One Day In Your Life

One Day In Your Life
KERINDUAN



"Miss Anderson baju ini apakah perlu kita display di etalase?" tanya Margareth padaku.


"Coba kulihat!" sahutku mencoba memeriksa baju bermodel turtle neck warna olive itu.


Setelah dirasa cukup menelitinya akupun menyuruh Margareth untuk tetap memasangnya di etalase toko.


"Oh, ya Miss. Anderson maaf saya baru ingat, beberapa hari yang lalu ada seorang pria yang datang ke butik ini dan menanyakan tentang anda" tutur Margareth tiba - tiba cukup mengejutkan.


"Benarkah? siapa?" tanyaku penasaran.


"Entahlah, Miss. pria itu tampak asing dan bukan pelanggan disini sebelumnya maka dari itu waktu dia kemarin berusaha menanyakan identitas tentang anda, saya tidak memberitahunya karena saya dan Paulina takut kalau orang itu bermaksud jahat seperti sebelum insiden di butik ini terjadi kemarin" jawab Margareth menjelaskan.


"Kau melakukan hal benar, Margareth aku bersyukur bisa memiliki kalian sebagai karyawanku disini" pujiku sungguh - sungguh.


Penyataan Margareth barusan membuatku berpikir keras, dengan siapa pria yang bermaksud mencari tahu tentang aku di butik ini.


Mungkinkah dia adalah orang yang sama suruhan dari Armand Bart yang membuat kekacauan di butik kemarin? namun sepertinya itu tidak mungkin karena pihak polisi dan Garth sudah mengatasi mereka.


Apakah mungkin??


Sempat terlintas di pikiranku sebuah nama seseorang yang kutakutkan selama ini, namun aku tetap berusaha keras untuk menyangkalnya dengan logika dalam pikiranku.


Dan karena hal itu, aku memerintah Margareth dan Paulina untuk menutup butik lebih awal dari biasanya, karena entah kenapa perasaanku hari ini menjadi tak enak sejak Margareth menceritakan tentang kehadiran pria asing itu.


..


..


Hingga malam itu sekitar pukul 7 malam aku yang tengah sibuk bersiap - siap untuk pulang sedangkan Margaret dan Paulina sibuk menutup butik dikejutkan oleh kehadiran seorang pria yang tiba - tiba hadir.


"Apakah kalian akan tutup lebih awal hari ini?" tanyanya.


Suara itu tampak tak asing kudengar dan memang benar seperti yang kuduga, aku terkejut bukan main saat melihat pemilik suara itu, orang yang kutakutkan dan kuhindari selama ini.


"Frank?!" batinku, tak percaya dengan apa yang kulihat kini di depan mataku. Nafasku tertahan selama beberapa detik, susah payah aku mencoba untuk mengatur nafasku ini agar kembali normal saat mengetahui apa yang ada di depan mataku kini sekarang.


"Eh, iya tuan...


Maaf kami hari ini sudah mau tutup" Paulina menyahut sopan.


Di detik yang sama, pandangan mata Frank pun jatuh padaku yang saat itu tak jauh berdiri di depannya, dengan segera akupun berbalik mencoba menghindar dari tatapan matanya.


"Jeanny??!" serunya, ia bergerak secepat kilat mencoba menangkapku yang melangkah cepat masuk ke dalam butik kembali menjauh darinya.


"Kenapa kau lariku, Jeanny?!" ia berseru setelah berhasil menangkapku dan menggenggam erat lenganku kini.


Kini tatapan kami saling bertemu satu sama lain, tanpa mengucapkan sepatah kata seakan hanyut dalam pikiran masing - masing.


"Lepaskan aku, Frank!


Kau menyakitiku!" sungutku marah.


"Tidak, sebelum kau menjawab kenapa kau selalu lari dariku selama ini?


Katakan padaku, Jeanny! Apa alasannya?!" Frank bertanya dengan nada cukup keras.


"Kau tahu betapa aku sangat tersiksa selama ini sejak kepergianmu?!" Frank berseru lepas kendali.


"Ma-af, Miss. Anderson, kami berdua mohon diri" izin Paulina berpamitan dengan wajah canggung sepertinya dia dan Margareth sudah menyadari kalau aku dan Frank saling mengenal.


Setelah Paulina dan Margareth pergi, Frank pun semakin leluasa memojokkanku ke dinding tembok butik.


"Kenapa, Jeanny katakan padaku??!" tanyanya kembali mendekatkan tubuhnya di tubuhku yang kini tampak tegang, kupalingkan wajahku menghindar dari tatapan matanya.


Tak perlu kau bangkitkan lukaku lagi dengan pertanyaan itu padaku" jawabku dingin.


Frank menyentuh wajahku agar aku menatap wajahnya kini.


