
Suara deru mesin pesawat terdengar jelas menyapu landasan pacu, burung besi itu kini telah sukses mendarat kembali ke bandara soekarno-hatta dengan selamat, Seorang wanita dengan seragam biru tosca nya baru saja selesai mengumumkan informasi tiba di tempat tujuan dengan suara yang lembut, Setelah itu para penumpang di persilahkan turun, akhirnya dua hari bekerja nonstop kini Risa dapat menikmati liburnya, kebetulan Juan juga masih menikmati waktu liburnya sehingga mereka dapat menghabiskan waktu bersama.
Risa dan Sabrina kompak meninggalkan pesawat namun mereka harus berpisah ketika melewati pintu keluar sebab dari arah jam 12 seroang pria dengan wajah rupawan tengah melambaikan tangan dengan tatapan teduh ke arah Risa, keduanya berpisah dengan pelukan hangat setelah itu Risa berlari ke pelukan Juan seraya mengucapkan kalimat rindu setelah dua hari tidak bertemu. Setelah itu Risa melepas pelukan nya dan beralih menggandeng tangan Juan, pria itu meraih koper Risa dan menariknya tanpa membiarkan wanita nya menarik benda yang cukup berat tersebut.
Keduanya segera menuju parkiran untuk mengambil mobil Juan, setelah itu mengantar Risa pulang ke rumah kostnya, Aneh rasanya di mana biasanya mang Retno yang mengantar jemput Risa dan sekarang adalah sosok Juan yang sudah seperti suamiable saat ini, Di perjalanan pulang Risa menceritakan pengalaman kerjanya dan juga ia tak lupa membahas soal kejutan waktu itu, sampai saat ini kenangan itu terus membekas dan sayang untuk di lupakan begitu saja, Sepanjang jalan Risa terus memperhatikan kalung pemberian Juan membuat si pemberi benda itu hanya dapat senyum-senyum malu melihatnya.
\*
Satu minggu kemudian
Risa mematutkan dirinya di hadapan cermin sambil tersenyum manis, kali ini ia mengenakan blues cream selutut dengan rok berbahan denim berwarna putih tak lupa ia mengoles bedak, blush on, eye shadow dengan warna merah bata dan terkahir mengoleskan lip gloss pada bibir ranumnya dengan warna senada. Rambut panjang yang biasanya ia bentuk melengkung di biarkan terurai ia juga menyematkan penjepit rambut mutiara di atas sana, sejenak ia menatap dirinya yang terlihat seperti anak remaja yang ingin pergi kencan, memang benar dia akan pergi kencan namun tidak ingin berlebihan seperti ini sehingga Risa kembali meletakkan penjepit rambut tersebut.
Satu jam yang lalu Juan telah mengirimkan pesan singkat untuk bertemu di suatu tempat yang membuat Risa cukup penasaran, Ia tidak tahu kenapa Juan mengajaknya kesana yang pasti saat ini ia ingin cepat-cepat bertemu pria itu. Setelah ia selesai Risa pun segera menuju halaman kost karena di sana sudah ada mang Retno yang siap mengantar nya. Sebelum meninggalkan kamar sekali lagi Risa menatap dirinya di pantulan cermin dan bergumam.
" Kamu cantik banget. " Ucapnya sambil tertawa kecil
Setidaknya hanya membutuhkan waktu dua puluh menit untuk sampai di tempat yang telah di sepakati, di jalan Risa terus memikirkan alasan Juan ingin bertemu di sana namun apalah daya ia tak bisa menerka-nerka seenaknya, bisa saja Juan hanya ingin bertemu di sana setelah itu pergi ke suatu tempat. Begitu taksi yang di tumpangi Risa telah sampai di tujuan, ia pun segera turun dan tak lupa membayar tagihan taksinya dengan aplikasi sehingga ia tak perlu repot-repot mengeluarkan uang dari dalam tasnya.
Risa menatap sebuah palang tulisan yang bertuliskan Lapangan Latihan Terbang dengan mata yang mengerling sekejap, setelah itu ia melangkah masuk dan di pintu masuk ia di sambut oleh seseorang yang sangat ramah hingga menjelaskan kalau Juan sudah menunggunya sejak tadi, Risa hanya dapat mengangguk paham dan kembali melangkah memasuki lapangan terbang yang biasanya di gunakan untuk pilot yang sedang menjalani masa trainee.
Di depan Risa ada satu pesawat tipe Cessna 172 sejurus kemudian seseorang keluar dari sana dan mulai menghampiri Risa dengan senyum yang merekah, Sebaliknya Risa menatapnya dengan keheranan seakan saat itu juga ia ingin minta penjelasan atas apa yang ia lihat saat ini. Begitu Juan tiba di hadapan Risa ia pun dengan bangga melihatkan sesuatu yang membuat Risa meliriknya degan teliti, Kedua matanya seketika berbinar setelah melihat kartu kecil yang di pegang Juan adalah surat izin terbang yang sudah legal dan itu artinya Juan telah menjadi seorang Kapten bukan co-pilot lagi.
