
" Kenapa pergi sih Ris, kita kan mau lihat isi banker nya.? " Protes Maya ketika Risa sudah menghentikan langkahnya setelah sebelumnya menghindari Dimas
" Kamu nggak lihat di situ ada Kak Dimas sama istrinya " Ucap Risa pelan
" Lihatlah, emangnya ada apa dengan mereka? Bukannya kamu dan pak Dimas sudah berjanji untuk tidak saling mengganggu lagi.? "
" Sebenarnya aku bukan menghindari Kak Dimas melainkan istrinya, sebelum aku pulang ke Surabaya dia datang ke rumah sakit dan memaki-maki ku di depan kedua orang tuaku, dia tahu kalau suaminya sering menemuiku dan terus meminta balikan, Karena aku tidak ingin Kak Dimas sampai macam-macam lebih baik aku yang menghindar kan. " Jelas Risa kini membuat Maya paham sekarang
" Ya udah kalau gitu kita pulang aja, dari pada nanti masalahnya jadi runyam " Ajak Maya dan langsung di setujui oleh Risa
Baru saja mereka keluar dari pesawat tiba-tiba saja sosok Dimas yang muncul dari arah yang berlawanan membuat Risa dan Maya seketika membeku, apa yang tak di inginkan kini terjadi dan saat ini kedua mata Risa sibuk mencari sosok Talia berharap wanita itu tidak akan melihat adegan mereka bertemu seperti ini.
" Kenapa kamu seperti menghindar. ?" Tanya Dimas menatap Risa tajam sementara Risa saat ini tak berani menatap Dimas
" Aku tidak menghindar, kebetulan saja kami berdua ingin pulang. " jawab Risa tanpa pikir panjang
" Bukan karena Talia kan.? " Lontar Dimas membuat Maya kini berhasil menatapnya
" Ini tidak ada hubungannya dengan dia, maaf kak aku dan Maya harus segera pergi. " Balas Risa berusaha melewati Dimas namun di tahannya
" Kak.!! " Risa menahan kata-kata nya ketika Talia ikut muncul, seketika itu ia pun langsung buang muka
" Apa yang kamu lakukan Dimas, Ayah sudah menunggumu di kabin depan. " sahut Talia lirih
Dimas terlihat berusaha menahan emosinya dan berbalik badan meninggalkan Risa yang saat ini hanya dapat melihat kepergian mereka dengan perasaan lega, Talia sempat berbalik ketika Dimas sudah berjalan di depan dan ia sempat temu pandang dengan Risa. Tatapan Talian saat ini terlihat sangat tajam dan sulit di artikan, Maya pun kembali menarik lengan Risa untuk segera meninggalkan tempat itu.
\*
Risa tertegun ketika melihat jadwal penerbangan yang telah keluar, dalam pesan informasi yang di terimanya Risa tidak ikut serta atau lebih tepatnya di pindahkan dalam kru maskapai Garuda Indonesia yang baru melainkan di tempatkan di maskapai nasional yang hanya memiliki jam terbang di Indonesia saja, sama seperti saat Risa pertama kali menjadi pramugari, mungkin jabatannya memang naik menjadi Maitre d' cabin namun sayang tipe pesawat dan teman-teman kru nya berbeda sehingga membuatnya sulit menerima semua ini. Sebelumnya bahkan tak ada informasi kalau Risa di pindahkan ke maskapai lain dan baru menerima kabar dua hari sebelum jam kerja nya di mulai.
" Kontraknya belum selesai, tapi kenapa aku di pindahkan seperti ini.? " Gumam Risa tak habis pikir
Salah satu yang bisa di hubunginya tak lain adalah Dimas selaku direktur pelayanan penerbangan yang juga memegang peranan penting dalam pemindahan jam kerja, Risa melirik layar ponsel yang terdapat nama Dimas di sana dengan wajah ragu-ragu kemudian ia pun mulai menekan tombol panggilan pada pria itu. Tak menunggu waktu lama untuk Risa mendapat jawaban dari panggilan tersebut, suara yang terdengar berat mulai menyahut di seberang sana.
