One Day In Your Life

One Day In Your Life
SELAMAT TINGGAL NEW YORK CITY



Hari ini adalah hari terakhir aku berada di New York, karena di hari ini juga aku akan pergi di salah satu kota di benua eropa, Paris.


Ya, kota Paris adalah kota pilihanku dan Garth.


Garth mengatakan kalau Paris lah tempat yang paling tepat untukku.


Karena di Paris lah, Garth Gaskins memiliki perusahaan yang cukup besar di sana dan di Paris lah aku akan memulai hidupku yang baru.


Setelah aku melahirkan nanti aku akan mulai bekerja lagi disana, karena aku tak mau hidupku akan bergantung selamanya pada Garth Gaskins bukan?


Garth sudah cukup banyak membantuku, dan aku tak mau berhutang banyak padanya karena aku tak mau memberikan harapan apapun padanya.


Tentang perasaannya padaku aku belum bisa membalasnya karena aku sama sekali tak ada perasaan apapun pada Garth, yang jelas untuk saat ini aku tak mau mengisi hidupku dengan pria manapun karena hatiku belum siap untuk secepat itu berpaling dari Frank Jefferson.


Ya, aku akui aku masih mencintai Frank karena bagaimanapun dia adalah ayah dari anakku dan hatiku masih belum bisa melupakannya.


Namun aku harus menerima kenyataan kalau aku dan Frank mungkin memang tak bisa di takdirkan bersama untuk itu mulai sekarang aku harus membulatkan hati ini untuk melupakan dan menutup rapat segala hal tentang Frank Jefferson.


Selamat tinggal New York...


Selamat tinggal Frank Jefferson...


Mulai hari ini kau dan aku akan menjalani hidup masing - masing, semoga kau bisa mendapatkan kebahagiaanmu dengan wanita lain yang lebih baik daripada aku.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


6 Tahun kemudian.


Paris, musim panas.


"Ian, kau harus sekolah nak! ayo bangun mom sudah siapkan sarapan untukmu" perintahku pada seorang anak kecil lelaki yang masih tertidur nyenyak dengan posisi ternyamannya sekarang.


Aku kecup pipinya dengan gemes karena ia masih saja memejamkan mata seolah tak terusik sedikitpun dengan sentuhanku.


Namun beberapa detik kemudian, anak itu terbangun dan mulai membuka matanya pelan.


"Hey, sayang... selamat pagi" sapaku lembut seraya tersenyum manis.


"Mom..., apakah hari ini aku sekolah?" tanyanya lirih, suaranya masih terdengar serak dan ia masih belum bergerak dari tempat tidurnya.


"Tentu saja, sayang..., kau harus secepatnya bangun, kalau tidak kau akan terlambat nanti" sahutku lembut.


"Ok, aku akan bangun..." ucapnya kemudian ia mulai bangkit dari ranjang dan berjalan pelan ke kamar mandi dengan mata sedikit terpejam.


"Astaga, anak ini masih saja sama dengan gayanya yang cuek itu" gerutuku seraya menggelengkan kepala.


Ya, dialah Ian Anderson putraku satu - satunya.


Saat ini ia belum genap berumur 6 tahun.


6 tahun ini aku berhasil membesarkannya dengan tanpa seorang ayah di sampingnya.


Selama ini Ian tak pernah mempermasalahkannya karena ia termasuk anak laki - laki yang cuek, selama ada aku sebagai mommy nya Ian tak pernah merasa kesepian, itulah ia yang selalu ia ucapkan jika ada seseorang yang menanyakan keberadaan ayahnya.


Dan aku bersyukur, Ian tumbuh menjadi anak yang mandiri walaupun di usianya yang masih belum genap 6 tahun itu.


..


..


..


"Mom akan mengantarkanmu sampai ke kelasmu ya sayang..?" tawarku pada Ian sesampainya kami di halaman depan gedung sekolah TK Ian saat itu.


"Tidak usah Mom, aku bisa sendiri.


Mom berangkat bekerja saja ke butik" ucap Ian.


Aku menunduk dan menyentuh lembut wajahnya yang tampan dan menggemaskan.


"Benarkah tak apa?" tanyaku kembali memastikan.


"Aku sudah besar, Mom.


Percayalah padaku..." sahutnya yakin.


Mom akan menjemputmu kembali nanti, ya.


Kau baik - baik di kelasmu" tuturku seraya mengelus lembut rambut hitam warisan ayahnya.


Ian hanya mengangguk dan kemudian berjalan masuk ke gedung sekolah dengan bangunan bercat berwarna - warni itu.


Aku menatapnya hingga sampai tak terlihat dari mataku, menghembuskan nafas pelan dan tersenyum tipis.


Semua terasa begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin aku melahirkan dia seorang diri di sebuah rumah sakit kini anakku sudah sebesar itu.


