
Di dalam sebuah kamar yang berukuran cukup besar, dengan warna yang dominan peach pink baru saja membuat Risa yang memasuki kamar itu langsung bertanya-tanya. Siapa yang sebelumnya pernah tinggal di kamar ini, sementara Risa hanya tahu kalau Juan dan Neneknya hanya tinggal berdua di rumah besar itu.
Bicara soal hanya tinggal berdua, Risa mulai memikirkan sesuatu soal nenek Juan. Jika Juan pergi bertugas dan kembali dalam jangka waktu yang cukup lama sama siapa nenek itu tinggal, siapa yang mengurus segala keperluannya dan membersihkan rumah sebesar ini tentu tidak mungkin di lakukan nya seorang diri.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar sehingga membuat Risa terperanjat kaget, Ia kemudian menghampiri pintu itu dan membukanya pelan-pelan. Sosok Juan datang dengan wajah kebingungan nya ingin memulai percakapan dengan Risa, dengan cepat tanpa melakukan kontak mata Juan menyuruh Risa untuk bersiap-siap makan malam. Keduanya terlihat cukup canggung sesaat setelah Risa mengiyakan ucapan Juan dan kembali menutup pintu kamar.
" Melihatnya berpakaian santai terlihat seperti bukan seorang pilot, tapi anehnya ketampanan nya seakan tidak berubah. "
" Tunggu dulu... Apa yang barusan aku katakan? Kenapa aku mengatakan hal itu, Risa kau benar-benar bodoh. " Risa bergegas menuju kamar mandi sambil menepuk-nepuk wajahnya agar cepat tersadar, sejak kapan dirinya mulai mengagumi ketampanan Juan padahal sebelumnya ia bahkan tidak memikirkannya sama sekali.
Setelah menghabiskan tiga puluh menit di dalam kamar, Risa pun keluar dengan pakaian kasualnya menuju ruang makan di mana di sana sudah ada Juan dan neneknya yang saat ini sedang duduk di kursi meja makan. Risa tersenyum simpul ke arah mereka dan Juan pun mulai mempersilakan wanita itu untuk duduk bersamanya.
Risa menatap semua menu makanan yang ada di atas meja, semua terlihat lezat dan menggugah selera. Namun yang membuat Risa tiba-tiba penasaran adalah dari mana datangnya semua makanan lezat itu, bukannya di rumah itu tak ada pembantu apa mungkin nenek itu yang memasaknya.
Juan memperhatikan wajah kebingungan Risa dan menyuruhnya untuk langsung makan saja, Juan berkata kalau semua makanan ini dia lah yang membuatnya. Alhasil Risa yang mendengarnya cukup kaget namun sedikit kagum dengan Juan yang jago masak, Risa mulai menyendok menu pertama yang di lihatnya menarik dari aroma dan tampilannya sangat menggoda dan begitu Risa menyuap serta mengunyahnya sensasi rasa yang di atasnya kata nikmat kian tergambarkan.
" Ini enak sekali, aku tidak percaya kalau kapten bisa masak. " Ucap Risa berdecak kagum.
" Syukurlah kalau kamu suka." Lontar Juan tersenyum kecil.
Malam itu mereka menikmati masakan buatan Juan tanpa banyak bicara , Orang Brazil memiliki kebiasaan makan dengan tenang tanpa ada yang boleh berkata-kata walau hanya sedikit sebab itu di artikan tidak sopan apalagi jika di meja makan ada orang yang jauh lebih tua di atas mereka.
**
Malam yang Indah di langit Brazil menampilkan kilauan kemintang yang bertabur Indah di sana, sepasang mata coklat yang berbinar terlihat menatap luasnya langit malam dengan sebuah ponsel di tangannya. Baru saja ada sebuah pesan yang membuatnya mendadak bad mood dan rasanya saat ini ia ingin menghilang dari bumi.
