
Like dulu guys dan jangan lupa komentarnya yang baik yah, selamat membaca :)
.
.
.
.
Siang itu Risa sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit, Untungnya Sabrina masih belum bertugas dan dapat menemani Risa pulang, setelah semua beres Sabrina membantu Risa membawa tas nya dan membiarkan Risa merangkul tangannya untuk berjalan. Baru saja mereka keluar dari ruangan itu sosok Dimas muncul dan menatap Risa dengan tatapan sendu.
" Rama sudah resmi di tahan namun pihak kepolisian menunggu mu untuk memutuskannya, dia terbukti bersalah setelah mengidentifikasi liontin dan juga bukti yang ku dapat. " Ucap Dimas sukses membuat keduanya terkejut
" Apa kau yakin ini tidak apa-apa, dia adikmu kan.? " Tanya Risa terlihat khawatir
" Kau tidak perlu khawatir, aku melakukannya bukan karena aku masih menyukai mu atau karena aku membenci adikku, tapi aku melakukannya karena keinginan hatiku sendiri, kau bisa kan ke kantor polisi sebentar untuk menindaklanjuti masalah ini.. Semua keputusan ada padamu. " Balas Dimas membuat Risa menunduk lesu
Risa mulai berjalan melewati Dimas dan mengajak mereka berdua untuk bergerak cepat, Dimas dan Sabrina segera menyusul langkah Risa meninggalkan rumah sakit.
\*
Setibanya di sana tampaknya sudah ada direktur utama dan istrinya, ada Tania juga yang langsung menatap sinis Risa ketika ia tiba bersama Dimas. Risa di panggil oleh inspektur polisi untuk di berikan beberapa pertanyaan terkait kelanjutan kasus Rama dan Celine, saat ini kedua pelaku di masukkan ke dalam sel untuk sementara waktu hingga Risa menyelesaikan tugasnya di dalam sana.
" Pelaku di jatuhi hukuman atas tindakan kejahatan dan pencemaran nama baik, Sesuai aturan yang berlaku mereka dapat di penjara selama delapan bulan tapi apabila saudari menginginkan damai maka pihak pelaku akan membayar denda sebesar 30 juta rupiah, bagaimana saudari.? " Tanya inspektur membuat Risa kesulitan untuk menjawab nya
Risa mencoba memikirkan segala cara untuk kebaikan kedua belah pihak, ia tahu kalau kelakukan Rama selama ini benar-benar banyak merugikannya namun di samping itu ia juga memikirkan bagaimana keluarga Rama dan Celine jika mereka di penjara, Terlebih lagi dengan Dimas yang sudah berani melaporkan adiknya sendiri ke polisi, mungkin bagi Dimas itu sangat berat hanya saja ia tak menampakkan perasaan yang sebenarnya.
" Boleh aku bertemu dengan mereka sebelum memutuskannya.? " pinta Risa dan di balas anggukan setuju oleh inspektur
Risa di Pandu oleh salah seorang polisi menuju sel tempat Rama dan Celine di tahan, keduanya di tahan di dua sel berbeda namun saling bersebelahan, Ketika Risa muncul di balik jeruji keduanya spontan bergeming dan menatapnya dengan tatapan nanar. Alih-alih meminta ampun agar kasusnya di cabut, Rama justru meneriaki Risa dengan berbagai umpatan sedangkan Celine seakan tak ingin melihat kehadiran Risa saat ini.
" Aku tidak tahu kalau kalian akan sedendam ini padaku, Jika dari awal kalian ingin aku meminta maaf aku mungkin akan meminta maaf duluan pada Celine, aku sungguh tidak tahu kalau kau di pecat dari penerbangan, Tapi apakah kau sadar kalau sebenarnya itu tidak akan terjadi kalau waktu itu kau tidak membuatku di fitnah sebagai seorang pencuri. "
" Cukup.!!! "
" Aku tidak mau mendengar ucapan mu lagi. " lanjut Celine ketus
" Aku berharap kalian berdua menyesali perbuatan kalian padaku, sebagai gantinya aku akan mencabut tuntutannya, kalian tidak perlu khawatir... " Risa beralih meninggalkan tempat itu namun Rama tiba-tiba memanggilnya membuat Risa sejenak menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah mereka.
