
Karena tak sengaja bertemu dan harus mengantar Risa pulang, tiba-tiba saja sesuatu yang menarik perhatian mereka membuat Risa meminta Juan untuk menepikan mobilnya. Setelah Juan menuruti permintaan Risa, wanita itu segera turun dan mengajak Juan untuk menikmati pameran pasar malam yang kebetulan di adakan tak jauh dari tempat tinggal Juan dulu.
Malam itu baik Risa maupun Juan memasuki area pasar malam, yang dominasi oleh dengan anak-anak kecil yang berlarian kesana-kemari menikmati beberapa wahana serta pameran yang telah di sediakan.
Juan terlihat risih berada di tempat itu sebab semua mata kian tertuju kepadanya, para ibu-ibu yang menemani anaknya bermain oleng melihat Juan sampai mengira bahwa Juan adalah seorang artis. Melihat hal itu Risa hanya dapat tertawa kecil saat beberapa orang meminta selfie dengannya, Juan yang tidak bisa melakukan apa-apa hanya dapat pasrah dan Risa terpaksa menjadi juru foto saat itu.
Tak henti-hentinya para ibu-ibu itu mendatangi Juan, bahkan ada yang mencubit wajahnya dengan gemas sehingga membuat Juan meringis kesakitan. Dia baru merasakan efek ketampanan nya di serbu seperti ini ia bahkan mengira bahwa hanya para kru pesawat saja yang dapat berteriak histeris dengan keberadaan nya, namun setelah Juan berada di tempat itu ia baru sadar menjadi tampan benar-benar merepotkan.
" Baik ibu-ibu waktu fotonya udahan yah soalnya kita mau pergi. " Sahut Risa berhasil membuat semua mata tertuju padanya dengan tajam.
" Kamu siapanya mas tampan seenaknya menyuruh kita berhenti. "
" Tau nih orang mas tampannya aja nggak merasa keberatan. "
" Kamu aja gih yang minggir, iya kan mas tampan. "
Juan mulai menampakkan ketidaksukaan nya dengan memasang wajah dingin seperti biasanya, Ia meminta kepada ibu-ibu itu untuk menjauh beberapa centi dari dirinya kemudian menghampiri Risa dengan percaya diri.
" Maaf ya ibu-ibu, Istri saya sedang ingin bermain di pasar malam dan tolong jangan ganggu waktu kami. " Ucap Juan sukses membuat semua ibu-ibu itu kecewa dan satu persatu meninggalkan kerumunan, ada satu orang lagi yang terlihat terkejut bukan main, Saat ini Juan menatapnya dengan smirk yang aneh.
" Aku sengaja mengatakannya supaya mereka segera pergi, Ayo kita pergi. " Ajak Juan seketika membuat Risa sadar dan segera mengikuti langkah kakinya.
Di pasar malam itu Risa dan Juan banyak mencoba berbagai macam permainan anak-anak mulai dari menangkap ikan, Melempar kaleng untuk mendapat hadiah hingga beberapa permainan lagi yang dapat di mainkan oleh orang dewasa seperti mereka. Walaupun sejak tadi Juan tidak menunjukkan kesenangannya saat bermain ia tetap melakukannya tanpa menolak ajakan Risa, hingga mereka merasa lelah dan memutuskan untuk menikmati jajanan khas pasar malam yaitu cimol dan es cincau hitam.
Begitu pesanan mereka jadi, keduanya memutuskan untuk menikmatinya di sebuah kursi yang di sediakan tak jauh dari area pasar malam. Risa nampak menikmati cilok nya dengan pandangan lurus ke depan sembari tersenyum senang ketika melihat wahana yang membuat orang-orang berteriak ketakutan. Sementara pandangan Risa lurus ke depan lain halnya dengan Juan yang saat ini sedang asyik memperhatikan wajah Risa dari samping.