" Ini aku Risa. " Karena Risa baru-baru mengganti ponsel dan nomornya menjadi nomor baru ia harus memperkenalkan diri kepada Dimas
" Kamu punya nomor baru, dapat nomorku dari mana.? " Sahut Dimas yang membuat Risa terdiam sejenak, ia tak mungkin menjawab kalau dirinya menghafal nomor Dimas karena hal itu akan sangat sensitif nantinya
" Dari Kapten Zain." balas nya berbohong
" Oh..ada apa menelpon.?"
" Jadi begini, aku ingin bertanya soal pemindahan secara sepihak dari perusahaan, bukannya kontrak mengatakan aku bisa keluar dari maskapai itu selama 6 tahun, tapi kenapa pemindahan ini di lakukan secara tiba-tiba, apa kau mengetahui sesuatu.? " Tanya Risa mulai terdengar serius
" Soal itu aku tidak tahu, mungkin perpindahan sebelumnya aku bisa merekomendasikan mu agar pindah di Garuda Indonesia tapi kali ini aku benar-benar tidak tahu, Ini semua keputusan dari atasan, aku minta maaf Risa. " Jawabnya lirih
" Tidak apa-apa, aku hanya bertanya.. Sayang sekali padahal aku sudah terbiasa dengan maskapai sebelumnya. "
" Apa kau ingin aku memberitahu ayahku untuk memindahkan mu kembali. ?"
" Tidak usah, aku bisa menerimanya kok, ehmm.. Sudah dulu ya, ada yang harus ku lakukan. "
" Oke, aku akan menyimpan nomormu. " Sahut Dimas dan di akhiri duluan oleh Risa.
" Maafkan aku Risa, ini cara satu-satunya untuk membuatmu dan Juan tidak bersama. " Gumam Dimas sembari meletakkan ponselnya di atas meja kerja miliknya
Kali ini ponsel milik Risa berdering menandakan ada panggilan yang masuk, Terdapat nama Maya di sana dan membuat Risa langsung mengangkatnya tanpa berpikir panjang. Suara Maya yang melengking baru saja membuat Risa sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya pasalnya saat ini wanita itu sedang meraung-raung meratapi ketidaksamaan mereka di satu pesawat, Setelah Maya sudah cukup tenang barulah Risa menempelkan nya lagi ke telinga.
" Aku benar-benar tidak habis pikir perusahaan membuatmu di pindahkan lagi seperti ini, sebenarnya apa mau mereka sih. " Keluh Maya benar-benar terbakar emosi
" Sayang sekali yah, kita hanya bersama selama tiga bulan, aku bahkan sudah sangat menyayangi kebersamaan kru yang lain. "
" Maksud mu kapten Juan. ?"
" Siapa yang bilang. Aku nggak ngomong gitu. "
" Sudahlah Risa, jangan menutupi perasaanmu.. Lagi pula kapten Juan sendiri sudah mengakuinya. "
" Mengakui apa.? " Tanya Risa tidak mengerti
" Ahh aku pasti akan sangat merindukanmu, pokoknya sebelum kita benar-benar bekerja kita harus punya waktu berdua, oke. " Maya sengaja mengalihkan ke topik pembicaraan yang lain setelah sadar akan kesalahannya barusan
Risa pun seakan sudah tidak peduli dengan ucapan Maya sebelumnya dan mulai mengiyakan ajakan Maya untuk jalan berdua sebelum mereka bertugas. Tak cukup lama mereka berbincang via telepon setelah itu Maya mengakhirinya karena akan pergi bersama Alex, sebaliknya Risa lagi-lagi di buat sedih dengan keputusan sepihak ini.
