
Telah terjadi aksi saling diam-diam antara Risa dan Maya, bahkan ketika mereka hendak bertugas bersama dalam satu kabin hari ini, dimana Maya acap kali menghindari tatapan mata Risa dan juga tiap kali Risa berada di dekatnya ia selalu menjauh dan beralih ke sisi lain.
Risa benar-benar tak paham akan situasi ini dan melihat Maya yang saat ini tengah menyiapkan minuman untuk penumpang yang baru saja memesan ingin di berikan air, tiba-tiba membuat Risa mencoba untuk memberanikan diri menghampirinya.
" May, kamu kok sampai segitunya marah sama aku.. Kan aku cuma dekat dengan Kapten Juan bukan karena aku ada rasa sama dia. " Ucap Risa menghentikan kalimatnya saat Maya terlihat meletakkan sendok teh dengan kesal.
Maya sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangkat cangkir itu dan bergegas menuju penumpang yang barusan meminta di buatkan minuman. Risa hanya menatap kepergian nya dengan wajah sedih harus bagaimana lagi dia membuat Maya berhenti marah kepada nya.
Perjalanan dari Selandia baru menuju Australia memang tidak jauh dan hanya menempuh empat jam dua puluh menit saja, kini pesawat sudah tiba di negeri kanguru itu. Namun sayang pendaratan kali ini semua kru pesawat tidak bisa menikmati waktu jalan-jalan sebab pesawat akan kembali terbang menuju negara-negara terdekat, sepertinya ini akan menjadi penerbangan yang cukup melelahkan.
Kru pesawat di perbolehkan menunggu waktu penerbangan tiba di lounge khusus jalur kelas pertama, Maya menjatuhkan tubuhnya di atas sofa sembari melirik layar ponselnya. Tiba-tiba saja Alex dan Juan datang ke sampingnya dan mulai menanyakan hubungan nya dengan Risa yang terlihat kurang baik, hal itu di tanyakan langsung oleh Juan sebab ia sudah pernah melihat ekspresi Maya yang seperti ini sebelumnya.
" Kamu kesal dengan Risa karena dekat dengan ku kan.? " Sahut Juan membuat Maya sempat meliriknya sejenak dan setelah itu kembali fokus pada layar ponselnya bahkan Alex di sebelahnya tidak di peduli kannya sama sekali.
" May ayo dong di jawab, Juan bilang padaku kalau kamu dan Risa seperti ada masalah sejak kita jalan-jalan di Selandia baru, memangnya ada apa antara kamu dan Risa.? "
" Kenapa sih harus tanya ke aku, kenapa nggak coba tanya ke Risa.? " Sentak Maya sebal.
" Karena inti permasalahan ada sama kamu May. " tekan Juan.
" Oh jadi Risa mengadukan aku ke kamu capt, aku nggak habis pikir kalau dia sampai segitunya. "
" Risa nggak ngelapor apapun ke aku, aku tahu kamu begitu karena masalah Sabrina dulu kan. "
Seketika atmosfer di sekitar tempat itu mendadak menjadi dingin dan canggung, Alex hanya dapat menunduk diam menunggu balasan dari Maya soal pernyataan Juan tadi. Maya pun bangkit dari tempatnya duduk meninggalkan kedua pria itu, Alex tak tinggal diam dan langsung mengejar langkah kekasihnya sementara Juan hanya dapat pasrah melihat sikap Maya yang keras kepala.
Dari arah jam dua belas Juan dapat melihat Risa yang baru saja memasuki lounge sambil celingak-celinguk mencari seseorang, Juan tahu kalau wanita itu sedang mencari Maya namun sayangnya Maya keluar lewat pintu yang berlawanan dengan Risa sehingga mereka tidak bisa bertemu. Baru saja Juan hendak menghampiri Risa tiba-tiba saja seseorang menarik lengannya dan membuat Juan menoleh heran.
" Lepaskan aku, " Ucap Juan pada Karin yang barusan merangkul lengannya.