" Apa kau juga menyukaiku. "
" Uhuk.. Uhuk.. Uhukk. " Risa tersedak cilok yang baru saja di masukkan ke mulutnya setelah mendengar ucapan Juan barusan, Pria itu dengan sigap memberikan air kepada Risa dan langsung di sambar oleh wanita itu.
Setelah Risa meminumnya ia pun mencoba untuk mengatur nafasnya dan mencoba untuk tenang setelah itu, Ia melirik Juan yang saat ini merasa malu karena telah menyatakan hal yang tidak-tidak.
" Capt.., kamu tidak sedang mabuk kan.? " Tanya Risa meliriknya sekilas.
" Tidak, aku menanyakannya karena penasaran saja, Ibu-ibu tadi bahkan para kru lainnya mengaku menyukaiku apa kau juga sama seperti mereka.? " Sambung Juan lagi-lagi membuat Risa hampir tersedak.
" Ku akui kamu emang tampan capt, tapi aku tidak seperti mereka yang memilih ketampanan sebagai rasa suka atau Cinta, maaf sekali capt kalau ucapanku membuatmu tersinggung. " Jawab Risa menunduk lesu.
" Tidak apa-apa, aku senang mendengar nya itu artinya aku masih dalam kategori seorang manusia biasa dimatamu. " Risa tertawa mendengarnya sampai membuat Juan menoleh keheranan sebab ia merasa bahwa ucapannya barusan tidak mengandung jokes.
" Apa aku mengatakan hal yang lucu.? " Tanya Juan dan membuat Risa menggeleng sambil tersenyum.
Hening seketika, semua perhatian saat ini tertuju pada sebuah bianglala yang saat ini sedang beroperasi, Risa tiba-tiba melirik Juan dengan rasa penasaran yang besar dan akhirnya mulai memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu kepada pria itu.
" Oiya capt, apa aku boleh bertanya padamu, sebenarnya ini sudah lama menggangguku dan aku benar-benar ingin tahu kebenarannya. " Ucap Risa tiba-tiba.
" Apa, kau boleh menanyakan apapun padaku " Jawabnya ramah.
" Sebelumnya aku sering mendengar rumor tentang dirimu yang selalu mengajak seorang wanita ke rumahmu yang di Brazil, sebenarnya apa tujuanmu mengajak mereka kesana? Apa waktu itu aku juga termasuk ke dalam wanita yang kau ajak. ?" Tanya Risa yang membuat wajah Juan tiba-tiba berubah.
" Soal itu, aku hanya ingin mengajak seorang wanita ke rumah agar nenekku menganggap aku sudah memiliki calon istri di depannya. Dan sebenarnya juga itu adalah ajang mencari restunya, jika nenekku suka dengan wanita yang ku bawa maka aku harus menikahinya segera. "
" Kau belum menikah sampai sekarang, apa belum ada yang kau temukan.? "
" Apa-apaan pertanyaan mu itu, aku terdengar seperti sudah mengajak banyak wanita saja, lagi pula selama ini aku baru mengajak tiga orang wanita ke rumahku. Selebihnya mereka hanya mengada-ada saja.. Dan soal kamu, kamu tenang saja, kamu tidak termasuk dalam daftar wanita pilihanku. " Jawabnya terdengar sangat nyelekit di benak Risa.
Setelah cilok nya habis ia pun mengajak Juan untuk segera mengantarnya pulang, Sudah jam 11 malam dan saatnya untuk kembali pulang. Sisa liburan kali ini Risa ingin menghabiskan waktunya untuk beristirahat manja sampai waktu bertugas kembali tiba.
**
Malam ini Risa hanya menghabiskan waktu di kamar kos nya dengan mempelajari beberapa aturan yang harus di lakukan oleh seorang pusher. Keinginannya untuk bisa berada di posisi itu sangat besar bahkan saat ini semakin membuat nya ingin cepat-cepat naik pangkat menjadi Maitre d' cabin. Saat Risa sedang asik-asik nya belajar tiba-tiba saja suara ketukan pintu yang berasal dari luar membuatnya menoleh dengan wajah heran.
