One Day In Your Life

One Day In Your Life
CIUMAN PERTAMA



Pagi itu seperti yang dijanjikan, Frank pun datang kembali kerumah untuk menjemput Ian jalan - jalan weekend ini.


Kulihat Ian begitu antusias hari ini, ia tampak bahagia karena akan menghabiskan waktu bersama dengan ayahnya untuk yang pertama kali. Bagiku melihat senyum dan tawanya yang tampak begitu lepas hari ini membuat hatiku bahagia sekaligus tersentuh.


Mungkinkah selama ini, putraku menyimpan rasa rindu pada sosok seorang ayah yang terbendung dalam hatinya dibalik sikapnya yang cuek?


Ya, karena memang sejak dulu Ian tak pernah banyak tanya dengan sosok ayahnya padaku. Aku hanya menjelaskan, jika ayahnya ada di suatu tempat yang jauh, dan Ian tak pernah memprotes atau menanyakan lebih jauh lagi tentang hal itu selama ini.


"Jika kau mau kau bisa ikut dengan kami, Jeanny. Itu yang sangat kuharapkan" ucap Frank lirih padaku saat ia baru datang.


"Tidak, terima kasih Frank. Aku hari ini sibuk, dan lagipula aku tak mau mengganggu waktu berhargamu untuk bersama dengan Ian" jawabku acuh.


"Apa maksudmu kau sibuk akan bertemu dengan Joseph Hayden, begitu?" ujar Frank penuh selidik.


Aku melotot saat itu juga.


"Apa maksudmu?!" tanyaku marah.


"Kulihat hubunganmu dengannya sudah cukup jauh, kalian sering menghabiskan waktu bersama selama ini" sahut Frank dengan tatapan dinginnya.


"Bukan urusanmu, Frank! Akupun tak pernah mempermasalahkan dengan siapa kau bersanding dengan wanita manapun selama ini, termasuk wanita yang kulihat bersamamu kemarin!" jawabku kesal.


"Apa kau cemburu, Jeanny?" tanyanya dengan kedua kening yang berkerut.


"Jangan harap!" tukasku cepat.


"Dia bukanlah siapa - siapa bagiku, Jeanny. Kau jangan salah paham, hanya kau wanita di hatiku sejak dulu hingga sampai saat ini" jawabnya mencoba menjelaskan.


"Aku tak peduli siapapun dia, Frank. Itu sama sekali bukan urusanku, kau memiliki kehidupanmu sendiri sekarang, begitu juga dengan aku jadi kau tak perlu repot - repot menjelaskan padaku dengan siapa saja kau berkencan!" ucapku tegas.


Mendengarnya, ekspresi wajah Frank pun berubah seketika. Seakan ia tak terima dengan apa yang baru saja aku ucapkan.


Tangannya menggenggam erat tanganku detik itu juga.


"Sudah berapa kali kukatakan, aku akan berjuang untuk mendapatkanmu kembali, siapapun dia yang berusaha menghalangiku akan berurusan denganku, sekalipun dia adalah Joseph Hayden ataupun Garth Gaskins!" ucapnya lantang dan penuh penekanan.


"Lepaskan aku, Frank kau menyakitiku!" seruku marah mencoba melepaskan cengkraman tangannya yang kuat di pergelangan tanganku.


"Ingat Jeanny, kau milikku dan selamanya milikku! Maka sampai kapanpun aku akan mengejarmu hingga kau bisa kembali padaku lagi!" Ucapnya mendominasi.


"Mom, dad...?? aku sudah siap" suara Ian mengejutkan kami berdua saat itu, maka seolah tak terjadi apa - apa Frank pun beralih pada Ian di belakangku.


"Okay, jagoan. Kita siap berangkat!!" seru Frank antusias. Kutatap Frank di depanku dengan memasang wajah kesal, bagaimana bisa ia bersikap seperti tak terjadi apa - apa setelah sikapnya yang mengancamku tadi? Sangat menyebalkan!


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Hari itu aku sangat sibuk, hingga aku sampai lupa waktu karena memang sengaja aku melakukannya agar aku tidak fokus memikirkan Frank Jefferson dan Ian. Karena bagaimanapun juga, ini pertama kalinya Ian pergi berlibur tanpa aku sebagai ibunya.


Aku hanya berharap Ian senang dengan kebersamaannya bersama ayah kandungnya, semoga saja.


Kedatangan Joseph siang itu di rumah pun cukup mengejutkanku.


"Maaf, Jeanny aku datang hari ini tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Tadi aku sempat mampir ke butik tapi karena aku tak menemukanmu disana aku pikir kau berada di rumah, dan ternyata itu memang benar" tuturnya menjelaskan dengan senyum lebarnya yang menawan saat baru saja sampai di depan rumahku siang itu.