\*
Wanita itu terlihat berjalan memasuki bandara sambil menarik tas koper berwarna hitam dengan seragam biru tosca yang menandakan bahwa dia adalah seorang Maitre D' cabin atau asisten FA 1, Seharusnya ini menjadi hari terbahagia nya bisa mendapat gelar itu secara selangkah lagi ia bisa menempati posisi FA 1 jika ia bisa bekerja lebih baik lagi. Setelah melewati boarding pass khusus staff dan kru pesawat, Risa segera menuju gate way untuk menuju pesawat nya yang kebetulan berada berdekatan dengan pesawat Garuda Indonesia terbaru yang menampung mantan rekan kerjanya yang dulu.
" Risaaaa!!!! " teriak seseorang berhasil membuat nya berbalik
Maya datang ke arahnya dengan wajah penuh bahagia bersama rombongan kru yang lain, pandangan Risa terus tertuju ke depan bahkan setelah Maya sudah berada di depannya, Melihat sikap Risa yang terlihat sedang mencari seseorang seketika membuat Maya menyenggol bahunya dengan tawa nakal.
" Kamu mencari Kapten Juan kan.? " Bisiknya pelan
" Nggak, apaan sih. " Balas Risa cepat
Karin dan beberapa pramugari lain baru saja lewat, namun Karin tiba-tiba saja berhenti dan menoleh ke arah Risa.
" Selamat yah, kamu sudah berhasil mendapat gelar yang cukup tinggi meskipun kamu tidak bisa terbang di pesawat yang sama dengan kita. " Sahutnya dengan nada yang cukup menyebalkan
" Terima kasih, " Balas Risa berusaha memberikan senyuman terbaik seolah-olah ia tidak menyesal dengan kepindahannya itu
Karin memutar bola matanya dan bergegas pergi begitu pun dengan Maya yang harus secepatnya stand by di pesawat untuk mengurus segala keperluan. " Semangat Risa, aku akan sangat merindukanmu nanti. " Sahut Maya di sela-sela langkahnya. Risa tersenyum senang dan kembali menatap pintu masuk yang menuju ke pesawat yang akan di naikinya, secara bersamaan seorang pria kembali meneriakkan nama Risa dan membuatnya menoleh dengan wajah penuh semangat.
" Sayang sekali yah kita tidak bisa terbang bersama lagi, Tapi selamat karena sudah menjadi asisten FA 1 " Ujar Alex yang kini sudah berada di depan Risa
Namun tatapan Risa tidak terfokus kepadanya melainkan pada seorang pria lain yang saat ini masih berjalan ke arahnya, Risa mengangkat tangan berusaha menyapa namun hal yang tak terduga terjadi di mana pria itu hanya lewat tanpa membalas sapaan atau sekedar melihatnya, Perlahan Risa menurunkan tangan dengan wajah sendu kemudian berbalik melihat langkah Juan yang semakin menjauh, Aneh, Juan terasa seperti orang asing saat ini dan itu benar-benar mengganggu pikiran Risa. Wanita itu bahkan tidak merespon saat Alex memanggil-manggil namanya beberapa kali.
" A.. Ada apa capt.? " Tanya Risa menoleh heran
" Kamu pasti tidak fokus karena Juan melewatimu begitu saja kan, kau tenang saja dia tidak mungkin marah padamu, Setahuku dia sedang dalam keadaan bad mood belakangan ini bahkan bukan hanya kamu saja yang di cuekin, tapi hampir semua kru termasuk aku. " Jelas Alex kemudian
" Sepertinya kau akan segera berangkat, Aku akan juga akan segera masuk. " Ucap Risa mengalihkan topik, perpisahan mereka pun hanya sampai di situ lagi-lagi Risa melirik ke arah Alex yang berusaha mengejar langkah Juan yang masih dapat di lihat oleh Risa dari tempatnya berdiri.
