
Pagi ini saat Juan berangkat bertugas, Risa menumpang untuk ikut dengannya sampai rumah sakit, kemarin malam ia gagal bertemu dengan profesor yang menangani DNA waktu itu padahal ia sudah sangat lama menunggu profesor itu keluar dari rumahnya, Juan sempat bertanya untuk apa Risa ke rumah sakit sementara ia tahu kalau saat ini bukanlah jadwal Risa untuk check kandungan. Risa yang masih ingin merahasiakan aksinya pada Juan hanya mengatakan pada pria itu bahwa ia ingin melalukan konsultasi lebih dengan dokternya, Dan Juan paham tanpa berkata-kata lagi.
Setibanya di rumah sakit, Juan berpesan pada Risa untuk tidak pulang terlalu malam atau pun jika merasa lelah ia harus istirahat yang cukup, Risa mengangguk paham dan sebelum meninggalkan mobil ia memberikan ciuman pipi pada Juan yang membuat wajah pria itu memerah tersipu malu, Setelah berpisah dengan Juan, Risa segera mencari profesor itu lagi dan kali ini ia berharap dapat bertemu dengannya di rumah sakit.
Sebelumnya ia sudah membuat janji pada perawat yang menjaga di nurse stationary untuk dapat bertemu dengan profesor itu, Risa di minta untuk menunggu sebab sang profesor sedang sibuk dan bisa bertemu setelah ia selesai bekerja. Sambil menunggu Risa memilih untuk duduk di lobby sembari memperhatikan sekitar rumah sakit yang di penuhi oleh orang-orang yang datang dan pergi seiring berjalannya waktu.
Setelah menunggu kurang lebih satu setengah jam, profesor itu terlihat baru saja keluar dari ruangannya, Risa pun menghampirinya tanpa menunggu waktu lama lagi, Ia menyapa profesor itu dan berkata ingin berbicara dengannya. Pria itu melirik arlojinya dan tampak berpikir sebelum akhirnya menyetujui permintaan Risa. Mereka pindah tempat ke sebuah kafe yang terletak tak jauh dari rumah sakit, di sana Risa memesan dua minuman yang sama dengan profesor yaitu lemon ice.
" Kalau boleh saya tahu, anda siapa sehingga ingin mengajak saya untuk mengobrol." Rupanya profesor ini tak mengenal Risa sehingga ia tidak bisa langsung to the point, Namun Risa mulai memutar otak untuk menghadapi pria yang hampir seumuran dengan Papa nya itu.
Risa mengeluarkan sebuah foto beserta bukti-bukti yang telah ia kumpulkan sendirian, Pria itu mengernyitkan dahi melihatnya, kemudian ia meraih lembaran kertas dan foto itu untuk melihat isinya, Alangkah terkejutnya profesor itu saat melihat foto Cindy dan bukti pemalsuan usia kandungan Cindy selama ini, melihat responnya saja Risa sudah dapat menebak bahwa profesor itu memang bekerja sama dengan Cindy.
" Aku tidak akan melaporkan kejahatan mu pada kepolisian, aku hanya meminta bukti bahwa hasil DNA waktu itu bukanlah hasil yang sebenarnya. " Ucap Risa tidak main-main
" Ap..apa yang kau katakan, Tes DNA yang mana.?" Balasnya terlihat semakin gugup
" Ku rasa isi dari kertas itu sudah jelas, kalau kau mengenal wanita yang ada di foto, Aku tidak akan bicara dua kali, kau serahkan buktinya atau aku akan melaporkan kejahatan kalian pada kepolisian. " Sambung Risa kemudian
" Baiklah, aku akan memberikan hasil aslinya tapi tolong jangan laporkan aku. " Ucap dokter itu memohon dengan sangat
✈
Risa berjalan sendirian di sepanjang jalan di mana terdapat pepohonan yang rindang dan pemandangan yang Indah di sore hari, Beberapa orang jalan bersama pasangan mereka bahkan ada juga yang lengkap dengan anak-anak mereka, Risa melirik perutnya yang sudah semakin besar sambil tersenyum manis mengelus perutnya.