"Tidak apa, Joseph. Karena hari ini aku memang banyak pekerjaan di rumah jadi weekend ini aku tak bisa datang ke butik" ujarku kemudian mempersilakan Joseph untuk masuk kerumah.


"Kebetulan aku sudah selesai, Joseph. Hari ini aku baru saja selesai memanggang roti, apa kau mau mencicipinya?" tawarku sopan.


"Sungguh aku sangat beruntung kalau begitu" sahut Joseph senang dengan senyum sumringahnya.


"Ngomong - ngomong rumah tampak sepi, dimana Ian, Jeanny? aku tidak melihatnya sejak tadi" Joseph bertanya setelah ia duduk di sofa ruang dekat perapian favoritnya.


"Ehmm..., kebetulan Ian sedang pergi jalan - jalan sejak pagi tadi, Joseph" jawabku ragu karena pertanyaan itu memang yang kutakutkan sejak tadi.


"Benarkah? tumben sekali kau tidak ikut bersamanya, Jeanny apa Ian pergi dengan teman - temannya?" Joseph bertanya ingin tahu.


"Bukan Joseph, Ian pergi dengan ayahnya..." susah payah aku mengucapkan kalimat itu di bibirku sekarang dan kulihat ekspresi terkejut ada di wajah Joseph seketika itu juga.


"Ayahnya?? maksudmu mantan suamimu datang kesini dan mengajak Ian jalan - jalan?" tanyanya tak percaya, aku hanya mengangguk ragu.


"Itu bagus, Jeanny. Bukankah sejak dulu Ian tak pernah mengenal dan bahkan bertemu dengan ayahnya selama ini?" Joseph berkomentar bijak.


"Kau baik - baik saja kan, Jeanny? apa dia menyakitimu?" Tanya Joseph perhatian, ia menggeser tubuhnya di dekatku yang menunduk lemah.


"Aku baik - baik saja, Joseph. Hanya saja aku sedikit khawatir karena ini pertama kalinya Ian jauh dariku" sahutku lirih. Seperti tahu kegundahan hatiku, Joseph menyentuh wajahku dan menggenggam lembut jemari tanganku saat ini.


"Kau tak perlu cemas, Jeanny. Ian akan baik - baik saja, aku yakin dia akan pulang dengan selamat dan bahkan akan mendapatkan banyak cerita hebat nanti" ucap Joseph berusaha menghiburku.


Detik itu juga kami pun bertatapan satu sama lain, begitu dekat hingga dapat kurasakan hembusan nafasnya di wajahku.


Entah kenapa ini membuatku agak canggung karena ini adalah untuk pertama kalinya aku dan Joseph sedekat ini satu sama lain.


Tatapan kami saling bertemu dalam diam hingga tanpa kusadari bibir Joseph sudah bergerak menyentuh kedalam bibirku. Aku cukup terkejut dengan reaksinya yang tiba - tiba cukup agresif seperti ini.


Dengan masih menahan rasa kaget, aku mengerjapkan kedua mataku beberapa kali seolah mencoba memahami situasi yang bagiku sangat mengejutkan ini.


Dan aku tak tahu kenapa aku tak menolak saat Joseph mencium bibirku dan bahkan diam saja saat tangannya mulai menyentuh lembut belakang kepalaku seakan ia ingin semakin dalam memberikan agresi cumbuan bibirnya di dalam bibirku saat ini.


"Jo-seph...ehmmpp.. a-ku...uuhhmmm... des*hku mencoba melepaskan cumbuannya di bibirku.


"Ah, apa aku menyakitimu, Jeanny?" bisiknya lirih saat ia melepaskan ciumannya di bibirku.


"Ma-afkan aku, aku tak bisa menahan rasa ini, Jeanny..." ucap Joseph kembali dengan wajah menyesal.


Namun sebelum aku menjawab, kudengar suara Ian di sisi ruangan.


Sebelum kami menyadari keadaan, Ian dan Frank sudah ada tak jauh di depan kami berdua.


"Uncle Joseph?! Kapan uncle datang??" tanya Ian girang.


Saat itu juga kulihat, Frank menatapku tajam dan dengan tatapan penuh arti, kemudian tatapannya beralih pada Joseph yang duduk sangat dekat denganku.


...πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯...


...Duhh berasa kaya habis kepergok langsung sama pasangan yaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ€­...


...Apa yang terjadi setelahnya, dan bagaimana reaksi Frank dengan Joseph setelah bertemu langsung di situasi yang berbeda nih..??πŸ˜…πŸ˜...


...Yukk tinggalkan like dan koment jgn lupa biar author makin smngt updateπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ₯°πŸ₯°...