Hanya dia yang kumiliki di dunia ini, tidak ada yang lain. Ian adalah semangat dan tujuanku untuk hidup. Tanpanya entah aku tak tahu apa yang harus kulakukan setelah perceraianku dengan Frank Jefferson.


Karena memang perpisahanku dengan Frank begitu meninggalkan bekas luka yang sangat dalam, dan hal itulah yang membuat hatiku belum bisa menerima pria manapun untuk bisa mengisi kekosongan hatiku hingga sampai saat ini.


Akupun kembali ke dalam mobil dan meluncurkan mobilku ke butik milikku yang letaknya 5 kilometer dari rumah tempatku tinggal.



Kurang lebih 20 menit perjalanan, akhirnya akupun sampai di butik milikku.


Ya, butik kecil inilah sumber penghidupanku selama 5 tahun terakhir ini.


Garth yang membantuku mencari tempat yang strategis untuk memulai usahaku di tempat ini dan aku bersyukur dengan adanya butik ini aku bisa hidup lebih mandiri di kota yang awalnya sangat asing.


Paris adalah kota Fashion terbesar, dan karena itulah aku memberanikan diri untuk memulai usaha di dunia fashion karena aku memang mempunyai sedikit ketrampilan untuk menjadi desain dalam fashion dan interior sejak dulu.


Kulihat Paulina dan Margaret sudah menungguku di dalam butik, mereka berdua adalah karyawanku yang sudah bekerja sejak butik ini dipindah tangankan padaku.


"Selamat pagi, Miss. Anderson" sapa mereka serempak seraya tersenyum manis.


"Selamat pagi kalian semua, apakah kalian berangkat pagi - pagi sekali tadi?" tanyaku dengan tersenyum tipis.


"Tentu saja Miss. Anderson, karena kami ingin segera menyelesaikan tema musim panas tahun ini" jawab Paulina dengan tersenyum lebar.


"Bagus sekali, semoga tema musim panas di tahun ini di butik kita semakin menambah pelanggan dan kerja keras kalian akan terbayar mahal nanti" sahutku mencoba memberikan semangat pada mereka berdua dan dapat kulihat wajah sumringah di keduanya saat itu.


"Maaf, Miss. Anderson tadi ada seorang pria yang sejak tadi mondar mandir di depan butik" tutur Margareth dengan ekspresi wajah agak gugup.


"Hah, seorang pria? maksudmu apakah ada yang aneh dengan gelagatnya begitu?" tanyaku penasaran.


"Sepertinya begitu, Miss. karena sejak kami buka toko tadi pria itu sudah ada di depan butik dan gelagatnya begitu mencurigakan" sahut Margareth.


"Betul Miss. kami berdua sempat ketakutan tadi tapi untung saja dia sudah pergi beberapa menit sebelum Miss. Anderson datang" Paulina menambahkan.


"Kalau begitu mulai sekarang kalian harus waspada ya, apapun itu jika ada hal yang dirasa aneh kalian harus secepatnya melaporkannya padaku" perintahku tegas mencoba mengantisipasi.


"Baiklah sekarang kalian bekerja dengan tenang, aku akan menyelesaikan pekerjaanku di ruang kerjaku" ucapku kemudian.


Selang beberapa menit kemudian, sebuah panggilan suara terdengar di ponselku tanpa ragu akupun mulai mengangkatnya.


"Ya, hallo Garth"


"Hallo, sweetie bagaimana harimu hari ini sayang? dan bagaimana kabar si jagoan kecil Ian?" sapa Garth di sebrang sana.


"Kami baik - baik saja, Garth.


Kau bagaimana, kapan kau akan berkunjung kembali ke Paris bersama teman wanita yang sempat kau ceritakan waktu itu padaku?" tanyaku mencoba menggodanya.


"Astaga, kenapa kau selalu membicarakan wanita lain jika kita bersama, Jeanny sayang? kau tahu bukan, aku belum bisa move on darimu" sahut Garth asal dan aku hanya terkekeh mendengarnya.


"Sudah waktunya kau serius membina hubungan Garth, sampai kapan kau akan terus berpetualang seperti itu?" sindirku halus.


"Tentu saja, sampai kau mau menerimaku sebagai pendampingmu, honey" sahutnya tanpa basa basi dan aku hanya tertawa geli saat mendengar ucapannya yang bagiku selalu tak pernah serius itu.


Ya, aku dan Garth sepakat menjadi seorang teman namun Garth menganggapku lebih dari sekedar teman biasa karena memang aku akui selama ini Garth lah yang banyak membantuku disaat aku terpuruk dan merasa sendiri.


Namun bagiku perhatiannya padaku seperti tak lain halnya sebagai kakak dan adik.


Ya, aku menganggap Garth Gaskins adalah teman sekaligus kakakku sendiri selama ini.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...