"Sampai seperti itukah kau membenciku, hingga kau tak ingin bertemu bahkan menatap wajahku?" Frank bertanya, ekspresi wajahnya tampak memelas.


"Kumohon, Frank.


Tinggalkan aku sekarang, hubungan kita sudah lama berakhir. Kau dan aku sudah memiliki kehidupan masing - masing jadi berhentilah mencariku ataupun menemuiku mulai sekarang" pintaku acuh.


"Tidak semudah itu, Jeanny sebelum aku berhasil meyakinkanmu dengan kesalah pahaman yang terjadi diantara kita selama ini" sahut Frank keras kepala.


"Apa yang harus kau jelaskan lagi Frank?!


Semua sudah sangat jelas! kau sudah sangat menyakitiku, jadi aku mohon pergilah Frank! Jangan mengganggu hidupku lagi, aku mohon," pintaku sekali lagi padanya, aku tatap kedua matanya yang tajam kini dengan mata sendu, mencoba sekuat tenaga menahan tangis.


"Aku merindukanmu, Jeanny..., sangat.


Aku tak bisa kehilanganmu lagi, itu sungguh sangat menyiksaku!" ucap Frank dengan nada penuh penekanan, ia semakin mendekatkan tubuhnya padaku.


Dapat kurasakan nafasnya yang hangat diwajahku kini, ia menatapku dalam - dalam seolah menyimpan banyak kerinduan di dalamnya, begitupun sama denganku namun aku susah payah berusaha menepis perasaan itu dalam pikiran nalar dan logisku.


Dan entah bagaimana, aku terlambat menyadari saat bibir Frank sudah mendarat di bibirku, menyesap dalam seolah mendominasi segala hal didalam sana.


Dalam pikiran sadar itupula akupun berusaha berontak, menolak sentuhan tangannya dan ciumannya di dalam bibirku kini.


"Emmpphhmm...., Frank... le-pas-kan ah-ku..." aku berontak melepaskan diri, namun Frank tetap tak peduli, tangannya semakin genjar menyelusup di setiap bagian tubuhku yang tertutup rapat dress dan blazer panjang yang kukenakan.


Nafas Frank semakin berat saat ciuman itu semakin dalam dapat kurasakan di bibirku kini yang mungkin menjadi bengkak setelahnya karena begitu kuatnya ciuman itu di bibirku.


Kucoba dengan sekuat tenaga mendorong tubuhnya dengan kedua tanganku, namun itu justru membuat Frank mengurungnya di atas kepalaku. Ia mencengkram erat tanganku dengan salah satu tangannya yang kuat dan kokoh.


"Lepaskan aku, Frank. Lepaskan!" aku mencoba berontak melepaskan diri saat sentuhan Frank jatuh ke dadaku kemudian turun hingga ke pinggulku dengan sangat mendominasi.


"Tidak akan!" sahutnya tak peduli.


Seperti tak peduli dengan penolakanku, kini ciuman Frank turun ke tengkuk leherku, berhenti disana untuk beberapa saat dan bergumam lirih, "Kau tahu, Jeanny? betapa tersiksanya aku selama 6 tahun sejak kau pergi dalam hidupku, teganya kau menyiksaku seperti ini."


Mendengar ucapannya padaku tentu saja itu membuatku tersenyum pahit.


Apa ia tak pernah berpikir kalau dia juga kejam padaku selama ini?


Menyadari sikap diamku, Frank pun kini mengalihkan tatapannya padaku dengan pandangan lemah, ia melepaskan cengkraman tangannya di pergelangan tanganku.


"Aku akan tetap berjuang agar kau bisa kembali padaku, Jeanny Anderson. Kau dan anak kita, yang tak pernah kutemui selama ini. Itulah janjiku padamu," ucapnya dengan penuh keyakinan.


"Kau jangan gila Frank!


Kau dan aku sudah berakhir, dan kita sudah memiliki pasangan masing - masing jadi berhentilah bermimpi," selaku mencoba berkelit menyadarkannya dengan kenyataan.


"Aku tak peduli! karena aku tak pernah mencintai wanita manapun selain dirimu selama ini!" serunya keras kepala.


"Berhentilah bermimpi Frank Jefferson, sekarang aku mohon, kau pergi dari sini dan tinggalkan aku!


Jika tidak aku akan berteriak nekad agar orang - orang diluar mengusirmu dari sini."


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


...Akhirnya Frank dan Jeanny bisa ketemu setelah sekian part terpisah πŸ˜…πŸ€­ dgn aksi kejar - kejaran pula😁...


...Buat kalian yg suka dengan pertemuan mereka yuukk jgn lupa tinggalkan like dan komen kalian, faforite juga bagi yg blm faforite ya❀️...