
Saat Juan muncul di ruang makan, sontak semua orang menatapnya dengan kedua mata yang seakan tak ingin berkedip. Terutama Mama Risa yang benar-benar terpesona dengan ketampanan Juan, meskipun hanya memakai kaos oblong yang sederhana. Dengan penuh kelembutan wanita itu mempersilakan Juan untuk duduk, bahkan hal itu tak pernah ia lakukan pada suami dan juga putrinya sendiri. Sampai-sampai membuat keduanya merasa cemburu atas perlakukan yang berlebihan itu.
Tak sampai di situ, Mama Risa kembali menyajikan beberapa lauk yang enak khusus untuk Juan dan tak lupa menyodorkan gelas yang telah berisi air minum. Dia bahkan menambahkan ingin menawarkan Juan minuman lain, namun langsung di tolak Juan dengan cepat. Di perlakukan berlebih begini tentu membuatnya tidak nyaman sehingga Juan hanya dapat menolak setiap beliau menawarkan sesuatu.
Di saat semua orang sibuk menikmati makanannya, ada satu orang yang seakan tak ingin mengalihkan perhatiannya hanya kepada Juan seorang.Sadar tengah di perhatikan Juan pun menyuruh Mama Risa untuk ikut makan bersama, Wanita setengah baya itu hanya menggeleng pelan dan mendatangkan tatapan sinis dari Suami dan putrinya.
" Dengan melihatmu saja mama sudah merasa kenyang. "
" Uhuk..Uhuk..., " melihat Juan yang terbatuk-batuk spontan Mama Risa dengan cepat menyodorkan air sambil mengelus-elus pundak Juan agar berhenti tersedak.
" Sudahlah ma, dia begitu karena mama terus perhatiin dia, orang juga nggak bakal tenang kalau di liatin terus. " sahut Risa yang sudah tak tahan dengan sikap Mama nya yang seperti anak remaja.
" Duh kamu hati-hati dong, Bikin mama khawatir aja. " Ucap Mama Risa seakan tak memperdulikan ucapan Risa barusan.
" Nggak apa-apa kok tan, Kaya gini udah biasa. " balas Juan.
" Kok Tan sih, Panggil saya Mama aja. Kamu kan bakal jadi calon mantu kami, jadi biasain manggil mama yah. " Lanjutnya sukses membuat Juan dan Risa tercekat kaget.
" Mama benar-benar bikin selera makan aku hilang. " Risa beranjak dari tempatnya dan meninggalkan ruang makan begitu saja, ia bahkan tak peduli saat Mama nya memanggilnya untuk kembali.
" Biar Risa saya yang urus tan, Kalian berdua bisa lanjut lagi makannya. " Ucap Juan dan di balas anggukan mantap dari Mama Risa.
**
" Kamu larinya cepat juga, hampir aja aku nggak bisa nemuin kamu. " Lontar Juan ketika ia sudah menemukan Risa di sebuah taman kompleks yang berada tak jauh dari rumah.
" Capt, jangan dengar apa yang di ucapkan mama ku barusan yah, dia orangnya emang gitu setiap aku punya teman cowok yang tampan pasti dia selalu menggodanya untuk di jodohin sama aku. " Ucap Risa sambil menunduk malu atas perbuatan Mama nya beberapa saat yang lalu.
" Nggak apa-apa kok, aku nggak keberatan sama sekali. " Jawab Juan ikut menjatuhkan tubuhnya di sebelah Risa.
" Aku jadi nggak enak loh sama kamu, rumahku bahkan tidak sebagus saat kamu mengajakku ke rumah Nenek mu waktu itu, Kamu pasti merasa tidak nyaman atau bahkan tidak bisa tidur nanti. " Lanjut Risa mengarah ke topik lain.
" Santai aja lagi, aku bahkan sudah sering tidur di tempat yang jauh lebih buruk. Kamar tamu di rumah mu nyaman kok, aku suka. "
" Oiya, akhir-akhir ini Dimas nggak pernah hubungin kamu lagi.? " Tanya Juan penasaran.