Bukan sekali dua kali sebuah pesan masuk yang membuatnya dongkol, namun berkali-kali dan hari ini semua emosi yang terdapat pada pesan itu menyimpan kegelisahan di hatinya. Risa mendesah pelan dan mencoba untuk tetap tenang, ia meraih secangkir teh hangat dan di seruput nya pelan-pelan. Dari atas balkon kamar ia tak sengaja melihat seorang pria yang baru saja keluar dari rumah, ia terlihat menghampiri sebuah rumah kecil yang tak jauh dari rumah utama, tiba-tiba seekor anjing berjenis husky baru saja keluar dan mulai bermanja-manja di kakinya.
Tanpa sadar Risa mulai tersenyum melihat tingkah gemas anjing itu, terutama saat Juan menyuruhnya untuk duduk kemudian berdiri hingga berguling-guling di tanah dan langsung patuhi nya dengan pintar. Sekilas Risa mulai melihat senyuman aneh dari Juan, senyuman yang sebelumnya tidak pernah ia lihat dan senyuman itu seakan menandakan bahwa saat ini ia benar-benar bahagia.
Dering ponsel miliknya kembali berdering namun kali ini bukan dari seseorang yang membuatnya sedih melainkan dari Maya, ia baru ingat kalau sampai saat ini belum memberitahu Maya kalau dirinya berada di rumah Juan. Alhasil Risa langsung menjawabnya dan mulai mendengarkan keluhan Maya di seberang sana, dari suara Maya sepertinya ia tengah berbohong kepada seseorang, ia terdengar aneh dan mulai membahas percakapan yang tidak bisa di pahami oleh Risa.
" Halo May, kamu kenapa sih.? " Tanya Risa memasang wajah heran, Maya masih mengoceh tidak jelas dan di akhirinya dengan kalimat yang tidak jelas juga.
Risa menatap layar ponselnya bingung, sejurus kemudian satu pesan singkat masuk dan segera di bacanya.
" Karin memintaku untuk menelpon mu, Kamu sedang di rumah Capt Juan kan? Sepertinya dia sudah mencurigai mu Ris, kau harus berhati-hati sebab aku sudah berbohong kepadanya kalau kau sedang berada di rumah sepupumu yang ada di Kota, Di sini aman kau jangan khawatir sebagai gantinya jika kau pulang nanti kau harus menjelaskan apa yang sudah terjadi, oke. " Tulis Maya pada pesan singkatnya barusan.
" Kau sedang apa.? " Sahut Juan di bawah sana, tampaknya ia sedang memperhatikan Risa sejak wanita itu menerima panggilan telepon.
" Turunlah. " Ajak Juan dengan menggerakkan tangan memanggil Risa untuk bergabung dengannya.
Awalnya Risa menolak karena tidak ingin membuat kedekatan yang lebih dengan Juan, namun saat ini perasaan gelisah nya dengan Dimas memaksa Risa untuk bergabung bersama Juan di halaman rumahnya. Kini Risa sudah berada di hadapan Juan menghampiri anjingnya yang bernama Bob kemudian menyuruhnya seperti yang di lakukan oleh Juan barusan, sayangnya Bob tidak menuruti perintah Risa dan membuat Juan terkekeh pelan melihatnya.
" Aku penasaran kenapa Nenekmu bisa tinggal di tengah hutan seperti ini.? " Tanya Risa setelah menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi kayu.
" Rumah ini sudah ada sejak aku lahir, Desainnya berubah setelah kedua orang tuaku meninggal. Aku sengaja merubahnya untuk mengenang Ibuku yang sangat menyukai rumah dengan model seperti ini, Selain itu rumah ini tidak berada di tengah-tengah hutan.., Kau hanya perlu berjalan dua kilometer keluar dan menemukan perkotaan di sana, Tanteku yang selalu merawat Nenek biasanya akan datang jika aku kembali bertugas. " Jelas Juan yang di mana rasa penasaran Risa satu persatu mulai menghilang.
" Kau pasti sangat menyayangi nenekmu.? " Lontar Risa lagi.
