One Day In Your Life

One Day In Your Life
Pertemuan



Kutatap bayangan diriku dalam cermin dengan pikiran jauh melayang tentang isi dalam pesan singkat dari pria yang sampai saat ini belum aku tahu.


Siapa dia dan kenapa ia ingin bertemu denganku?


Apakah ia datang dari masa laluku?


Mungkinkah semua ini bukanlah kebohongan?


Perasaanku mengatakan lain, entah kenapa pikiranku tak bisa berhenti memikirkan pria misterius itu?


Sekali lagi ku olesi bibirku dengan lipstik warna natural kemudian kuhela nafas panjang mencoba menenangkan diriku sendiri.


"Semua akan baik - baik saja, Jeanny..., yakinlah itu" ucapku sendiri.


..


..


..


Aku datang beberapa menit lebih awal dari yang dijanjikan lewat isi pesan itu.


Aku sengaja melakukannya karena aku ingin semua ini cepat berakhir dengan tanpa ada beban.


Kulangkahkan kakiku menelusuri jalan menuju tempat yang dijanjikan, Golden Gate Park.


Kurapatkan lagi syal dari wol lembut yang melingkar di sepanjang leherku untuk menghangatkan tubuhku.


Pagi ini cuaca tak begitu dingin seperti kemarin .


Natal memang akan datang 2 hari lagi mulai hari ini, masyarakat San Fransiscopun masih tampak terlihat begitu sibuk mempersiapkan diri untuk menyambut Natal mereka tahun ini bersama dengan keluarga, kekasih ataupun dengan orang - orang yang ada disekitar mereka.


Berbagai hiasan, pernak - pernik Natal terpampang indah dan begitu menarik di sepanjang etalase toko.


Kulihat beberapa anak kecil tertawa riang saat sang sinterklas memberikan kado berwarna - warni untuk mereka di depan sebuah pusat perbelanjaan yang tampak ramai.


Satu diantara mereka duduk manis di pangkuan sang sinterklas, membisikan kata - kata dan kemudian tersenyum malu - malu saat sang sinterklas memberikan apa yang gadis kecil itu mau.


Gadis kecil itu seusia Kimmy, berambut pirang dengan ikat kudanya mirip seperti Kimmy.


Sepasang kekasih berjalan mesra di depanku setelah keluar dari pusat perbelanjaan itu, bergandengan tangan dan saling menatap tersenyum penuh kemesraan.


Satu hal yang tak pernah kualami selama ini.


Merayakan Natal bersama dengan orang - orang yang aku cintai dan mencintaiku.


Namun aku tetap tersenyum bahagia, aku tidaklah sendiri saat ini.


Bayi kecilku yang belum lahir di dunia ini akan bersama - sama merayakan Natal bersamaku tahun ini.


Tepat seperti yang kuperkirakan, aku sampai di tempat yang telah dijanjikan tepat pukul 9 pagi, di Golden Gate Park.


Kulayangkan pandanganku di sepanjang taman yang membentang.


Tak ada yang seperti dalam gambaranku, pria tinggi berambut hitam dengan penampilannya yang menarik.


"Aku rasa dia belum datang.


Baiklah aku akan menunggunya" ucapku sendiri dengan melangkahkan kakiku dengan mantap ke sebuah kursi taman di sudut taman.


"Kenapa perasaanku gelisah ya?


Apa ada yang salah dengan pertemuan ini?"


Kurapatkan tubuhku sendiri yang tiba - tiba saja gemetar, bukan karena hawa dingin ini tapi karena perasaan asing yang tiba - tiba muncul begitu saja saat ini.


Perasaaku mengatakan kalau pertemuan ini bukanlah pertemuan biasa.


Pria itu begitu misterius bagiku namun jauh dalam diriku mengatakan kalau dia adalah bagian dari masa laluku, aku mengenal dekat pria itu dan sebuah nama tanpa kusadari muncul dalam benakku.


Sebuah nama seseorang yang begitu dekat kukenal dalam hatiku.


Namun jauh dalam hatiku, aku menyangkalnya karena semua itu tak mungkin terjadi.


Karena pada dasarnya perasaan kami berbeda, jauh berbeda.


"Maaf..., membuatmu menunggu" sebuah suara mengejutkanku, begitu dekat dan tak asing bagiku.


Kepalaku menengadah keatas, melihat sosok yang tanpa ku sadari kini tampak ada di hadapanku.


Sosok yang begitu kukenal dan terlintas dalam benakku.


"Frank....?"


Kuucapkan nama itu dengan kegugupan yang tampak dan ketidak percayaan dengan apa yang ada di depanku sekarang.


Otak ku pun memerintah untuk bangkit lalu beranjak pergi, aku tak sanggup untuk bertemu dengannya lagi saat ini hingga aku tak mampu untuk melihat wajah Frank yang kini begitu nyata ada di hadapanku.