" Sudahlah, Aku tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak. " Benak Risa berusaha meyakinkan diri dan segera masuk
\*
" Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan Garuda Indonesia A330-900Neo penerbangan dengan nomor ID 6280 dengan tujuan Denpasar Bali Penerbangan ke Denpasar Bali akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih satu jam empat puluh menit dan, dengan ketinggian jelajah kaki 3700 kaki di atas permukaan air laut. Perlu kami sampaikan bahwa penerbangan ini adalah tanpa asap rokok, sebelum lepas landas kami persilahkan kepada Anda untuk menegakan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka dihadapan Anda, mengencangkan sabuk pengaman, dan membuka penutup jendela. Atas nama Garuda Indonesia kapten Ridwan Saidi dan seluruh awak pesawat yang bertugas mengucapkan selamat menikmati penerbangan ini, dan terima kasih atas pilihan anda untuk terbang bersama kami." Ucap Seorang FA 1 dan setelah itu menyerahkan mic interkom pada Risa yang menerimanya dengan penuh percaya diri, Risa di berikan kesempatan untuk mengumumkan dalam versi bahasa inggris
Risa mencoba menarik nafas dalam-dalam kemudian menatap pusher di sebelahnya dengan senyuman tipis, Pusher yang bernama Sabrina itu memberikan kode kepada Risa untuk segera menyampaikannya, Sebelumnya Risa telah di tes untuk menyampaikan pengumuman dalam bahasa inggris dan telah di tunjuk langsung oleh Sabrina sebagai penyambutan karena telah bergabung di maskapai tersebut, Meskipun ini pertama kali untuk Risa namun Sabrina sudah sangat mempercayainya.
" Dear passengers, welcome to Garuda Indonesia A330-900 Neo flight to Denpasar Bali. Flights to Denpasar Bali will take us with in one hour fourty minute , with a cruising altitude of 3700 feet above sea level. We need to inform you that flight is without cigarette smoke, before take off we invite you to hold the chair back, close and lock the small tables that are still open in front of you, tighten the seat belt, and open the window cover. On behalf of Garuda Indonesia captain Ridwan saidi and all the crew on duty congratulated this flight, and thank you for your choice to fly with Garuda Indonesia. " Ucap Risa di akhiri dengan senyuman yang merekah di bibirnya
Sabrina memberikan pujian atas ucapan yang di sampaikan Risa kepada seluruh penumpang dengan suara yang merdu dan lembut membuat siapa saja yang mendengarnya pasti akan memujinya, Setelah pengumuman berakhir dan semua penumpang serta awak pesawat duduk di tempat masing-masing dengan sabuk pengaman yang di pasang sempurna, Dalam hitungan beberapa menit kini pesawat sudah lepas landas dan siap menuju bandar udara i gusti ngurah rai Denpasar Bali. Risa menatap keluar jendela dengan raut wajah sendu memikirkan mantan rekan kerjanya yang kebetulan akan bersandang di kota sepal bola Barcelona.
Di lain tempat, seorang pria nampak tertawa lepas di dalam ruangannya setelah mendapat kabar yang membuatnya tak henti-hentinya tertawa bak orang gila, Walaupun rencananya untuk memecat Juan tidak berhasil paling tidak wanita yang di cintainya tidak satu penerbangan dengan Juan, Saking bahagianya ia terus menatap informasi kedua penerbangan yang di tempati mereka berdua di mana keduanya sudah meninggalkan bandara dengan rute yang berbeda.
" Aku menang Juan. " Ucap Dimas sembari mengangkat gelas minumannya
\*
Satu minggu yang lalu
Pria itu baru saja keluar dari sebuah ruangan yang bertuliskan direktur utama dengan memasang wajah yang sendu, Ia bahkan berjalan menuju lift dengan gontai seakan separuh hidupnya sudah di renggut. Tiba-tiba saja ia di hadang oleh pria lain yang saat ini tengah menatapnya dengan wajah penuh kemenangan. Juan mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Dimas, seketika itu wajah sendunya berubah menjadi serius.
