My Handsome Pilot

My Handsome Pilot
Sang Pahlawan



" Semuanya, Pegangan yang kuat dan berdo'alah demi keselamatan masing-masing. " Ucap Juan pada mic interkom yang dapat di dengar oleh semua para penumpang.


" Once again, hold on and keep praying for safety. " Gumam Juan sekali lagi.


Semua kru pesawat memastikan semua penumpang dalam keadaan aman jika pesawat mendarat nanti, setelah semua di pastikan aman dari kabin depan hingga belakang Karin pun melaporkan semuanya pada Juan dan di terimanya dengan cepat.


Dalam hitungan 3 2 1 pesawat mendarat di lautan Samudera atlantik sehingga mengakibatkan


Guncangan yang lebih hebat dari sebelumnya, hal itu tentu berhasil membuat semua orang berteriak histeris namun tetap berpegangan dengan erat sembari berdoa atas keselamatan mereka.


Pesawat berhenti setelah meluncur cukup lama dan saat itu Juan dengan cepat meminta kepada semua orang untuk keluar meninggalkan pesawat sebab kobaran api pada sayap kanan pesawat kini sudah semakin besar, namun karena Juan berhasil mendarat di air besar kemungkinan api akan segera padam.


Bala bantuan pun datang dengan cepat tanpa tak terduga, semua penumpang di arahkan untuk meninggalkan kabin. Di luar kini sudah ada beberapa kapal yang akan menampung para penumpang, namun sayang Kepanikan semakin menjadi-jadi di dalam kabin di mana semua orang ingin keluar lebih dulu hingga terjadinya desak-desakan yang menghambat proses evakuasi.


" Please keep calm!!! " Teriak Karin namun tak ada yang menggubrisnya, semua orang sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing bahkan tanpa sadar sudah melukai orang-orang yang tidak bersalah.


Di samping kekacauan yang terjadi ada Risa dan Maya yang masih berada di kabin belakang, Maya mencoba menyadarkan Risa dengan menepuk-nepuk wajahnya sembari melihat ke sekeliling tempat berharap menemukan seseorang untuk dapat membantu nya menyelematkan Risa. staff mesin bahan bakar pun sudah pergi melalui pintu darurat dan menyisakan kedua wanita itu, Maya mulai menangis dan terus menyadarkan Risa hingga akhirnya Risa mulai membuka kedua matanya, Maya senang bisa melihat Risa sadar dan langsung memberikan pelampung untuk Risa kenakan.


" Kau bisa berjalan kan, kita harus segera keluar dari sini. " Ajak Maya dan perlahan di balas anggukan pelan dari Risa.


Keduanya mulai berjalan meski Risa berjalan dengan pelan karena kakinya yang terluka, tapi tidak menutup kemungkinan bagi Maya untuk menyamakan langkahnya. Penumpang di kabin ekonomi nampaknya sudah kosong dan pintu darurat sebentar lagi akan mereka temukan, suara aneh tiba-tiba terdengar membuat keduanya terdiam sejenak dan memperhatikan sekitar tempat yang di rasa mulai aneh.


Kobaran api tiba-tiba muncul dari panel jendela sayap kanan dan Risa dengan sengaja mendorong Maya ke depan untuk bisa pergi, Melihat hal itu tentu Maya tidak terima dan terus meneriakkan nama Risa. Pesawat bagian belakang mengalami keretakan cukup parah hingga membuat belahan pesawat semakin rusak, Risa meminta Maya untuk pergi memanggil bantuan selama ia masih bisa bertahan.


" Kau tunggu di situ, jangan kemana-mana. " Seru Maya dan segera berlari ke kabin depan.


Setelah Maya pergi, beberapa saat kemudian mesin bagian belakang tiba-tiba meledak entah bagaimana bisa terjadi sehingga membuat Risa terkejut, ia pun mulai panik sebab api semakin membesar belum lagi di kabin belakang yang juga ikut terbakar akibat mesin yang meledak barusan.


" Tolong aku... Siapapun kumohon tolong aku. " Teriak Risa sambil menangis sejadi-jadinya.


