
" Aku tidak mau.!! " Tolak pria itu ketika Laras seorang pramugari senior yang melayaninya hanya dapat meminta maaf dan kembali memungut makanan yang telah berserakan di lantai pesawat.
" Maaf pak, saya akan mengambilkan yang baru. " Ucap Laras sambil membungkuk ke arah pria yang bernama Rama itu
" Maksud ku, aku tidak mau kalau kamu yang melayani ku. " balasnya tegas
Laras terlihat kebingungan belum lagi beberapa penumpang mulai memperhatikannya, Tiba-tiba Sabrina datang dan menangani masalah tersebut, dengan sangat lembut ia bertanya pada Rama atas permintaan nya yang tidak terpenuhi dan ia dengan cepat meminta agar Risa yang melayani nya dan bukan orang lain. Sabrina tahu kalau Risa sedang menjauhi pria itu namun apa yang harus di lakukan jika ia memintanya seperti ini, Sabrina meminta Rama untuk menunggu sembari ia memanggil Risa di kabin kelas ekonomi.
Kembalinya Sabrina dari memanggil Risa berhasil membuat Rama kegirangan, wajahnya yang semula kesal mendadak ceria dan meminta Risa untuk di buatkan teh seperti pesanannya sebelum-sebelumnya, Risa hanya dapat mendesah panjang dan kembali ke galley kelas bisnis bersama Sabrina. Di sana ia sangat kesal dan mengutuk sikap Rama yang benar-benar egois, seandainya dia bukan putra pemilik perusahaan pasti Risa sudah melaporkan nya kepada Kapten Ridwan agar ia segera di tangani.
Kini Risa telah selesai membuatkan teh untuk Rama dan mengantarkannya langsung, Pria itu benar-benar senang jika Risa yang melayaninya namun Risa sangat membenci sikapnya yang belum lagi dengan genitnya mengedipkan mata ke arah Risa setelah Risa meletakkan cangkir tehnya di atas meja, Saat Risa hendak pergi ia dengan cepat menahan Risa dengan menarik lengannya, melihat hal tersebut Risa pun mencoba melepaskan tangannya dan Rama melepasnya dengan senyum yang terlihat aneh.
" Sebentar, Aku Rama. " Pria itu mengulurkan tangannya, Risa berhenti sebentar seperdetik pandangannya tak berkedip melihat uluran tangan itu
" Arisa Naomi, pak. " Balas nya pelan namun tidak membalas uluran tangan Rama melainkan hanya menundukkan kepala sebentar
" Nama yang cantik seperti orangnya. " Gumam Rama tersenyum senang
" Terima kasih pak. " Balasnya pelan
" Jangan panggil pak dong, aku masih muda kok. " Lanjutnya sambil terkekeh memecah dingin di kabin
Risa hanya tersenyum simpul dan mengedarkan pandangannya ke arah lain. Sejurus kemudian Rama kembali menyahut " Boleh aku meminta nomor ponsel mu.? " Pintanya dengan sangat
" Maafkan aku tuan, ini adalah jam kerja saya, saya bertugas untuk melayani anda bukan memberikan nomor pribadi saya pada orang lain, maafkan saya.. Saya permisi. " ucap Risa pelan dan segera meninggalkan Rama yang tampak kesal dengan jawaban yang menohok tadi
Setelah Risa kembali ke tempatnya, Sabrina mulai menanyakan apa yang terjadi dan Risa pun menjelaskannya dengan penuh kekesalan, ia benar-benar mengutuk keluarga Dimas yang semuanya terlihat menyebalkan. Risa berharap dengan penolakan barusan pria itu dapat berhenti mengganggunya.
\*
Bandara adalah tempat pergi dan pulang dan tidak bisa menetap di dalamnya dan itulah keadaanya, pesawat mendesingkan suara siap lepas landas mesin turbonya berputar mengeluarkan panas membuat landasan pacu membias pandangan, anak-anak yang berada di lounge tampak berlarian menuju kaca jendela menempelkan tangan-nya mungil mereka untuk menyaksikan sebuah burung besi siap untuk mendarat layaknya menyaksikan sebuah pertunjukan yang spektakuler.