" Aku bisa melakukan apa saja selagi aku memiliki kekuasaan. " Ucap Dimas membuat Juan mengernyit bingung
" Aku bisa membuat Risa keluar dari pekerjaan nya tapi aku memilih untuk memindahkan nya di penerbangan lain, selagi itu tidak dengan dirimu. " Ujar Dimas seketika membuat darah di tubuh Juan mulai naik dan mendidih
" Tak hanya itu, aku.. " Belum sempat Dimas melanjutkan ucapannya, Juan sudah memukulnya hingga membuat pria itu tersungkur ke lantai
Tak sampai di situ Juan juga kembali meraih kerah baju Dimas dan menatapnya dengan tajam, Sementara itu Dimas terlihat pasrah dan hanya memasang ekspresi yang membuat Juan ingin memukulnya lagi.
" Jangan main-main dengan impian seseorang, kau tidak tahu seberapa banyak dia berjuang untuk berada di tempat yang dia inginkan. " Ucap Juan penuh amarah
" Wah.. Wah.., sepertinya kau sudah jatuh Cinta dengan Risa ku. " Dimas melepas cengkraman Juan dan mendorong nya pelan
" Ingat, kau sudah punya seorang istri tapi kenapa selalu mengganggu urusan Risa,? " Sahut Juan lagi
" Aku mungkin sudah menikah tapi aku tetap mencintai Risa sebagai wanita pertamaku, Dan kau.., kau tidak bisa mendapatkannya sekalipun aku tidak berhasil, oleh karena itu aku memisahkan kalian dengan penerbangan berbeda. " Jelas Dimas
" Aku menghargai mu sebagai seorang direktur pelayanan, Ku mohon untuk tidak mengganggu impian Risa, aku berjanji akan menjauh darinya. "
" Exactly, aku suka itu. Tadinya aku ingin melaporkanmu ke Ayahku karena sudah berani memukulku , tapi tanpa Ayahku pun aku sudah berhak memberikan hukuman untuk mu, Tapi… Aku berubah pikiran setelah kau mengatakan akan menjauhi Risa." Ucap Dimas sambil tersenyum penuh kemenangan.
Brakkk.…
Pria itu terkejut saat Juan memukul meja dengan sangat keras sehingga menumpahkan sebuah gelas yang berisi kopi hitam, Alex memungut gelas itu dan meminta serbet untuk membersihkannya sebab si pembuat kekacauan tampak tak peduli atas gelas kopi yang tumpah itu, Sejak tadi melihat Juan yang seperti sedang kesal hanya dapat membuat Alex berdiam diri meskipun ia sangat penasaran dengan apa yang di alami oleh rekan kerja nya itu.
\*
Jam makan siang pun tiba dan kini tiba giliran pramugari melayani para penumpang untuk membagikan kotak makanan, sementara itu Risa yang berada di kelas bisnis terlihat sibuk melayani penumpang yang saat itu mengalami alergi pada makanan yang di makannya, Dengan cepat Risa segera menuju dapur mengambil kotak P3K untuk mengambil salep alergi yang kebetulan selalu di siapkan pihak penerbangan sebelum berpergian.
" Maaf ya pak, biar saya bantu oleskan. " Ucap Risa dengan lembut pada seorang pria yang mengalami alergi tersebut
" Airin, tolong ambilkan air mineral biasa dan ganti makanannya dengan bahan yang bukan seafood, sepertinya anda alergi seafood. " Ujar Risa dan di benarkan oleh pria itu
" Lain kali anda bisa meminta menu lain, sebagai penumpang kelas bisnis tentu anda harus komplain kalau menginginkan sesuatu atau pun tidak menginginkan sesuatu ya pak."
" Baik mbak, makasih yah ." Ucapnya pelan dan menatap Risa dengan senyum
" Sama-sama pak, Jika ada keluhan lain anda bisa memanggil saya atau Pusher yah." Lanjut Risa sebelum meninggalkan pria itu
Kembalinya Risa ke tempat duduknya langsung mendapatkan pujian atas sikapnya yang cepat dan tanggap itu, bahkan Sabrina sendiri memujinya habis-habisan ia merasa bersyukur karena dapat bekerja bersama Risa.