" Kau sungguh akan mencabut tuntutannya? Kau tidak membenci kami karena perbuatan kami.? " Tanya Rama kemudian
" Kalau aku melakukan hal jahat pada kalian aku tidak akan mendapat apa-apa, Mungkin hanya perasaan lega karena akhirnya rumor itu akan terbantah dan aku dapat kembali bekerja, tapi sebenarnya itu bukan segalanya, ada baiknya jika semua di lupakan dan berlalu tanpa perlu di pikirkan lagi. "
" Terima kasih, aku minta maaf... Benar-benar minta maaf. " Rama tiba-tiba saja bersujud di hadapan Risa dengan nada penyesalan yang amat sangat
" Kamu ngapain Rama, bangun jangan seperti itu di depannya. " Sahut Celine dari sel sebelah
" Diam Celine, aku melakukan ini karena permintaan mu, mungkin saat itu aku kesal karena kau di perlakukan tidak adil oleh Dimas, tapi kau harus tahu kalau semua ini bukan kehendak ku, seharusnya kau malu padanya, dia telah berbaik hati memaafkan kita agar kita bebas dan kau masih keras kepala dengan mementingkan ego mu itu, sadarlah.!!! " Sentak Rama sukses membuat Celine terdiam
" Aku minta maaf, Risa. " Ucapnya pelan
" Aku sudah memaafkan kalian, ku harap kalian dapat menjadi orang yang lebih baik lagi. " Ucap Risa sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.
\*
" Terima kasih kak karena sudah membantuku menyelesaikan masalah ini, dan kalian tidak perlu khawatir karena aku sudah mencabut tuntutannya. " Jelas Risa seketika membuat semuanya merasa lega dan bersyukur
" Kenapa kau sangat baik.? " Tanya Dimas tak paham
" Aku tahu kau pasti merasa sangat berat saat melaporkan Rama ke polisi, dan aku juga tahu orang tua mana yang bisa menerima dan melihat putra bungsu mereka berada di penjara. "
" Apa mereka sudah meminta maaf padamu.?"
" Kami sudah berdamai, Rama dan Celine sudah meminta maaf padaku. "
" Syukurlah. "
" Risa.., Aku juga minta maaf karena membuatmu di sudut kan dan membuatmu di berhentikan dari tugasmu, Aku berjanji akan mengembalikan mu ke tugas penerbangan secepat mungkin. " direktur utama tiba-tiba menyahut dan membuat Risa merasa senang mendengar nya
Pandangan Risa tiba-tiba tertuju pada Tania yang merasa kesal dengan semua orang yang tiba-tiba peduli padanya, Risa paham kalau saat ini wanita itu sedang cemburu dan membutuhkan perhatian juga. Risa mulai menghampiri Tania dan mengucapkan terima kasih serta maaf karena kali ini suaminya ikut turun tangan dalam membantu kasusnya.
" Jangan khawatir, setelah kasus ini aku dan Kak Dimas tidak akan pernah bertemu lagi, kau bisa bersamanya sebanyak yang kau bisa. " Gumam Risa membuat Tania menatapnya heran
\*
Artikel baru telah muncul di laman homepage perusahaan di mana isinya menyatakan klarifikasi yang terkait atas rumor tentang Risa yang sebelumnya sudah menyebar luas, kini nama baik nya telah kembali dan Risa dapat bergabung kembali ke maskapainya namun sebelum itu ia ingin mengambil izin istirahat sebanyak dua hari karena kondisi tubuhnya yang masih kurang sehat dan direktur utama menyetujui akan hal itu. Seakan ucapan maaf saja tak cukup, beliau juga mengirimkan sebuah karangan bunga ke rumah kost Risa dan membuat wanita cantik itu kesulitan menyimpan bunga sebesar itu.
Sore itu Risa ingin berdamai dengan masa lalu dan mulai menata masa depan yang lebih baik lagi, ia berharap di kemudian hari ia bisa bertemu dengan orang-orang yang baik sekalipun ia juga harus menjadi lebih baik lagi. Risa ingin sekali lagi belajar merangkul dukanya memantapkan langkahnya dan bersiap mencoba hal yang baru. Sore itu setelah meletakkan karangan bunga di balkon kamarnya, ia tiba-tiba mendapat pesan singkat dari seseorang, ponsel yang di pegangnya saat ini adalah pemberian Rama sebagai bentuk rasa bersalahnya karena sudah merusak dan membuang milik Risa.