Risa mulai merasa sedikit lebih lega setelah pesawat landing di bandar udara Zainuddin Abdul Madjid Lombok Nusa Tenggara Barat, saat itu ia tidak ikut menangani tugas di kabin untuk menghindari Rama dan setelah seluruh penumpang turun barulah Risa dapat bernafas dengan lega sambil menyenderkan tubuh nya dengan malas di atas kursi pesawat.
" Kau sudah aman sekarang, Sebaiknya orang-orang seperti dia di diamkan saja tapi apalah daya kita, dia seorang anak pemilik perusahaan penerbangan tempat kita bekerja, jadi kau harus bersabar. " lontar Sabrina sembari menyodorkan segelas air mineral pada Risa
" Ku harap dia tidak ikut penerbangan kita lagi, Aku baru sadar kalau selama ini dia terus menerus ikut di penerbangan kita, Jadwal penerbangan berikutnya masih ada 8 jam lagi kan aku capek banget mau istirahat, abis briefing kita langsung ke wisma yah." Ajak Risa dan di balas anggukan mantap dari Sabrina
Kapten Ridwan beserta co-pilotnya baru saja keluar dari dalam kokpit dan semua awak kabin berkumpul untuk mendengarkan penyampaian beliau, Tak berlangsung cukup lama dan setelah itu semua awak kabin di perbolehkan untuk beristirahat menunggu pertukaran jam terbang seperti biasa, Beda halnya dengan penerbangan internasional di mana mereka bisa berlibur dan jalan-jalan di negara yang di jumpai serta tempat tinggalnya pun berupa sebuah hotel sementara yang bekerja di penerbangan dalam negeri hanya di sediakan sebuah wisma.
\*
Risa dan Sabrina sudah sampai di wisma dan langsung merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur, saat ini jam menunjukkan pukul 2 siang waktu yang tepat untuk tidur dan mengembalikan stamina mereka yang terkuras setelah melangsungkan penerbangan yang cukup lama dan delay yang sebelumnya membuat mereka lelah menunggu. Risa beringsut ke kasur sambil menyingkirkan bantal kepala, Risa lebih suka tidur tanpa bantal sebab itu hanya akan menyebabkan sakit leher jika ia bangun nanti. Matanya yang terasa berat mencoba untuk tertutup namun tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan membuat wanita itu meraih ponselnya yang berada di dalam tas.
" Halo. " Ucap Risa tanpa melihat siapa yang menelepon, tak ada suara dan itu membuat Risa menatap layar ponselnya dengan heran.
" Kenapa Ris.? " Tanya Sabrina yang baru saja keluar dari kamar mandi
" Ini, ada yang nelpon tapi nggak ada suaranya. Halo.., ini dengan siapa yah.? " Lanjut Risa sekali lagi namun masih tak ada suara yang terdengar sehingga ia pun mengakhiri panggilan itu secara sepihak dan meletakkan ponselnya di atas meja samping tempat tidur
Risa kembali menarik selimut bersiap untuk tidur, Rupanya orang yang menelpon nya barusan tidak menelpon nya lagi sehingga ia mengira itu hanyalah sebuah panggilan nyasar, Sabrina ikut naik ke atas tempat tidur lagi dan melirik Risa sekilas setelah itu menutup kedua matanya.
\*
Perbedaan waktu antara Indonesia dan Dubai adalah 3 jam dan saat ini di Indonesia pukul tujuh malam sementara di Dubai masih pukul 4 sore, Juan janji akan menelpon Risa sebelum ia kembali bertugas dan saat ini wanita itu tampak siap-siap dengan riasan wajah khas pramugari nya, seorang pramugari di tuntut untuk tampil cantik dan sempurna di depan para penumpang dan ada batasan dalam merias wajah di mana tidak boleh terlalu tebal bahkan sampai memakai warna lipstik yang mencolok. Dering ponsel Risa baru saja membuatnya bergeming dan kembali melirik ponselnya, Keningnya mengerut tatkala melihat nomor baru yang menelpon nya barusan, kemudian ia teringat dengan nomor terakhir nomor itu di mana dia adalah si penelpon yang tidak bersuara beberapa waktu yang lalu.
