
Maaf ya kalau updatenya telat, Soalnya author lagi di landa kemalasan untuk menulis, dan sorry kalau hari ini cuma ada satu chapter, Tapi besok author bakal up lebih Insyallah 👋👌
Sebelum lanjut baca jangan lupa di like 👍
Selamat membaca guys
.
.
Tok.. Tok.. Tok..
Wanita itu terbangun dari tempat tidurnya begitu ia mendengar suara ketukan pintu dari luar, sebenarnya Risa tidak sedang tidur ia hanya merebahkan tubuhnya yang terasa penat setelah seharian ini mencari sosok Juan. Pintu telah terbuka dan Risa langsung dapat melihat sosok Sabrina yang saat ini memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Ada apa? Kenapa malam-malam datang ke sini.? " Tanya Risa penasaran
" Ada sesuatu yang ingin ku beritahu, ini menyangkut soal Kapten Juan. " Lontar Sabrina seketika membuat Risa terbelalak
Risa mengajak Sabrina untuk masuk dan membicarakannya secara santai di dalam, Saat wanita itu sudah masuk ia segera menyuguhkan segelas air untuk Sabrina sebelum memulai pembicaraannya. Sabrina pun meraih gelas tersebut dan meneguknya perlahan, setelah itu wajahnya kembali serius membuat Risa yang melihatnya sangat penasaran saat ini.
" Aku mendapat kabar dari temanku yang kebetulan berada di maskapai penerbangan luar negeri, dia bilang padaku kalau salah satu penumpangnya adalah Kapten Juan, Dan kebetulan teman ku itu akan terbang ke Brazil tepat pada hari di mana kita tiba dan Sepertinya Kapten Juan pergi ke Brazil sendirian. " Jelas Sabrina
" Ke Brazil? Sendirian? Tapi kenapa, dia bahkan tidak memberitahuku alasannya, Kenapa dia tiba-tiba seperti ini padaku... " Risa sudah tidak dapat melanjutkan kata-katanya akibat sakit yang sejak kemarin di bendung nya, Sabrina menyentuh pundak Risa berusaha untuk menenangkan pikirannya yang sudah terlanjur kacau.
" Aku sudah melaporkan hal ini pada polisi, dan ternyata dia pergi ke Brazil tanpa bilang apa-apa. "
" Sebenarnya ada satu lagi yang ingin ku sampaikan. " Lanjut Sabrina lagi
" Apa.? "
" Kapten Juan telah resign dari perusahaan, Dia telah memutuskan kontrak dari maskapai kita dan maskapai sebelumnya. "
Kedua mata Risa seakan membelalak kaget, Ia menatap Sabrina dengan wajah terkejutnya, sekarang untuk menangis pun tak dapat ia lakukan, Jika benar Juan hanya datang untuk mempermainkan nya kenapa semua ini harus di lalui dengan penuh suka cita, Kenapa Juan tidak mengakhirinya sejak awal dari pada harus melarikan diri seperti ini.
" Kita tidak tahu pasti alasannya mengundurkan diri secara tiba-tiba, mungkin dia memiliki alasan tersendiri, Apa sebaiknya kau menemuinya di sana? Bukannya kalian akan membahas pernikahan kalian, Ku rasa inilah saatnya untuk pergi. " Lontar Sabrina namun tak di gubris oleh Risa saat itu, ia hanya menunduk sedih dengan mata yang berkaca-kaca
Setelah melihat Risa tenang tiba saatnya Sabrina pamit undur diri, Ia berpesan kepada Risa jika besok tidak ingin ikut terbang ia bisa saja menukar tugasnya ke orang lain atau mengambil cuti sementara, Bagaimana pun juga Sabrina tak ingin melihat Risa yang terus murung jika bertugas besok, Alhasil Risa hanya mengangguk pelan entah jawaban itu adalah iya atau tidak, dan setelah Sabrina pergi Risa segera menutup pintu dan kembali ke tempat tidurnya dengan tubuh yang di rasanya sangat lemah tak berdaya itu.
\*
Wanita itu berjalan menuju boarding pass khusus jalur kru dengan wajah tak penuh semangat seperti biasanya, tadi pagi sebelum ia berangkat seseorang menelpon dari kepolisian dan menjelaskan kepadanya bahwa pria yang sedang ia cari saat ini memang benar sedang ada di Brazil, namun ia belum tahu alasan pastinya seperti apa dan hari ini Risa mencoba untuk tidak memikirkannya dan ingin fokus saja dengan tugasnya hari ini.