" Siapa yang datang siang-siang begini. " Gumamnya sambil menerka-nerka.
Tanpa basa-basi lagi ia pun bangkit dan segera membukakan pintu sebab orang itu terus menerus mengetuk pintu tanpa jeda, Saat pintu terkuak Risa di kejutkan dengan kehadiran Maya yang memasang wajah sedih dengan mata sembab kemudian perlahan wajahnya pun berubah dan ia kembali menangis di depan temannya itu.
" Kamu kenapa May.? " Tanya Risa bingung.
" Aku di putusin pacarku Ris... " Isaknya langsung memeluk Risa dan semakin menangis keras sehingga membuat Risa tambah kebingungan.
Risa tak ingin tetangga kosnya sampai terganggu dengan ulah Maya sehingga langsung mengajak temannya itu masuk ke dalam, begitu Maya mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur Risa. Si pemilik kamar pun memberikan segelas air untuk menenangkan temannya itu.
" Aku tidak pernah dengar kalau kamu punya pacar, kenapa tiba-tiba putus dan kau baru memberitahuku. " Ucap Risa dengan nada kesal sebab ia mengira kalau selama ini Maya sudah terbuka dengannya pun sebaliknya selama ini Risa selalu menceritakan masalahnya kepada Wanita itu.
" Aku minta maaf kalau selama ini nggak pernah cerita, soalnya aku nggak mau kalau identitas pacarku ketahuan sama orang lain. " Lontarnya dengan nada memelas.
" Memangnya pacarmu siapa sampai kamu tidak ingin orang-orang tahu soal identitas nya? " Tanya Risa penasaran.
" Tapi kamu janji jangan bilang siapa-siapa yah " Sahut Maya dan di balas anggukan cepat dari Risa.
" Capt Alex. " Seketika kedua mata Risa membelalak kaget mendengar nya, ia tak menyangka kalau selama ini Maya adalah pacar dari pilot cadangan di maskapai tempatnya bekerja.
" Kamu serius kan.? "
" Untuk apa aku bohong, Capt Alex benar-benar pacarku lebih tepatnya saat ini dia sudah menjadi mantan.. Huaaaa aku tidak bisa menerimanya Ris. " Keluhnya semakin menjadi-jadi.
" Memangnya apa yang sudah terjadi sehingga kalian berdua bisa sampai putus seperti ini. ?" Tanya Risa lagi dan berhasil membuat Maya berhenti mengerang dan mulai menunduk memikirkan sesuatu.
" Itu karena dia ingin hubungan kita dapat di ketahui semua orang, tapi aku tidak mau kalau kru yang lain sampai tahu. " Jawabnya pelan.
" Kenapa? Apa salahnya kalau kru yang lain tahu soal hubungan kalian.? "
" Aku tidak mau sampai menjadi bahan omongan Karin dan teman-teman nya itu, Selain itu aku tidak mau kalau sampai mengira kepindahan ku ke maskapai itu karena adanya Capt Alex. "
Dulu sebelum Maya resmi menjadi seorang pramugari senior ia sempat berada di maskapai lain sebelum akhirnya mendapat pekerjaan tetap di Garuda Indonesia, dan sebelum kepindahannya itu ia sudah dekat dengan Alex namun baru pacaran setelah Maya menjadi bagian dari kru maskapai itu.
" Apa kau yakin dengan ketakutan mu mereka tahu dan hubungan mu bersama Capt Alex berakhir begitu saja.? " Tanya Risa kemudian membuat Maya mulai memikirkan nya baik-baik.
**
Akhirnya jadwal sudah keluar hari itu, dan Risa yang baru saja tiba di perusahaan untuk konfirmasi keikutsertaan nya dalam penerbangan ini tidak sengaja bertemu dengan teman lamanya di maskapai sebelum nya. Dia adalah Lina di mana ketika keduanya bertemu mereka langsung saling berpelukan untuk melepas rindu.