Risa tak ingin menjawabnya dan me reject nya begitu saja, Tak berhenti sampai di situ si penelpon itu terus menerus menghubungi Risa dan semakin membuatnya kesal, Panggilan kembali berkahir dan semenit kemudian berbunyi dan membuat Risa menyambar ponsel tersebut, menjawabnya dan mulai marah-marah pada si penelpon.
" Ada apa? Kenapa kau marah-marah ? Apa aku baru saja mengganggumu ?" Tanya seseorang di seberang sana seketika membuat Risa buyar dan melirik layar ponselnya, ternyata itu adalah Juan dan bukannya nomor tanpa nama barusan.
" Ku pikir orang iseng itu, ternyata kamu. " lontar Risa merasa bersalah
" Orang iseng? "
" Ia.., dari tadi ada yang nelpon pas di angkat dia nggak ngomong. "
" Ya udah kalau gitu jangan di hiraukan. "
" Hmm.., Kamu ngapain? Gimana perjalanannya, seru nggak.? " Tanya Risa lirih
Keduanya mulai mengobrol cukup lama hingga Sabrina yang baru saja selesai bersiap-siap segera mengajak Risa untuk menuju bandara lagi, Terpaksa Risa harus mengakhiri panggilannya dengan Juan dan bergegas meninggalkan wisma.
\*
Dubai, bagi Juan ini merupakan kota yang sempurna di Uni Emirat Arab dengan keindahan kota yang fantastik dan menara mewah yang tinggi menjulang ke langit, Salah satu yang paling terkenal yaitu Burj khalifa ketinggiannya mencapai 828 meter atau 2717 kaki hampir setara dengan ketinggian minimum pada sebuah pesawat terbang. Seorang pria berperawakan tinggi dengan wajah blasteran Brazil Indonesia lengkap dengan senyuman manis serta kedua bola mata yang kecoklatan terlihat menatap gedung pencakar langit di depannya sambil menikmati secangkir kopi yang di belinya di coffee shop.
Juan Diaz si co-pilot tampan itu baru saja mendesah kasar lantaran kesal dengan permasalahan hidup yang di alaminya, Di saat-saat seperti ini ia begitu ingin berada di samping orang yang ia cintai dan yang terlintas di pikirannya saat ini tak lain adalah neneknya dan Risa, Saat ini Juan benar-benar ingin menghubungi sang nenek hingga langsung menghubungi tantenya yang kebetulan saat ini sedang bersama beliau, Waktu antara Dubai dan Brazil untungnya hanya tujuh jam lebih awal di mana saat ini di Brazil masih pukul 10 pagi. Panggilan berhasil terhubung namun tantenya tak kunjung menjawab panggilan tersebut membuat Juan berdecak kesal di buatnya.
Sekali lagi Juan mencoba menghubungi tantenya dan kali ini berhasil di jawab, terdengar suara lelah seorang wanita di seberang sana seperti kehilangan semangat untuk bicara, Juan bertanya kabar pada tantenya terlebih dulu lalu setelah itu menanyakan keadaan neneknya. Wanita itu berkata kalau ibunya baik-baik saja dan saat ini sedang tidur terpaksa Juan harus menunda untuk memberitahu kepada sang nenek bahwa saat ini ia sudah berhasil menemukan tambatan hatinya.