Baru saja ia selesai mengurus keberangkatan hari ini tiba-tiba saja seseorang datang menghampirinya, kedua mata mereka saling menatap satu sama lain dan rasanya sudah lama sejak hari itu mereka bertemu, Dia adalah Dimas, pria yang pernah singgah di hati Risa sebelum akhirnya bertemu Juan, Cukup lama mereka saling tatap Dimas pun menyapanya terlebih dulu sebelum mengatakan sesuatu yang membuatnya hari ini datang menemui wanita itu.
" Bagaimana liburannya.? " Tanya Risa pelan
" Lupakan soal liburan, apa kau sudah mengetahui kabar tentang Juan yang keluar dari perusahaan.? " Sahut Dimas namun tak membuat Risa terkejut seperti semalam sebab ia sudah di beritahu oleh Sabrina.
" Aku sudah tahu. " Balasnya kemudian
" Ada apa dengan ekspresimu itu? Apa kalian sudah tidak bersama lagi.? "
" Nenek Juan meninggal. " Sahut Dimas sukses membuat langkah Risa kembali terhenti, matanya membulat sempurna dan jantungnya pun berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
" Apa katamu.? " Ujar Risa setelah menoleh ke arah Dimas
" Nenek Juan meninggal dan saat ini Juan ada di Brazil, Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba resign tapi mungkin saja dia melakukan ini karena suatu alasan, " Dimas menggantungkan ucapannya begitu melihat Risa menitihkan air mata, perlahan tubuhnya terhuyung ke lantai membuat Dimas refleks dan langsung menopangnya.
" Kau tidak apa-apa. ?" Tanya Dimas khawatir
" Jadi... Alasan dia menghilang karena neneknya meninggal? Kenapa dia tidak memberitahuku saja, padahal kita bisa sama-sama ke sana, kenapa.. Kenapa.…?????" Isak Risa yang tak bisa melakukan apa-apa lagi selain menangis sejadi-jadinya.
\*
Empat hari yang lalu
Juan baru saja mendapat pesan singkat dari tantenya yang tinggal di Brazil, beliau berkata bahwa saat ini neneknya sedang sakit, mendengar kabar tersebut tentu Juan merasa khawatir dan terus teringat dengan neneknya itu mengingat Juan merupakan cucu kesayangannya yang sejak kecil selalu bersamanya hingga menjadi seorang pilot pun sang nenek ikut ambil peran yang cukup banyak. Setelah sepuluh tahun terakhir ini Neneknya tidak pernah sakit yang sampai di rawat di rumah sakit seperti saat ini dan Juan benar-benar kepikiran hari itu juga.
Setelah melakukan penerbangan dari satu sektor ke sektor lain Juan pun tetap merasa kehilangan fokusnya, Ia tak banyak bicara meskipun di tanya oleh co-pilot saat itu, Pikirannya benar-benar kacau, setelah kembali ke Jakarta nanti rencananya Juan akan mengambil cuti bersama Risa untuk kelanjutan pernikahan mereka, Hari itu setelah mereka tiba di Jakarta dengan selamat, Juan meminta kepada Co-pilot untuk sekiranya tidak briefing dan langsung menuju crew center untuk menyerahkan laporan, Saat pesawat kosong Juan masih di sana untuk menenangkan dirinya dan setelah menghabiskan waktu sebanyak dua puluh menit ia pun meninggalkan pesawat masih dengan rasa khawatir yang berlebih.
Juan berjalan seorang diri menuju crew center dengan wajah pucat dan kondisi tubuhnya pun saat itu sedang lemah, Tiba-tiba saja seseorang berlari ke arahnya dengan wajah yang lebih sendu dari Juan, pria itu menatap wanita yang saat ini tengah berdiri di hadapannya sambil menangis membuat Juan heran dan melangkah mendekatinya. Jane sepupu Juan yang juga menjadi seorang pramugari saat itu menemui Juan dan menjelaskan kepadanya bahwa nenek mereka sudah tiada, Jane memberitahu Juan kalau sejak tadi ia sudah menghubunginya namun Juna tak sadar kalau ponselnya tertinggal di kursi pesawat, tubuhnya semakin lemas namun ia tak mau tinggal diam dan langsung menarik tangan Jane menuju suatu tempat.