" Kok kamu gitu sih, " Lontar Karin tak terima.
" Sudah cukup untuk menempel denganku seperti parasit, dan jangan melibatkan orang lain lagi dalam emosimu. " Juan berlalu meninggalkan Karin yang saat ini terbakar emosi, bagaimana api yang di siram bensin emosinya semakin meluap dan bukannya meredam.
**
Setelah dua jam lamanya beristirahat, kini semua kru harus kembali bekerja dengan memasuki pesawat dan mulai mengatur segala keperluan. Risa bertugas untuk jam berikutnya sehingga ia hanya menghadiri briefing setelah itu ia hanya berjalan menuju banker untuk beristirahat. Di kabin depan ia sempat berpapasan dengan Karin namun wanita itu tidak menampakkan wajah ramahnya sama sekali tetapi Risa tetap memberikan senyuman kepada Karin tanpa merasa risih sedikit pun.
Setelah bertemu dengan Karin, ia kembali di pertemukan dengan Juan yang baru saja keluar dari kokpit hendak ke toilet. Keduanya sempat saling pandang namun akhirnya Risa kembali melangkah menaiki anak tangga yang menghubungkan ke banker tempat istirahat kru pesawat. Juan hanya dapat membuang nafas kasar setelah itu beralih memasuki toilet.
Risa yang telah berada di banker hanya dapat mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menunduk sedih, Risa benar-benar ingin berbaikan dengan Maya sekalipun ia tidak akan dekat dengan Juan lagi yang terpenting ia bisa bicara dan bercerita banyak hal pada rekan kerjanya yang sudah di anggap seperti saudara itu. Pesawat kini sudah lepas landas dan mulai terbang menuju luasnya langit biru sayangnya di dalam banker tidak ada jendela yang dapat memperlihatkan langit biru yang menjadi favorit Risa sehingga ia hanya dapat menunggu dalam diam hingga giliran jam kerjanya tiba.
Di tempat lain, Maya yang saat ini sedang mengurus keperluan makan siang tiba-tiba di kejutkan dengan kehadiran Juan yang lagi-lagi membuat Maya enggan untuk melihatnya. Tampaknya Juan tak akan pergi meskipun Maya mengusirnya dengan kasar sebelum mereka dapat bicara berdua, Maya mengintip lurus ke depan memastikan tidak ada Karin dan antek-antek nya yang melihat setelah memastikan aman ia pun mengajak Juan ke belakang kabin untuk memulai percakapan mereka.
" Mau apa lagi. " Ucap Maya ketus.
" Bicara sama Risa, jelaskan alasanmu yang sebenarnya. " Lontar Juan.
" Kau tidak akan mengerti, apa alasanku menjauhi Risa. " benak Maya.
" Terserah aku saja, memangnya apa peduli mu jika aku dan Risa musuhan, kau merasa rugi.? "
" Tentu saja, aku merasa rugi karena melihat wanita yang ku suka sedang sedih karena salah satu temannya tiba-tiba memusuhinya tanpa menjelaskan alasan yang sebenarnya. " Lanjut Juan tegas.
" Kau menyukai Risa.? " Tanya Maya berusaha meyakinkan pendengarannya.
" Aku menyukainya dan akan ku pastikan dia tidak akan bernasib sama dengan Sabrina. " Ujar Juan sontak membuat Maya menunduk kebingungan.
Sejurus kemudian Juan pergi dan kembali ke kokpit, Maya terlihat bimbang dan mulai memikirkan apa yang akan di lakukan nya setelah ini.
**
Pria setengah baya itu merasakan sesuatu yang mengganggunya sejak lepas landas, ia terus menyentuh dadanya yang terasa sesak dan menimbulkan kecurigaan pada co-pilot di sebelahnya yang tak lain adalah Marco. Pria itu bertanya soal kondisi Kapten Zain yang kurang memungkinkan untuk melanjut penerbangan, sehingga ia pun mencoba memanggil Juan dan Alex yang kebetulan sedang berada di banker.