" Tiga bulan lagi dan kita akan segera bertemu, Kita bisa berlibur sama Papa ke tempat yang kau inginkan. " Ucap Risa yang bicara pada bayi dalam perutnya
Hari ini Risa merasa sangat lega, akhirnya ia mengetahui semuanya, Suaminya bukan lah pria jahat yang dengan sengaja meniduri bahkan sampai menghamili wanita lain, Bukti-bukti telah terkumpul dan saatnya untuk membeberkan rahasia Cindy agar dia mau mengatakan siapa ayah dari anak yang di kandungnya sampai-sampai dengan tega nya menjebak Juan yang tidak berdosa. Jujur setelah mengetahui tentang hal ini, Risa sangat marah pada Cindy, karena dia ia sempat marah dan kehilangan percayaan pada Juan, jika mengingat masa-masa kemarin Risa merasa sangat kasihan pada Juan yang sebenarnya adalah korban dari masalah ini.
Dalam perjalanan pulang, Risa tak sengaja melihat sosok Cindy yang mengobrol dengan seorang pria yang tidak di kenal nya, Pria itu tampak memarahi Cindy sehingga membuat Cindy menangis, Risa mencoba untuk sembunyi di balik pepohonan agar dapat menyaksikan kelanjutannya. Pria itu mendadak mendorong Cindy namun Cindy dengan kuat menyeimbangkan tubuhnya agar tak jatuh, lalu pria itu pergi dengan cepat dan Cindy berusaha mengejarnya namun gagal, pria itu sudah masuk ke dalam sebuah mobil dan melaju dengan sangat cepat.
Risa menatap Cindy yang tersungkur ke tanah dengan isak tangis yang terdengar sampai di tempat Risa berdiri, Saat itu suasana di taman dekat rumah mereka sedang sepi beda halnya saat Risa berjalan di sekitar tempat khusus jalan kaki yang mengarah tepat ke rumahnya, Risa tak mengira akan melihat kejadian itu, dan rasa penasaran baru muncul saat melihat pria itu. Siapa sebenarnya dia? Kenapa pergi dengan cepat dan membuat Cindy sampai menangis tersedu-sedu.
✈
Cindy kembali ke rumah setelah Risa, dan saat wanita itu masuk dan berjalan melewati ruang tamu, Risa dengan segala bukti yang di pegang nya melemparkan beberapa lembar kertas bukti ke hadapan Cindy, Melihat hal itu Cindy menatap semua lembaran itu dengan heran kemudian menatap Risa meminta penjelasan atas perbuatannya saat ini.
" Jangan mengelak lagi, Aku tidak ingin kau berakhir di penjara atas perbuatan mu padaku dan Juan. " Lontar Risa dengan tatapan yang tajam
" Bagaimana kau bisa menemukan bukti-bukti ini.? " Tanya Cindy tak habis pikir
" Kau tidak perlu tahun ini semua ku dapatkan seperti apa, ku minta sekarang juga untuk mengakui semua kejahatan mu, dan jelaskan padaku sebenarnya siapa anak yang kau kandung saat ini. "
Cindy tak menjawab pertanyaan Risa dan masih memikirkan bagaimana bisa Risa mengumpulkan semua bukti ini yang dia sendiri sudah sangat yakin kalau semua ini tidak akan sampai ketahuan, Karena tak ingin kalau semua barang bukti ini sampai di tangan Juan sehingga ia dengan cepat memungutnya kemudian berlari menuju dapur, Risa yang melihatnya berusaha mengejar namun Cindy menahan langkahnya setelah ia menyodorkan sebuah pisau pada Risa, ia bahkan mengancam akan menyakiti Risa jika mendekat.
" Kalau kau mendekat, aku akan membunuhmu. " Ancam Cindy akhirnya membuat Risa perlahan mundur
Cindy dengan cepat memasang kompor untuk membakar semua bukti tersebut, Tentu saja Risa tak bodoh memberikan bukti seperti itu pada musuhnya, Dan reaksi Risa yang mencoba mengejar hanyalah untuk mengecoh Cindy.
