My Handsome Pilot

My Handsome Pilot
Dimas Si Problematic



Mereka tiba di bandara dua jam sebelum keberangkatan, Saat Juan menitip mobilnya kembali ia pun tak lupa memberikan uang sebagai bayaran untuk orang yang menjaga mobilnya tersebut. Sejak tadi Risa ingin menahan Juan dan menanyakan sesuatu, namun Juan terlihat sangat sibuk dengan terus memainkan ponselnya.


Jika sudah memakai kostum pilot Juan benar-benar terlihat berbeda aura seriusnya muncul dan dia terlihat sangat gagah, kini mereka telah memasuki bandara dan telah melapor untuk segera bergabung dengan kru yang lain. namun sebelum tiba di sana Risa meminta Juan untuk berjalan secara terpisah agar kru lain tidak ada yang mencurigai mereka.


Keduanya berpisah di Lounge bandara di mana Juan memilih untuk pergi duluan sementara Risa akan menyusul sepuluh menit setelahnya, sambil menunggu sepuluh menit berikutnya Risa mencoba untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia di lounge sambil mengecek ponselnya. Dia menemukan beberapa panggilan tak terjawab dan pesan masuk yang datang dari Dimas, Karena penasaran Risa pun mencoba untuk membuka isi pesan dari Dimas.


" Aku menunggumu besok pagi di bandara, banyak hal yang harus kita bicarakan. " Tulis Dimas pada pesan tersebut, Risa menutup kembali layar ponselnya dan mulai merasa tertekan. Bagaimana cara ia menghindari Dimas nanti, pria itu memiliki kuasa penuh atas penerbangan sulit baginya untuk menghindar bahkan sekali lagi ia menjauhi Dimas maka jabatannya sebagai pramugari tetap bisa jadi akan di hilangkan.


Tanpa terasa sudah sepuluh menit berlalu dan tiba saatnya bagi Risa segera menuju pesawat, Di jalan menuju pesawat ia bertemu dengan Karin dan dua senior pramugarinya yang saat ini tengah menunggu kedatangan nya. Risa tahu hal ini pasti akan terjadi dan mau tidak mau ia harus menghadapi mereka.


" Kau pembohong, Katamu kau tidak akan ikut dengan Juan sekalipun dia memaksamu tapi buktinya mana ? Kau bermalam di rumahnya, iya kan.?" Serang Karin seakan tak bisa menahan emosinya lagi.


" Benar, aku benar menginap di rumah Capt Juan tapi itu tidak seperti yang kamu duga kak, Aku ketiduran saat dia mencoba mengantarku pulang dari swalayan dan tanpa sengaja dia mengajakku ke rumah nya untuk mengambil suku cadang mobil dan.. " belum sempat Risa melanjutkan kalimatnya satu tamparan yang cukup keras berhasil mendarat di wajahnya hingga membuat wanita itu menyentuh pipinya yang terasa sakit.


" Karin apa yang kau lakukan. ?" Sahut seseorang berhasil membuat mereka tercekat kaget.


" Ka.. Kapten. " Ucap Karin terbata-bata ketika melihat kehadiran Kapten Zain, Juan, Alex dan juga Marco saat itu.


" Kenapa kau menampar bawahan mu, apa dia melakukan kesalahan sampai kamu menamparnya seperti itu. ?" Tanya Kapten Zain tegas.


" Ti..tidak capt, ini hanya masalah pribadi." Jawab Karin menunduk pasrah.


" Urusan pribadi jangan di bawa-bawa di tempat kerja, paham ? Aku tidak mau sampai kru pesawat ku terkenal buruk di mata penumpang hanya karena masalah pribadi yang di bawa di tempat kerja. Kalian boleh bubar dan kembali ke tempat masing-masing, kita akan segera berangkat. " Titahnya langsung di ikuti oleh mereka.