Namun sesuatu mengejutkanku dan membuatku terhenti dengan wajah kaku.


"Kumohon Jeanny, jangan pergi lagi dariku..." pinta Frank seraya menangkap lembut pergelangan tanganku saat berjalan melewatinya.


"Frank...?" ucapku dengan nafas tertahan.


"Berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahan yang selama ini kulakukan padamu..." tuturnya dengan suara seperti bisikan.


Kuberanikan diriku menatapnya dengan pandangan tak percaya.


"A-pa maksudmu Frank...?


Aku tak mengerti...?" sahutku gugup.


Kulihat tatapannya padaku saat ini begitu berbeda, jauh berbeda dari Frank yang kukenal selama ini.


Tatapan matanya kini begitu teduh dan jauh begitu lembut saat menatapku.


Jemari - jemari kuatnya membelai wajahku dengan penuh kelembutan, perbedaan itulah yang membuatku kini menatapnya dengan penuh perasaan kebingungan.


"Kumohon kembalilah padaku Jeanny!


Kembalilah untukku dan untuk anak kita..." mohonnya penuh harap.


Sungguh aku tak percaya dengan apa yang Frank katakan padaku, hingga membuatku terdiam, tak mampu mengucapkan sepatah katapun di depannya sekarang.


Tangannya beralih menyentuh perutku dan dengan memejamkan kedua matanya ia menghela nafas panjang.


"Bayi ini anakku...kenapa kau tak mengatakannya padaku saat itu?


Apa kau akan membiarkan anak ini lahir tanpa aku harus tahu akulah ayahnya?


Apa kau akan tetap melahirkan anak ini tanpa memberitahuku tentang semua kebenaran ini, Jeanny..?"


Semua pertanyaan itu meluncur begitu jelas di bibirnya hingga membuatku tak bisa berkata apa - apa lagi.


Semua terasa begitu cepat terjadi, yang dapat kulakukan saat ini di depannya adalah hanya bisa mengucapkan nama pria yang kini di hadapanku dengan suara seperti bisikan.


Detik itu juga Frank memelukku, menyebutkan namaku dengan perasaan penuh kehilangan.


Aku tersentak dengan semua perubahan ini, perubahan yang begitu berarti dan aku hanya bisa diam tak bergerak dalam pelukan pria di hadapanku.


"Jangan membuatku merasa bersalah lagi Jeanny, sudah terlalu banyak kesalahan dan ketololan yang sama sekali tak beralasan yang kulakukan padamu..."


"Selama hidupku aku tak pernah meminta tapi untuk kali ini, aku mohon padamu maafkan semua kesalahanku padamu...


Katakanlah padaku apa yang harus kulakukan untuk menebus semuanya?


Berikanlah aku kesempatan, aku mohon..."


Ucapan Frank terdengar begitu jelas di telingaku hingga membuat seluruh tubuhku kaku dengan pandangan kosong yang tak jelas di depan mataku.


Pikiranku melayang jauh tanpa batas membuatku seperti mati dalam keterkejutan, namun tatapan mata Frank menyadarkanku pada kenyataan, tatapan yang begitu lama aku dambakan selama ini.


Ia menyentuh pipiku kemudian turun kebibirku yang kini berubah dingin, kutatap wajahnya dengan tatapan tak percaya dan kucoba membuka bibirku untuk mengucapkan kata namun aku tak bisa.


Sentuhan Frank mengejutkanku, sentuhan yang seakan membuatku mati, ia mencium bibirku, begitu dalam dan membuatku terbang tinggi.


Aku tak merasakan kedinginan lagi namun justru kehangatan.


Tak ada lagi yang kupikirkan terkecuali 1 hal, Frank Jefferson tak seperti yang dulu kukenal, ia telah berubah, jauh berubah menjadi sosok Frank yang selama ini aku dambakan dan kuharapkan.


"Aku mencintaimu Jeanny Anderson..." tuturnya beberapa detik kemudian.


"Ku harap aku tak terlambat mengatakan ini padamu.


Aku tahu kesalahanku begitu besar padamu dan aku yakin sekalipun aku bersimpuh di depanmu itu tak akan menebus semua kesalahan yang telah kulakukan padamu selama ini..., tetapi setidaknya berikanlah aku satu kesempatan, aku mohon..." ucapnya tulus.


Kini ia menatapku lembut, menunggu jawaban dari mulutku sendiri saat ini.


"Ma-af, semua ini terlalu cepat bagiku Frank...


Berikan aku waktu untuk berpikir..." tanpa sadar ku ucapkan kalimat itu di bibirku kini yang masih terasa kaku.


Frank mendesah pelan dan kini ia tertunduk menatapku lemah.


"Aku tahu..., maafkan aku...


Aku akan selalu menunggumu, sampai kau bisa menerimaku dan memaafkan semua kesalahanku.." sahutnya seraya tersenyum tipis.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...