungkin Frank pun demikian.


Ucapan Garth jelas menusuk dan menyinggung harga diri Frank, tak dapat ku bayangkan bagaimana Frank menumpahkan amarah dan emosinya pada Garth di depannya yang kini tersenyum mengejek, penuh kebanggaan menantang Frank yang mungkin menatapnya dengan tatapan ber api - api.


"Bajing*n kau!!!"


Aku mencoba untuk bangkit saat dengan jelas ku lihat Frank melayangkan pukulannya ke wajah Garth namun pukulan itu berhasil di tepis Garth, seakan gerakan itu dapat di baca olehnya.


Dalam hitungan detik itu pula dengan kecepatan yang tanpa di duga, pukulan telak berhasil mendarat di perut Garth.


Hingga Garth merintih kesakitan menahan sakit tepat di perutnya dengan kedua tangannya.


"Ini hadiah dariku untuk setiap kata - katamu yang bernilai emas itu, Gaskins.. "ucap Frank seraya menendang dengan tumit kirinya tepat di tulang ************ Garth yang saat itu masih dalam keadaan tanpa persiapan sama sekali.


Rasa sakit yang begitu menyakitkan tak dapat di tahan hingga sosok tubuh tinggi namun seperti tanpa otot itu jatuh ambruk di lantai dan tak sadarkan diri.


"Pingsankah ia atau jangan - jangan ma..ti..?"


aku bertanya menahan panik dalam hati.


"Kau tak akan lagi tersenyum bangga di depanku Garth Gaskins dengan segala sesuatu yang kau miliki" Frank mengucapkan kata - kata terakhir itu sebelum ia berbalik dan menyadari kalau aku sudah kembali siuman dan melihat semua yang terjadi.


Kami saling bertatapan dalam diam yang tanpa kami sadari seperti berusaha menyusun ingatan apa yang terjadi sebelum ini semua.


Namun seketika tatapan Frank berubah tajam memperhatikanku yang masih duduk diam di ranjang tanpa bergerak, hingga akal sehatku memerintah dengan tegas apa yang harus kulakukan untuk melindungi diri.


"Astaga. Ya, Tuhan!" aku berseru dengan suara seperti di cekik saat menyadari kalau tubuhku kini telanjang tanpa menggunakan apapun.


Secepat kilat ku tutupi tubuhku dengan selimut yang terbuka lebar di antara kedua kakiku.


Rona merah muncul di kedua pipiku, kedua telingaku berubah panas dan aku merasa kepalaku menjadi berputar - putar menahan malu yang amat sangat.


"Cepat kenakan pakaianmu, aku tunggu kau di bawah!" perintah Frank seketika dengan suara dingin yang tak asing lagi kudengar.


"I..ya" jawabku singkat dan terbata dengan nafas tertahan.


Tanpa sadar pandanganku tak lepas memperhatikan Frank yang berlalu pergi, hingga sosok tubuh mengagumkan itu menghilang dari balik pintu.


Masih dapat ku dengar dengan jelas suara langkah kaki Frank yang mantap menuruni anak tangga.


Suaranya bergema bagai langkah kaki sang dewa di rumah besar yang terasa asing ini.


Aku mendesah pelan, mencoba menenangkan diri hingga aku sadar aku tak sendiri di dalam ruangan ini.


"Garth?!"


Pandanganku beralih pada sosok tubuh yang setengah telanjang dengan posisi telungkup, tanpa bergerak.


Aku bergidik ngeri saat mengingat kembali sentuhan Garth padaku, ia berniat kotor padaku namun aku masih bisa bernafas lega karena Garth gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.


Frank lah yang mengacaukan rencana busuk Garth padaku, ia menyelamatkanku tepat di saat Garth belum sempat merenggutnya dariku.


Frank datang tepat pada waktunya.


Maka tanpa menunda lagi, segera mungkin aku berpakaian.


Untunglah Garth menaruhnya atau mungkin lebih tepat membuangnya di sekitar bawah ranjang dan masih lengkap.


Syukurlah....


Ku urungkan niat untuk mendekati Garth.


Aku tak mau mengambil resiko Garth siuman atau tiba -tiba bangun kemudian mendapatiku masih di sini.


Maka dengan langkah cepat segera ku berjalan meninggalkan ruangan dengan mengurungkan niat untuk mengetahui keadaan Garth.