Juan merasa tak perlu membela Risa lagi sebab Kapten Zain sudah melakukannya dengan baik, Keempat pilot itu pun segera melangkah memasuki badan pesawat, Alex yang berkesempatan menerbangkan pesawat duluan langsung menarik tangan Juan memasuki badan kokpit.


**


Pesawat terbang dengan baik untuk saat ini di bawah kendali Alex dan Juan, Sejak mereka take off Juan terlihat sangat pendiam dan lebih fokus pada layar navigasi. Melihat hal itu tentu Alex merasa ada yang aneh dan mulai menggodanya.


" Kau mengajak Risa ke rumah mu lagi kan, Apa Nenekmu setuju.? " Tanya Alex melirik Juan.


" Sepertinya begitu. " Jawab Juan akhirnya.


" Tapi kau harus ingat bro, Dia itu mantan ceweknya Direktur pelayanan. Walaupun kau lebih tampan dari dia masa lalu terkadang membuat seseorang sulit untuk menerima Cinta baru. Terlebih lagi Risa dan Dimas masih saling mencintai walaupun keduanya tidak bisa bersama lagi. " Ucap Alex seakan terdengar seperti seorang penggosip yang mengetahui soal Risa dan Dimas.


" Kau tahu dari mana mereka masih saling mencintai.? " Tanya Juan penasaran.


" Kau harus selalu update dengan kru pesawat kita, Maya salah satu teman Risa sering menceritakan hal ini padaku. Risa dan Dimas masih memiliki perasaan satu sama lain bahkan Dimas rela bercerai dengan istrinya asalkan Risa menyetujui nya. " Jelas Alex lagi.


" Kau fokuslah menerbangkan pesawat, Aku tidak ingin mendengarkannya lagi. " Balas Juan seakan kesal dengan ucapan Alex barusan.


Di tempat lain, Risa yang saat ini sedang bertugas melayani penumpang tiba-tiba mendapat perlakuan tidak baik dari salah satu penumpang, Risa yang telah berusaha melayaninya dengan baik nampaknya belum cukup membuat penumpang itu merasa puas. Sudah berapa kali penumpang pria itu meminta minuman serta cemilan kepada Risa namun ia selalu mengomentarinya dan berkata bahwa menunya tidak enak dan sangat sedikit.


" Baiklah kalau begitu saya ambilkan lagi ya pak. " Ucap Risa berusaha untuk sabar.


Ketika Risa berbalik meninggalkan nya ia tiba-tiba berkata sesuatu yang membuat Risa tersinggung, namun apalah daya Risa ia hanya bisa melayani para penumpang sebaik mungkin agar Citra maskapai juga tetap Bagus nantinya.


Kembalinya Risa dari dapur dengan membawa beberapa menu lainnya tetap membuat penumpang itu tidak puas, sampai-sampai pria itu mengambil satu botol jus dan di tumpahkan nya begitu saja. Semua penumpang melihat sinis ke arah pria itu dan Risa hanya dapat meminta maaf jika pelayanan nya tidak memuaskan, baru saja pria itu akan menumpahkan minuman lain Karin datang dengan menahan tangannya dan menatapnya dengan tajam.


" Maaf pak, kalau bapak mau pelayanan yang terbaik dengan menu yang enak dan juga banyak, kenapa bapak memaksakan diri untuk naik di kelas ekonomi? Bapak bisa berada di kelas bisnis atau kelas pertama jika bapak mau mendapatkan pelayanan terbaik. Dan asal bapak tahu saja semua kru di maskapai ini bukanlah pelayan yang seenaknya di suruh ini dan itu, tugas utama kami di sini adalah mengutamakan keselamatan para penumpang dan bukannya untuk kepentingan perut bapak. " Jelas Karin sukses membuat pria itu bungkam seribu bahasa.


Setelah Risa membereskan segala kekacauan yang di buat oleh pria itu ia pun bergegas kembali ke dapur, semua penumpang kembali tenang di tempat nya masing-masing. Karin pun menghampiri Risa dengan wajah dinginnya seakan membuat suasana di kabin itu terasa bagai di kutub Utara.


