
Jangan lupa di like dulu guys, Semoga kalian suka ceritanya dan kalau udah suka semoga makin suka yah... , Selamat membaca :)
.
.
.
.
Selama satu minggu bertugas dari satu sektor ke sektor lain, Kini Juan dan Risa telah kembali ke Jakarta lagi untuk beristirahat setelah melakukan tugas yang cukup berat, Saat ini Juan memang bukanlah pilot tetap di maskapai sekarang melainkan hanya sebatas kontrak kerja yang memiliki masa kontrak selama dua bulan saja dan setelah itu Juan kembali di pindahkan ke maskapai penerbangan internasional sebagai pilot tetap, Walaupun demikian Juan dan Risa tidak merasa keberatan sebab mereka akan menghabiskan waktu bersama selama dua bulan tersebut.
Contohnya hari ini setelah mereka pulang bersama di mana Juan yang mengantarkan Risa langsung ke rumah kostnya, pria itu berkata untuk menyuruh Risa beristirahat sampai dirinya merasa lebih baik, namun saat Risa turun dari mobil ia meminta Juan untuk turun dan istirahat sejenak karena ia tahu Juan telah menerbangkan sebuah pesawat dan setelah itu mobil pastilah dia merasakan lelah yang amat sangat, Awalnya Juan merasa canggung karena Risa tinggal di sebuah kost ia takut orang-orang akan menggosipkan hal yang tidak-tidak nantinya namun Risa berkata bahwa ia percaya pada Juan, Risa yakin Juan bukanlah tipe pria yang berpikiran kotor jika bersama seorang wanita di dalam ruangan yang hanya ada mereka berdua.
Setelah memikirkan beberapa saat dan setelah di rasa bahwa tubuhnya saat ini benar-benar lelah, Juan pun menuruti ucapan Risa dan segera menuju ke kamar wanita itu, Ia bahkan merebut koper yang di pegang Risa untuk di bawa ke kamar seakan tak ingin melihat wanitanya kesulitan dalam membawa barang, Risa hanya dapat tersenyum tipis lalu setelah itu ketika mereka tiba di depan pintu kamar, Risa pun mulai membuka kunci dan Juan terlihat celingak-celinguk ke segala penjuru memastikan tidak ada orang yang melihatnya, kebetulan saat itu rumah kost sedang sepi namun Juan tetap merasa harus waspada.
Pintu terbuka dan langsung tercium aroma yang khas dari Risa, Juan membuka sepatunya dan berjalan mengikuti Risa dari belakang, Ia melirik kamar kost Risa yang cukup luas dengan adanya ruang tamu kecil yang di sekat antara kamar dan ruang tamu itu, ada juga kamar mandi dan dapur yang saling bersebelahan, Risa mulai masuk ke kamar hendak mengganti baju sementara itu Juan hanya menjatuhkan tubuhnya di atas sebuah sofa sambil melihat sekeliling ruangan yang berunsur tema bohemian itu.
Juan benar-benar salut pada Risa, dia merupakan wanita yang bersih, bahkan semua barang-barang tersusun sangat rapih sesuai dengan warnanya, Mulai dari bingkai foto yang terpajang di dinding membuat Juan penasaran dan langsung beranjak melihat foto-foto tersebut, di sana ia melihat ada beberapa foto Risa sejak kecil hingga sekarang ada juga foto saat bersama kedua orang tuanya, dan satu lagi foto yang membuat Juan memasang wajah kecut, Foto yang ia sama sekali tak di harapan masih terpajang di sana, bahkan saat Risa keluar dari kamarnya ia menatap Juan dengan heran sebab pria itu masih berdiri di hadapan foto-foto itu dengan wajah yang sangat kesal.
" Ada apa..., Ah.. Ini, aku lupa melepasnya. " Risa ikut terkejut ketika melihat foto dirinya dan Dimas masih ada di sana, ia pun dengan cepat mengambilnya dan menyimpannya di dalam kamar, namun semenit kemudian ia keluar dan menuju tempat sampah di mana foto tersebut langsung di buangnya.
Saat ini entah mengapa suasana berubah menjadi dingin, bahkan ketika Risa berbalik Juan masih menatapnya dengan tatapan tajam, Risa mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya, ia tak mau Juan sampai marah hanya karena foto Dimas barusan.
" Aku bisa jelaskan, sebenarnya foto itu sudah lama, dan aku lupa kalau foto itu ternyata masih terpajang di sana, bahkan ketika aku membersihkan nya aku tidak begitu memperhatikannya, aku benar-benar tidak tahu sumpah. " Jelas Risa seketika membuat Juan melangkahkan kaki ke arahnya
Risa menutup mata karena takut namun ia tiba-tiba merasakan kehangatan tatkala membuka mata dan melihat Juan sudah berada di pelukannya, Alih-alih marah Juan hanya meminta kepada Risa agar sekiranya menyimpan fotonya seperti tadi, Risa tersenyum dan membalas pelukan Juan dengan erat seraya mengucapkan terima kasih karena sudah mengerti.
Juan melepas pelukannya dan menatap Risa dengan lembut. " Sebaiknya aku pulang, aku tidak enak berada di sini, sekalipun kau merasa itu tidak apa-apa tapi aku tidak ingin orang-orang berpikiran buruk tentang hubungan kita, Tunggu sampai waktu yang tepat kita bisa satu rumah. " Ucap Juan sambil mengusap pipi Risa.
Saat itu juga Juan segera pulang setelah Risa menemaninya sampai anak tangga, Keduanya saling melambaikan tangan begitu Juan tiba di mobilnya, Suara mesin mobil baru saja di nyalakan dan suara klakson mobil mulai meninggalkan pelataran meninggalkan seorang wanita yang masih berdiri menatap kepergian mobil itu hingga di penghujung jalan. Senyuman manis terukir Indah di wajahnya dan setelah itu ia kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.
