
Sebuah mobil sedan berwarna silver baru saja menepih di depan sebuah bangunan lima lantai di mana seorang pria tampan baru saja turun dan membukakan pintu untuk seorang wanita yang di antaranya pulang malam itu, Risa keluar dengan wajah malu-malu seraya mengucapkan terima kasih kepada Juan yang telah repot-repot mengantarnya pulang.
" Besok kita akan berangkat menuju New York istirahat lah yang cukup untuk malam ini. " Sahut Juan sebelum kembali memasuki mobilnya.
" Baik capt, aku akan istirahat yang cukup. " Balas Risa menatap Juan dengan lembut.
Saat Juan hendak memasuki mobil, ia tiba-tiba kembali melirik Risa yang masih berdiri di pintu gerbang kost'an nya. Juan menggaruk tengkuknya tak gatal kemudian menyunggingkan senyum kecil.
" Bisa tidak kamu nggak usah se formal itu sama aku, Kamu bisa menyebut aku kamu ke aku, Biar lebih enak juga dengarnya. " Tutur Juan Sontak membuat Risa melongo kebingungan.
" Tapi capt " Belum sempat Risa menyela ia sudah di minta Juan untuk tetap patuh.
" Baik capt, Kamu sudah boleh pulang. " Lanjut Risa di akhiri senyuman malu-malu dan membuat Juan memberikan jempol kepada-nya sebelum dirinya benar-benar masuk ke dalam mobil.
Begitu Juan memasuki mobilnya, Risa segera membuka pintu pagar dan masih memperhatikan laju mobil Juan yang perlahan hilang di balik kegelapan.
" Siapa dia? " Ucap seseorang yang dari tadi sudah berdiri di dalam pelataran rumah kos itu.
" Kak Dimas, kenapa kamu masih ada di sini.? " Lontar Risa tak percaya.
" Aku bilang siapa dia.?" Tanya Dimas sekali lagi dan terdengar menekankan setiap kata yang di ucapnya.
" Dia captain di maskapai aku. " Jawab Risa menunduk pasrah.
" Aku sudah salah memindahkan mu ke tempat pria itu, Sebaiknya aku memindahkan mu lagi. "
" Maksud kamu apa kak ? Aku nggak suka yah kamu mengatur pekerjaanku sesuai keinginanmu, Aku menerima tawaran kontrak pekerja tetap di maskapai itu karena aku ingin cita-cita ku menjadi pramugari hebat dapat segera tercapai. tapi kenapa kamu seenaknya gitu mau pindahin aku lagi, Kamu harus ingat kak aku ini bukan siapa-siapa kamu lagi." Risa merasa lega sudah mengatakan keluhannya untuk Dimas namun pria itu tampak tak merasa bersalah.
" Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu maka orang lain juga tidak bisa mendapatkanmu. " Lontar Dimas menatap Risa tajam.
" Aku dan dia nggak ada hubungan apa-apa, Lagi pula untuk apa Kak Dimas peduliin aku sih? Kak Dimas udah punya istri, tolong jangan atur hidupku seperti ini. " Risa menyentak kakinya dan berlalu meninggalkan Dimas yang saat ini mengikuti pergerakan nya dengan tatapan mata yang enggan di tinggal oleh wanita itu.
**
Jadwal penerbangan selama satu bulan telah keluar dan saat ini Risa tengah melirik jadwal tersebut, Dalam salah satu jadwal terdapat nama negara yang membuatnya ketakutan dan entah kenapa feeling nya sangat kuat akan hal itu. Seseorang tiba-tiba meneriaki nama Risa dan membuat wanita itu menoleh mendapati sosok Maya yang datang sambil menarik kopernya dengan wajah yang ceria.
" Sedang apa? " Tanya Maya yang ikut menjatuhkan tubuhnya di sebelah Risa.
" Melihat jadwal penerbangan " Balasnya memperlihatkan selembar kertas berisi jadwal mereka.
" Coba aku lihat " Maya menarik kertas tersebut dan mulai membacanya secara teliti.
" Hmmm... Negara - negara kali ini sedikit jauh dari titik landing, Kita pasti akan sangat sibuk." gumam Maya dan langsung mengembalikan kertas itu kepada Risa, namun melihat wajah Risa yang sedang melamun kan sesuatu mendadak membuat Maya penasaran dan langsung membuyarkan lamunan wanita itu.
" Kamu kenapa sih, kaya ada yang di pikirin gitu.? " Tanya Maya penasaran.
" May, kamu beneran yakin kalau Capt Juan suka bawa cewek ke rumahnya.? " Lontar Risa membuat Maya mengerjap beberapa kali.
" Tentu saja, aku sudah bekerja dengannya cukup lama, Sudah banyak wanita yang di bawanya pulang. "
" Jadi gini May, aku takut di penerbangan kita ke Brazil nanti aku yang jadi korbannya. "
" Kamu kok pede banget sih. ?"
" Aku bukan ke pedean hanya saja akhir-akhir ini Capt Juan selalu menghubungi ku dan kami selalu bertemu, Aku takut kalau nanti aku lah yang menjadi korbannya. "
" Kalau menurutku kau cukup menghindar saja kalau kita landing di Brazil nanti, lagi pula dia tidak akan mendekatimu kalau kau bisa menjaga jarak dengan nya kan. "
" Kau juga harus ingat untuk menjaga perasaan Karin, Kalau kamu masih ingin bekerja di maskapai itu cara satu-satunya kamu tidak boleh mendekati Capt Juan. "
Setelah mereka mengobrol cukup lama soal Juan, Panggilan untuk pramugari maskapai Garuda Indonesia Boeing 747-800NG sudah di panggil untuk bersiap-siap melakukan penerbangan menuju New York. Risa dan Maya segera menuju pesawat mereka hingga saat menuju pesawat, Keduanya tak sengaja bertemu dengan Juan yang saat itu terlihat sangat tampan dengan seragam pilotnya, Risa hanya tersenyum simpul meliriknya begitu pun dengan Maya dan kembali melanjutkan langkahnya agar tidak membuat kecurigaan yang mengusik Karin.