One Day In Your Life

One Day In Your Life
DIA MILIKKU



"Sejak kapan uncle Joseph datang?!" Ian bertanya ingin tahu dan berjalan cepat ke arah Joseph yang masih duduk di sebelahku.


"Belum lama, uncle menunggu kau pulang Ian" sahut Joseph tenang.


"Benarkah?? aku habis jalan - jalan dengan Dad!


Lihatlah uncle, akan kuperkenalkan daddy ku padamu!" Ian berkata penuh semangat.


Aku yang saat itu sadar dengan situasi, buru - buru mengalihkan perhatian Ian.


"Sayang, kau baru pulang. Ayo mandi! Tubuhmu kotor sekali karena seharian bermain diluar!" Perintahku seraya menuntun Ian ke belakang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Maaf, Joseph kau kutinggal sebentar ya. Aku harus mengurus Ian dulu sebentar" ucapku sebelum berjalan meninggalkannya.


"Baiklah Jeanny, tak masalah" jawab Joseph singkat.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Joseph berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Frank yang berdiri tak jauh didepannya. Dengan wajahnya yang ramah, ia menyunggingkan senyum pada pria yang kini tampak berdiri tegang dengan tanpa ekspresi itu.


"Kita bertemu lagi, Mr. Jefferson. Kurasa benar kita memang ditakdirkan berjodoh" sapanya dengan wajah tenangnya.


"Kurasa memang sepertinya anda sudah tahu cukup lama kalau aku adalah ayah dari Ian, Mr. Hayden" Frank menyahut dingin.


Mendengar komentar itu, Joseph hanya tersenyum singkat.


"Aku hanya menebaknya Mr. Jefferson, anda tak perlu tersinggung. Karena sejak menghadiri pesta itu Jeanny merasa tidak nyaman dan pertemuan kita di kota ini selama berapa kali ini memang tidaklah hanya kebetulan saja" sahut Joseph tetap dengan ekspresi tenangnya.


"Apa maksudmu mengatakan tidak nyaman? kurasa kata - kata anda itu sangat melukai harga diriku, Mr. Hayden" ujar Frank tak senang.


"Aku tidak bermaksud melukai hati anda Mr. Jefferson karena apa yang aku katakan memang benar adanya. Aku hanya menyampaikan apa yang Jeanny sering keluhkan padaku selama ini" tutur Joseph.


"Kalimat anda seolah mengatakan kalau hubungan anda begitu dekat dengan mantan istriku Mr. Hayden. Perlu aku tekankan disini, walaupun kami telah lama berpisah namun aku sebagai ayah Ian tak pernah mengakui itu. Karena itu sampai kapanpun aku akan tetap berjuang untuk mendapatkan keluargaku kembali!" Ucap Frank serius.


"Kurasa Jeanny lah yang punya wewenang itu Mr. Jefferson. Aku sebagai pria yang dekat dengannya hanya berusaha tetap terus mendampinginya selama Jeanny menginginkan itu" Joseph berkata dengan penuh keyakinan.


"Aku anggap itu sebagai bendera perang untuk kita bisa bersaing mendapatkan hati Jeanny Mr. Hayden. Karena sampai kapanpun dia adalah milikku dan selamanya tetap menjadi milikku" sahut Frank mendominasi, ia kini menatap tajam rekan bisnisnya itu yang kini resmi menjadi saingan cintanya untuk mendapatkan hati Jeanny kembali.


"Akan kuterima dengan tangan terbuka kapanpun itu, Mr. Jefferson. Apapun hasil akhirnya nanti biarkan Jeanny yang memilihnya, aku Joseph Hayden hanya berusaha yang terbaik untuk mendapatkan hati wanita yang kucintai" tutur Joseph dengan penuh percaya diri.