Selang beberapa saat kedua pilot itu datang dan menanyakan kondisi Kapten Zain, beliau terlihat pucat dan sulit menjawab pertanyaan dari rekannya sehingga Alex memutuskan untuk menggantikan posisi Kapten Zain saat itu.
Berkat panggilan dari Marco, Karin pun ikut masuk dan segera membantu Juan untuk membopong Kapten Zain menuju kursi kelas pertama yang kebetulan masih ada yang kosong. Setelah Kapten Zain di baringkan dan di beri segelas air ia pun meminta Juan untuk segera kembali ke kokpit sebab sebelum Kapten Zain merasa kurang sehat, ia telah memprediksikan akan ada badai yang terjadi dalam lima menit sehingga Juan segera kembali ke kokpit untuk membantu rekan kerjanya sementara itu Karin lah yang akan mengurus Kapten Zain selanjutnya.
Ketika Juan kembali ke dalam kokpit ia pun mulai memperhatikan cuaca yang mulai berubah seiring berjalannya waktu, kemudian melirik layar navigasi yang sedang di pantau oleh Marco. Juan pun menemukan sebuah keanehan yang membuatnya meminta kepada pusat kontrol udara untuk memberikan jalur lain yang bisa di lalui saat ini. Tiba-tiba saja sesuatu yang terduga terjadi di mana sekelompok kawanan burung terbang ke arah badan pesawat menghindari badai yang terjadi dari arah Utara, pantas saja sebelumnya Juan merasa ada sesuatu yang aneh pada layar tersebut dan meminta kepada Alex untuk berhati-hati jangan sampai kawanan burung itu sampai masuk ke dalam turbin pesawat.
" Serahkan saja padaku. " Ucap Alex begitu percaya diri.
Mesin pesawat tiba-tiba mati sehingga mendatangkan kepanikan Juan, Alex, dan juga Marco. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya dan saat Alex mencoba untuk menghidupkan kembali mesin pesawat dengan segala cara hasilnya nihil, Juan berlari keluar kokpit menuju kabin tengah melirik keluar jendela di saat para penumpang berbondong-bondong bertanya soal padamnya listrik yang membuat semua penumpang di buatnya cukup panik.
Begitu Juan kembali ke kabin depan ia di tahan oleh Karin untuk melihat kondisi Kapten Zain yang saat ini sudah tak sadarkan diri, Juan meminta Karin untuk tetap berada di dekat Kapten Zain selagi ia mengatasi masalah ini bersama yang lain.
Ketika Juan bergegas kembali ke kokpit ia bertemu dengan Risa dan sebelum Juan masuk ke dalam ia memperingati Risa untuk berhati-hati dan selalu mengutamakan keselamatan penumpang dan juga dirinya, bahkan sebelum Risa bertanya soal keadaan ini Juan sudah masuk dengan wajah yang sangat panik. Ini kesempatan Risa untuk segera ke menenangkan para penumpang dengan bergerak cepat menuju kabin yang paling banyak berteriak ketakutan akan situasi ini.
" Fire!!!! " Suara teriakan seseorang berhasil membuat kepanikan para penumpang lain semakin menjadi-jadi, Mereka melirik kearah samping kanan badan pesawat tepatnya sayap kanan yang saat ini sudah di lahap si jagoan merah dan Risa pun paham akan situasi ini dan meminta Semua penumpang untuk stay di tempatnya masing-masing.
Pesawat kini sudah memasuki awan hitam dan gemuruh petir terdengar sangat keras dan semakin membuat semua penumpang panik, Di kokpit Alex dan Juan serta Marco berusaha menghubungi kontrol lalu lintas udara namun tak berhasil. mereka kehilangan sinyal dan sulit untuk melaporkan kondisi mereka saat ini di tambah badai salju yang datang secara tiba-tiba membuat pesawat sepenuhnya dalam keadaan lepas kendali, Untungnya baterai cadangan berhasil di hidupkan meskipun hanya akan bertahan selama beberapa menit saja. Untuk mengurangi kebakaran melahap lebih besar Juan dan Alex terus memikirkan cara untuk keluar dari situasi ini, Jika saja Kapten Zain tidak sakit mungkin mereka tidak akan merasa kebingungan untuk saat ini.
