My Handsome Pilot

My Handsome Pilot
54



Sebelum lanjut baca silahkan di like yah Readers yang baik dan tidak sombong :)


.


.


.


.


Risa baru saja sadar setelah semalam mendapat pukulan yang keras dari Rama yang mengakibatkan nya pingsan di tempat, Ia tersadar kalau saat ini dirinya sedang berada di rumah sakit ketika melihat tali infus yang terpasang di tangan kanannya, Risa berusaha untuk bangun dan mencari ponselnya tapi ia kembali teringat kalau ponselnya telah di buang oleh Rama semalam. Pintu tiba-tiba terkuak dan memunculkan seoang pria tinggi yang cukup tampan, Risa menatapnya heran dan mengira dia adalah seroang dokter karena penampilannya yamg sangat rapih dan juga bersih.


Pria itu melemparkan senyum ke arah Risa yang membuat Risa semakin menatapnya heran, Dari segi wajah yang terkesan masih muda membuat Risa yakin kalau pria itu seumuran dengannya, Lantas Risa ikut melemparkan senyum pada pria yang kini sudah menjatuhkan tubuhnya di atas sebuah kursi di sebelah Risa.


" Kenalin, aku Daniel Sanjaya. "


" Maaf kalau aku sudah lancang telah membawamu ke rumah sakit, semalam saat pulang kerja aku tak sengaja lewat dan menemukanmu terluka seperti itu. " Jelasnya dengan suara yang enak di dengar


" Terima kasih karena telah menyelamatkanku, aku tidak tahu bagaimana jadinya jika kau tidak datang menolongku. " Sahut Risa parau


" Kalau boleh tahu namamu siapa.? " Tanya pria yang bernama Daniel itu


" Aku Arisa Naomi. "


" Semalam ada seorang pria di dekat mu sebelum aku benar-benar menghampirimu, apa dia seorang perampok. ?" Ucap Daniel penuh selidik


Risa terdiam sejenak mengingat kejadian yang cukup mengerikan semalam, mungkin Dimas orang yang sangat menyebalkan tapi dia tak pernah bermain kasar beda halnya dengan Rama yang benar-benar tak pandang bulu saat menghadapi wanita, Dengan ponselnya yang sudah hilang kini Risa tak punya bukti untuk mengungkap kejahatan Rama pada direktur utama.


" Kau pasti merasa sangat kesulitan untuk menjawabnya, it's ok, mungkin dia memang orang jahat maka dari itu sebaiknya kau menelpon orang tuamu sehingga kau bisa pulang dan mendapatkan penjagaan lebih aman dari orang-orang jahat seperti itu. " Lanjut Daniel tiba-tiba


" Aku kehilangan ponselku semalam, Dan soal ini aku tidak ingin kedua orang tuaku tahu, mereka tinggal di Surabaya aku tidak ingin membuat mereka repot-repot datang dan melihatku dalam keadaan seperti ini. "


" Terus kenapa kau bisa ada di Jakarta? Apa kau seorang perantau.? "


" Aku seorang pramugari. "


" Benarkah!! Kalau begitu kita sama, aku juga seorang pramugara. "


" Kau di maskapai mana. ? " Tanya Risa penasaran


" Kebetulan aku di Citilink, kalau kamu di mana.? "


" Garuda Indonesia tipe airbus. "


" Wah keren banget, pantas saja kamu terlihat seperti seorang pramugari saat aku melihatmu pertama kali. "


Percakapan mereka terhenti ketika seorang dokter masuk untuk memeriksa keadaan Risa, Daniel pun mundur beberapa langkah mempersilahkan dokter wanita itu untuk menangani Risa, Ia pun mulai memasang stetoskop miliknya kemudian mengarahkannya ke arah dada Risa untuk mendengar denyut jantungnya. Setelah itu ia bertanya-tanya soal keluhan yang di rasakan oleh Risa saat ini, Risa hanya menjawab bahwa sekarang ia merasa sakit kepala akibat benturan yang cukup keras dan wajahnya sedikit merasa nyeri.