" Kau ini bagaimana sih Ris, menghadapi satu penumpang seperti itu saja tidak bisa, ini yang kamu maksud mau menjadi pusher ? Jangan sok lembut terus di depan penumpang hanya karena ingin mengambil hati mereka, Sekali-kali kau harus tegas sama mereka, paham.!!! " Lontar Karin dan di balas anggukan cepat oleh Risa.


Setelah Karin kembali ke kabin depan, Risa terlihat hanya dapat menyandar di dinding pesawat dengan memasang wajah sendu. Apa yang di katakan oleh Karin barusan ada benarnya seorang pramugari tidak boleh terlihat lemah di hadapan penumpang yang bersikap kurang sopan seperti itu, bagaimana pun juga Risa mendapat satu pelajaran berharga dari Karin walaupun ia tak bermaksud untuk membangkitkan semangatnya.


**


Akhirnya setelah sebulan bertugas kini Risa dan semua kru pesawat kembali ke tanah air dengan selamat, begitu semua para penumpang meninggalkan pesawat kini tiba bagi semua kru untuk melakukan briefing yang di lakukan langsung di kabin pertama.


Kapten Zain mulai menyampaikan sepatah kata kepada semua kru memuji kecakapan mereka dalam bekerja dan juga memberikan motivasi agar semua kru tetap semangat dalam bertugas, selain itu ia juga menyampaikan kepada mereka bahwa kerja sama tim itu sangat di butuhkan


Dia tak mau kalau salah satu dari kru nya ada yang bermusuhan atau saling membenci satu sama lain hanya karena hal sepele, ucapan yang di lontarkan Kapten Zain terasa menyayat hati Karin yang saat itu merasa tersinggung.


Begitu mereka bubar dan masing-masing kru meninggalkan pesawat, Risa terlihat enggan untuk ikut turun melewati jalur khusus sebab ia tahu kalau saat ini di penghujung pintu masuk ada seseorang yang sedang menunggunya. Menyadari aksi aneh Risa saat hendak turun tentu membuat Juan yang meliriknya sempat bertanya-tanya, namun saat itu Alex dengan cepat menarik lengan Juan untuk segera ke kantor melaporkan laporan selama penerbangan selama sebulan berlangsung.


Ketika Juan dan Alex berhasil melewati pintu utama, keduanya di kejutkan dengan sosok Dimas yang saat itu sedang berbincang dengan Kapten Zain. Kedua pilot muda itu ikut menghampiri mereka dan menyapanya dengan hormat, usia antara Dimas dan Juan Alex tidak beda jauh. Dimas memang lebih muda satu tahun dari Juan dan Alex namun keduanya berada di level pekerjaan yang berbeda.


Juan dan Dimas sempat saling menatap satu sama lain seperti ada percakapan telepati yang baru saja mereka lakukan, Hingga akhirnya Kapten Zain pamit dan bergegas menuju kantor bersama dua rekannya itu. Tatapan Dimas masih sama ketika Juan melewatinya, Melihat seorang direktur pelayanan berada di tempat seperti ini tentu membuat Juan merasa tak heran lagi. Alasan dirinya berada di situ tak lain adalah menunggu Risa keluar namun anehnya sampai saat ini Risa belum juga keluar dan membuat Juan sempat kebingungan.


Setelah Juan dan yang lainnya berjalan cukup jauh menuju kantor yang berada di sayap kanan bandara, Ia tiba-tiba melihat seorang wanita bersama temannya yang sedang berjalan dengan sangat cepat di area landasan pesawat. Juan mengalihkan pandangannya ke arah yang berlawanan di mana pesawat yang sebelumnya ia tumpangi baru saja terparkir di tempatnya di mana Risa dan Maya baru saja turun melalui tangga darurat di saat semua orang tadi melewati jalur pintu khusus.