" Oh.. soal itu, " Risa terdiam sejenak ketika ia teringat alasan mengapa Dimas berhenti menghubunginya saat itu.
" Sebelumnya aku benar-benar minta maaf karena sudah memakai namamu, Saat itu Maya tidak sengaja berkata pada Dimas kalau aku dan kamu sudah berpacaran sehingga Dimas merasa sedikit kecewa dan kami memutuskan untuk berteman saja, Ku pikir berbohong seperti itu ada baiknya agar aku dan Dimas akhirnya tidak saling bertemu terus. apa kau keberatan dengan alasan ku dan Maya.? " Risa mencoba melirik Juan yang tampak menyembunyikan senyumannya.
" Tidak masalah, kau boleh memakai namaku asalkan itu membuatmu bahagia. " Balasnya cepat.
Risa tersenyum senang mendengarnya, dan ketika Risa melirik Juan yang saat itu fokus menatap langit malam ia tiba-tiba teringat bahwa Juan belum selesai makan malam karena harus mengejarnya.Risa bangkit dari kursinya dan mengajak Juan untuk mengikutinya ke suatu tempat.
" Mau kemana.?" Tanya Juan penasaran.
" Udah ikut aja. " Risa mulai meraih tangan Juan dan berjalan dengan cepat, Saat itu Juan terfokus pada genggaman tangan Risa yang entah ia sadar atau tidak sampai menarik lengan Juan cukup erat sehingga membuat pria itu tersenyum simpul di buatnya.
Setelah berjalan cukup lama, keduanya tiba di sebuah pedagang kaki lima yang masing mangkal malam-malam begini. Terdapat tulisan batagor siomay di gerobak penjual itu,dan Juan hanya dapat menuruti Risa ketika ia di minta untuk duduk.
" Kamu capt, batagor di sini tuh enak banget loh. Kamu pokok nya harus coba soalnya rasanya beda dan
nggak sama kaya batagor yang ada di Jakarta. " Lontar Risa semakin membuat Juan penasaran dengan rasanya.
Setelah menunggu beberapa saat, dua piring pesanan mereka tiba dan tercium aroma khas batagor yang kian
mengguggah selera bagi penikmat nya. Risa mulai menuangkan sambal dan perasan jeruk nipis di atas batagornya dan itulah cara Risa menikmati batagor khas Surabaya andalannya, Juan yang melihatnya pun langsung ikut-ikutan meskipun ia jarang makan di pinggir jalan seperti ini dan jujur ini adalah kali pertama Juan mencicipi batagor.
" Nih kamu coba punya aku. " Risa menyodorkan sesendok batagor ke arah Juan yang terlihat cukup kaget dengan aksi Risa, sejurus kemudian ia menerima suapan Risa dan mulai mengunyahnya secara perlahan.
" Enak banget !!! " seru Juan membuat Risa tersenyum puas dengan responnya.
Karena ini pertama kali Juan mencoba batagor, ia pun sampai menghabiskan batagor miliknya tanpa sisa sebelum Risa menghabiskan milik nya. Ini pertama kali Juan merasakan enaknya jajanan pedagang kaki lima yang jauh dari ekspektasinya, berkat Risa lagi-lagi Juan mendapatkan pengalaman baru.
Selepas menikmati sepiring batagor, mereka segera berjalan kaki menuju rumah. Namun ketika Risa melewati sebuah warung ia pun singgah dan membeli dua cone es krim vanila coklat, yang dimana ia memberikannya untuk Juan satu.
Menikmati es krim di malam hari sambil berjalan kaki menuju rumah terkesan seperti beradegan di dalam sebuah drama, itulah yang di pikirkan oleh Risa.
" Besok, Kita bisa berkunjung ke psikiater kan? " Tanya Juan di sela-sela perjalanan pulang.
" Hmm.. Memangnya kamu tahu psikiater di daerah sini.? " Tanya Risa melirik Juan.
" Aku seorang pilot yang sudah berkunjung kemana-mana, bahkan sebelum bergabung di penerbangan internasional sekalipun. Kebetulan aku punya kenalan yang di mana istrinya itu seorang psikiater, Dia tidak tinggal di Surabaya tapi Gresik kita bisa naik mobilku dari sini cuma makan waktu setengah jam kok. " Jelas Juan.