Hari itu juga Juan dan Jane langsung terbang ke Brazil tanpa memikirkan apapun selain untuk secepat nya tiba di sana, Jane tahu kalau Juan lebih merasa kehilangan sosok nenek mereka dari pada dia, Saat itu Jane hanya dapat menggenggam erat tangan Juan mencoba menenangkannya meskipun Juan tak menangis, wajahnya terlihat sangat sedih dan saat itu kerjanya hanya menatap langit dari jendela pesawat, sangat aneh melihat dua orang yang memiliki profesi penerbangan saat ini duduk di kursi penumpang, bahkan mereka tidak berpikir untuk mengganti pakaian saat itu.
Dua hari setelah Nenek Juan meninggal
Di dalam sebuah ruangan yang terdapat sebuah foto yang terpajang besar di sekeliling bunga-bunga segar tampak seorang pria dengan setelan seragam pilotnya masih meratapi kepergian wanita yang paling di cintai nya di dunia ini, Sejak tiba di Brazil waktu itu Juan belum meninggalkan ruangan itu bahkan posisinya pun masih sama, Belum ada tanda-tanda bahwa ia akan menangis entah dia terlihat tegar atau hanya berusaha menyembunyikan kesedihannya dari tante dan sepupu nya itu.
Jane dan Diana menatap Juan kasihan, Bahkan menyentuh makanan dan minuman pun tidak, mereka semakin khawatir dengan kondisi Juan yang terlihat seperti mayat hidup, Tiba-tiba saja Jane teringat dengan Risa dan entah apa yang membuatnya bisa sampai lupa dengan wanita itu, Saat Jane membuka kontak Risa ia baru tahu kalau ternyata Risa sudah bertanya soal Juan sebelumnya namun karena kemarin-kemarin dia sibuk mengurus pemakaman neneknya ia pun sampai tidak sempat membaca pesan yang masuk apalagi membalasnya.
Sayangnya ketika Jane berusaha menghubungi nomor Risa, nomor itu sedang dalam keadaan tidak aktif dan bagaimana cara Jane memberitahu Risa kalau saat ini Juan sedang berduka, Rupanya bukan hanya Risa saja yang bertanya soal Juan akan tetapi beberapa orang-orang yang tahu kalau Jane adalah sepupunya pun ikut bertanya, memang tak ada yang tahu soal meninggalnya nenek mereka dan kepergian mereka yang secara tiba-tiba tanpa pamit pada siapa pun tentu saja orang-orang yang penasaran pun akan bertanya soal keberadaan Juan.
Salah satu orang yang bertanya adalah Dimas selaku direktur pelayanan, Tak berhenti sampai di situ Jane pun mencoba memberitahu Dimas soal Juan yang saat ini sedang berduka, kemarin Juan meminjam ponsel Jane dan tak sengaja Jane sempat melihat surat pengunungan diri Juan yang di kirimnya melalui email perusahaan yang akan di terima langsung oleh direktur utama, Karena keputusan yang gegabah itu Jane ingin menjelaskan kepada atasannya bahwa mereka tidak boleh menerima surat itu meskipun Juan memaksa, Jane berpikir bahwa Juan melakukannya karena sedang dalam pikiran kacau sehingga mengambil keputusan yang tidak di pikir matang-matang.
Dan setelah memberitahu semuanya kepada Dimas, Jane berharap Dimas akan menyampaikan berita ini pada satu rekan kerja Juan sehingga Risa pun dapat mengetahuinya, Jane kembali menghampiri Ibunya yang masih menatap Juan dengan wajah sendu, Juan pun sudah di anggapnya seperti seorang putra dan melihatnya dalam keadaan seperti ini tentu membuat hatinya sangat sakit.
.
.
.
\*
Chapter kali ini kayaknya agak maksa yah, maaf kalau tulisan author agak kacau soalnya bingung harus kerjain tugas kuliah dulu atau update My Handsome Pilot, Tapi karena author tidak mau buat kalian kecewa, maka jadilah chapter kali ini yang agak gimana gitu yah..,Semoga kalian suka, dan kalau kalian suka tolong di like dan vote yah, Tunggu kelanjutannya besok 💜