\*
Entah kenapa kunjungan kali ini terasa lebih membosankan dari pada sebelumnya, bahkan jauh lebih membosankan ketika pesawat yang biasanya berada di ketinggian 3700 kaki yang menampilkan keindahan langit biru dan gumpalan awan benar-benar menjadi biasa saja saat ini. Risa menatap layar ponselnya di mana terdapat foto-foto kru maskapai yang dulu, jemari lentiknya menyentuh layarnya dan memperbesar gambar tersebut agar masing-masing wajah dari mereka dapat terlihat dengan jelas.
Jemari Risa berhenti bergerak ketika ia tak sengaja menggeser sebuah foto yang menampilkan sosok pilot tampan Jaun Diaz, Risa memperhatikan tiap detail wajah Juan yang sangat tampan di foto itu. Memori-memori tentang Juan pun mulai bermain di kepala Risa membuat wanita itu tak sadar kalau sejak tadi ada yang memperhatikan dirinya. Sejurus kemudian ketika pesawat mengalami sedikit guncangan akibat menabrak awan barulah Risa tersadar kalau di hadapannya kini ada Sabrina.
" Sepertinya kamu tidak nyaman dengan maskapai ini, aku tahu pasti berat meninggalkan maskapai sebelumnya yang sudah seperti rumah bagimu, dulu aku juga sama seperti mu, sebelum menjadi FA 1 aku hanya seorang pramugari junior di penerbangan internasional sampai hari di mana aku tiba-tiba di pindahkan secara sepihak oleh perusahaan dan berakhir di sini.., setelah ku pikir-pikir ada hikmahnya juga di pindahkan secara paksa karena kepindahan inilah aku bisa menjadi seorang FA 1." Jelas Sabrina
" Aku sudah tiga kali pindah penerbangan, dan baru kali ini aku bertemu dengan seorang FA 1 yang baik dan pengertian seperti mu. " Ungkap Risa sukses membuat Sabrina tersenyum malu mendengarnya
" Aku harap kamu akan betah di sini, paling tidak jangan bersikap murung di depan para junior apalagi penumpang, oke. " Ucap Sabrina sebelum akhirnya pergi meninggalkan Risa untuk mengecek sesuatu
Suara bel tanda penumpang membutuhkan bantuan pramugari membuat Risa menoleh, terlihat nomor kursi penumpang D20 baru saja menyalah, Risa melirik ke sekitar tempat berharap menemukan pramugari lain namun tidak ada, Ia pun bangkit dan segera mengatasi hal itu. Rupanya yang memanggil barusan adalah penumpang yang mengalami alergi tadi, ia meminta Risa untuk di buatkan teh hangat dan dengan senang hati Risa pun segera ke dapur untuk membuatkannya.
Setelah selesai membuat teh dan mengantarkan nya kembali, Risa kembali ke tempatnya namun lagi-lagi penumpang itu memanggilnya dan kali ini ia di minta untuk di bawakan majalah atau buku yang dapat di baca untuk menghilangkan kejenuhan, Namun sayang pengumuman pesawat yang akan landing baru saja menyelematkan Risa agar sekiranya segera pergi dan mengurus hal lain, Menghadapi penumpang semacam itu sudah biasa untuk Risa, dan ia tahu benar apa saja yang harus di lakukannya untuk menghadapi penumpang macam itu. Untungnya pesawat segera landing sehingga kali ini ia tak perlu repot-repot untuk mengatasinya.
Halo para pembaca yang baik dan Budiman, gimana nih ceritanya seru nggak ? Aku harap kalian suka yah, dan satu lagi tolong sekiranya jangan memberikan komentar buruk atas karya ini, jika tidak suka cukup tidak usah baca jangan memberikan komentar yang bisa buat author sedih yah..
.
.
.
Stay safe and healthy guys 😘😘