Di lain tempat, Maya yang telah berhasil menemui tim sar meminta bantuan kepada mereka untuk mengevakuasi satu korban lagi di kabin belakang, dan mereka pun dengan cepat mengikuti instruksi Maya dan segera ke belakang untuk menyelamatkan Risa. Maya hanya dapat menatap kepergian mereka dengan penuh harap kalau Risa dapat segera di selamatkan.


" Maya, di mana Risa? Apa dia sudah keluar dari pesawat.? " Tanya Juan yang tiba-tiba muncul dari dalam kokpit.


" Dia masih ada di belakang, Dia terluka cukup parah dan.. " belum sempat Maya menjelaskannya Juan dengan cepat berlari ke kabin belakang menyusul para tim sar.


Saat Maya ingin ikut mengejar seseorang menarik lengannya dan menyuruhnya untuk segera naik ke kapal, Maya tak bisa berbuat apa-apa dan hanya dapat mengikuti ajakan para tim sar itu. Selebihnya ia hanya berharap kepada mereka yang saat ini pergi menyelamatkan Risa.


**


Semua penumpang berhasil di evakuasi dan tercatat tidak ada korban jiwa berkat tindakan Juan yang cepat dan akurat, meskipun demikian banyak yang menderita cidera ringan hingga terluka cukup parah. Salah satunya yang mengalami luka berat adalah Risa yang saat ini berada di dalam ICU untuk mendapatkan perawatan lebih baik.


Kapten Zain dan Alex yang sebelumnya tiba-tiba sakit di ketahui karena telah mengkonsumsi sesuatu yang membuat tubuh mereka tiba-tiba bereaksi, karena terdapat racun yang di ketahui menyerang pernafasan mereka. Dan hal itu di duga karena sebelumnya Kapten Zain dan Alex sudah meminum teh yang di sajikan pihak hotel sebelum mereka berangkat, yang di mana teh itu mengandung zat berbahaya, untungnya Juan dan Marco tidak meminumnya dan jika saja itu sampai terjadi maka nasib para penumpang mungkin tidak akan seperti sekarang.


Saat ini seseorang tengah berdiri di depan pintu ruang ICU dengan perasaan bersalah setelah tidak bisa menyelamatkan sala satu kru nya yang saat ini berada di dalam ruangan itu, ia sudah menunduk tak berdaya selama kurang lebih dua puluh menit dengan di dampingi seorang wanita yang juga merasa bersalah karena tidak bisa menolongnya dan membiarkan dirinya pergi tanpa kembali lagi.


Risa telah menyelamatkan Maya dengan mendorongnya menjauh dari tempat bahaya, namun yang terkena bahaya saat ini sedang melawan maut di dalam sana. dokter mengatakan bahwa luka yang di dapat oleh Risa cukup parah dan kondisinya pun belum stabil sehingga untuk saat ini belum ada yang boleh menengoknya.


" Risa akan baik-baik saja kan Capt, dia tidak akan mengalami cacat sampai membuatnya berhenti menjadi pramugari kan.? " Ucap Maya tiba-tiba.


" Dia pasti akan baik-baik saja, dia tidak mungkin menyerah, impiannya untuk menjadi seorang pusher masih berlanjut.. Percayalah pada tuhan, dia pasti akan menyembuhkan Risa dengan cepat. " balas Juan mencoba menenangkan hati Maya.


Akibat kecelakaan ini pihak penerbangan Indonesia akan mengirimkan pesawat lain untuk menjemput para kru serta warga sipil yang ingin kembali ke tanah air, Namun sebelum itu mereka di minta untuk mengembalikan kondisi tubuh mereka hingga jemputan datang. Adapun masalah yang di dapat karena kecelakaan ini akan di bahas setelah mereka kembali dengan bukti black box yang akan mengungkapkan kejadian sebenarnya atas kecelakaan ini jika semua itu sudah terkuak barulah pihak perusahaan akan kembali bertindak.