" Aku kangen banget sama kamu Ris. " ungkapnya setalah mereka saling melepas pelukannya.
" Sama aku juga kangen banget sama kamu, gimana kabarnya teman-teman yang lain.? " Tanya Risa antusias.
" Kami baik-baik aja selama ini, oiya kamu tahu nggak Sarah si pusher yang dulu melaporkan kamu ke Pak Dimas sekarang sudah berhenti kerja. "
" Kenapa? "
" Dia ketahuan sekongkol sama penumpang yang waktu itu nuduh kamu curi cincin, Karena Pak Dimas tahu hal itu dia jadi di pecat sama perusahaan. "
" Jadi benar dia yang melakukannya. ?" Ucap Risa dan di balas anggukan mantap dari Lina.
" Kau tahu di mana Kak Sarah tinggal.? " Lanjut Risa menatap Lina penuh harap.
" kalau tidak salah dia tinggal di Tangerang Selatan, memangnya kenapa dengan alamatnya. ?" Tanya Lina bingung.
Baru saja kedua wanita itu berpisah dan Risa yang mulai meninggalkan perusahaan, tiba-tiba saja dikejutkan dengan sosok Dimas dan istrinya sedang bergandengan tangan lengkap dengan senyum yang menghiasi wajah keduanya. Risa menatap Dimas dengan tatapan yang sulit di artikan, sementara Dimas sempat menghentikan langkahnya begitu melihat keberadaan Risa saat itu.
Risa tak ingin melihatnya lama-lama dan langsung mengalihkan perhatiannya saat itu juga, Melihat Dimas berjalan bersama istrinya membuat Risa merasa bahwa keduanya tidak benar-benar tidak saling mencintai. Bahkan wanita itu menggandeng tangan Dimas dengan mesra begitu pun Dimas, lalu kenapa Dimas mengatakan dia tidak menyukai istrinya yang sekarang, semua benar-benar aneh dan membuat Risa mendadak muak dengan ucapan Dimas waktu itu.
Setelah meninggalkan perusahaan dan menunggu taksi yang lewat, Risa kembali memikirkan pertemuannya dengan Dimas yang di mana sampai saat ini masih menyimpan rasa kekesalan terhadap pria itu. Seseorang baru saja memanggil namanya dan membuat Risa menoleh namun ekspresi Risa terlihat tidak suka dengan keberadaan pria yang baru saja tiba dengan nafas yang tersengal-sengal, baru saja Risa hendak pergi meninggalkan nya namun pria yang tak lain adalah Dimas itu dengan sigap menarik lengannya.
Risa melirik sekitarnya dengan cemas kemudian melepaskan pegangan Dimas, Pria itu kembali mendekatinya berusaha untuk menarik tangannya lagi namun Risa menolaknya dan meminta Dimas untuk menjaga jarak. Bahkan saat ini mereka berdua berada belum jauh dari perusahaan, Risa takut ada yang melihat mereka dan akan menyebarkan gosip yang tidak baik lagi nanti.
" Aku minta maaf Risa kalau membuatmu tidak nyaman tadi, sebenarnya aku dan Talia tidak benar-benar, "
" Cukup kak, Apa hubungannya denganku? Kau mau jalan bergandengan tangan atau merangkul dengan dia pun aku tidak perduli. "
" Kau bohong, tadi saat mata kita bertemu aku bahkan melihat emosi yang timbul saat itu. "
" Jangan ge'er kak, aku benar-benar tidak perduli. "
" Risa kumohon.. " Sambil berusaha menggapai tangan Risa dan suara seseorang berhasil membuat keduanya menoleh ke arah sebuah mobil yang baru saja menepih tak jauh dari tempat mereka.
" Risa, akhirnya aku menemukan mu, ayo kita harus pergi banyak yang ingin di bahas sebelum kita bertugas besok. " Sahut Juan yang baru saja menuruni mobilnya dan menghampiri Risa dengan tatapan tajam.