" Oke, aku setuju. " Ucap Risa mantap.
" Kalau begitu aku akan mengabarinya untuk membuat jadwal besok. " Lanjut Juan dan di balas anggukan setuju dari Risa.
Juan mengusap kepala Risa pelan dan membuat waktu di sekitar Risa terasa berhenti sejenak, ia
mendongak melirik Juan yang tertawa kecil setelah mendengar persetujuan darinya. Ada yang salah dengan perasaan Risa ketika pria itu menyentuhnya,dan setelah Juan menyudahi aksinya dan kembali berjalan Risa pun tersadar dan dengan cepat mengikuti langkah kaki Juan yang terkesan pelan namun tegas.
**
Suara keributan yang sangat bising membuat Risa yang saat itu masih tidur mendadak membuka mata dan langsung bangkit dari tempat tidurnya, dia mengedarkan manik matanya sembari mempertajam pendengarannya di mana saat ini ia mendengar suara ibu-ibu kompleks yang meneriaki sesuatu seperti berada di depan rumahnya. Hal ini biasanya tidak pernah terjadi hingga membuat Risa menuju jendela kamar dan mengintip keluar.
Saat ini di luar rumah terdapat gerobak penjual sayur yang berada hanya satu meter dari pintu pagar yang saat ini di kepung oleh ibu-ibu kompleks, Risa membulatkan bola matanya setelah melihat Mamanya dan juga Juan yang saat ini berada di balik pagar berusaha menahan pintu agar tidak terbuka.
Risa tak tahu apa yang sebenarnya terjadi namun ia dengan cepat loncat dan bergegas menuju ke bawah untuk mengetahui masalahnya.
Saat Risa hendak keluar rupanya papa Risa ikut mengintip lewat ruang tamu, ia seakan tak peduli namun penasaran bertanya padanya pun pasti percuma sehingga ia langsung keluar menemui Mamanya dan juga Juan.
" Mama ini ada apa, kok di luar banyak ibu-ibu sih.? " Tanya Risa membuat Mamanya dan Juan menoleh dengan wajah panik.
" Ibu-ibu di luar maksa buat ketemu sama Juan, tadi mama nggak sengaja nyuruh dia buat belanja sayuran tapi ibu-ibu komplek gagal fokus sama Juan mereka kira Juan aktor hollywood makanya Mama sama Juan berusaha nahan pagar biar mereka nggak masuk. " Jelas Mama Risa sontak membuat Risa tak habis pikir.
" Ratna kamu pelit banget sih, kita kan cuma mau lihat cowok cakep itu bentaran. "
" Iya tahu nih si Ratna. "
" Buka dong pintunya. "
Cuap-cuap mereka semakin menjadi-jadi namun Risa tak mau tinggal diam, ia menarik Juan dari pintu pagar bersamaan dengan mamanya kemudian membuka pagar itu dengan wajah tegas.
" Gitu dong di buka, Wah cakep banget. "
" Hai what is your name bule.? "
" Speak Indonesia please. "
" Maaf ya ibu-ibu sekalian, dia ini bukan aktor hollywood seperti yang kalian pikir, dia ini Pilot saya di penerbangan yang kebetulan datang untuk ber libur jadi ibu-ibu mohon untuk tetap tenang yah. "
Mereka tak peduli dengan perkataan Risa dan menerobos masuk mendekati Juan, Risa yang bagaikan debu hanya dapat pasrah ketika mereka melewatinya begitu saja.
Mama nya saat ini berusaha menjadi garda utama dalam melindungi Juan dari tangan-tangan Ibu-ibu kompleks, namun sayang ia tak cukup kuat untuk melawan keganasan mereka sehingga Juan berakhir dengan cubitan manja dari mereka. Risa yang menyaksikannya dari belakang hanya dapat menepuk jidat pelan.
**
Sejurus kemudian Risa muncul dengan penampilan yang sudah rapih siap pergi menemui psikiater,begitu pun dengan Juan meskipun wajahnya memerah dan sedikit bengkak ia tetap ingin menemani Risa mengunjungi psikiater itu.
