My Handsome Pilot

My Handsome Pilot
Merasa Lebih Baik



" Kenapa anda tidak mencoba untuk mendapatkan promosi agar bisa menjadi seorang kapten seperti capt Zain?" Tanya Risa ketika Juan fokus menerbangkan pesawat.


" Aku ingin saja melakukannya, tapi semua itu memerlukan waktu yang tepat. " Jawabnya membuat Risa tidak paham.


" Oiya.. Usia mu berapa ?" Tanya Juan melirik Risa sekilas.


" 27 tahun capt." Jawabnya pelan.


Juan terdiam dan terlihat sedang memikirkan sesuatu, Simulator yang mereka coba tiba-tiba mengalami guncangan di mana kalau di dalam pesawat asli di namakan turbulensi. Pada saat seperti ini kepiawaian pilot dalam menerbangkan pesawat sangat di perlukan, ia harus mampu agar pesawat segera terhindar dari turbulensi tersebut. Juan paham betul cara menghindari masalah seperti ini ia bahkan tahu kapan turbulensi akan menghampirinya dan dengan cepat mengembalikan keadaan seperti semula.


Dan guncangan yang sebelumnya terasa sangat kuat beberapa saat kemudian kini kembali normal, Lagi-lagi Juan sukses membuat Risa terkagum-kagum dengan kepandaiannya itu. Ia bahkan sampai memberikan dua jempol kepada pilot tampan itu. Begitu mereka selesai menikmati sensasi terbang dengan simulator tiba saatnya untuk mereka meninggalkan tempat itu.


Sebagai gantinya karena telah membawa Risa pergi, Juan pun mengantar Risa sampai di kost'an nya dengan selamat. Dengan begitu ia juga dapat tahu di mana Risa tinggal. Ketika Risa sudah menuruni mobil Juan ia menyempatkan diri untuk menudukkan kepalanya seraya mengucapkan rasa terima kasihnya karena telah mengajaknya mencoba aircrew sensation dan mengantar nya pulang.


Juan mengangguk pelan kemudian meninggalkan halaman kost'an Risa, Wanita itu hanya dapat melambaikan tangan sampai mobil Juan hilang di balik perumaha. Senyuman manis terukir sangat jelas di wajah Risa kala itu, ia benar-benar senang hari ini dan bergegas memasuki kamar kost'an nya.


**


Keesokan harinya Risa bangun dengan sangat ceria, tidak biasanya ia terbangun dengan suasana hati seperti ini hingga membuatnya sangat bersemangat untuk menghabiskan waktu liburnya dengan mengajak Maya jalan-jalan. Setelah mengirimkan pesan kepada Maya, ia pun bangkit dari tempat tidurnya dan membersihkan tempat itu dengan cekatan setelah itu beralih menuju kamar mandi.


Selesai, Risa telah siap untuk jalan-jalan bersama Maya hari ini dan setelah semua beres Risa meraih tasnya dan bergegas menuju pintu keluar. Tubuh Risa mendadak kaku ketika ia berdiri di ambang pintu dan mendapati seorang pria yang membuat waktu seakan berhenti. Kedua mata mereka saling menatap satu sama lain hingga suara yang terdengar berat baru saja menyapanya membuat waktu kembali berjalan, Risa mengalihkan pandangannya pada pria itu sambil mengunci pintu kosnya, Ia ingin secepatnya menjauh dari dari pria itu namun Dimas menahan langkah Risa ketika ia hendak menghindar.


" Kita harus bicara. " Ucap Dimas lirih namun Risa tak mau menoleh kearah nya.


" kenapa kemarin kamu tidak datang.? " Lanjut Dimas yang entah mengapa membuat darah di tubuh Risa mendadak mendidih hingga sampai ke ujung kepalanya.


" Apa dengan aku datang bisa merubah semuanya? Tidak kan? " Balas Risa yang menoleh ke arah Dimas dengan tatapan tajam.


" Ada. Dengan kedatangan mu aku bisa membatalkan pernikahan itu tapi karena kau tidak datang aku tidak bisa melakukan apapun selain menjalaninya dengan pasrah. "


" Sudahlah kak, jangan menemui ku lagi, Kamu sudah punya istri dan biarkan aku hidup dengan tenang. "


" Kalau kamu masih terusik dengan kehadiranku itu artinya kamu masih mencintai ku kan?. "


Hening seketika, Risa tidak bisa menjawab ucapan Dimas barusan dan memilih untuk meninggalkan pria itu. Saat Dimas hendak mengejarnya Risa berbalik dan mengancam akan berteriak kepada semua orang kalau saat ini dirinya sedang di ganggu oleh orang jahat, alhasil Dimas hanya dapat terdiam di tempat menyaksikan Risa pergi dengan cepat.