" Oh.. Ada Pak Dimas, apa kabar pak. " Juan beralih pada Dimas begitu ia meliriknya dan menyodorkan tangan berpura-pura akrab dengan nya.
" Aku baik-baik saja. " Jawabnya dengan memasang wajah tak suka.
" Apa ada suatu hal yang penting yang mau kalian bahas.? " Tanya Juan lagi dan di balas gelengan kepala dari Risa.
" Kalau begitu saya dan Risa pamit undur diri pak. " Lanjut Juan segera kembali memasuki mobilnya di ikuti oleh Risa di belakang, Dimas masih saja menatap keduanya dengan kesal dan setelah itu Juan melajukan mobil nya dengan sangat cepat.
" Terima kasih capt. " Gumam Risa menunduk ke bawah.
" Santai saja, kebetulan aku lewat dan melihat kalian berdua seperti sedang ada sesuatu, karena aku tidak ingin kau sampai mendapat gosip buruk bertemu dengan dia di sekitar perusahaan makanya aku datang dan berpura-pura mengajakmu pergi. " Jawabnya terdengar santai.
" karena tidak ada apa-apa aku akan mengantarmu pulang saja, " Ucap Juan dan langsung di balas anggukan pelan dari wanita itu.
**
Risa menjatuhkan tubuhnya di atas kursi rotan yang ada di balkon kamarnya, sembari menatap langit malam yang di mana hanya ada bulan dan beberapa bintang yang terang benderang. Di tangannya ada secangkir kopi hangat yang siap untuk di seruput, ia meniupnya pelan dan setelah itu menyeruput kopi nya dengan nikmat. Sejurus kemudian ponselnya berdering dan terdapat nama Maya di sana membuatnya dengan gesit menjawab panggilan barusan.
" Halo May, ada apa yah. ?" Tanya Risa lirih.
" Aku sudah balikan sama Kapten Alex, ini semua berkat kamu Ris, makasih banyak yah. " Seru nya membuat sebuah senyuman kebahagiaan terpancar di wajah Risa.
" Aku senang mendengarnya. "
" Oiya May, ada yang ingin ku tanyakan sama kamu. "
" Apaan tuh.? " Jawab Maya cepat.
" Apa sebelumnya Capt Juan pernah memiliki pacar.? "
" Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu, kau tidak sedang menyukainya kan.? "
" Tentu saja tidak, aku hanya penasaran kenapa seorang pria tampan seperti nya tidak memiliki pacar. "
" Soal itu seperti nya dulu punya, sebelum capt Juan menjadi co-pilot di maskapai ini dia pernah menjadi co-pilot di penerbangan lain dan ku dengar-dengar dia memiliki mantan pacar di maskapai sebelumnya. "
" Oh begitu. "
" Eh Ris, udah dulu yah aku harus menjawab telepon dari Kapten Alex, dia janji akan menelpon di nomor ini, udah dulu yah... Bye. "
Risa meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali meraih cangkir kopinya, Sudah dingin rupanya dan hal itu membuat Risa menyeruput nya dengan jumlah yang banyak, ia kembali menatap langit malam dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya.
**
Kemacetan ibu kota karena padatnya mobil ditambah hujan deras yang menguyur Jakarta membuat waktu tempuh dari kostan ke bandara yang biasanya hanya empat puluh lima menit kini terasa seperti dua jam lebih, sekarang sudah jam delapan dan Risa harus segera berada di bandara dua jam sebelum keberangkatan. Maya bahkan sudah berapa kali menelpon dan menanyakan nya saat uni keberadaannya.
Kali ini panggilan datang dari Juan dan sempat membuat kedua mata Risa membelalak sempurna, ia pun mencoba menjawab panggilan tersebut dan segera menempelkan ponsel ke telinga dengan wajah gugup. " Halo Capt. " Ucapnya terdengar pelan
" Kamu di mana, sebentar lagi kita akan berangkat. " Sahut Juan di seberang sana.
