
Like dulu guys dan jangan lupa komentarnya yang baik yah, selamat membaca :)
.
.
.
.
Di dalam sebuah kokpit tampak dua orang pria yaitu Kapten Zain dan Juan tengah fokus mengontrol pesawat yang sebentar lagi akan mendarat di bandara soekarno-hatta, Semua sistem telah di operasikan dengan baik oleh Juan dan Kapten Zain, mereka pun telah mengirim sinyal pada menara ATC untuk siap lepas landas, dan dalam hitungan mundur sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua,..... Satu. Pesawat telah berhasil mendarat dengan selamat tepat pada waktunya, Tinggal menunggu waktu saja hingga pesawat berhenti sepenuhnya dan semua penumpang di perbolehkan untuk turun.
Setelah semua beres, Juan mulai mengaktifkan ponselnya untuk melihat apakah ada pesan dari Risa atau tidak, dan setelah di cek ternyata ada, Risa menanyakan kapan dia akan tiba dan Juan yang melihatnya terlihat tersenyum simpul sembari membalas pesan tersebut, Juan sengaja tak ingin memberitahu Risa kapan dirinya akan landing sebab ia ingin memberi kejutan dengan kedatangannya ini. Pengumuman untuk penumpang di perbolehkan turun telah di umumkan, dan setelah semua penumpang berbondong-bondong turun dengan tertib tiba saatnya para kru merapihkan seisi pesawat yang telah di tinggalkan oleh penumpang barusan.
Dua puluh menit telah berlalu dan saat ini semua kru telah berkumpul di kabin depan menunggu Kapten Zain untuk segera melakukan briefing, beberapa saat setelah briefing selesai semua awak kabin di perbolehkan untuk meninggalkan pesawat sementara itu keempat pilot harus melaporkan hasil penerbangan mereka pada atasan lalu setelah itu mereka dapat pulang ke rumah masing-masing. Keempat pilot kini meninggalkan pesawat menuju crew station dan saat berjalan menuju ke sana tak sengaja Juan dan yang lain bertemu Dimas dan istrinya yang hendak pergi berlibur bersama, Dimas menahan Juan kala itu dan membiarkan yang lain untuk pergi duluan tanpa dirinya.
" Mungkin kau sudah mendengar kabar tentang Risa, kau perlu tahu alasanku membantunya saat itu"
" Terima kasih. " Sambung Juan sebelum Dimas menyelesaikan ucapannya
" Kau tidak marah padaku.? " Tanya Dimas melongo heran melihat sikap aneh Juan
" Untuk apa aku marah pada seseorang yang menolong pacarku, justru aku berterima kasih karena kau telah membantunya kali ini. " Jelas Juan mengundang senyum singkat dari Dimas
" Ku dengar kau akan mendapat jatah libur yang cukup panjang, kau bisa menikmati waktu bersama Risa sebagai gantinya, sukses yah, aku dan Tania akan ke Santorini untuk berbulan madu yang sempat tertunda, berkat Risa juga akhirnya aku sadar kalau sebenarnya aku bukan mengejarnya karena Cinta tapi karena obsesi. "
Mereka pun berpisah setelah Juan dan Dimas saling berpelukan tanda damai, Tania hanya menyunggingkan senyum kepada Juan dan selepas itu mereka berpisah. Juan segera menuju ke tempat pilot yang lain sementara Dimas dan Tania segera menuju pesawat mereka yang sudah siap untuk berangkat hari ini.
\*
Saat ini Risa telah tiba di bandara tepat waktu dan segera menuju ke pintu kedatangan menunggu Juan keluar, Ia berharap Juan akan terkejut melihat keberadaanya di tempat itu jika ia keluar nanti. Pandangan Risa tertuju pada beberapa orang yang saling bertemu melepas rindu dengan sanak keluarga yang mungkin baru saja tiba di Jakarta, pemandangan seperti itu mengingatkan Risa saat pertama kali bergabung dengan tim maskapai di mana saat tugasnya sudah selesai ia pernah di jemput oleh kedua orang tuanya yang membuatnya sangat bahagia saat itu, dan sekarang masa-masa itu sudah tidak pernah terjadi lagi dan waktu seakan telah merubah segalanya.
Dari arah jam dua belas Risa dapat melihat sekelompok orang-orang dengan seragam pilotnya namun setelah di perhatikan baik-baik tak ada satupun dari mereka adalah Juan, sehingga ia harus kembali menunggu lebih sabar lagi, Sorakan seseorang tiba-tiba membuat Risa menoleh dan mendapati seorang wanita yang berlari ke arahnya sambil menarik koper yang ia bawa sejak tadi, keduanya berakhir dalam pelukan hangat meruntuhkan kerinduan yang sebelumnya terbendung besar.
