
Pintu terkuak dan memunculkan seroang pria tampan lengkap dengan seragam pilotnya, Risa beranjak dari tempatnya dan menanyakan kepada Juan soal putra Belmira. Sebaliknya Juan juga tak tahu kalau putra Belmira belum juga datang sehingga membuat Juan kembali menelpon seseorang dan menanyakan keberadaan putra Belmira.
Risa tak menyangka Juan akan datang ke rumah sakit walaupun ia tak mau berpikir kalau tujuan Juan datang adalah untuk menjemputnya, Setelah Juan mengakhiri telepon nya ia berkata kalau saat ini putra Belmira sedang tidak bisa di hubungi sehingga kecil kemungkinan untuk keduanya dapat bertemu setelah sebelumya putra Belmira di paksa untuk datang atau akan di penjarakan karena mencoba untuk membuang orang tua kandungnya sendiri.
Waktu terus berjalan dan sudah menunjukkan pukul lima sore, Satu jam lagi pesawat akan berangkat sementara Risa dan Juan masih berada di rumah sakit. Risa terlihat sangat khawatir dan terus berada di samping Belmira memegang tangannya dengan lembut seakan memberikan kekuatan kepada wanita tua itu untuk tetap semangat.
Juan terus memperhatikan Risa dari belakang tanpa sadar pintu tiba-tiba terbuka, Seorang pria dengan stelan kemeja kotak-kotak nya menatap Belmira dengan wajah sendu. Risa dan Juan bangkit dari tempat mereka dan ikut menatap pria itu dengan tatapan menerka-nerka.
Rupanya pria itu adalah putra dari Belmira, Keduanya merasa terselamatkan sehingga mereka dapat segera ke bandara saat itu juga. Risa memeluk Belmira dengan lembut dan meminta kepada putra Belmira untuk menyayangi Belmira sepunuh hati, Tampaknya putra Belmira merasa sangat menyesal karena telah membuang Ibunya begitu saja dan setelah mereka berpisah Risa dan Juan segera meninggalkan rumah sakit.
Di luar, Mereka berusaha mencari taksi namun sayangnya saat itu jalanan terlihat sangat sepi sehingga mereka kesulitan untuk mendapatkan kendaraan. Juan mendapat sebuah mobil yang berhenti tepat di pinggir jalan seperti nya pemilik mobil itu sedang beristirahat dan membuat Juan spontan menarik tangan Risa menghampiri pengemudinya. Risa menatap tangannya yang di cengkram dengan kuat oleh Juan dan langkah nya yang di percepat agar mampu menyeimbangkan langkah kaki Juan.
Juan meminta kepada si pengemudi untuk mengantarkan mereka ke Bandara, untungnya pria itu baik sehingga memberikan tumpangannya kepada Juan dan Risa. Selain itu jarak antara Bandra dan rumah sakit pun tidak terlalu jauh sehingga mereka dapat tiba dengan tepat waktu sebelum pesawat benar-benar berangkat.
Wanita itu terlihat duduk melamunkan sesuatu yang mengundang perhatian rekan kerjanya yang baru saja mendekatinya, Risa tersadar kemudian melirik Maya yang datang membawakan segelas kopi. Karena jam kerja baru saja di ganti keduanya memutuskan untuk beristirahat di kursi belakang, Maya melirik ponsel Risa yang masih memperlihatkan sebuah berita yang membuatnya paham kenapa wajahnya seperti itu.
" kau sedih karena Pak Dimas akan menikah besok? " Ucap Maya melirik Risa hati-hati.
Risa yang tersadar kemudian menutup layar ponsel nya dan memasang wajah ceria untuk menutupi kesedihannya itu, Sebelumnya Risa mengira bahwa pernikahan Dimas benar-benar di tunda karena suatu alasan tapi pagi ini Risa mendapat berita pernikahan Dimas yang akan di langsung kan besok sementara itu dirinya juga mendapat undangan untuk menghadiri resepsinya.
" Aku ingin ke toilet bentar yah. " Ucap Risa yang di balas anggukan pelan dari Maya.
Saat Risa berada di toilet ia hanya diam tanpa melakukan apa-apa, Wajah Risa terlihat sangat sendu dan pandangannya mulai buram karena air mata yang berusaha ditahan nya agar tidak terjatuh. Ada apa dengan Risa yang kemarin masih tegar menghadapi masalah ini, Ia terlihat seperti orang yang rapuh akan berita itu dan tangisnya pun sudah tidak dapat di bendungnya lagi.
Tangan Risa terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam kerah seragamnya, Sebuah kalung yang selalu berada di sana kini di lepasnya menandakan ia akan melupakan semua kenangan Dimas seutuhnya. Ia manatap kalung itu dengan tatapan sedih dan menyimpannya ke dalam saku seragamnya setelah itu Risa mulai membasuh wajah nya dengan air agar orang-orang tidak ada yang tahu kalau dirinya baru saja menangis.