Baru saja Juan akan mengakhiri panggilannya, Tantenya tiba-tiba menahan panggilan itu dan langsung menanyakan soal Risa yang di mana ia telah mengetahui hubungan Juan dan Risa dari Jane putrinya. Juan tak ingin mengatakan banyak hal namun ia tetap menekankan bahwa saat ini dirinya memang sedang berpacaran dengan Risa, Wanita itu bersorak mendengarnya seakan-akan pengakuan Juan barusan merupakan berita yang sedang di tunggu-tunggu oleh keluarga di Brazil, Juan pun mengakhiri panggilan itu karena tak ingin mendengar ucapan tantenya yang sangat berlebihan.
Setelah mengakhiri panggilan nya Juan bangkit dari tempatnya duduk setelah setengah jam yang lalu menikmati keindahan kota Dubai dari sana, Juan berjalan hingga menuju pembatas gedung untuk melihat keadaan yang ada di bawah, saat ini ia berada di balkon kamar hotel yang langsung mencondong ke arah gedung pencakar langit burj khalifa, masih ada sebulan lagi dan rasanya waktu berjalan sangat lambat saat ini, Juan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya dan menatap isi dari kotak kecil itu dengan senyuman yang merekah di bibirnya.
" Sedikit lagi, tunggu aku pulang. " Ucap Juan lirih
\*
Dari Nusa tenggara barat kembali ke Jakarta, jam terbang kali ini hanya dua kali balik dan akan di lanjutkan besok subuh, Pesawat yang tiba di Jakarta tepat pada pukul dua belas malam untungnya di bandara baik taksi maupun orang-orang yang bekerja dalam transportasi terus stay di sana sehingga Risa bisa pulang tanpa harus kesusahan mencari kendaraan. Setelah berpisah dari para awak kabin, Risa menjenggat satu taksi untuk mengantarnya pulang, dan saat di perjalanan pulang suasana ibu kota Jakarta memang sangatlah sepi untungnya supir yang di tumpangi Risa sangat ramah ia bahkan mengajak Risa bercerita untuk menghilangkan kesunyian yang terasa.
Supir taksi itu memiliki usia yang sama dengan papa Risa dan ia berkata sudah menjadi supir taksi selama lima belas tahun, dia punya seorang anak perempuan yang masih mengejar gelar sarjana S1 sementara putra bungsunya masih menginjak bangku SMA di ibu kota. Walaupun supir tersebut orang yang ramah bukan berarti sebuah ancaman tidak menghampiri Risa, saat ini sebuah mobil berjenis bmw tengah mengikutinya dari belakang hal itu di yakini oleh pak supir ketika ia sedikit menjaga jarak dan mobil itu tetap mengikuti tiap pergerakannya. Risa yang berbalik ke belakang melihatnya mulai merasa tidak tenang, kenapa hari ini terasa sangat menakutkan belum lagi si penelpon misterius dan kali ini mobil aneh yang terus mengikuti nya.
" Pak coba ngebut aja. " Ucap Risa dan langsung di turuti oleh pak supir
Ketika supir itu membalap mobilnya si pengemudi yang menguntit di belakang ikut melajukan mobilnya dengan cepat hingga keduanya kini saling bersebelahan, Risa mencoba untuk melihat siapa yang ada di dalam mobil itu namun sayang kaca mobilnya terlalu gelap sehingga ia tak bisa melihatnya. Tak berselang lama ketika mobil itu melaju beriringan hingga pada akhirnya ia memberikan kode berupa klakson yang cukup nyaring dan setelah itu melajukan mobilnya lurus ke depan.
Risa tak bisa berkata-kata lagi, Ia hanya dapat melihat bayangan mobil itu yang mulai menghilang di balik kegelapan, Ia dan si supir taksi kini dapat melanjutkan perjalanan dengan tenang. Kini Risa telah sampai di rumah kostnya, Setelah membayar tarif taksinya ia pun menarik kopernya dengan tergesa-gesa, Entah mengapa setelah orang aneh itu menguntitnya ia mulai merasa tengah di awasi.