" Seperti nya yang di katakan Alex tidak sepenuhnya benar. " Batin Juan tersenyum simpul dan kembali mempercepat langkahnya mengejar ketinggalan nya dari Kapten Zain dan juga Alex.


**


Kedua wanita itu berhasil keluar dari bandara dan saat ini sudah berada di dalam sebuah taksi di mana Risa langsung menyuruh supir taksinya melaju dengan cepat menuju rumah kosnya, Wanita di sebelahnya ikut kecapekan karena sejak tadi ditarik dengan paksa setelah meninggalkan pesawat. Risa kembali memeriksa keadaan dari belakang rupanya tidak ada tanda-tanda pengejaran sehingga misi melarikan diri kali ini sukses.


" Bagaimana kalau dia datang lagi menemui mu besok.? " Tanya Maya setelah menyeruput minumannya.


" Apa sebaiknya aku pindah ke asrama denganmu saja. ?" Ucap Risa melirik Maya dengan penuh makna.


" Bukannya dia akan lebih sering menemui mu, asrama kan milik perusahaan Ris, dia pasti akan sering ke sana jika mengetahui kamu pindah ke tempat itu. " Jawab Maya tiba-tiba membuat harapan Risa jatuh.


" Dimas pasti akan sering menemui ku, aku tidak bisa sampai bertemu dengannya aku takut jika bertemu dengannya perasaanku akan kembali dan menyetujui kedinginan nya untuk bercerai. "


" Kalau kau memang masih mencintai nya kau harus menghadapinya segera begitupun sebaliknya, buat keputusan yang matang agar kau tidak menyesal di kemudian hari. "


Risa tidak bisa menjawab panggilan dari Dimas dan memilih untuk mengirimkan sebuah pesan yang berisi ajakan untuk bertemu malam ini, ia sudah memutuskan untuk menjawab pernyataan Dimas selama ini. Setelah mengantar Maya ke asrama tiba giliran Risa untuk pulang ke rumah kosnya, sepanjang perjalanan ia terlihat murung menatap langit yang terlihat mendung seakan mengerti bagaimana perasaanya saat ini.


**


Malam ini Risa telah siap untuk menemui Dimas di tempat yang sebelumnya sudah di janjikan, ia ingin menuntaskan masalah ini secepatnya agar ke depannya ia tidak merasa terbebani lagi. Dia menghampiri lemari pakaian nya dan memilih dress berwarna merah maroon dengan tas bermotif bunga yang di pilihnya untuk menemui Dimas malam ini. Setelah semua beres Risa pun berjalan menuju pintu keluar dan tiba-tiba saja di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang tak terduga.


" Capt.. Apa yang kau lakukan di sini.? " Tanya Risa menatap kehadiran Juan dengan kedua mata yang membulat sempurna.


" Kau mau kemana? " tanya Juan balik begitu melihat Risa dengan tampilan yang rapih.


" Aku.. " Risa menggantung ucapannya dan mulai berpikir untuk tidak memberitahu Juan bahwa dirinya ingin menemui Dimas.


" Pesta ulang tahun teman SMA. " Jawab nya cepat.


" Bukannya kamu SMA di Surabaya? kenapa temanmu mengadakan pesta di sini.? " Seketika itu Risa mendadak mati membeku, ia tak ingat kalau teman-teman nya berada di Kota lain dan bukannya di Jakarta, otaknya kembali bekerja memikirkan alasan yang cocok.


" Aku telat capt, maafkan aku jika kau ingin menemuiku malam ini kau bisa datang lain waktu. " Lontar Risa berjalan dengan cepat meninggalkan Juan.


" Tunggu dulu. " tahan Juan berhasil membuat langkah Risa berhenti dan mulai menoleh ke arahnya.


" Ada apa Capt? " Tanya Risa lirih.


" Apa kau akan menemui seseorang yang penting.? " Tanyanya lirih.