" Kondisimu tidak begitu parah, tapi sebaiknya kau harus banyak beristirahat, oke. " Ucap dokter itu sebelum akhirnya meninggalkan ruangan Risa


Ketika dokter telah pergi, Daniel pun ikut pamit undur diri sebentar sebab besok ia harus bertugas keluar kota ia tak lupa memberitahu Risa kalau tagihan rumah sakit telah di bayar olehnya, Risa berkata ingin segera melunasinya jika sudah keluar nanti dan Daniel hanya mengangguk pelan seakan tak begitu mementingkan soal biayanya, Daniel berjanji akan kembali setelah urusannya selesai, padahal mereka baru saja kenalan dan Daniel sudah sangat peduli padanya.


\*


Pria itu menatap layar ponselnya dengan tajam menunggu balasan seseorang sejak tadi, terpaksa ia mulai melakukan panggilan telepon namun yang terdengar hanyalah suara seorang wanita yang menjadi operator ponsel, Juan kembali berdecak kesal dan mulai memikirkan cara agar dapat menghubungi Risa saat ini. Alex pun datang dengan membawa ponsel Maya di mana saat ini ponsel Maya sedang melakukan panggilan jarak jauh dengan Sabrina.


" halo.., Sabrina, apa kau tahu di mana Risa sekarang. ?" Tanya Juan dengan nada yang lugas


" Aku tidak tahu, Bahkan sampai saat ini dia belum membalas pesan dariku." Jawab Sabrina di seberang sana


" Kau kan seorang FA 1 di tempatnya, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. "


" Risa telah di panggil oleh atasan dan saat ini dia di hukum tidak boleh bertugas selama dua minggu. "


" Kenapa kau tidak membantunya menyelesaikan masalah ini, kau di mana saat kejadian ini terjadi. ?"


" Aku merasa menyesal pada Risa karena tidak dapat menolongnya maka dari itu aku berusaha mencarinya dan ingin bersaksi bahwa pria itu adalah Rama, sebenarnya selama ini dia terus di ikuti oleh Rama adiknya pak Dimas, Risa bilang padaku kalau dia di jebak oleh Rama saat membantunya membersihkan pakaian Rama karena ke tumpahan jus, Setelah itu entah bagaimana bisa seseorang merekam aksi saat Rama menarik Risa ke dalam lavatory dan dengan sengaja menyebarkannya ke internet untuk menjatuhkan Risa, "


" Kenapa Risa tidak mengaku pada direktur utama tentang Rama? Kalau itu sudah jelas jebakan seharusnya dia mengatakan semuanya. "


" Direktur utama bukan orang yang dengan mudah menyalahkan keluarganya, dia pasti akan menutupi kasus keluarganya serapat mungkin agar nama perusahaan tidak tercoreng. "


" Rasanya aku ingin segera kembali dan menangani masalah ini, Tolong beritahu Risa untuk segera menjawab pesanku jika kau bertemu dengannya nanti. " Lontar Juan dan di akhirnya setelah Sabrina mengiyakan permintaanya barusan


Juan kembali menyerahkan ponsel Maya pada Alex, hatinya mulai panas ingin beraksi namun apalah daya saat ini tugasnya belum selesai dan selama ini Juan tidak pernah melanggar aturan penerbangan untuk meninggalkan tugas jika punya masalah pribadi, pikiran Juan melayang ingin bertemu dengan pria yang bernama Rama itu, ia tak tahu seperti apa rupanya namun yang ada di pikirannya saat ini tak beda jauh dari Dimas yang di anggapnya sebagai pria yang sangat menyebalkan.


" Adik kakak sama-sama menyebalkan . " Batin Juan mencengkram sebuah kaleng minuman yang kosong hingga penyok.