" Dia satu-satunya wanita yang paling ku cintai saat ini, aku selalu merasa bersalah jika meninggalkan nya sendirian setiap ada tugas namun salah satu pendorong ketika aku down saat kedua orang tua ku meninggal adalah beliau, Nenek selalu menyemangati ku untuk menjadi seorang pilot hebat seperti sekarang ini. "
" Dia benar-benar beruntung memiliki cucu sepertimu capt," Seru Risa mengundang senyuman malu-malu dari Juan.
Karena malam semakin larut dan udara di luar sangat dingin, keduanya segera memasuki rumah untuk segera beristirahat, Besok akan ada pekerjaan yang menunggu Juan dan Risa maka dari itu malam ini mereka harus tidur lebih cepat.
**
Risa terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara mesin mobil yang perlahan terdengar mulai menghilang, Ia pun sadar dan langsung menuju jendela melirik keluar kamar dan mendapati sebuah mobil yang tak asing baru saja meninggalkan pelataran rumah. Risa yang panik pun tak tinggal diam dengan beralih ke balkon sembari meneriaki nama Juan, percuma saja suaranya yang sekecil itu tidak akan sampai di pendengaran Juan yang melajukan mobilnya dengan cepat.
" Dia tidak meninggalkanku kan.? " gumam Risa dengan wajah memelas.
Risa tak tahu kemana Juan akan pergi sepagi ini, bahkan sinar matahari masih malu-malu untuk keluar sementara pria itu sudah siap entah kemana. Risa beralih ke kamar mandi dan tak lama setelah itu ia pun keluar dan bergegas menuju dapur, sebagai tamu ia tentu tak mau menjadi parasit dengan menunggu pemilik rumah membuatkan sarapan.
Setibanya di dapur, Risa mulai mengeluarkan beberapa bahan makanan yang ia temukan di dalam lemari es, setelah itu ia siap untuk membuat sarapan pagi. Untungnya Risa pandai memasak semenjak dirinya menjalani pelatihan pramugari ia terus berusaha melatih skill memasaknya hingga saat ini belum ada yang merasa mengeluh dengan cita rasa makanan yang di buat olehnya.
Sembari memasak, wanita itu terlihat sibuk memperhatikan seisi rumah Juan yang sangat sepi ia bahkan mencari-cari sosok nenek Juan yang sampai saat ini belum keluar kamar. Sebelum nenek Juan keluar Risa ingin masakannya sudah jadi tepat waktu, dan ia juga berharap ketika Juan pulang nanti ia bisa meminta Juan untuk membawanya segera pergi dari rumah itu. Risa tak ingin orang-orang mulai curiga dan akan berpikiran yang tidak-tidak kepadanya belum lagi Karin yang pasti harus di hadapinya setelah tiba di hotel nanti.
Dalam waktu tiga puluh menit Risa telah berhasil membuat beberapa menu sarapan pagi dan saat ini ia telah selesai menata semua makanan di atas meja makan, tiba saatnya untuk memanggil nenek Juan makan. Namun saat Risa berjalan menuju ruang tengah ia cukup kebingungan sebab ia tak tahu di mana kamar Nenek Juan berada sementara kamar di rumah itu ada enam ruangan, Terpaksa Risa harus mengeceknya satu persatu.
Risa mulai mengecek pintu kamar yang terdapat di sebelah kamar tempatnya tidur semalam, ia mengetuk pintu kamar itu sebanyak tiga kali dan tidak mendapatkan respon dari dalam. Namun ia tetap nekat untuk membuka pintu kamar tersebut barang kali nenek Juan tidak mendengar ketukannya dan setelah di buka ia hanya dapat melihat kamar kosong dengan satu tempat tidur yang terlihat seperti ruangan kosong.
Kemudian Risa pindah di sudut ruangan yang menuju halaman belakang, ketika Risa kembali mengetuk dan tak mendapat jawaban ia langsung membuka pintu kamar tersebut dan kedua bola matanya seketika membesar melihat isi kamar itu.