" Dengan begini Juan tidak akan mengetahuinya, Aku pun tidak akan pernah menjelaskan padamu alasanku melakukan hal ini. " Sahut Cindy ketika semua barang bukti telah berhasil ia bakar
" Kita lihat saja, Juan akan tetap percaya kepadaku. " Ucap Risa tersenyum sinis kemudian berlalu meninggalkan Cindy
Cindy yang geram dengan sikap Risa kali ini membuatnya benar-benar terbakar emosi, Ia Mencoba menghubungi beberapa orang-orang yang di ajaknya bekerja sama terutama profesor yang menangani tes DNA waktu itu. Ketika ia berhasil menghubunginya, Cindy langsung mengomel dan memaki-maki profesor itu karena telah membocorkan rahasianya.
" Aku akan melaporkanmu atas pembocoran data diri seorang pasien. " Ucap Cindy tak main-main
" Coba saja, bukannya hal itu hanya akan menjadi senjata makan tuan untuk mu. " Bukannya merasa puas memakinya,Cindy merasa semakin geram dan mengakhiri panggilan tersebut.
✈
" Aku pulang~" Seru Juan sambil menutup kembali pintu.
Seseorang tiba-tiba datang dan langsung memeluknya sambil menangis tersedu-sedu, Juan terkejut karena sempat mengira itu adalah Risa dan ternyata Cindy. Sebelum Risa melihatnya, Juan mencoba untuk melepas pelukan Cindy namun Cindy semakin memeluk Juan dengan erat.
" Tolong jagan ceraikan aku. " Ucap Cindy membuat Juan tak mengerti maksudnya
" Lepaskan dia, dasar wanita munafik. " lontar Risa yang baru saja datang dan melemparkan tamparan yang keras pada wajah Cindy seakan-akan semua amarah yang terpendam selama ini kini tersalurkan sudah.
" Risa, apa yang kau lakukan.? " Tanya Juan semakin di buat heran
" Dia sudah menipu kita Juan, Dia mengaku-ngaku di hamili olehmu tapi sebenarnya dia hamil dengan pria lain, aku sudah mengumpulkan semua buktinya, pertama dia mengaku hamil dua bulan padahal saat ini usia kandungannya sudah menginjak empat bulan, itu artinya dia sudah hamil jauh sebelum kalian tidur malam itu, dan kedua dia menipu kita dengan menyuap profesor itu untuk memasukan hasil DNA nya, dokter itu mengambil sampel darah mu saja sehingga hasilnya tetaplah positif mengatakan dia adalah anakmu. Dia benar-benar wanita ular, dia toxic dan dia.…" Risa menggantung kalimatnya saat Cindy tiba-tiba pingsan
Risa mulai kebingungan sebab sebelumnya Cindy dalam keadaan baik-baik saja, Juan pun segera menggendong Cindy menuju kamarnya di susul oleh Risa. Entah ini adalah asli atau hanya sebuah akting belaka, Akibatnya Risa tidak bisa melanjutkan apa yang ia ketahui untuk segera di beritahu Juan. Setelah melihat kondisi Cindy yang menggigil, Juan segera menghubungi dokter untuk segera datang dan memeriksa kondisinya. Hal ini di lakukan Juan bukan karena ia peduli pada Cindy melainkan pada bayi yang sedang di kandung, tak peduli itu adalah bayinya atau bayi orang lain, Bayi tetaplah seorang bayi tanpa dosa yang tidak boleh ikut menderita dengan penderitaan orang tuanya.
Selang beberapa waktu dokter pun datang dan segera memeriksa keadaan Cindy, sementara itu Juan dan Risa tampak menunggu di luar, Juan terlihat memikirkan sesuatu yang membuat Risa penasaran dnegan apa yang di pikirkan nya. Saat dia menjelaskan tentang kebohongan Cindy, wajah Juan terlihat tidak kaget seolah-olah ia sudah tahu kalau Cindy memang tidak sedang mengandung anaknya.