\*
Keesokan harinya Risa dan Juan janjian untuk belanja barang-barang yang akan mereka bawa besok, rencananya Juan ingin segera bertemu dengan kedua orang tua Risa membahas soal pernikahan mereka, Dan hari ini keduanya nampak mengenakan pakaian yang senada dengan warna biru putih yang membuat mereka terlihat soft dan enak di pandang, Risa memutuskan untuk belanja barang kesukaan mamanya terlebih dulu sebelum akhirnya mencari hadiah untuk papanya.
Risa dan Juan memasuki sebuah toko yang menyediakan tas, Risa tahu kalau mamanya adalah wanita sosialita di kalangan teman-teman sebaya nya, Dan pilihan Risa jatuh pada sebuah tas berwarna biru beludru kemudian ia menunjukkannya pada Juan sekaligus meminta pendapatnya. Juan tak tahu menahu soal masalah itu sehingga ia hanya mengangguk setuju dan saat Risa menunjukkan tas warna lain ia tetap mengangguk begitu pun dengan beberapa tas lain, hal itu tentu membuat Risa kesal karena Juan tak bisa memberikan saran yang cocok untuk tas yang akan di belinya.
" Yang ini aja deh mbak. " Ucap Risa sembari menyerahkan tas pilihan pertama kepada penjaga toko
Risa pun segera mengikuti penjaga toko menuju kasir untuk segera membayarnya, Wanita penjaga toko itu baru saja memberikan nominal harga dari tas itu dan saat Risa hendak mengeluarkan kartu kreditnya tiba-tiba saja seseorang menyodorkan kartu kredit berwarna hitam yang berarti kartu itu memiliki saldo yang unlimited, Juan berhasil membuat Risa tercengang ia tak mengira kalau Juan akan membelikan tas itu untuk Mama Risa, Risa pun mulai berpikir bahwa ini mungkin trik Juan untuk mencuri perhatian mamanya, bahkan tanpa memberikan hadiah pun mamanya tetap mendukung hubungan mereka.
Setelah itu tiba saatnya untuk mencari hadiah papa Risa, Awalnya Risa ingin mencari kemeja yang cocok namun Juan berkata untuk tidak ke mall melainkan ke tempat lain sebab ia tahu apa yang di sukai oleh beliau, Risa cukup penasaran dan hanya mengikuti Juan meninggalkan mall tersebut. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih sepuluh menit keduanya kini tiba di salah satu toko yang menjual alat-alat pancing. Risa terdiam sejenak sebelum Juan membukakan pintu mobil, Sebelumnya Risa tak pernah mengira kalau Juan bisa sampai tahu soal alat pancing, Papa Risa memang sangat gemar memancing bahkan pernah sekali ia tak pulang selama seminggu karena pergi memancing di seberang pulau bersama teman-temannya.
" Dia benar-benar calon menantu yang baik. " batin Risa segera mengikuti Juan memasuki toko pancingan itu.
\*
Pukul delapan lewat dua puluh menit Juan dan Risa sudah bersiap-siap untuk perjalanan mereka ke Surabaya, Hari ini mereka akan naik pesawat yang memakan waktu sekitar satu jam tiga puluh menit, Keduanya tiba di bandara tepat tiga puluh menit sebelum pesawat mereka berangkat, dan setelah melakukan boarding pass mereka berdua hanya dapat menunggu hingga panggilan keberangkatan di umumkan, rasanya sungguh aneh jika berperan sebagai penumpang yang menunggu waktu keberangkatan tiba setelah itu sampai tanpa harus repot melakukan hal ini dan itu.
Bagi Risa ini pertama kalinya semenjak ia menjadi seorang pramugari harus naik pesawat dengan status penumpang, Sementara Juan sudah sangat biasa dalam hal ini sehingga ia tak terlihat seperti Risa yang terus bicara dengannya jika ada sesuatu yang di rasanya baru. Sama seperti hal nya baru pertama kali naik pesawat dan seperi itulah Risa saat ini, Juan pun di buat gemas olehnya.
Setelah pengumuman keberangkatan di umumkan keduanya segera menuju pintu keberangkatan di mana biasanya mereka hanya lewat begitu saja tapi kali ini mereka harus mengantri dan melakukan boarding, ketika mereka berada di dalam pesawat pun mereka di sambut ramah oleh pramugari yang bertugas dan kebetulan Juan dan Risa tidak mengambil kelas bisnis karena kelas ekonomi pun tidak kalah nyaman dari kelas yang cukup tinggi harga tiketnya, Juan bisa saja memesan tiket kelas bisnis namun Risa menolak karena ia lebih memilih uang nya di simpan untuk mereka menikah saja.
Risa dan Juan duduk bersebelahan di kursi ketiga sebelah kanan, Risa duduk di dekat jendela pesawat karena ia lebih senang melihat pemandangan langit biru dan gumpalan awan putih, Semuanya terasa benar-benar berbeda, waktu yang di habiskan saat berada di pesawat di mana ia harus tetap siaga kini tidak lagi di rasakan oleh Risa, bahkan ia bisa tidur hingga pesawat tiba di tempat tujuan. Risa melirik Juan yang terlihat sedang fokus membaca majalah, sebagai seorang pilot Juan pasti sudah sangat paham fungsi kerja sebuah pesawat baik itu ketika pesawat mengalami turbulensi atau pun sesuatu yang di rasa salah, saat ini Juan terlihat tenang dan itu berarti Risa dapat ikut tenang sepertinya.