" Kami pergi dulu ma, " Ucap Risa pelan di ikuti langkah Juan dari belakang.
Begitu keduanya berada di dalam mobil, Risa yang tampak lebih pendiam dari sebelumnya membuat Juan yang sedang menyetir meliriknya heran.
" Kamu kenapa, wajahnya di tekuk seperti itu. " Tanya Juan penasaran.
" Aku tidak mungkin memberitahumu kalau saat ini aku kesal karena kebodohanmu kan." Benak Risa dengan wajah yang sangat dingin.
" Kok diam? " Lanjut Juan lagi.
" Nggak apa-apa. " Jawabnya datar.
" Btw ibu-ibu di kompleks mu sangat agresif yah. Memangnya tidak ada cowok tampan apa di sana sampai melampiaskannya padaku. Bahkan tadi ada ibu-ibu hamil yang memintaku untuk mengelus perutnya dan berkata semoga anaknya nanti mirip denganku.. Hahah kocak banget. " Seru Juan tampak tak membuat Risa terhibur mendengar nya.
" Kok kamu nggak respon apapun.? " Sindir Juan.
" Mulai besok dan seterusnya jangan pernah keluar seperti itu lagi, kamu cukup berada di dalam rumah sampai waktu pulang tiba, paham.!!! " Sahut Risa menatap Juan dengan tajam dan langsung di balas anggukan cepat darinya.
**
Setelah melangsungkan perjalanan cukup lama kini keduanya tiba di salah satu tempat praktek ahli psikiater yang merupakan istri dari salah satu teman kerja Juan dulu, kebetulan teman Juan sedang ada bersama istrinya sehingga ia bisa sekalian temu kangen.
Juan dan Risa di sambut hangat oleh sepasang suami-istri itu dan di persilahkan masuk dan segera di buatkan minuman oleh asisten pribadi mereka.
Ajang saling sapa dan saling mengenal pun di mulai, di mana teman Juan bernama Ravi sementara istrinya yang menjadi ahli psikiater bernama Lia. Tanpa menunggu waktu lama Lia segera mengajak Risa memasuki ruangan yang menjadi tempat di mulainya terapi untuk seseorang seperti Risa. Sebelum memulai hipnoterapi, Lia menanyakan keluhan Risa dan menganalisa nya sesuai kebutuhan yang dapat membantu Risa keluar dari traumanya tersebut.
Risa pun menceritakan akar dari permasalahan nya di mana Lia saat ini mendengarnya dengan penuh cermat, melihat ekspresi Risa yang saat menceritakan nya tampak ketakutan dapat membuat Lia menyimpulkan sesuatu dan mulai mencari alternatif yang akan di gunakan nya dalam hipnoterapi kali ini. Begitu Risa selesai menjelaskannya bersamaan dengan hal itu Lia mengeluarkan sebuah benda yang tak asing yakni sebuah speaker yang membuat Risa heran melihatnya.
" Kamu boleh menutup mata, dan dengarkan alunan musik ini setenang mungkin oke. " Ucap Lia dengan arahan yang sangat lembut sehingga membuat Risa dapat mematuhinya dengan tenang.
Mendengarkan musik dipercaya dapat membantu mempercepat penyembuhan suatu penyakit. Musik membuat tubuh menjadi rileks dan dapat membuat sistem tubuh bekerja menyembuhkan diri sendiri lebih baik. Itulah mengapa ada terapi musik untuk membantu penyembuhan, dan dalam dunia psikiater hal ini di jadikan bahan awal dalam mengatasi pasien untuk menghilangkan traumanya.
" Risa.., jika kau mendengar ku maka kau bisa menjawabnya dengan mengangguk pelan, oke. " lontar Lia dan di balas anggukan pelan dari Risa
Di luar ruangan, Juan dan Ravi tengah asik mengobrol seputar pengalaman terbang mereka, Ravi merupakan co-pilot seperti Juan yang di mana dulu pernah bekerja di Bandara Soekarno hatta sebelum akhirnya di pindah tugaskan di bandar udara Juanda.