Bahkan ketika Risa hendak membuka pintu, dari arah jam sembilan tampak suara aneh muncul, Ia menoleh dengan takut dan mendapati sebuah pohon yang bergerak karena hembusan angin, Suasana kost memang sudah sangat sepi hari ini mengingat jam sudah menunjukkan pukul 00:00. Pintu berhasil terbuka dan Risa pun segera masuk ke dalam.
\*
Pukul lima subuh Risa sudah bangun, semalam ia tak bisa tidur setelah pulang mengalami hal yang aneh, ia tak tahu apakah si penguntit itu akan kembali lagi atau tidak yang pastinya saat ini ia akan waspada , Setelah selesai siap-siap seperti biasa taksi online langganan Risa telah siap di depan dan ia pun segera turun sambil menarik kopernya. Saat membuka dan mengunci pintu rumah pun Risa terlihat was-was. Risa pamit pada ibu kost yang kebetulan saat itu sudah bangun sambil membersihkan halaman sejurus kemudian Risa menitip kan kamarnya pada beliau untuk terus di awasi barangkali ada seseorang yang datang dan ia tak ingin siapapun memasuki kamarnya tanpa sepengetahuan nya.
Kini Risa sudah menyimpan koper ke dalam bagasi mobil, ia pun masuk dan duduk di kursi penumpang, Mobil itu mulai berjalan meninggalkan pelataran kost, beberapa meter melaju tak sengaja Risa mendapati sebuah mobil yang terparkir di sudut lorong kompleks kost-an yang di mana mobil itu nampak tak asing bagi Risa, ia pun mengeluarkan ponselnya dan hendak menelpon Juan namun setelah di pikir-pikir lagi mungkin hal itu tidak akan baik untuk dilaporkan toh orang yang di kira menguntitnya belum sepenuhnya benar-benar menguntit, bisa saja ini adalah sebuah kebetulan dan Risa berharap besar akan hal itu.
Setibanya di bandara, Risa bertemu dengan rekan se kru nya dan bergegas menuju pesawat untuk melakukan persiapan terbang pagi ini, Akan ada empat kali jam terbang hari ini dan mungkin dirinya akan di sibukkan dengan tugasnya sehingga sebelum itu terjadi Risa mengirimkan Juan pesan singkat yang mengatakan untuk tetap semangat bertugas. Seperti biasa ketika sudah tiba di dalam pesawat, semua awak kabin berkumpul untuk briefing dan setelah itu di lanjut kan dengan pemeriksaan pesawat mulai dari kabin depan hingga belakang, tak lupa area galley apakah semua makanan dan minuman telah tersedia dan kebepesawat lavatory untuk penumpang gunakan nantinya.
Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, sudah saatnya para penumpang memasuki badan pesawat, Tiga pilot tengah berkoordinasi dengan flight dipatcher mengenai planning penerbangan tentang lama jarak yang akan di tempuh serta peta penerbangan, sementara itu awak kabin yang lain sibuk melaksanakan tugasnya masing-masing, ada yang menyambut serta memberikan selamat datang kepada para penumpang, mengecek tiket masuknya melakukan screening layaknya seorang security, mengarahkannya ke tempat duduk sesuai tiket yang di miliki, Beberapa awak lainnya membantu penumpang pesawat berkebutuhan khusus seperti pengguna kursi roda, gangguan penglihatan, paralysis hingga ibu hamil dan anak-anak remaja yang berangkat sendirian tanpa orang tua yang menemaninya.
Awak kabin yang memiliki tugas khusus seperti Risa san Sabrina mengarahkan para penumpang mengenai perintah dan cara membuka pintu jika keadaan darurat terjadi, Risa harus memastikan apakah penumpang yang duduk di kursi emergency ini layak untuk duduk di sana, seperti seorang bapak berusia 40 tahun yang sangat tanggap saat Risa menjelaskan tata caranya sehingga ia di pilih langsung untuk duduk di kursi emergency tersebut. Penerbangan Jakarta ke Sulawesi Selatan akan menempuh waktu dua jam, semua penumpang telah duduk di kursi mereka masing-masing dan semua barang-barang telah tersusun rapih di dalam kompartemen dan kolong kursi penumpang, awak pesawat melakukan pelaporan di tempatnya masing-masing setelah pilot menerima laporan tersebut barulah mereka siap-siap untuk take off dan mengantar para penumpang ke tempat tujuan dengan selamat.