" Juan.., gawat, perutku sakit. " Keluh Alex tiba-tiba yang membuat Juan semakin panik.
" Jangan bercanda, kau adalah pilot cadangan di sini. " sahut Juan ketus.
" Aku serius, sebenarnya sakitnya sudah dari tadi tapi aku menahannya , bagaimana ini. " gumam Alex semakin melemah, wajahnya pucat pasi sama seperti Kapten Zain barusan.
" Apa yang harus kita lakukan Juan, Aku bahkan belum bisa menerbangkan pesawat dengan keadaan seperti ini. " Sahut Marco ikut khawatir.
Juan merasa ini adalah waktu yang tepat baginya mencoba menerbangkan pesawat sungguhan dengan boeing yang lebih besar dari pesawat yang biasa ia bawa, Sebelumnya Juan memang pernah menerbangkan pesawat kecil sebelum akhirnya menjadi co-pilot di pesawat komersial. Dan setelah Juan menggantikan tempat Alex ia pun mecoba untuk menerbangkannya di jalur yang di rasa lebih aman untuk menghindari sambaran petir yang kian menjadi-jadi.
Marco terus berusaha menghubungi pusat kontrol meskipun hasilnya tetap sama, Suara panggilan telepon darurat berbunyi dan membuat Juan mengangkatnya dengan cepat.
" Halo Capt, ini aku Karin.., semua penumpang mulai memberontak dan sulit di kendalikan terlebih lagi pada penumpang di kabin tengah yang dapat melihat kobaran api pada sayap pesawat, tolong beri mereka arahan langsung capt. " Pinta Karin dan langsung di setujui oleh Juan.
Kabin yang paling sulit di kendalikan yakni kabin tengah yang di Pandu oleh beberapa pramugari dan pramugara, dimana mereka dengan tegas meminta kepada setiap penumpang untuk tetap tenang dan tetap berada di tempat mereka.
Melihat api yang terus berkobar tentu tak bisa membuat mereka tenang sehingga barisan yang berada di sayap kanan langsung membuka sabuk pengaman mereka dan bergegas menyingkir dari kursi tersebut, namun siapa sangka guncangan yang hebat baru-baru saja membuat semua penumpang yang melepas sabuknya terjatuh hingga mendapat cedera.
" Pemberitahuan untuk semua penumpang harap tenang dan tetap berada di tempatnya, Saya pastikan kalian akan selamat dan tak ada yang terluka, mohon untuk bersabar karena kami akan melakukan segala cara agar kalian semua selamat. " Suara Juan tiba-tiba membuat semua penumpang terdiam, mereka mencoba untuk tetap percaya pada sang pilot.
Setelah beberapa dari mereka mulai tenang nampaknya masih ada yang keras kepala, seorang pria besar yang di ketahui berkebangsaan Amerika tiba-tiba mencoba membuka jendela pesawat menggunakan benda yang entah di simpan nya sejak kapan. Melihat hal itu salah satu pramugara bernama Andi melarang pria itu untuk membukanya sebab akan mendatangkan masalah lain namun sayangnya penumpang yang duduk di sebelah kiri itu tetap nekat untuk membukanya secara paksa.
" Penumpang dengan nomor kursi F23 baru saja mencoba membuka jendela pesawat, Cepat amankan dia. " baru saja Andi meminta bantuan pramugara yang lebih dekat dengan penumpang itu tiba-tiba saja panel kaca terbuka dan mengakibatkan tekanan udara dari luar masuk ke dalam, penumpang itu hampir tertarik keluar jika saja Ersan tidak cepat menangkapnya dan mencoba memasangkan sabuk pengamannya lagi.