Melihat Juan yang sudah terbang di berbagai negara tentu membuat Ravi yang hanya seorang co-pilot airbus merasa cemburu namun tetap memberikan dukungan terhadap Juan.
" Soal wanita yang bersama Lia, dia pacarmu kan.? " Ucap Ravi tiba-tiba.
" Bukan, dia hanya teman dan kebetulan kami satu maskapai, dia mengalami trauma pasca kecelakaan itu dan aku di tugaskan untuk membantunya mengatasi hal ini. " Jelas Juan tak membuat Ravi percaya kalau Risa tidak lebih dari seorang teman yang spesial.
" Kau sudah hampir menginjak usia 30, ku rasa dia orang yang cocok untuk kau nikahi, sama-sama bekerja di penerbangan satu maskapai pula apa lagi yang kau tunggu langsung sikat saja. "
" Kau bisa saja. " lontar Juan sambil tertawa garing.
Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan Risa yang membuat kedua pria itu tersentak kaget dan langsung berlari memasuki ruangan yang di tempati oleh Lia dan Risa, melihat Lia yang sedang mengatasi Risa yang sedang memberontak membuat Juan menghampiri wanita itu dan menggenggam kedua tangannya dengan erat berusaha menenangkan emosinya.
Lia menjelaskan bahwa emosi Risa melonjak saat ia berusaha membantu Risa melawan traumanya
bahkan Risa sadar sebelum Lia menyadarkannya dari hipnosis barusan.Juan berhasil menenangkan Risa dengan pelukan hangat setelah genggaman tangan tadi tak berhasil dan setelah Risa kembali tenang, Lia meminta kepada Risa untuk tetap di dalam selagi mereka bertiga keluar untuk membahas sesuatu yang di mana Risa belum boleh mendengarnya. Setelah mereka bertiga keluar dari ruangan itu, Lia terlihat kembali memasang wajah serius bahkan
setelah ia meneguk segelas air untuk memulai pembicaraan yang cukup serius ini.
" Risa sangat takut dengan trauma yang di alaminya, aku tidak tahu pasti seperti apa yang di alaminya saat kecelakaan itu terjadi. Satu yang pasti untuk saat ini alam bawah sadarnya pun masih tidak bisa melawan trauma itu, aku khawatir dia tidak bisa melanjutkan terapi ini lagi. " Jelas Lia kemudian.
" Kalau begitu biarkan Risa yang menentukannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa sebab
dia yang merasakan trauma itu. " Sahut Juan.
" Baiklah aku akan kembali ke dalam untuk memberitahunya dengan lembut, semoga saja masih ada harapan untuk menolongnya terlepas dari trauma ini." Lanjut Lia segera menemui Risa lagi.
Beberapa saat kemudian pintu ruangan itu kembali terkuak dan memunculkan Risa bersama Lia dengan raut wajah yang sulit di artikan, Juan menghampirinya dan berusaha menatap kedua bola mata Risa yang sejak tadi tidak bersemangat.
Kemudian Juan melirik Lia dan wanita itu hanya menggeleng tanda bahwa Risa tidak ingin melanjutkan terapi itu lagi. Mengingat waktu yang sudah menunjukkan pukul empat sore keduanya segera pamit dan tak lupa untuk mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan mereka hari ini.
Begitu kembali ke dalam mobil, Risa tak berniat duduk di sebelah Juan melainkan memilih untuk duduk di kursi belakang dengan memalingkan wajah seakan tak ingin berbicara dengan Juan.
Saat ini Juan tak tahu harus bersikap seperti apa berusaha untuk mengajak Risa bicara dalam situasi ini tentu akan mendapat masalah, sebaliknya ia mencoba untuk menahan semua itu dan mencoba nya nanti jika suasana hati Risa sudah berubah.
**
Malam kembali hadir di tengah-tengah keluarga Risa yang saat ini sedang menikmati makan malam bersama, namun tanpa adanya sosok Risa yang sampai saat ini masih mengurung diri di kamar setelah pulang dari terapi itu.