**


Sudah satu hari berlalu dan belum ada tanda-tanda Risa siuman, Semua kru mulai cemas dengan kondisinya yang belum membaik sama sekali kabarnya pesawat jemputan akan datang hari ini. dokter memperbolehkan Risa di bawa pulang dan melanjutkan perawatan di Indonesia apabila ia sudah siuman, dan karena ia belum siuman besar kemungkinan dirinya akan tetap di rawat untuk sementara waktu.


Harus ada seseorang yang tinggal menemaninya dan Juan pun mulai mengajukan diri saat Kapten Zain mengumpulkan semua kru untuk membahas masalah ini. Namun sayang Juan tidak dapat tinggal sebab dirinya akan melakukan pemeriksaan setelah tiba di Indonesia.


Maya pun langsung mengajukan diri untuk tinggal bersama Risa dan keputusannya langsung di terima oleh Kapten Zain saat itu juga. Setelah semua beres Kapten Zain meminta semua kru untuk bersiap-siap ke bandara sebab dalam dua jam lagi pesawat bantuan dari Indonesia akan segera tiba, sebelum benar-benar meninggalkan rumah sakit Juan ingin melihat Risa meskipun hanya dapat melihatnya melalui jendela kaca. Di sana ia berdiri menatap seorang wanita yang terbaring lemah dengan berbagai macam alat rumah sakit yang menempel di tubuhnya tatapannya yang sendu namun tulus membuat Maya yang berada di sebelahnya segera mengingatkannya untuk segera pergi.


" Beritahu aku kalau dia sudah siuman. " ucap Juan sebelum benar-benar pergi.


" Apa kau sangat menyukai Risa capt. ?" Sahut Maya membuat langkah Juan terhenti, ia pun berbalik dan mendapati Maya yang saat ini menatapnya dengan sayu.


Juan menundukkan kepala memikirkan sesuatu kemudian kembali menatap Maya sembari menganggukkan kepalanya.


" Aku pergi dulu.. " Gumam Juan berlalu meninggalkannya.


Maya kembali menoleh ke arah jendela kamar memohon agar tuhan segera memberikan kesembuhan kepada Risa atau paling tidak ia bisa siuman secepatnya.


**


Sudah pukul dua siang dan semua kru telah kembali ke Indonesia, sementara Maya masih Setia menemani Risa meskipun ia hanya menunggunya di luar ruangan ICU. Maya terlihat kelelahan saat kepalanya terkantuk-kantuk hampir terjatuh hingga ia tersentak ketika melihat seseorang yang berdiri di depan ruang ICU di mana Maya langsung terkejut dengan membelalakkan kedua matanya.


" Pak Dimas. " gumamnya membuat pria itu menoleh heran.


" Kau yang bernama Maya.? " Tanya Dimas dan di balas anggukan mantap dari Maya.


" Apa yang anda lakukan di sini, aku tidak sedang bermimpi kan. " Maya mencoba menepuk-nepuk wajahnya untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sedang bermimpi saat ini.


" Kau tidak sedang bermimpi, aku datang setelah mendengar berita kecelakaan itu, dan aku ingin melihat keadaan Risa langsung. " Balasnya kembali melirik ke dalam ruangan.


" Risa belum siuman sejak kemarin, dokter bilang kondisinya cukup buruk namun tidak menutup kemungkinan untuk Risa segera siuman. " Lontar Maya lagi.


" Kau sepertinya lelah, pergilah cari hotel untuk beristirahat soal biaya biar aku yang menanggungnya. " Dimas memberikan kartu atm black cardnya pada Maya dan tak lupa memberikan pinnya.


" Tapi pak saya di minta untuk menemani Risa. "


" Kau bisa datang lagi setelah beristirahat, serahkan urusan di sini kepadaku dan pergilah. " potong Dimas sukses membuat Maya tak bisa berkata-kata lagi.


Maya menerima kartu itu dan segera pergi, langkahnya terus terhenti sambil menoleh melirik Dimas yang masih Setia berdiri di depan ruangan itu sambil menatap lurus ke dalam. Maya sudah tahu banyak soal hubungan Risa dan Dimas yang di mana terus terjadi konflik setiap mereka bertemu, Maya bahkan tidak tahu apakah ini cara terbaik untuk pergi namun melihat Dimas yang ngotot untuk menjaga Risa membuat Maya tidak bisa berkata-kata lagi.