Tanpa sadar Risa sudah memasuki kamar itu karena penasaran dan kagum dengan seisi kamar yang di desain seperti kokpit pesawat, langit-langit kamar yang di buat seperti rasi Bintang dan corak dinding berwarna biru muda dengan sedikit gambaran awan membuat siapa saja yang berada di kamar itu merasa sedang berada di angkasa. Kecintaan Juan pada pesawat terbang dan angkasa sangat besar terbukti dari beberapa koleksi serta pernak pernik kamar yang penuh dengan tema penerbangan.
Pandangan Risa tiba-tiba tertuju pada sebuah bingkai foto yang tertera di atas sebuah bupet, Dari semua bingkai terdapat foto nenek Juan yang di mana Juan benar-benar menyayangi beliau. Di salah satu bingkai Risa dapat melihat foto kedua orang tua Juan yang sangat cantik dan tampan tak heran jika putra nya mewarisi wajah sempurna seperti mereka, Saking sibuknya memperhatikan foto-foto Risa sampai tak menyadari kehadiran Nenek Juan saat itu.
" Nenek, Maafkan aku karena masuk ke kamar ini tanpa seizin Kapten Juan." lontar Risa menunduk bersalah.
Wanita tua itu hanya menatap Risa datar sama seperti tatapan Juan yang sedang serius, Kemudian ia berbalik meninggalkan kamar itu. namun Risa dengan cepat mengikutinya dari belakang, sayangnya nenek Juan tidak bisa berbahasa Inggris maupun Indonesia.
Nenek Juan sangat fasih menggunakan bahasa Portugis sebab ia asli orang sini namun hal itu juga yang membuat Risa kesulitan untuk berkomunikasi dengannya, Risa bahkan sampai ingat dengan Belmira wanita tua yang dulu pernah di selamatkan nya.
Begitu keduanya tiba di meja makan, Risa segera membantu nenek Juan untuk menyendok makanan ke atas piringnya tak lupa ia juga menuangkan secangkir teh untuk beliau minum. Pandangan tajam nenek Juan ke arah masakan Risa seperti seorang chef yang hendak memberikan nilai dan entah kenapa suasananya menjadi serius sekarang.
" Who are you.? " Tanya wanita setengah baya itu pada Risa.
" I'm... " belum sempat Risa melanjutkan ucapannya suara teriakan wanita itu sukses membuat Risa terkejut, saat ini wanita itu terlihat menyingkirkan satu menu makanan yang Risa buat dari hadapan nenek Juan.
" My mom can't eat food fried. " Lontarnya yang membuat Risa mengerti siapa wanita itu
" Sorry i don't know about it. " Lanjut Risa segera menyingkirkan makanan yang di goreng.
" Kamu dari Indonesia.? " Tanya wanita itu tiba-tiba.
" Iya, saya Arisa Naomi salah satu pramugari di pesawat yang sama dengan Kapten Juan. " Balasnya pelan.
" Lagi-lagi dia membawa wanita lain ke rumah, sudah berapa kali ku katakan untuk tidak membawa seorang wanita ke rumah ibuku, Dasar anak itu. " Celotehnya membuat Risa kebingungan.
Setelah memberikan sarapan yang sesuai untuk nenek Juan, Wanita yang mengaku sebagai anak nenek Juan yang tak lain adalah Tante Juan itu mengajak Risa ke ruang tamu untuk membahas sesuatu.
" Kau tahu kan kalau Juan selalu mengajak seorang wanita ke rumah ini.? " Tanya Risa dan di balas anggukan kecil darinya.