Risa tersadar sejenak memikirkan untuk apa ia menyembunyikan alasannya pergi menemui Dimas dari Juan, toh tidak ada hubungannya dengan Juan kalaupun ia mengetahui yang sebenarnya.


" Aku ada janji dengan Pak Dimas, Capt. " Jawab Risa pelan.


Juan mendesah pelan kemudian menyunggingkan senyum kecil setelah itu melangkah melewati Risa dan bekata.


" Telepon aku jika sudah selesai bertemu dengannya. " ucap Juan seketika membuat Risa menoleh dan menatapnya dengan tatapan kebingungan.


**


Risa tiba di sebuah restauran yang terletak tak jauh dari bandara, ia memasuki tempat itu kemudian mengedarkan pandangannya ke segala penjuru tempat berusaha mencari sosok pria yang di ajaknya bertemu malam ini. Seseorang baru saja melambaikan tangan dari arah jam sebelas membuat Risa berhasil menangkap sosok pria itu, sejenak ia mulai merasa gugup dan berusaha mengatur nafasnya sebelum menghampiri pria tersebut.


Pria itu baru saja bangkit dari kursinya dan mempersilakan Risa untuk duduk di hadapannya, begitu Risa duduk ia pun kembali bereaksi dengan memanggil pramusaji kemudian menyerahkan buku menu kepada Risa membiarkan wanita itu memilih menu apa yang akan di santap nya malam ini.


Risa yang memilki maksud dan tujuan lain hanya memesan minuman begitu pun dengan Dimas, begitu pramusaji pergi Dimas menanyakan kabar Risa dengan tampang cemas. Jujur ini adalah hal terberat bagi Risa berhadapan dengan pria yang masih membekas di hatinya terlebih lagi harus menjawab pertanyaan yang penuh perhatian itu.


" Aku baik-baik saja Kak. " jawab nya lirih.


" Ku dengar-dengar selama sebulan kemarin kau mendapat banyak masalah, terutama insiden penculikan waktu itu, ketika mendengarnya aku merasa sangat khawatir bahkan aku ingin terbang ke sana dan menolong mu, syukurlah mereka cepat menemukan mu waktu itu. "


" Kak Dimas. " Gumam Risa mencoba memberanikan diri menatap manik mata lawan bicaranya.


" Ada apa Ris.? " Tanyanya penasaran.


" Kedatangan ku ke sini bukan untuk hal ini, Tapi ada hal lain yang harus kita bahas. " Lanjut Risa terdengar mulai serius.


" Oke, aku akan serius kali ini. " Balas Dimas sambil melipat kedua tangannya di atas meja.


" Soal pesan-pesan yang selama ini kau kirimkan padaku soal perceraian itu kumohon jangan kau lakukan, aku tidak ingin mengganggu hubungan orang yang sudah menikah, Jadi ku minta sekali lagi untuk berhenti menghubungiku. " Ungkap Risa dengan berat hati.


" Tapi aku tidak menyukai istriku yang sekarang Ris, aku terus memikirkan mu setiap saat dan terkadang merasa menyesal karena tidak menyatakan cintaku terlebih dulu padamu. seandainya waktu itu kau mau meninggalkan pekerjaanmu mungkin kita sudah menikah saat ini. " Ujar Dimas tak mengira akan mendatangkan emosi Risa saat itu.


" Kau tidak mengerti sama sekali meskipun aku mengatakannya berulang kali. " Risa bangkit dari kursinya dan hendak pergi namun Dimas dengan cepat menarik lengannya untuk tetap tinggal.


" Tolong jangan seperti ini Risa, Kau pasti masih mencintaiku kan, Ayolah kita perbaiki hubungan ini sama-sama. " Ucap Dimas dengan sangat.