**


Hamparan langit biru dengan gumpalan awan yang terlihat lembut membuat seorang wanita yang baru saja membuka matanya langsung berdecak kagum, tempat yang sangat Indah namun sulit untuk di terima nalar bagaimana mungkin seorang manusia bisa berjalan di langit biru layaknya berjalan di atas sebuah tanah. Melihat tempat yang tak ada siapa-siapa sejenak membuatnya bertanya-tanya hingga akhirnya Ia berjalan menelusuri setapak yang terbuat dari gumpalan awan itu.


Baru saja ia berjalan beberapa langkah tiba-tiba saja langit yang di lihatnya mendadak runtuh membuatnya terjatuh hingga berteriak meminta tolong, Ia tahu yang di rasakan nya hanya mimpi namun terasa begitu nyata bahkan ketika dirinya terjatuh. Risa kembali terjatuh pada sebuah taman yang menyajikan danau yang sangat besar ia bangkit dan melihat dirinya tidak mendapatkan luka apapun hingga akhirnya ia melangkah mendekati tepi danau untuk bercermin pada pantulan air.


Bayangan danau mendadak berubah menjadi mimpi buruk, cuplikan kejadian kecelakaan pesawat tergambar jelas di sana membuat Risa merinding ketakutan. Tiba-tiba saja ia merasa mulai sesak dan sulit bernafas, Risa pun terjatuh dan sambil menyentuh dadanya yang berat hingga seseorang terdengar memanggil namanya beberapa kali. Semua tampak gelap saat itu juga hingga beberapa saat kemudian ketika ia membuka mata, beberapa orang tengah mengelilingi nya lengkap dengan seragam berwarna hijau layaknya seperti berada di ruang operasi.


" Di mana aku.? " Ucapnya pelan.


" Are you oke, do you hear me??? " Suara orang-orang yang menggunakan bahasa inggris membuat Risa tidak bisa mencernanya dengan baik, namun ada satu suara yang di dengarnya tidak asing.


Risa mencoba mengedarkan pandangannya ke arah lain dan mendapati seorang pria yang berdiri tepat di dekat pintu keluar, pria itu juga memakai seragam yang sama dan saat ini tengah memperhatikannya sembari menyebutkan namanya beberapa kali.


" Dimas.." Gumamnya terdengar sangat lemah.


Dokter segera bertindak saat itu juga meskipun Risa masih sulit di ajak berkomunikasi, akan tetapi dengan siuman nya saat ini membuat para dokter dapat merasa lega. Dimas yang awalnya di perbolehkan masuk untuk menarik kesadaran Risa setelah sebelumnya mengalami kejang-kejang kini di minta untuk kembali keluar, dokter berkata jika Risa sudah dapat di ajak berkomunikasi maka ia sudah boleh di pindahkan ke ruangan lain untuk itu Dimas dapat menerima saat dirinya di minta untuk keluar.


**


Wanita itu berlari dengan tergesa-gesa setelah mendapat kabar bahwa Risa telah siuman dan telah di pindahkan ke ruangan lain, langkahnya terhenti setelah tiba di kamar dengan nomor 200 di mana ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Manik matanya menangkap sosok Risa yang terbaring dengan mata yang terbuka di mana ia juga sedang menatap Maya yang baru saja datang. Maya menghampiri Risa dengan mata yang berkaca-kaca dan mulai menyentuh tangan Risa sembari mengucapkan kata maaf yang membuat Risa heran mendengarnya.


" kenapa kau minta maaf padaku. " Tanya Risa parau.


" Aku hanya ingin minta maaf padamu, soal hubungan kita yang sebelumnya kurang baik dan saat kau menyelamatkan ku dan aku pergi tanpa kembali lagi. " Balas Maya tertunduk lemah.


" Aku justru senang karena kecelakaan ini kau akhirnya mau bicara denganku lagi. "


" Risaaaa... Jangan membuatku semakin bersedih. " isak Maya yang sudah tak dapat membendung tangisnya lagi.