Juan kian merasa bersalah telah mengajaknya ke sana jika akhirnya akan membuat dirinya dan Risa bagaikan dua orang asing yang sedang bertemu, Seakan mengerti dengan perasaan Juan.Mama Risa menyerahkan senampan makanan yang berisikan makanan kesukaan Risa untuk di bawa naik dan Juan di minta untuk membawakan nampan itu ke kamar Risa.
"Bicaralah dengannya, aku yakin Risa pasti akan menuruti perintah kapten nya. " Ujar Mama Risa seketika membuat Juan merasa percaya diri kembali.
Pria itu mengangkat nampan makanan itu dan segera menuju kamar Risa yang berada di lantai dua sebelah kiri, setibanya di depan pintu kamar wanita itu Juan segera mengetuknya pelan-pelan.
" Risa ini aku, Mama mu menyuruhku membawakan makanan, tolong buka pintunya. " Lontar Juan penuh harap Risa akan segera membuka pintu tersebut.
Dua menit telah berlalu dan pintu masih tertutup membuat Juan harus menelan ludah susah payah, tak menyerah sampai di situ ia kembali mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali.
" Ini perintah kapten, kamu harus membuka pintu. " Ucapnya dengan suara yang sengaja di buat menyerupai suara kapten Zain.
Pintu berhasil terbuka dan membuat wajah Juan terlihat senang dan segera memasuki kamar
tersebut, ini pertama kalinya Juan memasuki kamar Risa. Dia bahkan sampai terkesan dengan suasana kamar yang terkesan klasik dan simpel namun masih terasa kenyamanan yang membuatnya betah lama-lama di dalam sana. Dia sampai lupa tujuannya datang jika bukan karena Risa menegurnya untuk meletakkan makanan itu dan segera pergi.
" Aku ingin bicara denganmu, boleh kita bicara di tempat seperti kemarin malam.? " Tanya Juan namun tak membuat Risa menjawab pertanyaan tersebut.
" Aku akan menunggumu di sana, habiskan dulu makanannya baru ke sana, oke. " Lanjut Juan perlahan meninggalkan kamar itu.
**
Pandangan Juan kini hanya menatap tanah yang ada di hadapannya dengan wajah sendu, semenit kemudian tanah yang ia lihat menampakan sepasang kaki yang mengenakan sendal berwarna merah muda yang membuat Juan tak asing melihatnya. Dia mendongak dan mendapati sosok yang sedari tadi di tunggunya dengan wajah kesenangan, Juan menepuk kursi kosong di sebelahnya untuk Risa segera duduk dan langsung di turuti oleh wanita itu.
" Aku minta maaf karena tidak memikirkan perasaanmu, aku tidak tahu kalau trauma itu membuatmu sampai ketakutan seperti tadi, di samping itu juga aku merasa sangat bodoh karena tidak menerbangkan pesawat dengan lebih baik lagi.. Aku minta maaf sekali lagi aku minta maaf. " Gumam Juan tiba-tiba membuat Risa membulatkan mata terkejut dengan permintaan maaf Juan barusan.
" Kamu bicara apa capt, kamu tidak salah... Aku yang salah waktu itu tidak hati-hati saat berusaha menyelamatkan diri. " Sahut Risa mencoba menenangkan suasana hati Juan yang sudah terlanjur buruk karena pemikirannya terhadap Risa.
" Dan juga aku tidak marah karena kamu mengajakku ke psikiater hari ini, Aku marah pada diriku yang sangat lemah. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk melawan trauma ini dan sejujurnya keinginanku untuk tetap menjadi pramugari masih ada dan akan selalu ada, Aku tidak tahu."
Juan meraih pundak Risa dan menepuknya pelan-pelan seakan memberikan dukungan untuk Risa agar tidak mudah menyerah, selain itu Juan akan tetap berada di sisinya membantunya untuk melawan trauma itu.
" Ada suatu hal yang ingin ku tunjukkan kepadamu, tapi sayangnya kita harus kembali ke Jakarta untuk melihatnya. " ujar Juan membuat Risa menoleh dengan wajah penasaran.