Risa tak dapat membendung rasa senangnya melihat itu sehingga ia dengan refleks menghambur ke pelukan Juan sembari mengucapkan selamat atas pencapaian nya, Setelah mereka saling melepas pelukan Risa kembali menatap Juan, rasanya ada yang berbeda dan tiba-tiba membuat Risa mengernyitkan dahi. " Bukannya kau ingin menjadi pilot jika sudah menikah nanti.? " Tanya Risa penasaran, Juan tersenyum kecil kemudian meraih tangan Risa dan mengajaknya menuju pesawat itu, Risa hanya dapat pasrah dan mengikuti langkah kaki pria yang di cintai nya.
Juan membantu Risa untuk duduk di kursi sebelah kapten yang mengendalikan pesawat, setelah Risa cukup aman dan nyaman dengan tempatnya tiba giliran Juan untuk duduk di sebelahnya, Melihat Juan yang sudah mendapat izin terbang dan saat ini sedang menyalahkan mesin pesawat terlihat sepuluh kali lipat lebih tampan dari sebelumnya, entah sejak kapan Risa merasa kalau Juan lebih tampan jika di lihat sedang mengendalikan burung besi itu. Sadar terus di perhatikan Juan pun ikut meliriknya dengan senyum yang membuat Risa hampir meleleh melihatnya.
" Kau sudah siap.? " Tanya Juan pelan dan di balas anggukan mantap oleh Risa.
Ini bukan pertama kalinya Risa di ajak Juan seperti ini, dulu mereka menggunakan aircrew sensation untuk merasakan bagaimana rasanya menjalankan pesawat terbang dan yang kedua Juan pernah mengambil alih pesawat saat Kapten Zain dan Kapten Alex tiba-tiba sakit sehingga membuat Risa tidak takut meskipun ini adalah hal yang berbeda dari sebelumnya, Karena Risa percaya Juan bisa mengatasinya dengan benar.
Pesawat itu kini sudah memasuki runaway dan bersiap untuk terbang ke langit yang luas, dalam hitungan lima, empat, tiga, dua, satu. Pesawat yang di bawa oleh Juan sudah melepas pijakannya dengan landasan pacu, kini Juan mencoba untuk menaikan ketinggian 3000 kaki di atas permukaan tanah, Ketinggian itu sudah sangat cukup untuk pemula dan bagi mereka yang ingin melihat keindahan dari atas sana. Risa tak henti-hentinya berdecak kagum melihat keindahan dari kokpit, Ini pengalaman pertama baginya bisa terbang dan duduk di kokpit yang di mana tempat itu khusus untuk pilot saja.
" Kau senang.? " Tanya Juan
" Tentu saja, ini sangat sangat menyenangkan, aku tak menyangka bisa merasakan hal seperti ini. " Jawab Risa seakan tak berhenti berdecak kagum
" Kau akan sering merasakannya nanti. " Sahut Juan tiba-tiba membuat Risa menoleh heran
Setelah pesawat sudah berada di ketinggian 3000 kaki, ia pun dapat melepas kemudi nya dan mengaktifkan penerbangan otomatis agar ia dapat mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, Risa terdiam sejenak saat Juan berhasil mengeluarkan sebuah kotak kecil yang seketika membuat jantungnya berdegup kencang.
Juan membuka kotak itu dan menatap Risa dengan tulus, " kamu mau kan menikah denganku.? " Ucap Juan benar-benar berhasil membuat Risa tak bisa berpikir panjang. Saat ini ia terlihat diam membisu seakan terhipnotis oleh cincin yang di lihatnya berada di tangan Juan.
Apakah ini waktu yang tepat untuk menikah? Apa setelah menikah nanti ia masih bisa mengejar impiannya menjadi FA 1, Risa tak bisa mengetahui masa depan namun saat ini ia bisa melihat masa depannya dengan seorang pria yang bukan hanya tampan, tapi baik hati dan sangat romantis membuat siapapun akan merasakan getaran hebat jika di perlakukan seperti ini.