" Kau tahu apa alasannya.? "
" Tidak tahu. "
" Kalau begitu tunggu Juan saja yang memberitahumu, Aku tidak berhak untuk memberitahumu soal ini. "
" Btw, Aku belum memperkenalkan diri, Aku Diana Tante Juan sekaligus Putri bungsu dari wanita tua yang sedang makan itu. Aku dan mendiang ibu Juan adalah saudara kandung, dan selama Juan bertugas biasanya aku dan putriku yang menjaganya tapi setiap Juan kembali dia selalu melarang kami untuk datang ke sini dan membiarkan dia dan wanita bawaannya yang mengurus Ibu, tapi kenyataanya dia selalu pergi dan meninggalkan wanita yang di bawanya bersama ibuku, tapi dari semua wanita yang di bawa Juan.. " belum sempat Diana melanjutkan kata-katanya Juan datang dengan wajah dinginnya dan mempertanyakan keberadaan Diana saat ini.
" Aku sedang bicara dengan Risa kau mengganggu saja. " Celetuknya menatap sinis Juan.
" Mana nenek.? " Tanya Juan melirik sekitar ruangan tamu.
" Dia ada di ruang makan, Kau bisa ke sana dan melihatnya sendiri. " Balas Diana lirih.
" Kau memasak untuknya lagi? Aku kan sudah bilang untuk tidak datang ke rumah ini selama aku pulang.? " Juan mengatakan hal itu sembari berjalan menuju ruang makan, Diana terlihat kesal dengan ucapan ponakannya yang kurang sopan itu namun ia sudah terbiasa dengan sikap Juan barusan.
Juan yang berada di ruang makan melihat nenek nya yang sedang menikmati semangkuk sup dengan sangat nikmat, ada yang aneh dengan masakan yang di lihat Juan tampak tidak seperti masakan Tantenya.
Risa pun menghampiri Juan dan menjelaskan kepadanya bahwa yang memasak makanan itu adalah dirinya. Wajah Juan seketika berubah dan mendadak sulit mengatakan apa-apa hingga akhirnya memilih untuk meninggalkan ruang makan.
**
Pria itu baru saja keluar dari kamarnya setelah setengah jam yang lalu berkutat tidak jelas, Ia melangkah menuju satu ruangan dan mendadak berhenti tepat ketika ia melewati halaman belakang sejenak Juan memperhatikan Risa yang saat itu sedang membantu neneknya berkebun. Kebetulan di halaman belakang rumah terdapat kebun bunga yang selalu di rawat oleh neneknya, Saat itu Risa terlihat senang dan sesekali tertawa kepada sang nenek meskipun ia tak mengerti maksud dari perkataanya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh dan dua jam lagi Juan dan Risa harus kembali ke bandara untuk persiapan penerbangan menuju Indonesia, Risa menyadari kehadiran Juan dan langsung menghampirinya.
" Capt kita harus segera ke bandara bukan ?" Tanya Risa membuat Juan menatapnya kaget, ia melirik ke arah neneknya yang terlihat menunggu Risa kembali untuk berkebun dengan perasaan berat Juan menyuruh Risa untuk segera berkemas.
Lagi-lagi Risa membuat Juan kaget sebab hal pertama yang di lakukan nya bukan lah ke kamar untuk berkemas melainkan menghampiri nenek Juan, mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa menemaninya berkebun lebih lama lagi. Melihat hal itu Juan segera mengartikan apa yang di katakan Risa agar sang nenek paham, Wanita tua itu membalasnya dengan senyuman sembari membelai lembut kepala Risa seakan mengatakan tidak apa-apa sebab masih ada hari lain.
" Kalau begitu aku akan ke kamar dan berkemas-kemas. " Risa segera berjalan meninggalkan halaman belakang menuju kamarnya, Juan dan neneknya hanya dapat melihat langkahnya dengan tatapan nanar.
Diana keluar dari arah dapur dan menghampiri Ibu dan keponakannya dengan tatapan yang sama tertuju pada Risa.
" Aku akui kali ini kau menemukan wanita yang bisa menarik hati Ibu, aku pun setuju kalau kau memilih dia sebagai pendamping mu. " Ucap Diana membuat Juan menoleh dengan tatapan datar.
" Aku akan kembali ke Indonesia, tolong jaga nenek untuk ku. " Lontar Juan mengalihkan topik.
