
Seorang wanita berseragam pramugari berwarna biru tosca terlihat tengah berdiri di depan pintu pesawat dengan wajah yang gugup, Bagaimana tidak ini pertama kali untuknya bergabung ke dalam maskapai penerbangan Internasional.
Selama 2 hari memikirkan tawaran itu akhirnya Risa teroma dan saat ini ia sudah resmi bergabung di maskapai Garuda Indonesia tipe Boeing 737-800NG. Dimas tidak main-main memindahkan Risa ke tempat yang jauh lebih bagus agar Risa bisa mencapai impiannya untuk menjadi seorang pramugari hebat. Seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya sembari menyapanya dengan sahutan lembut, Ia berbalik dan menatap seorang pramugari lainnya yang mengenakan seragam berwarna sama yang baru saja menyapanya itu.
" Hai, Kamu pramugari pindahan itu kan?" tebak wanita itu dengan nada yang bersahabat.
" B-benar, Namaku Arisa Naomi, kamu bisa memanggilku Arisa atau Risa saja " Balas Risa sambil menyodorkan tangannya.
" Aku Maya, senang bertemu denganmu, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik" Balasnya menerima uluran tangan Risa.
Setelah cukup lama bercengkrama bersama kini tiba saatnya untuk keberangkatan pertama Risa menuju Amerika Selatan, Ia sudah cukup siap untuk hal tersebut dengan menyapa satu persatu pramugari dan pramugara sekaligus membantu mereka untuk menyiapkan persiapan penerbangan.
Walaupun suasananya cukup berbeda semua tetap saja sama bagaimana cara Risa mengatur segalanya sebelum pesawat hendak take off. Sorakan para pramugari lain tiba-tiba saja mengundang perhatian Risa dan membuatnya melangkah mendekati mereka yang terlihat tengah berkumpul di dekat pintu masuk pesawat.
" Ada apa, Kok rame banget? " Tanya Risa pada Maya yang terlihat ikut menyaksikan kehebohan tersebut.
" Kapten sama Co-pilot pesawat ini baru saja datang, kau tahu kalau co-pilot kita sangat tampan dan banyak yang mengidolakannya loh, banyak yang menantikannya jika dia yang menerbangkan pesawat ini " Serunya begitu antusias.
Karena penasaran Risa mencoba mengintip lewat celah-celah sekumpulan pramugari lainnya, alhasil dia hanya dapat melihat punggung lebar pilot tersebut lantaran langkahnya sudah hampir memasuki kokpit pesawat. Di lihat dari belakang saja auranya sudah terlihat bahwa pilot tersebut memang sangat tampan.
Karena penerbangan menuju Amerika Selatan memakan waktu yang cukup lama dari pada penerbangan yang sering di tugaskan kepada dirinya, Risa merasa cukup tegang namun berusaha untuk tetap menikmatinya. Selama penerbangan berlangsung ia hanya bertugas mengantarkan makanan dan minuman kepada penumpang setelah itu duduk di kursinya menunggu instruksi dari seniornya.
Walaupun saat ini Risa kembali menjadi junior di antara semuanya ia tetap merasa bersyukur sebab bisa berada di maskapai besar seperti ini, Tiba-tiba saja salah satu Seniornya datang menyuruh Risa untuk mengambil selimut di banker depan yang terletak di dekat kabin First Class selagi dirinya mengatasi salah satu penumpang yang tiba-tiba mengalami sakit aneh.
Risa dengan tanggap segera menuju kabin tersebut dan sempat melewati kelas bisnis di mana FA 1 dan Maitre D' Cabin asisten nya sedang menangani penumpang lain yang juga sedang sakit, Ini pertama kalinya Risa melihat kemewahan kabin first class Garuda yang benar-benar patut dikatakan sebagai pesawat nomor satu di Indonesia.
Dering telpon terdengar nyaring tepat di hadapan Risa, ia menengok kesana-kemari mencari senior pramugari lain untuk segera menjawabnya namun tak ada pramugari lain selain dirinya di tempat itu. alhasil ia pun mencoba menjawab panggilan khusus dari kokpit pesawat yang tak lain adalah tempat pilot yang menerbangkan pesawat tersebut.
" Tolong bawakan dua gelas kopi dan cemilan ya tidak pakai lama" Ucap pria bersuara serak tersebut.
" Tidak ada tapi-tapian, bawakan sekarang!! " Lanjutnya tegas.
" B-baik Capt." Jawab Risa merasa sangat gugup dan segera melaksanakan permintaan pilot tersebut.
Setelah panggilan tersebut di akhiri Risa terlihat sangat kebingungan, Seniornya baru saja menyuruh Risa untuk mengambil selimut belum lagi sang pilot memintanya untuk membuatkan kopi dan cemilan. Untungnya saat itu ada pramugara lain yang kebetulan muncul sehingga Risa meminta kepadanya untuk membuatkan kopi dan cemilan untuk di bawa ke dalam, Namun pramugara itu menolak karena ia tak berhak masuk ke dalam dan lebih memilih untuk mengantar selimut itu kepada Senior mereka.
Ini pertama kalinya ia di minta langsung oleh seorang pilot untuk di buatkan kopi, Risa sendiri sempat berpikir bahwa suara tersebut berasal dari pilot tampan yang di puja-puja banyak orang. setelah mendengar suara barusan ia menyadari bahwa pria itu tidak lebih dari seorang pria biasa yang tidak layak di gelari pria tampan.
Setelah beberapa saat kemudian dengan memberanikan diri, Risa membawa dua cangkir kopi dan beberapa makanan ringan ke dalam kokpit pesawat. Hanya dengan menekan bel dua kali seketika membuat pintu terkuak dan seseorang di dalam langsung mempersilahkan Risa untuk masuk. Kedua mata Risa langsung menangkap seorang pria di belakang kapten dan dua sosok pria dengan kostum pilot yang tengah menatap lurus ke depan.
" Maaf capt saya tidak tahu kalau kalian ada bertiga." Ucap Risa menatap pilot yang saat ini sedang menatapnya.
" Nggak apa-apa, Lagi pula aku minta nya kan cuma dua gelas. " Sahut Pria itu dan segera mengambil nampan yang di pegang oleh Risa.
" Kau siapa? Aku baru melihatmu di maskapai ini? Di mana Karin yang biasanya mengantar kan makanan ?" Tanya pria itu melirik Risa kebingungan.
" Nama saya Arisa Naomi, Pramugari yang baru saja di pindahkan di maskapai ini capt, Kebetulan Di luar ada penumpang yang tiba-tiba sakit dan saya yang kebetulan lewat tidak sengaja menjawab telepon dari capt barusan." Balas Risa sedikit menunduk.
" Pantesan tadi kaya nyela gitu, ya sudah Semoga betah yah." Lontarnya ramah, rupanya yang barusan menelpon adalah pilot cadangan pesawat yang saat ini menunggu jam kerjanya
Di pesawat Boeing seperti ini dengan perjalanan jauh yang memakan waktu lama tentu harus ada empat orang pilot, dua seorang kapten, dan dua lagi seorang co-pilot, Dan ketiganya saat ini sedang berada di kokpit dan satu lagi berada di banker khusus pilot menunggu gilirannya tiba untuk bekerja.
Risa pun memutuskan untuk segera kembali ke tempatnya. Risa di persilahkan pergi sebelum dirinya melihat satu persatu wajah pilot itu, tak apa sebab masih banyak waktu yang bisa di per olehnya untuk melihat wajah tampan co-pilot itu.