Risa baru saja mendapat pesan singkat dari Juan yang di mana pria itu memberitahu Risa kalau saat ini ia sudah berada di Italia, dan besok akan kembali terbang ke Indonesia, soal masalah yang di alami oleh Risa, Juan tak banyak bertanya sama sekali. Entah Juan sudah tahu soal kecelakaan yang di dapat Risa atau belum, Risa harap hal itu tidak sampai di telinga Juan toh artikel yang keluar hari ini tidak menyangkut soal kecelakaan itu sama sekali. Sayangnya Risa tak tahu kalau Juan sebenarnya sudah tahu namun memilih untuk tidak mengungkitnya karena ia ingin Risa duluan yang memberitahunya tapi sayang sampai saat ini Juan belum juga di beritahu.
Setelah Risa membalas pesan dari Juan, ia kembali menikmati waktu sorenya dengan secangkir teh Melati di temani oleh sebuah buku yang di bacanya sejak beberapa saat yang lalu. Risa kembali membuka halaman yang sebelumnya di tandai oleh secarik kertas penanda dan mulai menyenderkan tubuhnya di kursi nyaman itu, Momentum inilah yang sangat nikmat dan tak ingin hilang begitu saja, namun tak ada yang lebih mengasyikan saat berada di langit dengan burung besi dan rekan kerja serta para penumpang yang beraneka ragam, Rasanya Risa ingin segera kembali bertugas, namun ia harus menunggu tim maskapainya kembali dari tugas terbang lalu setelah itu ia bisa kembali bertugas lagi.
\*
Hari ini Risa terlihat sudah rapih dengan stelan dress berwarna coklat susu dan riasan wajah yang tipis serta rambut yang di tata rapih, hari ini ia bukan pergi untuk bertugas meskipun tujuannya adalah bandara melainkan Risa ingin menjemput Juan yang kebetulan akan segera tiba di bandara tepat pukul 12 dini hari, hal itu di ketahui nya dari Maya setelah sebelumnya mereka saling ber kontekan karena Risa tahu Juan tidak sempat membaca pesannya karena tugas nya sebagai seorang co-pilot.
Setelah semua beres Risa segera keluar menemui taksi langganannya yang sudah stay sejak tadi, ia menyapa mang Retno dengan ramah sebelum masuk ke dalam mobil, begitu pun dengan mang Retno yang selalu menyambut Risa dengan senyum yang merekah membuat kumisnya seakan bergerak ke atas dan menyerupai senyum juga. Setelah itu mang Retno mulai melajukan mobil nya menuju bandara.
Di perjalanan mang Retno menanyakan kabar Risa, dan ternyata ia juga tahu soal berita itu dan membuat pria setengah baya itu sempat khawatir padanya. Risa senang seorang mang Retno yang notabenenya hanya kenal sebagai supir taksi masih mempunyai rasa khawatir yang besar membuat Risa benar-benar tersentuh mendengarnya. Tak ingin membuat mang Retno semakin khawatir ia pun menceritakan kronologi yang sebenarnya pada pria itu, dan setelah mendengar nya ia cukup merespon dengan sahutan yang benar-benar khawatir layaknya seorang ayah kepada putrinya, mengingat hal itu tentu saja orang tua Risa pasti jauh lebih khawatir dan untungnya mereka tak tahu menahu soal itu.
Saat ini perjalanan menuju bandara harus terhenti sejenak akibat macet yang melanda, bukan soal baru jika Jakarta di landa kemacetan dan semua orang yang berada di atas kendaraan tentu akan berdecak kesal, belum lagi jika hari itu mereka memiliki jadwal yang sibuk dan tidak bisa telat, jika sudah seperti itu siapa yang harus di salahkan. Dari dalam mobil Risa hanya dapat melirik keluar jendela yang di mana hanya ada mobil, mobil, dan mobil, bahkan untuk keluar untuk mencari alternatif lain pun susah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas dan perjalanan masih membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit, setelah pesawat tiba pun mereka harus briefing belum lagi tugas seorang pilot yang di mana harus melaporkan hasil penerbangan mereka setidaknya Risa memiliki waktu sekitar satu jam setengah sampai Juan benar-benar keluar dari pintu kedatangan.
.
.
.
.
Udah di like belum? jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak yah guys sebagai dorongan motivasi untuk author tetap rajin update :)