" Tentu saja aku akan menjaganya, bagaimana pun juga dia kan Ibuku. " Sahut Diana kesal.
Juan mencoba memberitahu sang nenek kalau dirinya akan segera pergi, dan seperti biasa wanita tua itu selalu memberikan dukungan terbaik untuk Juan agar karirnya di penebangan selalu baik dan dapat menjadi seorang pilot yang patut di contoh.
Siang itu juga Juan dan Risa meninggalkan rumah nenek Juan, namun sebelum mereka pergi sang nenek menahan keduanya. Risa yang tak tahu apa-apa hanya dapat berdiam diri di tempat seperti yang di lakukan oleh Juan, sejurus kemudian wanita itu menarik lengan Risa dengan lembut kemudian mengusapnya pelan.
" Jadilah cucu menantuku dan buat Juan bahagia. " Ucapnya membuat Juan tercekat sementara Risa tampak keheranan.
" Kami akan segera pergi nek. " Lanjut Juan merasa situasi itu sudah tidak terkendali.
Nenek Juan kemudian melingkarkan sebuah kalung kepada Risa, ia terkejut dengan kalung bermata berlian berwarna biru yang sudah melekat di lehernya. ia menatap sang nenek tak percaya di berikan sebuah benda yang begitu berharga.
" Nenek ingin kau menjaganya, dia memberikannya sebagai hadiah karena kau telah baik mengurusnya. " sahut Juan ketika neneknya selesai mengatakan hal itu kepada Risa.
" Terima kasih nek, aku akan menjaganya baik-baik. " Balas Risa tersenyum senang.
Mereka pun segera memasuki mobil begitu barang-barang telah selesai di masukkan ke dalam bagasi, Risa yang sudah berada di dalam mobil terus memperhatikan kalung pemberian nenek Juan dan terus melemparkan senyum kepada benda kecil itu. Begitu Juan menyalahkan mesin mobil, Risa sempat mengeluarkan kepalanya dan melambaikan tangan pada kedua wanita yang saat itu menyaksikan kepergian mereka.
**
Sepanjang perjalanan Risa terlihat mengintip keluar jendela mobil di mana saat ini ia di sajikan dengan keindahan sebuah danau berwarna biru muda, ia baru tahu kalau jalan menuju rumah Nenek Juan seindah itu sampai-sampai membuatnya mengabadikan pemandangan Indah itu pada kamera ponsel nya. Juan yang melihat nya hanya dapat tersenyum kecil, namun sayang hasil jepretan nya kurang memuaskan sehingga membuat Risa berulang kali mengambil gambar.
Juan menepikan mobilnya secara tiba-tiba dan membuat Risa menoleh heran, Juan menyuruh nya untuk segera turun dan menikmati keindahan alam dengan duduk di tepi jurang yang menampilkan keindahan danau tersebut. Tak henti-hentinya Risa terus berdecak kagum menyaksikan keindahan danau itu hingga Juan membantunya dalam mengambil gambar sebab Risa ingin dirinya di foto satu badan dengan latar danau tersebut.
Setelah Juan menyerahkan kembali ponselnya, Risa pun mengajak pria itu untuk selfie bareng mendadak wajah Juan berubah dan membuat Risa sadar dengan sikap frontal nya itu. Ia pun meminta maaf karena berlaku kurang sopan namun Juan melakukan hal yang tak terduga dengan merebut ponsel Risa kemudian menarik lengan Risa agar dapat di jangkau oleh layar kamera. Dan dalam hitungan ketiga, dua, satu foto pertama mereka berdua telah di abadikan dalam ponsel milik Risa.
Risa tersenyum senang melihatnya ia bahkan tak menyangka kalau Juan akan melakukan hal itu, dan di fotonya ia terlihat senyum bahagia seakan-akan membuat semua orang yang melihatnya pasti akan berdecak kagum dengan ketampanannya. lagi dan lagi Risa tersadar sudah memikirkan hal bodoh hingga akhirnya ia mengajak Juan kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju bandara sebelum terlambat.