Dokter pun telah selesai memeriksa keadaan Cindy, Kemudian ia menjelaskan pada Risa dan Juan bahwa saat ini Cindy tidak boleh stress dan harus tetap dalam keadaan baik sampai usia kandungannya cukup tua, Di usia kandungan yang masih muda seperti ini sangat rentan baginya menerima ujian yang berat, mendengar hal itu Risa merasa serba salah, bagaimana cara menyingkirkan Cindy jika kondisinya saat ini sedang gawat.
✈
Pagi keesokan harinya, Risa terbangun dan terkejut saat melihat Juan di sebelahnya sudah bangun dan saat ini sedang melihat langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang. Risa mencoba mendekati Juan dan memeluk setengah tubuhnya, Juan pun mengangkat sedikit kepala Risa agar dapat berbaring di lengannya, keduanya menatap langit kamar dengan pikiran mereka masing-masing.
" Aku merasa lega mengetahui kalau yang di kandung Cindy bukanlah anakku, tapi.., apa itu cara yang baik untuk menceraikannya? Selama ini dia mungkin menyimpan alasan, Setahuku Cindy bukanlah seorang wanita yang pandai menipu seperti ini jika bukan karena suatu alasan. Maafkan aku Risa, bukannya aku ingin membelanya hanya saja, aku merasa ada yang dia sembunyikan sampai dengan tega melakukan hal seperti ini. " Ungkap Juan yang sejak semalam sudah memikirkannya samapi membuatnya sulit tidur
" Sebenarnya aku juga memikirkan hal yang sama, apa sebaiknya kita mengajaknya bicara baik-baik agar dia mau menceritakan semuanya pada kita, aku jadi merasa bersalah jika akhirnya akan membuatnya sampai sakit seperti sekarang. " Ucap Risa
" Jangan dulu, dia masih sakit dan dokter melarang kita untuk mengganggu suasana hatinya, Tunggu sampai dia mau untuk bicara duluan, aku yakin karena dia juga sudah tahu kita telah membongkar rahasianya hal itu tidak akan membuatnya tenang. "
" Aku sekarang lega kalau ternyata kamu memang bukanlah lelaki yang ingkar janji. " gumam Risa sambil memeluk Juan dengan penuh kasih sayang
" Tentu saja, cintaku hanya untuk kalian berdua. " balas Juan sambil membelai kepala Risa dengan lembut
✈
Karena tugas Juan belum selesai di minggu ini, dia harus kembali berangkat pagi dan pulang malam, melihat Juan yang kerja tak kenal lelah seperti itu membuat Risa salut, Pekerjaan menjadi seorang pilot memang tidak mudah, Menjaga keselamatan banyak nyawa agar dapat sampai di tempat tujuan dengan selamat belum lagi harus berpisah dengan keluarga sehingga waktu bersama sangatlah singkat, meski begitu mereka tetap menikmati waktu yang memang tersedia untuk bersama dan tak pernah mengeluh kalau harus berpisah dalam waktu yang cukup lama.
" Ingat untuk tidak mengusik Cindy dulu, kita akan membuatnya bicara sendiri tanpa perlu di minta, oke. " Pesan Juan pada Risa sebelum benar-benar pergi
" Aku janji, kau jangan khawatir. " Jawab Risa sambil mengacungkan jempol.
Setelah itu Juan pun dapat pergi dengan lega, Risa melambaikan tangan sampai mobil suaminya hilang di balik pepohonan, kemudian ia masuk ke dalam rumah dan saat melewati kamar Cindy ia melihat pintu kamarnya dengan tatapan nanar, Setelah itu ia meminta pada asisten rumah tangganya untuk membawakan makanan untuk Cindy, bagaimana pun juga Risa tidak ingin wanita itu sampai tidak makan hanya karena semalam jatuh pingsan.
.
.
.
.
Dikit lagi guys.... Dikit lagi..., Jadi sabar aja yah bacanya :).., btw aku mau menyampaikan kalau dalam pembuatan karya ini aku nggak pernah plagiat punya orang yah, kalaupun memang ada kemiripan mungkin hanya latar dan sedikit alurnya saja, Bagi kalian yang dulu pernah baca MHP pasti udah nggak asing dengan alur saat ini, sooo stay tune dan jangan spoiler ke pembaca baru ya. 🍻