Pesawat kini telah bergerak dengan bantuan mobil kecil yang menariknya agar memudahkan dalam bergerak ke landasan pacu, Pilot pun mulai mengendalikan pesawat sembari memberikan laporan kepada pusat ATC untuk siap lepas landas, pesawat kini mulai meninggalkan landasan pacu, deru suara mesinnya terdengar sangat jelas, Pilot segera melakukan manuver dan kedua mesin pesawat berpacu kuat hingga panas dari dari mesin sampai ke pembuluh kemudi kontrol. Dari area parkir sang marvel memberikan lambaian tangan untuk pesawat yang telah berhasil take off meninggalkan bandar udara Soekarno hatta. Pesawat kini telah berhasil menembus awan pergerakannya mulai naik turun akibat kuatnya angin di atas sana, awan-awan putih bergerumul di langit biru yang di mana terlihat sangat Indah namun jika di lewati akan membuat guncangan yang cukup kuat.
Tung.!!!
Lampu sabuk pengaman di matikan, setelah
Dua puluh menit berselang di mana saat ini pesawat terbang di atas ketinggian minum untuk melakukan kegiatan para awak kabin untuk segera melakukan tugasnya masing-masing, Di dalam galley Risa telah memastikan makanan untuk penumpang apakah sudah layak untuk di sajikan atau belum, dan setelah semua di periksa dengan cukup baik tiba saatnya untuk menyusun semua makanan dan minuman itu ke atas trolley untuk segera di antarkan kepada para penumpang pesawat. Begitu semua beres Risa menemani pramugari junior untuk mengantar kan makanan dan minuman tersebut, Saat tirai di buka tampak semua para penumpang mulai melepaskan ketegangan mereka dengan saling bercengkrama satu sama lain, senyum Risa dan pramugari junior yang bersamanya tak henti-hentinya mengembang menyapa satu persatu penumpang dari row ke row. Seorang anak muda berusia sekitar 18 tahun tampak bingung setelah melepas sabuk pengamannya, Risa yang menyaksikan hal itu langsung menghampirinya dan bertanya dengan sopan.
" Ada yang bisa kakak bantu dek.? " Tanyanya lembut
" Aku mau ke toilet kak. " Ucapnya ragu-ragu
" Toiletnya di sebelah sana, sini kakak temani. " Ajak Risa dan mulai mengajak anak perempuan itu menuju lavatory yang berada di sebelah galley
Rupanya anak perempuan itu adalah penumpang tunggal dan mungkin masih baru menaiki pesawat sampai ia tak tahu caranya menggunakan lavatory tersebut, Risa dengan sangat ramah menolongnya membuat anak itu merasa nyaman dan tenang, Setelah anak itu masuk ke dalam Risa hanya dapat menunggunya di luar, selang beberapa menit anak itu keluar dan di tuntun oleh Risa kembali ke tempatnya. Anak itu tak lupa mengucapkan rasa terima kasihnya pada Risa atas pertolongannya yang sangat berarti.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Halo para pembaca yang baik dan Budiman, gimana nih ceritanya seru nggak ? Aku harap kalian suka yah, semoga sampai sini kalian bisa suka sama ceritanya, jangan lupa berikan like dan vote yah, dan satu lagi tolong sekiranya jangan memberikan komentar buruk atas karya ini, jika tidak suka cukup tidak usah baca jangan memberikan komentar yang bisa buat author sedih yah. Orang baik selalu memberikan komentar positif dan akan dapat pahala yang banyak Amiiiin
Stay safe and healthy, semoga corona cepat hilang dan kita bisa beraktivitas normal kembali..
Love Author,