\*


Seorang wanita yang baru saja keluar dari kamarnya sambil memegang botol infus nampak berjalan menuju nurse stationary dengan wajah yang pucat dan tubuh yang terlihat sangat lemah, anehnya ia tetap berjalan dengan sekuat tenaga untuk meminta bantuan kepada salah satu perawat yang kebetulan tengah bertugas di sana.


" Sus.., bisa tolong telepon nomor ini, bilang ke dia kalau saya ada di rumah sakit. " Ucap Risa parau sambil menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan nomor seseorang kepada perawat tersebut


Perawat itu menerima nomor yang di berikan oleh Risa dan segera menghubungi nya, sejurus kemudian panggilan itu berhasil terhubung dan si perawat mulai menjelaskan keadaan Risa pada si penelpon yang di mana ia terdengar sangat panik ketika mengetahui hal itu dan setelah panggilan berakhir saat si perawat ingin menyampaikan hasil percakapannya, wajahnya tiba-tiba melongo melihat sudah tak ada orang di sana.


" Ada yang pingsan.!!! " teriak seseorang yang membuat perawat itu bergerak cepat keluar dari area nurse stationary dan melihat Risa yang ternyata jatuh pingsan saat dirinya menelpon tadi


Perawat itu segera berteriak mencari perawat lain untuk membantu Risa kembali ke kamarnya, namun tiba-tiba saja seorang pria datang dan mengaku sebagai kenalan Risa, tanpa menunggu bantuan dari perawat lain pria itu langsung menggendong Risa dan segera berjalan ke arah kamarnya dan perawat tadi ikut mengejar langkahnya sembari memegang tali infus Risa.


Setelah di baringkan kembali ke tempat tidur, perawat itu mulai mengatur aliran cairan pada infus Risa dengan baik dan benar, setelah itu ia keluar dan mencari dokter untuk melihat keadaan Risa yang mulai memburuk pasca pingsan barusan, tiba-tiba saja wajahnya berubah sangat pucat dari sebelumnya tubuhnya pun sangat panas bahkan ia sulit merespon ketika Daniel mencoba menyadarkannya.


" Aku tidak menyangka efeknya akan seburuk ini, " gumam Daniel terus menerus mengecek suhu tubuh Risa


\*


" Risa.!!! " Ucap seseorang yang baru saja memasuki kamar Risa dengan wajah yang sangat khawatir


Wanita itu menangkap sosok Risa yang saat ini terbaring lemah di atas tempat tidur, ia masuk dan menghampirinya dengan langkah gontai setelah ia mendekat tangannya menutup mulut dan matanya membelalak sempurna, Saat ini Risa masih tidur akibat obat yang di konsumsi nya untuk menghilangkan efek dari sakit yang ia rasa beberapa jam sebelumnya.


" Kau siapa? Apa yang terjadi pada Risa.?" Tanya Sabrina melirik Daniel yang sedari tadi terus melihatnya


" Aku Daniel yang menemukan Risa saat seseorang yang tidak bertanggung jawab meninggalkan nya dalam keadaan seperti ini. " Jelasnya kemudian


" Ya tuhan.., Risa maafkan aku, bagaimana mungkin seseorang dengan teganya melakukan hal ini padamu." Ucap Sabrina yang beralih memperhatikan memar yang terdapat di wajah Risa


" Terima kasih karena telah menolongnya. " Sahut Sabrina


" Santai saja, kebetulan kita sama-sama bekerja di pesawat, bagiku sama halnya dengan menolong seorang rekan kerja. "


" Kau seorang pilot.?" Tanya Sabrina


" Bukan, aku pramugara."


Sabrina manggut-manggut mengerti kemudian kembali melirik Risa, tangannya meraih tangan Risa yang terasa sangat lemah dan Daniel pun mulai menceritakan apa saja yang di alami serta yang ia ketahui dari kejadian ini, Setiap kali mendengarnya Sabrina selalu terkejut dan tak bisa membayangkan jika dirinya ada di posisi Risa.