" Aku sangat merindukanmu. "
" Aku juga."
Keduanya secara bersamaan saling melepas pelukan dan beralih menatap wajah mereka satu sama lain, senyum Risa dan Maya seakan tak bisa luntur, Maya terus menanyakan keadaan Risa setelah kemarin di buat khawatir oleh rumor yang beredar, Senang bisa melihat Maya dalam keadaan sehat juga dan itu artinya Juan pun sudah berada di bandara, entah mengapa Risa begitu ingin cepat-cepat bertemu pria itu.
Karena Maya juga ingin menunggu Alex keluar, ia dan Risa menuju sebuah kursi untuk sekedar duduk sambil menunggu dua pria mereka, banyak hal yang di ceritakan oleh Risa begitu pun dengan Maya, tanpa terasa kedua pria yang mereka tunggu baru saja menampakkan Batang hidungnya, Maya melambaikan tangan agar mereka dapat melihat keberadaanya bersama Risa, Alex dan Juan kompak melirik mereka, Juan cukup kaget melihat Risa yang berada di bandara padahal sebelumnya ia ingin memberikan kejutan pada wanita itu.
Risa dan Maya kemudian menghampiri Juan dan Alex, sayangnya saat itu Maya dan Alex memutuskan untuk pulang duluan tapi sebenarnya Juan dan Risa tidak keberatan sebab mereka juga ingin punya waktu berdua. Setelah mereka berpisah Juan dan Risa segera menuju parkiran, seperti biasa setiap Juan kembali ke Indonesia maka orang yang mengurus mobilnya sudah stay di sana sebelum pesawat landing.
Setibanya di parkiran Juan terlihat menyimpan kopernya ke dalam bagasi, ia terdiam sejenak kemudian melirik Risa yang masih berada di depan pintu mobil menunggu Juan untuk masuk baru dirinya ikut masuk, Sejak tadi belum ada kalimat yang di lontarkan Juan berbeda halnya dengan Risa yang terus bercerita tentang pengalaman terbangnya sebagai asisten FA 1, tapi sayang, bukan itu yang ingin di dengar Juan pertama kali.
Sebenarnya jauh di benak Risa saat ini ia merasa tidak enak dengan Juan, ia terus merasa bersalah karena sampai saat ini belum mengatakan apa-apa pada pria itu, bukan berarti Juan diam tanpa bertanya ia menganggap hal itu sepele ,Risa tidak tahu seperti apa yang Juan pikiran saat ini. Sebuah pelukan dari belakang baru saja membuat wajah Risa terkejut bukan main, Juan memeluknya cukup erat seraya mengucapkan kalimat rindu pada wanita itu. Risa menyentuh kedua tangan Juan dan mengucapkan hal yang sama, Juan melepas pelukannya dan membalikan tubuh Risa menghadap ke arahnya agar mereka dapat saling menatap satu sama lain.
" Aku benar-benar merindukanmu, sangat.. sangat merindukanmu. " ujarnya dengan lembut
" Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu, tapi tolong jangan marah padaku. " Ucap Risa dengan wajah memelas
" Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu karena tidak memberitahumu soal rumor itu hingga kau menelpon ku, saat itu aku berada di rumah sakit setelah di lukai oleh Rama adiknya Kak Dimas, aku tidak memberitahumu karena tidak ingin mengganggu konsentrasi mu dalam bertugas, Dan soal Kak Dimas yang menolongku itu bukan karena dia masih menyukaiku tapi karena "
" Aku tahu. " Sambung Juan membuat Risa melongo heran
" Aku tahu semuanya dari Dimas duluan, Dia memberitahuku soal dirimu yang terluka, dia juga menjelaskan kronologi serta bantuannya terhadapmu. " lanjutnya sambil meyibakkan rambut Risa ke belakang telinga wanita itu, kemudian menatap kedua matanya dengan tatapan yang hangat.
" Aku benar-benar minta maaf. " Gumam Risa menunduk bersalah
" Aku senang akhirnya kau mengatakannya, ku pikir kau akan bungkam seperti tadi. "
Risa tak ingin membuat Juan kecewa dan terus menerus menyalahkan dirinya karena tidak terbuka pada Juan, melihat sikap Juan yang sangat lembut dan sabar semakin membuat Risa mencintai sosok pria itu, ia meraih Juan ke dalam pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada pria itu, Juan ikut membalas pelukan Risa sambil membelai lembut rambut panjang nya.
\*
Pria itu baru saja keluar dari sebuah toko perhiasan setelah sebelumnya menghabiskan waktu selama setengah jam di dalam sana, begitu ia mendapatkan apa yang di inginkan ia pun beralih ke toko bunga setelah itu toko kue untuk mengambil pesanannya, Hari ini merupakan hari yang paling spesial meskipun ini bukan tentang dirinya melainkan seorang wanita yang sudah menjadi belahan hidupnya, benar, hari ini adalah ulang tahun Risa dan Juan ingin membuat kejutan setelah menyiapkan semua kebutuhan untuk memberikan kejutan tersebut.