Akibat kecerobohan yang ia buat pesawat semakin dalam keadaan sulit di kendalikan, entah apa maksud pria itu membuka jendela yang jelas-jelas akan mendatangkan masalah. Pria itu merasa semakin sulit bernafas sebab tekanan udara di sekitarnya mulai menipis di tambah lagi ketinggian pesawat kini sudah berada di ketinggian 8000 kaki di mana udara yang terbagi sangat terbatas.
Bukan hanya penumpang itu saja yang merasa kesulitan bernafas, tetapi semua penumpang yang berada di kabin itu merasakan hal yang sama. hingga masker oksigen darurat pun langsung di turunkan saat itu juga, Para kru kabin memastikan semua penumpang memakai masker oksigen dengan baik dan benar sebelum mereka juga menggunakannya.
Kepanikan sangat terasa di dalam pesawat, troli makanan pun bergerak dengan sendirinya menumpahkan beberapa makanan di atasnya. bahkan bagasi di atas pun ikut terbuka sehingga mengharuskan beberapa pramugara dengan sigap menahannya walaupun mereka juga sibuk mengatur keseimbangan tubuh mereka dengan keadaan pesawat yang terus berguncang keras.
Batas masker oksigen hanya lima belas menit dan Juan harus segera mendaratkan pesawat dengan cepat sebelum para penumpang kehilangan kesadaran akibat kesulitan bernafas, penumpang sebanyak dua ratus orang dengan kru kabin dua puluh orang menjadi taruhan Juan dalam menerbangkan pesawat komersial pertama kalinya dalam hidup. Pusat kontrol lalu lintas udara masih sulit untuk di hubungi sehingga Juan tidak bisa memberitahu keberadaan mereka saat ini kepada pusat, namun Juan tak mau kehilangan akal ia pun mencoba untuk melewati badai ini dengan harapan ia bisa menemukan tempat yang Bagus untuk mendarat darurat meskipun tanpa bantuan pusat.
Juan semakin mempercepat laju pesawat guna menghindari badai namun siapa sangka cara Juan ini mendatangkan kepanikan melebih pada kabin tengah yang merasakan tekanan yang sangat kuat akibat jendela yang terbuka, Tiba-tiba Karin mencoba menghubungi Juan untuk memberitahu soal masalah yang terdapat di kabin tengah dan saat itu Juan dengan sigap menjawab panggilannya. Alhasil setelah di beritahu Juan memperlambat laju pesawat karena takut para penumpang semakin cedera.
" Sial, apa yang mereka lakukan sampai jendela bisa terbuka seperti itu, suruh staff manager untuk menutup jendelanya kembali. " Perintah Juan benar-benar tak habis pikir.
" Tidak bisa Capt, Jendela di rusak oleh salah satu penumpang sehingga panel pertama dan kedua terbuka lebar, butuh waktu lama untuk memperbaikinya dan kami tidak bisa mengatasinya. " Jawab Karin.
" Pikirkan segala cara, kau sudah berada di pesawat sejak lama kan masa yang seperti itu tidak bisa!!! " Juan benar-benar kesal dengan situasi ini di tambah Alex yang tidak sadarkan diri, cuaca yang buruk serta jendela pesawat yang terbuka.
Di kabin tengah, Risa datang dengan idenya yang cukup brilian ia bahkan menuju tempat terbukanya jendela tanpa masker oksigen sebab masker yang ada di kabin itu sudah terpakai semua, dengan ide nya itu Risa mencoba memberikan sebuah koper kepada penumpang yang berada di dekat jendela untuk menutupi lubang agar tekanan udara dari luar tidak masuk ke dalam sehingga membuat tekanan di dalam dapat kembali dengan normal. dengan bantuan Ersan pria itu mulai menuruti perintah Risa dan benar saja, itu berhasil meskipun masih ada sedikit udara dari luar yang masuk, setidaknya beberapa benda-benda kecil yang tadinya terbang kesana-kemari kini terjatuh di mana-mana.