" Aku mau. " Jawab Risa mantap
\*
Matahari bahkan belum muncul hari itu, namun seorang wanita cantik kini telah siap dengan make up yang natural serta seragam kebanggaannya dan saat ini ia tengah merapihkan kembali barang-barang bawaannya untuk penerbangan yang akan mengambil waktu sekitar satu minggu dengan rute yang berbeda-beda, Ia tersenyum manis ketika melirik cincin yang tersemat di jari manisnya, Juan telah memberikan ikatan dengannya dan dalam waktu dekat ini atau lebih tepatnya setelah seminggu bertugas mereka akan Surabaya untuk memberitahu orang tua Risa soal rencana pernikahan mereka, Risa bahkan tak pernah mengira kalau pria yang akan mendampingi hidupnya nanti adalah seorang Pilot, tuhan benar-benar telah memberikan skenario terbaik dalam hidupnya.
Pesan dari mang Retno baru saja masuk yang itu artinya beliau sudah ada di bawah, Risa pun segera menghampirinya dan mulai mengunci pintu dan bergegas pergi. Baru saja Risa terlihat turun dari tangga pria setengah baya itu sudah menghampiri nya dan membantu Risa menyimpan koper wanita itu ke dalam bagasi selagi Risa masuk ke dalam mobil, Mereka pun bergegas menuju bandara dengan kecepatan penuh sebelum macet melanda dan Risa akan terlambat nantinya. Saat di perjalanan grup chat maskapai tempat Risa tampak ribut membahas soal kapten Ridwan yang tiba-tiba cuti karena istirnya sakit, sebenarnya itu adalah pesan dua hari yang lalu namun Risa tak memperhatikannya dan baru saja tahu setelah ada yang membahasnya lagi.
Jika kapten Ridwan mendadak cuti itu artinya ada kapten baru yang akan memimpin penerbangan mereka, Risa benar-benar penasaran akan hal itu dan ingin secepatnya melihat siapa kapten yang di gantikan tersebut. Setibanya di bandara Risa turun dan kembali di bantu mang Retno untuk mengeluarkan kopernya, Setelah itu Risa berjalan menuju pintu keberangkatan, namun sebelum itu ia melirik kesana kemari berharap Juan akan datang melihatnya sebelum pergi, setahu Risa, Juan masih belum bertugas karena jatah libur spesial untuk maskapai nya, Raut wajah Risa terlihat sedih dan juga hari ini ia tak menerima pesan apapun dari Juan, dengan berat hati ia pun kembali melangkah memasuki area boarding pass khusus untuk kru maskapai yang tempat nya berbeda dari penumpang biasa.
\*
" Katanya kita kedatangan kapten baru yah.? " Ucap Sarah yang sedang sibuk menyusun makanan
" Katanya sih gitu, tapi siapa yah, waktu briefing dia belum muncul dan di wakili sama Co-pilot. " jawab Dita
" Hari pertama kerja tapi sudah telat. " lanjutnya lagi
Mendengar kedua rekan kerjanya asik mengobrol membuat Risa yang mendengarnya ikut penasaran bahkan ketika ia bertanya pada Sabrina pun ia tak tahu seperti apa sosok kapten baru mereka. Setelah semua persiapan terbang telah selesai, Sabrina mengajak Risa untuk menyapa kapten baru mereka yang katanya sudah berada di kokpit sejak mereka briefing, Risa pun mengiyakan ajakan Sabrina dan segera menekan bel ruang kokpit.
Setelah pintu terbuka keduanya masuk, Risa dapat melihat seorang pria dengan rambut blondenya yang tak asing tengah sibuk memperhatikan tombol mesin pesawat, Hingga saat Sabrina mulai menyapa duluan di susul Risa yang terlihat cukup canggung dalam situasi tersebut, Pria itu menoleh dengan senyuman khasnya membuat Risa membulatkan matanya dengan sempurna, Kecuali Sabrina yang hanya dapat terkekeh melihat tingkah Risa.
" kau tahu kalau kapten baru kita adalah Juan.? " Tanya Risa melirik Sabrina tak percaya
" Kapten melarang ku memberitahumu dan menyuruhku untuk mengajakmu masuk ke sini agar kau bisa melihatnya. " Jawab Sabrina kemudian
" Wah..wah..sepertinya akan ada kisah cinta dalam maskapai ini. " Seru co-pilot
" Mohon kerja sama nya Nona Arisa Naomi. " Sahut Juan sukses membuat wajah Risa merah merona karena malu
Setelah mereka keluar dari kokpit, Risa tak henti-hentinya mencubit gemas Sabrina karena tak memberitahu nya soal ini, Sabrina benar-benar puas melihat Risa bagaikan udang rebus di dalam sana, Sejujurnya ada rasa bahagia untuk Risa karena bisa satu pesawat lagi dengan Juan. Semoga perjalanan kali ini menjadi lebih berkesan dari sebelumnya.
.
.
.
.
Nahh siapa nih yang udah nungguin Juan dan Risa satu penerbangan lagi??? author kasih hadiah buat para pembaca yang sudah berharap mereka barengan lagi, Untuk itu jangan lupa like yah :)