Seketika hawa diantara dua pria itu pun memanas satu sama lain. Sangat berbanding terbalik dengan sebelum pertemuan ini, kini mereka berdua saling mengibarkan bendera perang untuk mendapatkan hati Jeanny Anderson.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Kapan Dad akan kembali mengajakku jalan - jalan?" tanya Ian pada Frank yang saat itu hendak berpamitan untuk pulang.


"Secepatnya, jagoan... Apa kau senang bersama dengan Dad hari ini?" Frank balik bertanya, ia bersimpuh di depan Ian dan mengelus lembut putranya itu.


Ian hanya mengangguk semangat dan tersenyum lebar.


"Akan lebih seru lagi jika mom bisa ikut bersama kita, dad!" Ian menyahut polos.


Aku yang saat itu berdiri tak jauh di belakang Ian hanya diam tak bereaksi. Rasanya situasi ini begitu rumit untuk bisa kupahami. Kedatangan Frank dan Joseph sempat membuatku seperti mati kutu tak berdaya.


"Tentu saja, kapan - kapan kita bertiga akan bisa pergi bersama" sahut Frank menjanjikan.


"Kau kembalilah kedalam dan temani uncle Joseph disana, aku akan bicara sebentar pada mommy mu, Ian" perintah Frank lembut dan Ian mengangguk mengerti seraya berjalan ke dalam ruangan.


"Aku akan pamit, hari ini terima kasih telah memberiku waktu untuk bersama - sama dengan Ian putraku. Aku harap kedepannya kau tak mempersulit lagi pertemuan kita, Jeanny" tutur Frank seraya berdiri mendekatiku.


"Apa maksudmu?" tanyaku tak mengerti.


"Aku hanya mengingatkan, hakku disini sebagai ayah Ian. Agar kau tak mempersulit lagi pertemuanku dengan putraku sendiri jika tidak-"


"Jika tidak apa?!" selaku sedikit kesal.


"Tentu saja jika tidak, aku akan berjuang mendapatkan hakku sebagai ayah kandung putraku sendiri" ucap Frank melanjutkan ucapannya.


"Kau sudah berjanji padaku untuk tak memisahkanku dengan Ian, Frank Jefferson!" tukasku tajam.


"Tapi itu lain halnya jika keadaan memaksaku harus melakukannya" sahut Frank dingin.


"Aku akan melawanmu sampai darah penghabisan!" ucapku sungguh - sungguh.


"Maka kita akan bersiap melakukannya dijalur hukum, Jeanny"


"Kau kejam, Frank!"


"Kau yang memaksaku melakukannya, Jeanny Anderson. Jika jalan itu satu - satunya agar kau tetap berada disisiku dan bersama dengan kalian kembali maka aku akan tanpa ragu melakukannya" tutur Frank dengan wajah serius, ia kini tampak begitu yakin dengan ucapannya kali ini.


Dalam hati aku bertanya, kenapa Frank begitu cepat berubah pikiran. Apa karena kehadiran Joseph membuatnya kini bertindak begitu kejam ingin memisahkanku dengan Ian?


"Sampai ketemu di New York, Jeanny. Aku akan menunggu kedatanganmu di pengadilan nanti" ucap Frank sebelum ia berlalu pergi.


Entah kenapa aku hanya diam seperti orang dungu menatap kepergiannya.


Hingga tanpa sadar air mataku jatuh dari pelupuk mataku karena luapan emosi.


New York?


Pengadilan?


Haruskan aku kembali ketempat yang paling kuhindari itu lagi?


Dadaku sesak jika mengingatnya kembali.


Haruskah akan berakhir seperti ini lagi?


Oh, Tuhan apa yang harus kulakukan sekarang?


Jeritku pilu dalam hati, hingga kusadari Joseph menyentuh bahuku dengan lembut saat aku merasa limbung.


"Ada aku bersamamu, Jeanny...


Menangislah jika kau ingin menangis" ucapnya lirih dan seketika itu juga akupun menangis di pelukannya dengan tanpa beban.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...