Setelah mereka selesai saling maaf memaafkan pintu tiba-tiba terkuak dan memunculkan sosok Dimas dengan keranjang buah-buahan di tangannya, Ia langsung masuk kemudian meletakkan keranjang itu di atas meja.


Maya melihat respon Risa yang tidak suka dengan kehadiran Dimas saat itu, sehingga ia pun meminta waktu bicara dengan Dimas di luar. Pria itu menurut dan langsung mengikuti Maya keluar, Risa yang melihatnya ikut penasaran namun sayangnya ia hanya dapat bersabar, Risa tahu apa yang akan Maya katakan pada Dimas meskipun Maya tidak memberitahu nya.


Di luar, Maya dan Dimas kini sudah saling ber hadapan satu sama lain, tatapan Maya tajam ke arah pria itu meskipun ia memiliki jabatan yang cukup tinggi di perusahaan penerbangan. Jabatan serta statusnya seorang anak pemilik perusahaan tampak tak membuat Maya takut berhadapan dengannya.


" Saya penasaran dengan anda, bagaimana bisa anda datang kepada Risa setelah anda sudah berstatus suami orang, apa anda tahu ini sangat memberatkan Risa.? "


" Aku mencintai Risa dan hanya ingin terus bersama nya, itu alasan yang kuat bukan.? " balas Dimas.


Setelah mendengar pengakuan Dimas, Maya terlihat tersenyum sinis menatap Dimas saat ini.


" Cinta.. Atau obsesi yang anda maksud pak.? " Ucap Maya ketus.


" Maksud mu apa? " Tanya Dimas tak paham.


" Karena Cinta dan obsesi tidak jauh berbeda jika di lihat dari segi perasaan, Cinta adalah perasaan ingin terus memberi sedangkan obsesi adalah perasaan ingin memiliki, dan saat ini bukannya kau sedang ter obsesi dengan Risa, pak? " lanjut Maya terdengar sudah tak bersahabat lagi.


" Apa urusanmu dengan perasaanku pada Risa, dia bahkan belum memiliki pengganti ku karena masih memiliki perasaan yang sama, kalau kau tidak tahu apa-apa sebaiknya berhenti mendikte seseorang. "


" Urusan nya adalah karena saat ini Risa sedang berpacaran dengan kapten kami yang bernama Juan Diaz, kau baru saja mengganggunya dengan keberadaan mu di sini, Risa bukan merasa nyaman tetapi risih tau nggak.? "


" Maafkan aku capt, aku terpaksa berbohong. " Batin Maya.


" Sejak kapan mereka pacaran? " Tanya Dimas terlihat terganggu dengan pernyataan bohong Maya barusan.


" Sejak sebulan yang lalu, lebih tepatnya mereka dekat setelah hari pernikahanmu di langsung kan. "


Dimas terlihat bungkam, ia nampak frustasi dan mencoba menolak apa yang di katakan oleh Maya namun wanita itu tetap menyerang Dimas agar berhenti mendekati Risa hanya untuk memenuhi obsesinya itu.


" Aku tidak percaya, sebelum Risa menjelaskannya kepadaku. " Dimas beralih memasuki kamar Risa di ikuti oleh Maya yang mulai panik.


" Apa benar kau dan kapten itu sedang berpacaran.? " Tanya Juan membuat Risa melongo heran dan Maya yang dengan cepat memberikan kode kepada Risa untuk menanggapi pertanyaan Dimas itu.


" Be.. Benar, aku dan Kapten Juan sedang berpacaran, memangnya kenapa? Kamu sendiri kan sudah punya istri kenapa menanyakan hal ini seakan-akan hanya kamu saja yang boleh punya pasangan? " Balas Risa ketus.


" Aku tidak menyangka kau akan seperti ini padaku, bukannya aku sudah bilang untuk menungguku bercerai tapi kenapa kamu sudah menjalin hubungan dengan pria lain.? " Gumam Dimas merasa tak terima.


" Kak, sudahlah berhenti bersikap seperti ini.., kita sudah punya kehidupan masing-masing tolong jangan membuatku merasa menderita seperti ini. " Pinta Risa dengan sangat.