" Aku masih di jalan capt, jalanan macet parah. " Jawab nya sembari menatap lurus ke depan.
" Ya sudah, bilang sama supirnya untuk hati-hati. " Sambungnya lagi dan di akhiri dengan kalimat yang ambigu di pendengaran Risa.
Ia menatap layar ponsel dengan nama Capt Juan di sana, wajahnya masih sama bingung dan ada sesuatu yang tiba-tiba mengganggu benaknya saat ini.
" Pak tolong cepetan yah, saya harus mengejar jam terbang. " Ucap Risa dan langsung di balas anggukan mantap dari sang supir.
Setelah menempuh perjalanan yang kandas akibat kemacetan kini Risa sudah tiba di bandara dengan selamat, begitu ia keluar dari taksi ia segera berlari menarik kopernya memasuki bandara. Lalu setelah itu segera menemui kru yang lain di mana mereka semua sudah berada di dalam pesawat untuk melakukan persiapan.
Setibanya di badan pesawat, Risa berhadapan dengan Karin yang saat ini menatapnya dengan tajam. Risa meminta maaf atas keterlambatan yang di alaminya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, ia janji akan berangkat lebih cepat nantinya. Untungnya saat itu ada Juan yang muncul sehingga Karin tidak mengeluarkan kalimat-kalimat yang sebelumnya sudah di persiapkan untuk menyerang Risa.
" Kau boleh masuk. " Ucap Karin dan segera di turuti oleh Risa.
Begitu Juan juga kembali masuk, Karin tiba-tiba menarik lengannya dan mengajaknya untuk bicara, Risa masih sempat melihat adegan itu namun ia memilih untuk secepatnya meninggalkan kabin depan menuju ke belakang.
" Kau suka sama dia kan.? " Ucap Karin tiba-tiba.
" Apa urusanmu, aku suka sama siapapun ku rasa tak ada hubungannya denganmu. " Jawab Juan sontak membuat wajah Karin terkejut.
Juan mengalihkan pandangannya dan bergegas pergi, namun Karin kembali menyahut.
" Jangan sampai aku mendengar kamu dan dia pacaran, atau.. "
" Atau kau akan membuatnya tersingkir dari maskapai ini, seperti yang kau lakukan pada Sabrina. " Sambung Juan lagi-lagi membuat Karin tak dapat berkata-kata.
" Sebelum itu terjadi, aku yang pastikan jabatanmu akan tergantikan oleh dia. " Juan berlalu memasuki kokpit dan meninggalkan Karin yang saat ini terlihat sangat kesal.
**
" Apa..., Kau dan Capt Alex pacaran.. " Ucap Leona dan Sandra kompak setelah Maya menceritakan hubungan nya kepada dua pramugari lain.
Saat ini mereka berempat termasuk Risa sedang berada di Banker menunggu waktu mereka bertugas, dan selama itu Maya menceritakan hubungan nya dengan kapten Alex kepada dua rekan kerjanya itu. Respon keduanya sangat terkejut kecuali Risa yang memang sudah tahu akan hal itu, mereka sampai menanyakan awal mula keduanya bisa bersama. Dan Maya pun dengan percaya diri menceritakannya padahal sebelumnya ia tidak ingin ada yang tahu soal hubungan itu.
Risa yang sudah tahu ceritanya memilih untuk membaca buku, tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan ada pesan yang masuk. Melihat nama seseorang di sana lantas membuat Risa meraih ponselnya dan mulai membuka isi pesan yang datang dari Juan.
" Kau sedang bertugas atau menunggu jam kerja.? " Tulis Juan membuat alis Risa naik sebelah.
" Sedang menunggu jam kerja, kenapa. ?" Balasnya cepat.
" Tidak apa-apa, Oiya perjalanan kali ini kau ingin jalan-jalan bersamaku.? " Risa terdiam sejenak, ia melirik Maya, Leona dan Sandra dengan wajah cemas kemudian pelan-pelan membalas ajakan Juan
" Aku mau. "