Risa melepas pegangan Dimas dan menatapnya tajam. " Tadinya aku masih memiliki perasaan yang sama, tapi sayangnya sekarang sudah tidak, Aku membutuhkan seorang pria yang bisa membantuku menggapai impianku bukannya menjatuhkan impianku. " Lanjutnya dengan menekankan setiap kata-kata nya, setelah itu Risa berlalu pergi meninggalkan Dimas yang terdiam membisu di tempatnya hingga seorang pramusaji datang dengan membawa dua minuman pesanan mereka tampak kebingungan saat melihat situasi yang tidak biasa tadi.


**


Malam terasa dingin saat itu dan Risa masih berjalan seorang diri di pinggir jalan sambil memeluk lengannya untuk menghilangkan rasa dingin yang menyerang tubuhnya, entah mengapa setelah berpisah dengan Dimas ia merasa sedikit puas padahal jauh sebelumnya ia merasa sangat berat untuk mengatakan hal itu. Jalanan yang di lewati oleh Risa saat itu terlihat sangat sepi sehingga membuatnya tersadar sudah membawanya pada sebuah tempat yang asing dan penuh dengan para lelaki yang terlihat di pojok lorong tengah bermain kartu dengan di temani beberapa botol minuman keras di sebelah mereka.


Perlahan namun pasti Risa mencoba untuk mundur dengan sangat hati-hati agar tidak ketahuan oleh mereka, Risa tahu kalau sekumpulan orang-orang itu bukanlah orang baik terlebih lagi jika mereka melihat seorang wanita tentu akan menjadi bahan godaan oleh mereka. Ketika Risa berbalik tak sengaja ia menendang kaleng minuman sehingga membuat mereka menoleh ke arahnya, Risa sempat berbalik melihat mereka di mana saat itu pandangan tertuju kepadanya membuat Risa ketakutan dan mencoba untuk kabur dari mereka.


Risa berlari dengan cepat tanpa menoleh ke belakang hingga ia tak sengaja menabrak seseorang yang membuatnya terjatuh dan langsung meringis kesakitan, Risa mencoba melihat wajah seseorang yang menabrak nya namun terhalang oleh silaunya lampu jalanan. Pria itu merunduk agar dapat melihat keadaan Risa dan tanpa di duga-duga pria yang menabrak Risa tadi adalah Juan. Kenapa setiap saat ia merasa ada masalah yang menghampiri Juan selalu datang bagaikan seorang pahlawan super yang mengetahui ada seorang wanita yang tengah memerlukan bantuan.


" Kita harus pergi, di sana ada pria jahat. " Risa yang kembali tersadar langsung menarik lengan Juan hendak pergi namun Juan terlihat menahan langkahnya dan membuat Risa menoleh keheranan.


" Di tempat ini tidak ada orang jahat kau jangan khawatir. " Ucap Juan lirih.


" Tapi aku melihat mereka di pojokan lorong dengan wajah yang menakutkan. " Tunjuk Risa ke arah tempatnya melarikan diri tadi.


" Mana, apa mereka mengejar mu sampai di sini, tidak kan.?"


Sejenak Risa baru sadar kalau ternyata mereka tidak mengejarnya sehingga membuat Risa tampak seperti orang bodoh di depan Juan saat ini, namun yang membuat Risa penasaran saat ini bagaimana Juan bisa tahu kalau orang-orang di sini tidak jahat.


" Bagaimana kau tahu kalau orang-orang di sini tidak jahat.? " Tanya Risa penasaran.


" Itu karena dulu kompleks ini merupakan tempat tinggal orang tuaku," Jawabnya seakan membuat Risa Deja vu, sebelumnya ia tak sengaja bertemu dengan Juan di taman dan berkata bahwa rumahnya tak jauh dari taman itu dan sekarang dengan kalimat berbeda namun nada yang sama, entah ini sebuah kebetulan atau hanya ketidaksengajaan yang di sebut takdir.


" Kau sudah menemuinya.? " Tanya Juan membuat Risa menatapnya sayu, dan sejurus kemudian ia mengangguk pelan.