" Aku sudah berniat menelpon orang tuanya tapi dia menolak, apa kau tidak punya orang lain untuk menemaninya. " sahut Daniel


" Untuk saat ini kebetulan aku libur, dan bisa menanami Risa, sebenarnya dia punya pacar tapi sayangnya sedang tidak berada di Indonesia dan pasti Risa tak ingin Juan sampai mendengar kabar ini. " Gumam Sabrina sendu


Risa masih tertidur sangat lelap, tak ada keraguan dari wajahnya sepertinya ia lebih nyaman berada di dunia mimpi dari pada menghadapi kehidupan yang membuatnya terluka, Daniel yang sudah menghabiskan waktu sekitar dua jam menemani Risa dan Sabrina harus pamit undur diri karena besok dirinya akan bertugas, Sebelum Daniel pergi ia menitipkan salam kepada Risa karena tak bisa berpisah secara benar dan Sabrina hanya dapat mengangguk setuju.


\*


Wanita itu terbangun ketika mendengar suara hujan yang turun cukup deras malam itu, ia melirik ke arah jendela dan benar saat ini tengah turun hujan di Jakarta, pandangannya mulai mengedar ke segala penjuru dan menemukan seseorang yang tengah tertidur di sebelahnya, tangannya berusaha menggapai kepala wanita itu hingga membuat nya terbangun dan menatap Risa dengan penuh kasih.


" Kau sudah sadar. " Gumam Sabrina membuat Risa membalasnya dengan anggukan pelan, senang rasanya melihat kehadiran Sabrina saat ini.


" Apa yang sudah terjadi padamu, kenapa nomormu sulit untuk di hubungi.? " Tanya Sabrina sambil menggenggam erat tangan Risa


Risa mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar dan memori akan kejadian itu kembali menari-nari membuat Sabrina terlihat menunggu dengan rasa penasaran yang besar.


" Aku minta maaf sebelumnya tidak bisa menolongmu, tapi aku sudah memikirkannya dan kali ini aku akan bersaksi kepada direktur utama tentang Rama. " Ujar Sabrina sekilas membuat Risa menoleh ke arahnya


Risa berusaha bangun dan langsung di bantu oleh Sabrina untuk bersandar di kepala tempat tidur, setelah itu Sabrina memberikan segelas air untuk Risa minum sebelum akhirnya wanita itu menceritakan semua kejadiannya kepada Sabrina. Saat Risa memulai ceritanya Sabrina tampak serius memperhatikannya dan sesekali memberikan respon kesal terhadap perbuatan keji Rama yang baru ia ketahui.


Setelah Risa menceritakan semuanya, Sabrina berniat untuk melaporkan kasus ini kepada polisi karena sudah sangat kelewatan, namun Risa ragu itu tidak akan berhasil untuk seorang Rama yang memiliki seorang Ayah yang punya kekuasaan besar seandainya ponselnya tidak di buang ke sungai mungkin masih ada harapan untuk mendapatkan bukti. Saat ini tak ada bukti kuat jika Rama yang telah melukai Risa, Sabrina terlihat putus asa namun masih memikirkan cara untuk mengalahkan pria itu.


" Apa sebaiknya kita memberitahu kapten Juan soal ini, dia pasti sangat khawatir padamu, tadi pagi dia menelpon dan menanyakan keadaanmu apa sebaiknya aku memberitahu dia soal ini. ?" Tanya Sabrina namun langsung di tolak oleh Risa sebab ia tak ingin Juan khawatir akan hal ini dan tak ingin pekerjannya terganggu karena masalah nya


" Sayang sekali, Orang seperti Rama harus di atasi secepat mungkin. " Lanjut Sabrina menghela nafas kasar


.


.


.


***Gimana nih Readers? Episode kali ini nyebelin nggak sih? Kalo author jujur sebal banget sama Rama padahal author sendiri yang nulis alurnya LOL. .


.


.


.


Like and vote jangan lupa guys 🤩***