My Handsome Pilot

My Handsome Pilot
Juan Si Penyelamat



Penerbangan berikutnya sudah menanti Risa, Dari Brazil pesawat akan terbang menuju Italia lalu setelah itu Perancis dan yang terakhir Moscow. Rupanya penerbangan yang panjang siap membuat Risa mendapat pengalaman baru yang tentunya akan sangat luar biasa, Semua kru pesawat telah memasuki pesawat dan bersiap-siap untuk menyambut para penumpang setelah sebelumnya melakukan briefing.


Sosok Juan Diaz lagi-lagi berhasil membuat keributan, bahkan pramugari yang bukan dari maskapai mereka memuji ketampanan pria itu dan lucunya Juan membalas sapaan mereka dengan melemparkan senyum yang sulit di artikan. satu-satunya yang tidak tertarik saat itu hanyalah Risa seorang ia lebih memilih untuk membereskan perlengkapan dapur sendirian.


Setelah semua perlengkapan beres, masing-masing pramugari yang bertugas bersiap-siap di tempatnya. Risa yang mendapat jatah jam kerja di 8 jam berikutnya memilih untuk menghabiskan waktu dengan mempelajari tata cara menjadi FA 1, ia memilih kabin paling belakang bersama staff yang mengatur bagasi pesawat. Mereka adalah Rey, Darwin dan Siddiq di mana Risa langsung akrab dengan mereka, Tak sedikit pengalaman penerbangan yang mereka bahas saat itu.


" Semangat ya Ris, aku yakin kamu pasti bisa jadi Pusher ( Nama lain dari FA 1 ) " Seru Darwin membuat Risa mengangguk semangat.


" Jarang banget loh nemu pramugari yang rajin kaya kamu, Bahkan Karin dulu sebelum jadi pusher tidak seperti kamu loh gigihnyam " sambung Siddiq dan di benarkan oleh mereka bertiga.


" Harus dong kak, Jangan pesawat aja yang bisa terbang tinggi, cita-cita juga harus. " balas Risa dan mendapat tepuk tangan bangga dari ketiga pria itu.


Kini pesawat sudah terbang di atas ketinggian 3000 kaki dari permukaan tanah, Sejauh ini tidak ada kendala yang terjadi Risa pun terlihat tidur dengan sangat pulas. Dua puluh menit lagi akan di lakukan pergantian jam kerja dan sebelum waktunya tiba Risa sudah terbangun, Ia merasa ingin ke kamar kecil sehingga berjalan dengan cepat menuju kamar kecil yang terletak di kabin bagian belakang.


Setelah menghabiskan waktu sebanyak lima menit di dalam sana, ketika Risa hendak membuka kunci kamar kecil tiba-tiba saja sebuah guncangan yang cukup kuat membuatnya terjatuh hingga tangannya terbentur di antara dinding pesawat. Risa tak tahu apa yang telah terjadi dan membuatnya bergegas keluar.


Saat Risa keluar semua penumpang terlihat panik dan ia pun langsung menenangkan mereka begitu pun dengan pramugari yang lain, Risa melihat keluar jendela yang terlihat sangat gelap yang menandakan bahwa di luar sedang terjadi badai yang cukup hebat itu sebabnya pesawat mengalami guncangan keras baru-baru ini.


Cuaca di luar masih sangat ekstrem, Pilot pesawat berusaha sekuat tenaga untuk menerbangkan pesawat tetap pada jalurnya, tentu sesuai arahan yang tepat dari tim navigasi yang menghubungkan tower lalu lintas udara.


Kapten Zain berusaha sebisanya menghindari awan hitam yang saat ini mengepung badan pesawat namun guncangan semakin hebat, saat itu juga Juan dan Alex datang melihat keadaan di kokpit. Selama ini Juan terkenal dengan kemampuannya menavigasi jalur pesawat yang selalu akurat, tak jarang dia selalu mendapat penghargaan oleh perusahaan, namun sayangnya pangkat Juan belum pernah naik menjadi Pilot In command seperti kaptennya saat ini. Kapten Zain dulunya seperti Juan sangat pandai dan paling hebat dalam menerbangkan pesawat, Namun karena usianya yang cukup berumur saat ini ia kesulitan untuk menentukan jalur yang tepat.


Co-pilot yang bersama Kapten Zain yaitu Kapten Marco memberikan tempatnya untuk Juan mengatasi masalah ini, Berkat bantuan dari Juan inilah Pesawat berhasil melewati badai dengan menjauh dari jalur beberapa meter dan mengambil jalur lain. Pesawat akhirnya kembali ke jalurnya setelah itu dan keduanya kembali bernafas lega. Juan memberitahu Karin kalau semua telah aman dan di lanjutkan Karin kepada semua penumpang serta kru pesawat.


" Sebaiknya kau segera menjadi PIC ( Pilot in command ), Bakat mu dalam penerbangan sudah melampaui diriku. " Ucap Kapten Zain membuat Juan tersenyum simpul.


" Bahkan dia lebih hebat dariku. " Sahut Alex yang merupakan PIC seperti Kapten Zain namun memiliki usia yang sama dengan Juan.


" Belum saatnya, Masih banyak yang harus ku pelajari lagi Capt. " Balas Juan disambung gelak tawa oleh mereka bertiga.


Juan melapor kepada Karin bahwa pesawat sudah aman terkendali dan pesan suara berantai terus di umumkan hingga di kabin paling belakang, Saat itu juga semua orang kembali bernafas dengan tenang.