" Pak Dimas, sebaiknya anda tidak membuat keributan yang dapat memperburuk kondisi Risa, alangkah lebih baiknya lagi kalau anda membiarkan nya untuk beristirahat. " Sahut Maya, beberapa saat kemudian Dimas berbalik badan dan meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang di relung kesedihan.


Setelah Dimas benar-benar pergi, Maya segera menghampiri Risa dan menjelaskan alasannya berkata bahwa ia dan Juan sedang berpacaran. Awalnya Risa merasa kesal sebab hal itu tentu tidak benar dan ia takut kalau Juan sampai mendengar hal ini namun di samping itu ia merasa bersyukur karena berpura-pura pacaran dengan Juan dapat membuat Dimas perlahan menyerah dengan obsesinya itu.


**


Para petinggi perusahaan penerbangan telah mengadakan rapat besar-besaran yang menyangkut soal kecelakaan Garuda Indonesia Boeing 747-800NG penerbangan Australia menuju San Diego yang terjadi dua hari yang lalu, pihak kepolisian telah menemukan bukti nyata yang di mana kecelakaan tidak di lakukan atas kesalahan dari para pilot. Bahkan karena pertolongan Juan yang tiba-tiba meskipun dia adalah seorang co-pilot membuat namanya semakin di kenal dan di banggakan oleh perusahaan penerbangan.


Juan bahkan ingin di berikan promosi kenaikan pangkat oleh para petinggi, namun ia masih menolak untuk menerimanya dalam waktu dekat. akan tetapi jika ia berubah pikirkan dan ingin mendapatkan gelar tersebut maka dirinya boleh datang kepada pimpinan untuk membahasnya lebih lanjut, Untungnya kasus ini tidak membuat para penumpang ada yang meninggal sehingga Juan selaku pilot yang menerbangkannya tidak di beri sanksi apapun. Sebaliknya Alex dan Kapten Zain di beri sanksi karena tidak memperhatikan kesehatannya sebelum terbang, Kapten Zain di beri kemudahan atas sanksi nya karena ia sudah sangat berumur namun tidak untuk Alex.


Setelah rapat selesai, semua orang dapat meninggalkan ruangan rapat sesegera mungkin dan ketika Juan dan Alex hampir meninggalkan ruangan. pria itu tak sengaja mendengar percakapan direktur utama dengan salah seorang sekretaris nya di mana ia menanyakan keberadaan Dimas saat ini, mendengar hal itu tentu membuat Juan mulai kepikiran kemana orang seperti Dimas di saat ada masalah yang menimpa perusahaan.


" Apa yang kau tunggu, ayo pulang. " ajak Alex dan segera di ikuti oleh langkah kaki Juan.


Juan kembali menghentikan langkahnya begitu menyadari sesuatu yang di mana sejak kemarin membuatnya gelisah, sampai saat ini Juan masih menunggu kabar dari Maya atas kondisi Risa.


" Kenapa kau berhenti lagi sih ?" Tanya Alex lagi-lagi melirik Juan kesal.


" Apa Maya sudah memberitahu mu soal kondisi Risa.? " Lontar Juan.


" Oh itu, iya tadi malam dia menelpon lewat ponsel seseorang dan memberitahuku kalau Risa sudah siuman, dalam waktu dekat katanya dia akan kembali tapi.. " Alex menggantung ucapannya dan mulai menatap Juan dengan cemas.


" Tapi apa.? " Tanya Juan penasaran.


" Katanya Risa trauma naik pesawat, dia meminta untuk naik kapal laut dan mungkin akan memakan waktu seminggu lebih untuknya bisa kembali ke Indonesia. " Jawab Alex kemudian.


" Risa trauma naik pesawat? tapi bagaimana mungkin.. Apa jadinya nanti jika dia sehat, apa dia tidak ingin menjadi seorang pramugari lagi.? "


" Hey tenang bro, soal itu kita serahkan saja pada Risa yang terpenting saat ini dia dalam keadaan baik-baik saja. Dan satu lagi di sana ada Dimas yang sengaja datang untuk menemaninya. " Lanjut Alex sukses membuat kedua mata Juan membelalak sempurna.