"Aku tahu mungkin kedengaran yang konyol.


Maafkan aku Frank dan terima kasih kau sudah menolongku" ucapku tulus seraya menatap Frank di sampingku dengan tatapan memohon.



Namun seperti biasa, ia hanya tersenyum kecut tanpa ekspresi menanggapinya.



"Di saat seperti inipun kau masih saja bersikap sok manis dengan memasang tampang polosmu itu padaku.


Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu sekarang miss..., jangan salah artikan sikap toleranku ini dengan perdamaian.



Sudah cukup banyak kau membuat masalah, jadi aku harap ini yang terakhir kalinya atau jika tidak lama - lama aku akan mati seperti Max" sahutnya tajam, pandangan matanya tak lepas di depan seakan tak peduli dengan keberadaanku.



"Aku mohon Frank jangan ungkit hal itu lagi, aku tahu aku bersalah.


Akulah yang menyebabkan masalah ini, Garth datang dengan tiba - tiba dan mengabari tentangmu bahwa kau kecelakaan.



Aku tak bisa berpikir banyak lagi saat itu Frank, aku panik.


Kau tak pulang 2 hari terakhir ini dan hal itu menguatkan dugaanku, entah bagaimana Garth tahu hal itu dan sama sekali aku tak menyangka Garth mempunyai niat buruk untuk mencelakaiku" tuturku membela diri, mencoba menjelaskan sebisa mungkin di depan Frank sekarang.



"Yang pasti kau terlalu bodoh miss Anderson" sahut Frank pendek dan datar tanpa ekspresi.



Aku mendesah pelan.


"Ya, mungkin kau benar Frank.." sahutku pasrah.


"Tapi kau tidak membunuhnya kan Frank, Garth masih hidup kan?"tanyaku tiba - tiba.



Aku sempat terkejut saat Frank dengan tiba - tiba menghujaniku dengan tatapan tajam.


"Aku masih waras miss Anderson, hanya orang bodoh yang mengambil resiko sebesar itu demi kau" sahut Frank serius.



Aku menelan saliva mendengar jawabannya namun dengan berani aku mencoba membenarkan.



"Aku hanya takut semua yang terjadi akan berdampak buruk pada kariermu Frank.


Aku tak mau membebanimu dengan persoalan ini, aku tahu Garth adalah rekan bisnismu yang cukup penting untuk menunjang kariermu di perusahaan tempat dimana kau bekerja."



Tanpa jawaban Frank menambahkan kecepatan mobilnya dan hal itu membuatku takut, aku tahu ucapanku sudah terlalu mencampuri kehidupan kariernya namun aku hanya berusaha agar tidak ada lagi kesalahpahaman lagi diantara kami berdua.



"Apa kau belum menyadarinya atau memang kau berpura - pura tidak menyadarinya miss Anderson, kalau kau sejak pertama kali datang di rumahku sudah cukup menjadi bebanku.



Beban berat yang ingin segera aku akhiri.


Kau paham maksud ucapanku kan miss?


Jadi sekali lagi aku tekankan, jangan terlalu senang dengan pengorbanan yang telah aku lakukan malam ini karena aku tidak benar - benar melakukannya" ucap Frank dengan nada sinis.



"Lalu untuk alasan apa kau menolongku, Frank?


Kenapa kau melakukannya padaku?" aku bertanya memojokkan.



Detik itu pula tatapan Frank beralih padaku kembali.


"Tanggung jawab miss Anderson, itu saja tidak lebih" tukasnya.



"Atas dasar apa?" tanyaku kembali dengan berani.


"Kimmy dan Alex, kau tahu itu" sahut Frank pendek.



Pandangannya beralih ke depan, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.



"Aku tak mau mereka menganggapku sebagai kakak yang tak tahu diri, menjadi seorang kakak yang tak bertanggung jawab pada kedua adiknya dan ngomong - ngomong miss...."


Frank tak melanjutkan ucapannya setelah terlebih dahulu mengerem mobil tepat di depan rumah bergaya Victoria itu, rumah keluarga Jefferson.



Aku berkedip beberapa saat mencoba tak suara, saat Frank melanjutkan ucapannya dengan tatapan tajam dan menusuk padaku.


"Kau masih berhutang satu tamparan padaku..."



...🌺🌺🌺🌺🌺🌺...