" Kau harus memakai masker Risa. " ucap salah satu pramugara dan Risa pun mencoba untuk kembali ke kabin belakang dengan sangat hati-hati.
Lagi-lagi pesawat mengalami guncangan yang membuat Risa terjatuh hingga terseret sampai menabrak troli makanan, Ia meringis kesakitan terlebih lagi ketika mendapati darah segar pada keningnya. Namun Risa mencoba untuk tetap bangkit meskipun kakinya terasa nyeri, Guncangan kedua dan ketiga kembali membuatnya jatuh hingga ke balley belakang.
Di sana ada Maya yang sedang duduk memastikan keadaan kabin di belakang tetap aman, melihat Risa yang tiba-tiba tergelatak di dekatnya yang sudah tak sadarkan diri membuat Maya segera menolongnya. Dia mencoba membangunkan Risa beberapa kali namun nihil, Darah di keningnya belum lagi luka yang ia dapat saat terjatuh sangat membuat Maya khawatir.
Dengan sekuat tenaga Maya mengangkat Risa untuk duduk di kursi khusus pramugari, setelah memasangkan sabuk pengaman kepada Risa ia pun kembali untuk duduk di sebelah Risa. Sesekali Maya memanggil-manggil nama Risa meskipun tak ada jawaban dari wanita itu, untuk mengentikan darah yang keluar dari kening Risa. Maya mencoba menutupinya dengan sapu tangan yang selalu ia bawa kemana-mana, Ia terus berdoa agar Risa tidak kenapa-napa dan juga pesawat dapat mendarat dengan sempurna.
**
Pesawat berhasil melewati badai dan Juan mulai menurunkan ketinggian pesawat dari 8000 ke 3000 agar ia bisa melihat daratan untuk mendarat darurat, Dan saat itu yang di lihat Juan hanyalah lautan luas yang di mana ia tidak bisa menemukan dataran sama sekali. Situasi yang benar-benar gawat dan pusat belum bisa menerima sinyal darurat dari mereka, Marco sempat kehilangan harapan namun tidak dengan Juan yang terus mengirim sinyal darurat.
" Tolong aktif lah, banyak nyawa yang harus ku selamatkan. " Ucap Juan dalam benak.
Suara seseorang berhasil terdengar sehingga membuat raut wajah Juan dan Marco mendadak senang, Marco dengan cepat mengirim sinyal kepada pusat dan pesawat mereka kini sudah dapat di lacak oleh mereka. Juan bisa mendarat kan pesawat di laut lepas asalkan sinyal sudah terkirim ia juga berharap dengan mendarat di sana api yang membakar sayap pesawat akan segera padam.
" Di sampaikan kepada semua penumpang untuk memakai pelampung darurat yang terdapat di bawah tempat duduk kalian, pastikan kalian memakainya dengan baik dan benar karena saya akan mendaratkan pesawat dalam hitungan sepuluh menit. " Ucap Juan yang langsung menyampaikan nya tanpa perantara Karin.
Semua penumpang segera memakai pelampung yang telah di sediakan begitu pun dengan para kru pesawat, Juan kini sudah siap untuk mendapatkan pesawat di laut lepas tanpa mengeluarkan roda sama sekali. Dia harap caranya ini akan mendatangkan keberuntungan dan tak ada korban jiwa, Pihak pusat kontrol udara pun sudah stand bye dengan mengirimkan beberapa bantuan terdekat untuk secepatnya mengevakuasi korban. Juan tidak menyangka kalau dirinya akan mendarat di Lautan Samudera atlantik yang di mana suhu airnya bisa mencapai 50-70 derajat celcius.
" Ini keputusan yang tepat kan, Kapten Zain.. Ayah.. Tolong aku untuk menyelamatkan mereka semua . " Benak Juan ketika pesawat sedikit lagi mendarat.