Setelah semua telah di ambil dari tokonya masing-masing tiba saatnya Juan menuju suatu tempat yang telah ia siapkan sebelumnya untuk merayakan ulang tahun Risa hari ini, Juan bisa saja meminta bantuan orang lain hanya saja ia ingin mengurus semuanya sendiri agar terkesan lebih spesial. Juan benar-benar semangat dalam merencanakan kejutan ini terbukti dari raut wajahnya yang terlihat tak bisa menutupi rasa bahagia nya. Di perjalanan ia tak lupa memberitahu Risa untuk datang ke lokasi dalam waktu satu jam dari sekarang, Tak menunggu waktu lama satu pesan balasan masuk dan membuat Juan langsung membuka pesan tersebut.
" Maafkan aku, hari ini ada jadwal penerbangan yang kebetulan aku harus ikut, aku lupa memberitahumu kalau masa cuti ku sudah habis, sekali lagi aku minta maaf.. Kalau kau ingin bertemu kita bisa bertemu di pintu keberangkatan. "
Juan menghentikan laju mobilnya dan menatap layar ponsel dengan tatapan sendu, desahan kasar terdengar jelas di dalam mobil dan pandangannya kini beralih pada arlojinya, Juan mencoba memikirkan cara untuk mengganti rencana kejutan ulang tahun Risa, tiba-tiba saja ada satu ide yang muncul di kepalanya membuat pria itu bergegas memutar arah menuju bandara.
\*
Risa terlihat menunggu kedatangan Juan di pintu keberangkatan dengan wajah cemas karena sebentar lagi ia harus briefing, Sudah sepuluh menit Risa menunggu namun pria itu tak kunjung tiba, Seseorang tiba-tiba menelepon dan ia pikir itu adalah Juan melainkan Sabrina yang memintanya untuk ke crew center sekarang juga. Mau tidak mau Risa harus pergi dengan berat hati padahal baru kemarin Juan tiba di Indonesia dan sekarang dia harus bertugas, waktu seakan mengajak mereka bermain dalam hubungan yang sedikit rumit ini.
Setibanya di crew center, Risa tak bisa fokus ketika kapten Ridwan menyampaikan pidato singkatnya, sesekali Risa terus mengecek pesan nya apakah Juan sudah membacanya apa belum, hingga detik ini pesannya tidak balas membuat Risa berpikir Juan pasti marah karena tidak bisa pergi kencan bersama hari ini. Dan setelah briefing berakhir tiba saatnya Risa dan yang lain menuju ke pesawat untuk mengecek segala keselamatan yang ada di dalam burung besi itu, saat menuju boarding tiba-tiba saja penjaga tiket mengucapkan selamat kepada Risa yang membuat wanita itu bingung dan hanya dapat menyunggingkan senyum kecilnya.
Begitu semua telah di cek aman maka pintu pesawat kini di jaga oleh para pramugari yang bertugas, Risa dan Sabrina telah stay di area mic intercom bersiap untuk mengumumkan keberangkatan hari ini kepada seluruh para penumpang, Setelah semua penumpang telah naik tiba saatnya kedua wanita cantik itu memberikan arahan setelah itu pengumuman keberangkatan dari Jakarta menuju Pekan baru, Seseorang terlihat bangga ketika Risa mengumumkan nya dalam bahasa inggris, seorang pria yang duduk di sudut kursi kelas bisnis dengan topi hitam yang di kenakannya terus melirik Risa yang saat ini dengan elegan mengumumkan informasi penerbangan tersebut.
" Dia sangat cantik. " Batin pria itu tersenyum senang
Risa yang telah selesai mengucapkan kalimat barusan segera menuju jumpseat karena sebentar lagi pesawat akan take off, ia duduk di hadapan pria yang memakai topi itu, Risa terlihat penasaran kepadanya seperti melihat seseorang yang ia kenal, namun pria itu terus menunduk dan menutupi sebagian wajahnya membuat Risa benar-benar curiga pada pria itu.
" Jangan melihatku seperti itu, aku tidak nyaman. " Sahut pria dengan suara berat yang entah karena di sengaja atau suaranya memang benar-benar seperti itu.
" Maafkan saya, silahkan menikmati penerbangan nya kak. " Balas Risa merasa bersalah dan segera mengalihkan pandangannya ke luar jendela pesawat.
.
.
.
.
.
Hai hai Readers, gimana nih episode kali ini seru nggak.? Harap di like dan berikan vote kalian yah supaya author tetap semangat melanjutkan ceritanya, Sampai ketemu di bulan depan guys :)